
Para anak buah Aaron menuju ke kantor ladang Raven dan diikuti oleh Gordhi yang menjadi pemimpin untuk menjemput Rennia di tempat itu.
Setelah hampir 2jam, mobil mereka telah terparkir di halaman parkiran kantor, beberapa penjaga berhasil dijatuhkan oleh anak buah Aaron.
Mereka memasuki kantor tersebut dengan memecahkan pintu utama yang terbuat dari kaca itu.
"Periksa semua tempat termasuk bawah meja dan lemari!" perintah Gordhi kepada para anak buah Aaron.
Mereka lantas berpecah dan berbagi tempat hingga seluruh tempat dipenuhi oleh anak buah Aaron.
Gordhi dengan langkah santai menaiki tangga untuk ke lantai dua dan masuk ke ruang kebesaran Raven karena dia tahu sana terdapat kamar istirehat dan dia yakin Rennia ada di sana.
Gordhi membuka pintu kamar itu dengan menyeringgai, matanya tertuju pada ranjang kecil itu, seperti ada seseorang yang sedang terbungkus dengan selimut.
Gordhi mendekatinya dengan perlahan dan menarik selimut itu. Matany kembali menatap tajam setelah melihat hanya guling yang berada di balik selimut itu.
"Ck! Apa dia tahu kedatangan kami," ucap Gordhi dengan wajah yang telah memerah.
Tiba-tiba layar tv menyala dan menunjukkan wajah Rennia yang terlihat sinis dan berkata.
"Hei, cari apa tu? Cari aku ya? Hahaha tapi aku nggak ada di situ, tapi selamat untuk kamu bisa sampai ke tempat ini. Aku cuma mau bilang, kamu adalah pamanku bukan? Tapi aku sih nggak mau paman seperti kamu yang sangat menjijikkan eeeuuu. Oh ya, selamat menikmati harimu sebelum ajal menjemputmu hahaha."
Gordhi semakin dibuat marah dan emosi, dia mengambil lampu tidur di atas nakas lalu melemparkannya ke arah tv itu.
Brugghh!
Bunyi hentaman dan pecag terdengar, Gordhi mengepalkan kedua tangannya.
"Dia sudah tahu kedatanganku berarti mereka sudah punya persiapan terlebih dulu, ck aku harus membunuh Ronald dan Raven sekaligus biar cepat selesai," ucapnya.
Gordhi keluar dari ruang itu dan menuju ke lantai dasar. Terlihat para anak buah Aaron telah berkumpul di ruang tengah itu.
"Dia tidak ada di sini dan kita pulang sekarang juga!" ucap Gordhi.
"Tuan, bagaimana dengan Tuan Muda Azel?" tanya salah satu anak buah Aaron.
"Dia tidak mungkin ada di sini dan bakar tempat ini sebelum kita pergi, cih biar semuanya hangus dalam api." Ucap Gordhi dengan raut wajah bengisnya.
Api menyebar ke seluruh ruangan dari luar maupun dari dalam kantor Raven. Gordhi dan anak buah Aaron meninggalkan tempat itu dengan simerah yang semakin membesar dan melehap kantor itu.
Mujur saja di sekeliling kantor Raven terdapat dinding tinggi pembatas untuk menuju ke ladang dan kebetulan malam itu tidak berangin sama sekali jadi apinya tidak mudah menyebar hingga melewati dinding pembatas.
Setelah hampir 2 jam perjalanan pulang, akhirnya mereka sampai di rumah Aaron.
__ADS_1
Keadaan rumah Aaron masih seperti sebelum dia berangkat tadi sehingga dia memasuki ruang milik Aaron.
Tok..tok..tok..
"Ini aku Gordhi," ucap Gordhi
"Masuklah," sahut Aaron dari dalam ruangannya.
Gordhi memasuki ruangan itu dan pemandangannya seperti biasa, Aaron tengah mengenakan kembali pakaiannya setelah pergumulan panasnya bersama seorang pelayan wanita miliknya.
Gordhi juga tidak lepas menatap ke arah wanita yang berjalan menuju ke pintu samping untuk keluar tanpa mengenakan sehelai pakaian, dia mulai menelan salivanya karena tengkorokannya mulai mengering.
Aaron tersenyum miring melihat anak mata Gordhi yang tidak lepas menatap wanita pelayan tadi sehingga mulutnya ikut menganga.
"Kau bisa memilikinya jika kau mau," tegus Aaron dan pandangan Gordhi seketika membuyar.
"Setelah rencana berhasil," sahut Gordhi.
Gordhi mengambil posisi duduk berhadapan dengan Aaron. Dia menceritakan semua kejadian yang berlaku di kantor Raven tadi dan soal rekaman video Rennia yang berputar dilayar tv.
"Kayaknya mereka sudah lebih dulu mengatur strategi dan rencana," ujar Gordhi.
"Hem jadi kita harus bagaimana?" tanya Aaron yang masih menghisap rokoknya.
"Kita bunuh saja mereka dan rampas semua milik mereka, toh kalau mereka mati Rennia bisa apa," jawab Gordhi dengan yakin.
"Hal itu mudah, tidak perlu khawatir sebelum aku membunuh Ronald aku akan memaksanya untuk menandatangani surat balik nama," jawab Gordhi kemudian.
"Baiklah, aku hanya ingin membunuh Raven dan soal harta aku tidak ikut campur tapi untuk wanitanya harus beri kepadaku," kata Aaron lagi dengan wajah menyeringai.
Gordhi mengangguk setuju dengan ucapan Aaron, mereka kini tinggal berbasa basi saja mereka yakin Raven dan Ronald akan mati di tangan mereka.
...
Rennia mondar-mandir di ruang tamu itu, belum ada kabar dari Raven, dia sungguh mengkhawatirkannya.
"Ren, duduklah dulu pasti Raven baik-baik saja lagian mereka yang lain sudah berada di sana," ucap Erika coba menenangkan Rennia.
Rennia sudah berada di rumah Holo sejak sore tadi. Holo telah menjemputnya setelah anak-anak buah Aaron pergi meninggalkan rumahnya.
Flashback on...
Baru saja hendak keluar dari kamarnya Rennia mendengar bunyi kacau dari depan gerbangnya, Rennia coba mengintip dari jendela untuk melihat situasi di luar.
__ADS_1
Rennia menjadi sedikit takut, dia segera mengambil ponselnya lalu menelepon nomor Raven tapi tidak tersambung, dia coba menelepon Ronald juga sama.
Rennia mondar-mandir, dia melihat sekali lagi lewat jendela dan mereka sudah meleparkan sesuatu yang mengeluarkan asap banyak.
"Mereka siapa sih dan saat ini Raven di mana?" gumam Rennia.
Ting!!
Bunyi pesan masuk ke ponselnya. Rennia segera membacanya.
[Bersembunyilah Rennia, jangan sampai kamu tertangkap, kami sedang diperjalanan. -Holo]
Rennia membulatkan matanya, dia harus bersembunyi sebelum mereka menangkapnya, mujur saja Rennia telah modify lemari pakaiannya dan tersambung ke ruang bawah tanah.
Sejak bermimpi tentang dia bakal tertangkap seseorang dan dibunuh, Rennia telah mempersiapkan semuanya, kamarnya telah di modify.
Rennia memasuki lemari yang bersambung dengan tiang rumah lantai dasar itu dan membawanya ke lantai bawah tanah.
Sempat mendengar kekecohan di ruang tamunya, dan kini Rennia berada di ruang bawah tanah yang tidak diketahui oleh para pengawal maupun para pelayan.
Dia mengawasi gerak-gerik beberapa pria yang memasuki rumahnya itu lewat layar tv. Cctv tersembunyi telag dipasang di dalam rumah itu tanpa siapa pun sadari.
Rennia bisa melihat bagaimana mereka bisa mengobrak abrikkan lemari pakaian setiap kamar dan isinya, semua sisi mereka jelajah untuk mencari dirinya.
Drrttt..drttt..
Ponsel Rennia bergetar, dia mengangkatnya karena nomor Holo yang muncul.
[Ren, kamu baik-baik saja?] tanya Erika dari seberang sana.
Air mata Rennia langsung jatuh karena saking takutnya dia.
[Kak Eri, sebenarnya apa yang berlaku? Kenapa mereka merusuh ke dalam rumah kami.]
[Ren, dengar kamu jangan takut sebentar lagi kami sampai, kami kejebak macet tapi bentar lagi akan sampai, mereka belum pergi?] Ucap Erika.
Rennia langsung menoleh ke layar tv di depannya.
[Mereka sudah keluar dari rumah, ya mereka sudah menaiki mobil dan pergi.]
[Baiklah kalau begitu, kamu tenang tunggu sebentar lagi ya.] -Erika.
Rennia mematikan ponsel setelah selesai perbicaraan bersama Erika, dia terus menatap layar tv itu, sambil mencoba menghubungi Raven dan Ronald tapi tidak tersambung.
__ADS_1
"Apa yang berlaku? Kenapa Daddy dan Raven tidak bisa tersambung?" gumam Rennia yang semakin terlihat khawatir.
Bersambung...