
Rennia sudah tidak pernah menghubungi Azel lagi, dia membuang nomor Azel yang ada di ponselnya. Lalu membeli kartu nomor yang baru.
Walaupun belum sepenuhnya dia melupakan Azel, tetapi dia harus berusaha melupakan pria yang menurutnya brengsek itu. Rennia merasa sangat tertipu oleh Azel dan berarti desas desus yang sering ia dengar memang benar.
Oleh itu di kampus Rennia memilih untuk berada di dalam kelasnya saja karena dia tau hari ini Azel juga ada kelas dengan jam yang sama.
Setelah kelas telah tamat. Rennia cepat langsung saja menuju ke arah parkiran. Tapi baru saja hendak membuka pintu mobil sebuah tangan menggenggam
tangan kanan Rennia.
Rennia langsung menoleh ke arah seseorang yang telah berdiri di sebelahnya itu. Melihat wajah yang ingin dia hindari itu membuatnya rasa sakit hatinya kembali lagi.
"Apa lagi yang kau mau Azel?" Ucap Rennia dengan wajah yang berubah datar.
Rennia coba menahan dirinya agar tidak kelihatan sedih. Dia melepas paksa tangannya yang di genggam oleh Azel.
"Kau kenapa Ren? Kau tidak menghubungiku setelah malam itu." Ucap Azel berpura-pura seperti orang yang tidak bersalah.
"Oh. Aku lupa katakan. Kita putus dan hubungan kita sampai saat itu saja!" Ketus Rennia.
"Alasannya apa?" Azel masih berpura-pura tidak tau karena dia kira perbuatannya yang kuat bermain-main dengan wanita sewaan itu belum di ketahui oleh Rennia.
"Alasannya? Kau tanya alasannya apa?!" Rennia sudah mulai kehabisan rasa sabarnya menghadap Azel yang masih sok polos.
"Rennia kalau ada masalah kita bisa bicara baik-baik." Azel coba memegang pundak Rennia tapi di tepis kasar oleh Rennia.
Azel menahan rasa malunya karena banyak yang menyaksikan perdebatannya bersama Rennia. Dia sudah coba berlembut dengan Rennia tapi Rennia tetap saja dingin.
Dia tidak tahu apa salahnya, tidak tepatnya dia tidak tahu bahwa Rennia sudah mempergokinya perbuatan bejatnya itu. Karena saat itu dia asyik dengan pergulatan panasnya sehingga tidak sadar dengan kehadiran Rennia.
Azel terpaksa menarik paksa tangan Rennia dan membawanya ke balik pohon yang berada diluar gerbang kampusnya.
Rennia menarik paksa tangannya tapi tidak berhasil karena Azel menggenggam tangannya dengan kuat. Sehingga mereka sampai di balik pohon itu. Azel menatap nyalang ke arah Rennia.
"Kau kenapa hahh?! Kau tadi membuatku malu?! Padahal sudah aku katakan kalau ada masalah kita bicara baik-baik tapi kau begitu keras kepala!" Azel membentak Rennia.
"Suka akulah mau keras kepala! Kau bilang bicara baik-baik? Hahh sudahlah aku sudah muak." Rennia membalas ucapan Azel dengan tidak kalah nyalangnya.
"Aku tidak mau putus titik!" Ucap Azel bersikeras.
Rennia melotot, dia ingin meninggalkan Azel sendirian di situ tetapi Azel kembali menarik tangannya dan mendorongnya Rennia ke pohon besar itu.
__ADS_1
Bughh!!
"Akhh... " Rennia meringgis karena merasa sakit di bagian belakangnya karena terhempas kuat pada batang pohon yang besar itu.
Azel mendekatkan dirinya ke arah Rennia, lalu menyunggingkan senyuman. Rencana jahat sudah memenuhi pikiran Azel.
"Ka...u mau apa?" Ucap Rennia gementar setelah Azel berada di hadapannya dan hanya memberi sedikit jarak saja.
"Aku akan memiliki kau sepenuhnya hari ini." Ucap Azel lalu makin mengikis jarak antara dia dan Rennia.
Rennia hendak mendorang tubuh Azel tali ternyata tenaganya tidak sekuat lelaki itu. Saat ini Rennia bisa merasakan hembusan nafas Azel. Rennia mencoba menutup mulutnya menggunakan tangannya tapi dengan cepat Azel menangkat kedua tangan Ryna dan menguncinya di atas kepala Rennia.
"Azel!! Orang akan berpikir kita berbuat mesum." Cetus Rennia.
"Orang tidak akan peduli lagian kita sepasang kekasih." Azel terus mengintimidasi Rennia.
Kini hidung mereka hampir bersentuhan dan Rennia terpaksa melakukan sesuatu yang menjijikkan. Rennia meludah ke arah wajah Azel.
Cuiihh!!
Azel seketika kaku karena kaget, dia tidak menyangka Rennia yang lembut bakal berbuat begitu. Rasa amarah Azel yang di tahan dari tadi berada di puncaknya.
Plakk!!
Rennia pikir dia akan jatuh terjerembab ke tanah tetapi dia merasa ada seseorang yang menangkapnya lalu memeluk dirinya.
Rennia coba membuka matanya, dia kaget melihat wajah seorang yang ia kenal.
"Raven." Batin Rennia
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Raven dengan wajah khawatir sambil membantu Rennia untuk berdiri.
"Aku..." Rennia merasa perih di pipinya lalu mengusapkan pipinya menggunakan tanganya.
Raven meberhentikan tangan Rennia yang sedang mengusap pipinya itu. Tanda telapak tangan merah berada di pipi Rennia.
Rahang Raven langsung saja mengeras. Dia melihat ke arah Azel yang sok menatapnya dengan nyalang itu.
"Kau siapa hahh?!" Azel membentak Raven lalu menuju ke mereka.
Azel hendak menarik tangan Rennia tapi berhasil di tepis oleh Raven. Azel melotot karena Raven berani menepis tangannya.
__ADS_1
"Hei, kau jangan masuk campur. Ini urusan aku dan kekasihku." Ucap Azel sambil menunjuk Raven.
Mendengar perkataan kekasih, Raven langsung mengalihkan pandangannya dari Azel kepada Rennia. Rennia menggelengkan kepalanya.
"Rennia kemari kau jangan bersembunyi di balik tubuh pria asing ini. Apa kau tidak takut dia akan memperkosamu dengan imbalan menyelamatkanmu." Kata Azel dengan lancangnya.
Raven yang mendengar ucapan Azel yang merendahkan harga diri Rennia kini sudah melepaskan bogem mentahnya di wajah Azel.
Bugh! Sekali.
Bugh! Dua kali.
Bugh! Tiga kali.
Ketika Raven hendak menghantam untuk yang kali ke empat, Rennia langsung saja menghentikan tangannya dengan memegang lengan Raven.
Raven hampir kehilangan kendalinya. Baru tiga kali pukulan saja Azel sudah hampir babak belur. Darah segar mengalir dari hidung mancung Azel.
Mujur saja tidak ada yang menyaksikan kejadiaan itu karena mereka tahu Azel adalah anak dari gangster besar kota sebelah. Makanya tidak ada yang berani mendekat.
"Kita pergi yuk." Ucap Rennia lembut kepada Raven.
Raven menghembuskan nafas kasarnya lalu membetulkan lagi pakaiannya. Lalu mengenggam tangan Rennia dan membawanya pergi dari tempat itu.
Azel hanya menyaksikan Rennia dan pria asing itu pergi. Dia mengepalkan tangannya dan mencoba untuk duduk.
"Sial siapa dia? Cuihh jangan harap aku bisa lepaskan kalian." Ucap Azel sendiri.
....
Raven membawa Rennia masuk ke dalam mobilnya, tidak ada percakapan apa pun di antara mereka sehingga mereka sampai di sebuah kafe.
Dia mengandeng tangan Rennia masuk ke dalam kafe tersebut dan mereka di sambut oleh semua pelayanan kafe itu. Rennia merasa keheranan.
"Apa kau telah menyewa tempat untuk kita, sepertinya di sini bukan kafe biasa." Ucap Rennia berbisik kepada Raven.
"Jangan risau tempat ini milikku." Jawab Raven dengan polosnya dan mampu membuat Rennia melongo mendengar ucapannya.
Raven membawa Rennia ke ruang khusus iaitu ruang pribadinya. Tidak lupa dia menyuruh beberapa pelayan menyiapkan makanan yang istimewa dan meminta es juga kain.
Bersambung...
__ADS_1