
Berapa menit kemudian, muncullah Holo bersama anak buahnya memasuki kawasan rumah Rennia dan Rennia bergegas kembali ke atas menaiki lift tersembunyi yang tersambung dengan kamar Ronald.
Holo memasuki rumah Rennia yang terlihat berantakan bahkan para pelayaan tergeletak di atas lantai tidak sadarkan diri.
Rennie berlari menuruni anak tangga untuk bertemu dengan Holo.
"Apa yang berlaku kak?" tanya Rennia pada Holo dan Erika.
Erika langsung saja menyambutnya dan memeluknya. Dia mengelus perlahan punggung Rennia.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa," ucap Erika perlahan.
"Nanti akanku ceritakan, sekarang kita pergi," sahut Holo.
Setelah sampai di rumah Holo barulah Holo menceritakan semua yang berlaku kepada Raven dan Ronald.
Flashback end..
Rennia tidak bisa tenang selagi Raven belum memberi kabar, walaupun dia memaksa matanya lelap tetap saja pikirannya terus memikirkan Raven dan Ronald.
Rennia kembali keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang tamu. Holo masih terlihat di ruang itu menatap layar laptopnya.
Holo masih menunggu sinyal balik dari anak buahnya agar dia juga bisa tenang. Dia masih memikirkan keadaan Raven yang biasanya sering mengabarkannya tentang keadaan mereka.
"Masih belum ada kabar?" tanya Rennia yang sudah duduk disofa yang tidak jauh dari Holo.
"Belum huhh kalau sampai jam 2 pagi tidak ada kabar, aku akan menyusul mereka," sahut Holo.
"Bisa aku pergi denganmu kak?" ucap Rennia dengan penuh semangat.
Holo mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Rennia, dia menghela nafas panjang.
"Maaf Ren, aku tidak mau mengambil resiko," jawab Holo dengan wajah serius.
"Jangan khawatir aku bisa menjaga diriku," sahut Rennia mantab.
Beberapa kali Holo menolak tapi tetap saja Rennia bersikeras hendak mengikutinya dan akhirnya Holo terpaksa menyetujuinya karena tidak mau berdebat panjang dengan Rennia.
....
Di tempat Raven dan Ronald berada.
Anak buah Holo telah tiba dan ada beberapa yang berhasil menyusup masuk ke dalam kawasan gudang.
Raven diikat disebuah kursi kayu dan berhadapan dengan Ronald. Raven telah sadar beberapa jam yang lalu tapi dia sengaja menundukkan wajahnya, tangannya bergerak perlahan untuk melepaskan ikatan.
Sehingga seseorang melempar benda kecil yang familiar ke arah kakinya, barulah Raven mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah pria yang melemparnya. Terdapat 3 pria yang berdiri dibalik tembok gelap itu.
__ADS_1
Salah satu pria itu mengulaskan senyuman dan memberi kode lewat tangannya, Raven mengangguk kecil. Dia coba mengalihkan perhatian beberapa anak buah Aaron yang berjaga, agar mereka keluar dari tempat mereka dan menuju ke arahnya.
Raven sengaja menghentakkan kakinya dan mengeram dengan kuat. Rencananya berhasil apabila 4 orang pria berjalan ke arahnya dengan membawa kayu balok.
Baru saja hendak menghajar Raven dengan kayu balok itu, keempat pria itu ditembak oleh anak buah Holo tanpa ada bunyi suara tembakan.
Mereka mendekati Raven lalu membuka ikatan talinya tapi Raven telah memberitahu mereka rencana seterusnya. Dan Raven memilih untuk terus duduk dikursi tersebut dan tangannya dalam posisi terikat simpul saja.
Aaron dan Gordhi sudah menyusun rencana pembunuhan Raven dan Ronald malam ini. Setelah jam 2 pagi agar mayat mereka bisa dibuang di sungai tanpa ada yang mencurigai mereka.
Gordhi juga telah menyiapakan berkas balik nama untuk perusahaan Ronald dan Raven. Senyumannya mengembang setelah asistennya berhasil mengerjakan dokumen itu dengan baik.
"Bagaimana ini sudah jam 2, lebih baik kita ke sana dan menghabisi mereka saja," kata Gordhi tampak tidak sabar.
"Ok, siapkan beberapa orang untuk mengawal kami ke gudang." Perintah Aaron pada anak buahnya.
Beberapa orang telah bersedia di hadapan pintu, tanpa mereka sadar beberapa antaranya adalah anak buah Holo yang berhasil menyamarkan diri.
Gudang tempat Raven dan Ronald ditahan tidak jauh dari kawasan rumah Aaron, hanya melewati jalan belakang dan jembatan kayu saja.
Mereka telah sampai di tempat itu hampir dan menuju ke arah Raven dan Ronald. Gordhi menendang kursi Ronald hingga Ronald terkejut dan sadar. Raven pula disiram dengan air oleh anak buah Aaron.
Raven dan Ronald kompak mengangkat wajah mereka dan menatap Gordhi dan Aaron yang tersenyum sinis ke arah mereka.
"Well, kali ini ajal akan menjemput kalian jadi bersiaplah," ucap Aaron dengan percaya diri.
"Tapi sebelum kalian ma-ti, tandatangan dulu berkas ini," sahut Gordhi sambil mengerluarkan berkas dokumennya.
Setelah tangan Ronald dilepaskan, terdengar bunyi tembakan dan teriakan dari luar gudang.
"Apa tu? Cepat periksa!" perintah Aaron pada anak buahnya.
Kini di ruanh gudang itu tinggal mereka dan anak buah Holo yang mereka tidak sadari telah menyamar menjadi anak buah Aaron.
Aaron mengeluarkan pisaunya dan langsung berjongkok di hadapan Raven.
"Katakan di mana Azel berada?" tanya Aaron sambil memainkan pisaunya di paha Raven.
Raven tersenyum sinis dan dia membuang ludah tepat mengena pada wajah Aaron.
Aaron menjadi semakin beremosi dan langsung saja menusuk paha Raven dengan pisaunya.
"Akkhhh," Raven meringis karena rasa sakit dan perih akibat tusukan pisau di pahanya.
Aaron tersenyum kemenangan karena Raven tidak bisa melawannya. Dia mencabut tancapan pisau tadi sambil tersenyum sinis.
Baru saja dia hendak melakukan hal yang sama, tiba-tiba seseorang menodong kepalanya dengan senjata api. Gerakan tangan Aaron terhenti, dia menoleh perlahan ke arah pria yang menodongkan senjata ke arahnya.
__ADS_1
Bughh!
Aaron tersungkur jatuh ke belakang setelah mendapat tendangan dari Raven. Matanya membulat melihat Raven yang telah berdiri di hadapannya.
Aaron hendak memanggil Gordhi tapi saat ini keadaan Gordhi sama seperti dirinya.
"Sia**n kalian berani mengkhianatiku!" ucapnya pada anak buah Holo yang sedang menyamar itu.
"Ck, kau yakin mereka berkhianat?" tanya Raven dengan wajahnya yang telah berubah.
Wajah Raven saat ini persis seperti seorang psikopat, dia menatap Aaron dengan tatapan lapar dan mengeluarkan mengambil pisau yang tadi digunakan oleh Raven.
"Jangan...jangan dekati aku!" ucap Aaron yang terlihat begitu gementar.
Raven tidak maju maupun mundur. Kesempatan ini di ambil oleh Aaron untuk berdiri tegak, niat ingin melarikan diri tapi dia telah dikelilingi pria yang mendukung Raven.
Mau tidak mau dia terpaksa melawan Raven, dia mengeluarkan satu lagi pisau lipat dari balik bajunya yang tipis, dia berharap dengan pisau lipat ini dia bisa menghabisi Raven.
Aaron berlari ke arah Raven untuk menyerang tetapi serangnya tidak ada satupun yang mengenai Raven dan gerakan Raven terlihat cepat dan susah dibaca.
Dengan sekali tendangan ke arah tangan Aaron, Raven berhasil menjatuhkan pisau yang dipegang oleh Aaron. Dia membalikkan tubuh Aaron lalu mengunci tubuh Aaron dengan tangan yang memegang pisau berdekatan dengan leher Aaron.
Dengan sekali tarikan mengerat, Raven telah membunuh Aaron dan darah bercipratan keluar dari leher dan mulut Aaron.
"Tidak!" Rennia berteriak karena kejadian itu disaksikan oleh dirinya yang berhasil masuk ke dalam gudang itu.
"Ren..." ucap Raven lirih.
Gordhi ingin mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri tapi Raven dengan cepat melemparkan pisau tadi mengenao tepat di paha Gordhi dan langsung tersungkur ke atas lantai.
Raven mengabaikan kehadiran Rennia, dia ingin menghabisi dulu nyawa Gordhi, dia meminta senjata api dari anak buah Holo dan menuju ke arah Gordhi.
Gordhi meminta ampun berulang kali dan minta dilepaskan tapi Raven tetap mengacuhkan permintaannya.
Oleh karena ada dendam yang dia simpab selama ini terhadap Gordhi.
"Kau telah membunuh kedua orangtuaku dan kau menyuap pihak berkuasa agar tidak dijatuhkan hukuman!" teriak Raven.
"Kau brengsek, pengecut!" lanjutnya lagi.
Raven melepaskan tembakan secara brutal ke arah Gordhi tepat di kepalanya hingga darah mengalir dengan deras keluar dari kepala Gordhi.
"Cukup Rav!" suara Holo bergema dan membuyarkan emosi Raven yang memuncak.
Raven membuang senjatanya, dia melihat ke arah Rennia yang wajahnya dibasahi oleh air mata, Rennia mundur setelah Raven coba mendekatinya.
Hal ini membuat Raven tidak melanjutkan langkahnya untuk mendekati Rennia, dia langsung saja keluar dari gudang itu dengan wajah yang terlihat tegang.
__ADS_1
"Baru kali ini aku melihat Raven membunuh dan itu sungguh menakutkan," gumam Rennia.
Bersambung...