
"Ayo jujurlah cepat." Raven menggoda Rennia yang mengalihkan pandangannya.
"Ish, kenapa mulut ni tadi nggak pandai mau kontrol ck." Gerutu Rennia dalam hatinya.
Raven tertawa geli melihat Rennia yang menjadi salah tingkah seperti ini. Suasana dalam mobil kembali hening. Raven tidak melanjutkanlah pertanyaannya dia takut nanti dia malah membuat Rennia menjadi tidak nyaman bersamanya.
Raven memasuki kawasan parkiran depan kafenya. Dia membawa Rennia makan siang bersama sebelum menghantarnya pulang ke rumah.
Rennia yang masih saja merasa malu itu sering menatap curi-curi ke arah Raven yang sibuk dengan laptopnya. Sehingga Raven memergokinya dengan membalas tatapan Rennia dengan senyuman yang bisa membuat para kaum hawa berteriak histeris.
Deg!!
Rennia mengalihkan pandangannya dari Raven, dia menjadi semakin salah tingkah.
"Kenapa?" Tanya Raven dengan sumringgah.
Rennia tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya saja dan pura-pura bermain ponselnya, sehingga makanan yang mereka pesan datang.
Kali ini Rennia yang memesan makan siang mereka karena kalau Raven yang pesan berarti bukan hanya untuk makan siang bisa sekalian makan malam. Akhirnya mereka makan dengan tenang dan tenteram.
Tapi anehnya hari ini Raven tidak seperti hari kemarin yang sungguh perhatian terhadapnya dari hal yang terkecil. Rennia menjadi bingung dia mengingat kembali kalimat yang diucapkan oleh Raven sebelum mematikan panggilan telepon mereka.
Setelah makan, Rennia memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Raven.
"Rav..." Panggil Rennia dengan lirih.
Mendengar namanya di panggil, Raven langsung menatap Rennia dan menaikkan kedua alisnya.
Netra mata mereka kini beradu, ada tatapan sedih dan ada tatapan yang penuh berharap.
"Rav, aku mau tanya sesuatu tapi bisakah kamu berkata jujur?" Ucap Rennia dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Tanyalah, aku akan menjawab." Jawab Raven sambil tersenyum.
"Err... apa maksudmu semalam?"
Raven mengerutkan dahinya.
"Yang mana?"
Rennia menarik nafas perlahan agar dia berasa sedikit tenang.
"Huft, yang kau bilang sejak pertama kau sudah jatuh cinta padaku." Setelah mengucapkannya Rennia langsung menunduk malu.
__ADS_1
Tatapan mata Raven langsung berubah, terdapat kilatan yang sulit di artikan pada tatapannya tapi yang pasti bibirnya mengukir sebuah senyuman bahagia.
"Kau mendengarnya?" Menjadi kebiasaan setiap orang kalau ditanya serius malah bukan dijawab tapi dipertanyakan lagi. Begitu juga dengan Raven saat ini.
Rennia hanya mengangguk kecil sambil wajahnya masih ditundukkan.
Raven langsung berdiri dan mendekat ke arah Rennia. Raven berlutut lalu mengangkat dagu Rennia untuk menatap wajahnya.
"Jadi apa jawabanmu?" Ucap Raven dengan lirih.
Gulk...
Saat ini wajah Rennia sungguh berada sangat dekat dengan Raven, sehingga dia merasa tengkorokannya susah untuk menelan air liurnya sendiri.
Garis wajah Raven yang tegas dengan rahang yang lebar itu membuat Rennia susah untuk mengedipkan matanya, baru kali ini dia menatap Raven dengan jarak yang sangat dekat. Sehingga Rennia lupa akan pertanyaan Raven tadi.
"Ren..." Raven memecahkan lamunan Rennia.
Lamunan Rennia membuyar, wajahnya berubah memerah seperti kepiting rebus, dia mengundurkan sedikit dirinya agar tidak terlalu dekat dengan Raven.
"Maaf." Ucapnya singkat, lalu mengalihkan pandangan ke tempat lain.
Raven kini sudah mengambil posisi berdiri lalu kembali ke tempat duduknya tadi. Raut wajahnya berubah datar, entah apa yang ia rasakan saat ini cukup dia saja yang tahu.
Rennia memandang Raven karena ucapan Raven tadi sungguh mengusik jiwanya.
"Maaf." Jawabnya perlahan tapi masih bisa didengar oleh Raven.
"Seharusnya, aku tidak mengatakan hal itu." Batin Rennia.
....
3 hari telah berlalu setelah kejadian itu. Rennia sudah absen selama 3 hari, karena moodnya yang sangat tidak bagus. Ditambah lagi Raven yang tidak menghubunginya.
Vitra kembali ke rumah untuk memeriksa kondisi Rennia karena menurut Daddynya sudah 3 hari Rennia tidak bicara dan hanya mengurungkan diri di dalam kamarnya.
Vitra kembali teringat tentang rekaman cctv yang ia ambil dari hotel itu.
"Mungkin ini karena pria itu lagi?" Ucapnya dalam hati sambil memasuki lift untuk menuju ke lantai 3 di mana kamar Rennia berada.
Vitra mengetuk berulang kali pintu kamar Rennia tapi tidak ada sahutan sekalipun dari dalam sana, dia mulai mengkhawatirkan adik kesayangannya itu.
"Rennia bukalah, kamu kenapa sih berkurung terus? Apa ada yang mengusikmu?" Pertanyaan demi pertanyaan dilemparkan oleh Vitra yang berada di depan pintu kamar Rennia.
__ADS_1
Baru saja ia mulai mendengus kesal, Rennia membuka pintu kamarnya dengan wajah yang datar, dan penampilan Rennia sungguh berbeda.
"Kenapa sih berisik amat." Ketus Rennia lalu berlalu dari depan sang kakak.
Vitra menilik penampilan Rennia yang sepertinya ingin pergi berolahraga.
"Kau mau ke mana siang-siang bolong ini Ren?" Teriaknya setelah sadar Rennia kian menjauh.
Vitra berlari mengejar sang adik yang lebih memilih menggunakan tangga untuk turun ke lantai dasar rumah mereka.
"Mau ke mana?" Tanya Vitra sekali lagi.
"Tempat pelatihan." Jawab Rennia dengan ketus.
Vitra menganga mendengar jawaban dari Rennia, karena dia tau Rennia bukan suka mendatangi tempat pelatihan para pengawal mereka. Walaupun dia tau Rennia jagoh dalam bela diri tetapi tetap saja Rennia bukan orang yang suka dengan kekerasan.
Vitra tidak lagi bertanya, dia hanya membuntuti adik kesayangannya itu.
Rennia yang merasa kesal semakin menjadi kesal apabila sang kakak mengikuti langkahnya. Hilang sudah kesabaran Rennia.
"Stop di situ Kak!" Cetus Rennia dengan dingin. "Jangan ikuti aku." Lanjutnya lagi.
Vitra ingin protes tetapi Rennia menatapnya dengan tatapan yang menakutkan.
"Apa dia sedang kesal?" Tanya Vitra pada dirinya sendiri.
....
Di tempat lain.
"Itu sepertinya anak perempuannya." Ucap salah satu dari ke 4 pria yang berada dalam mobil SUV hitam sambil menunjuk ke arah seorang wanita yang baru saja sampai di tempat pelatihan.
"Bersiaplah kita akan menculiknya dan jangan sampai ada yang ketahuan." Ujar salah satunya lagi.
Tiga orang pria keluar dari dalam mobil dan menyisakan satu pria yang berjaga di dalam mobil mereka. Ketiga pria itu memasuki kawasan pelatihan itu dengan mudah. Mereka mengamati seorang wanita muda yang sedang memukuli punching bag sambil berceloteh.
Mereka tidak menyerang wanita di saat ini, mereka menunggu di saat wanita itu bersendirian.
Setelah merasa lelah, wanita itu beristirehat dan menuju ke ruang ganti pakaian. Tapi tanpa ia duga seseorang menariknya lalu membungkam mulutnya menggunakan sapu tangan yang sudah di semprot menggunakan obat bius.
Salah satu pria itu berhasil mendapatkan wanita itu, mereka pergi dari tempat pelatihan tanpa ada yang menyadari perbuatan mereka.
Bersambung...
__ADS_1