Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 16 Tentang Gordhi


__ADS_3

Rennia kini sudah sampai di rumahnya, Daddy dan kakaknya menyambutnya dengan pelukan hangat.


Ronald, Daddy Rennia menilik seluruh tubuh Rennia, memang tidak terdapat luka hanya saja wajah Rennia sedikit memar.


Ronald menyuruh Vitra mengambil es dan kain untuk mengompres wajah Rennia yang kelihatan berantakan.


"Maafkan Daddy sayang." Ucap Ronald lirih sambil mengusap pipi Rennia yang terlihat memar.


Rennia menggelengkan kepalanya.


"Daddy bisa jelaskan kepada Ren, mereka itu siapa?"


Mau tidak mau Ronald terpaksa menceritakan tentang mereka yang baru saja menculik Rennia. Ternyata mereka itu adalah salah satu sepupu Ronald.


Mereka tidak berpuas hati karena bisnis illegal keluarga mereka diberi kepada Ronald padahal Ronald telah diberi perusahaan induk keluarga besar mereka.


Kakeknya lebih memilih Ronald untuk memimpin perusahaan tradisi keluarga mereka. Sebelum Kakeknya meningal mereka masih dalam hubungan baik-baik saja tapi setelah Kakek meninggal persaudaraan mereka berpecah belah dan salinh merebut hak mereka.


Rennia sedikit kaget dengar penjelasan Daddy, karena selama ini dia tidak pernah mengetahui tentang keluarga Daddynya kecuali keluarga mendiang mommynya.


Tapi kenapa mereka sanggup melakukan pelecehan terhadap Rennia padahal dia masih merupakan keponakan mereka.


"Yang menculik kamu tadi adalah Gordhi, Daddy ingin membunuh suatu hari nanti." Ucap Ronald jujur.


Deg!!


Rennia tercengang mendengar ucapan Ronald.


"Kenapa Dad?"


Ronald menceritakan tentang Gordhi yang merupakan penyebab Mommynya dulu memilih mengakhir hidupnya. Gordhi telah memperkosa Mommynya tapi di saat Ronald ingin membalas kejahatannya, malah Ronald dipukul hingga babak belur oleh beberapa gangster yang merupakan anak buah dari Gordhi.

__ADS_1


Rennia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, dia tidak menyangka Gordhi bakal senekad itu.


"Dad tadi saja dia mencium bibirku dengan paksa."


Tatapan mata Ronald berubah menjadi berapi-api, dia mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali dia membunuh Gordhi saat ini tapi dia belum cukup kuat karena Gordhi juga merupakan tangan kanan gangster Kota sebelah.


"Aku tidak akan biarkan dia melakukan kejadian yang sama." Batin Ronald dengan amarah.


Setelah bercerita panjang akhirnya tanpa mereka sadar Rennia telah tertidur di pangkuan Vitra, karena memang tadi Vitra yang membantu kompress pipi Rennia dalam posisi berbaring dan berbantalkan paha Vitra.


Ronald menatap sendu anak gadisnya, gurat amarah di wajahnya tampat kelihatan. Vitra harus memperketatkan lagi pengawasan terhadap Rennia mulai hari ini.


Vitra dan Daddynya sudah menyusun rencanan untuk menghancurkan Gordhi. Tapi mereka harus mencari tempat yang aman untuk Rennia agar Gordhi tidak mengincarnya lagi.


Vitra mengendong Rennia masuk ke kamarnya lalu mengucup dahinya lembut.


"Ren, kamu harus jadi gadis yang kuat, Kak Vit dan Daddy sungguh mencintaimu."


Entah kenapa ucapan Vitra tadi membuat matanya sendiri memanas, ada firasat tidak baik dia rasakan tapi dia berharap Rennia akan baik-baik saja.


...


"Bagaimana apa kau sudah menghantarnya?" Tanya Holo dengan menggoda.


"Aku khawatirkan dirinya." Raven memberi jawaban yang tidak nyambung membuat Holo tertawa geli.


"Berusaha adalah jalan terbaik." Holo memberi saran kepada Raven.


Raven tidak menjawab dia menatap langit ruang tamu rumah Holo. Pikirannya hanya tertumpu kepada Rennia saja saat ini.


Raven kembali ke rumahnya pada jam 12 malam, dia coba membuat panggilan ke nomor Rennia tapi Rennia tidak mengangkatnya. Dia mengira mungkin Rennia kecapean dan sudah tidur. Raven mengirim pesan.

__ADS_1


[Selamat tidur sayang.]


.


.


.


Pagi menerpa, Rennia yang tertidur pulas semalam kini telah bangun dan menggosok-gosok kedua matanya. Dia menuju ke kamar mandi lalu mencuci mukanya. Hari ini dia akan absen dari kuliah lagi karena memar di wajahnya masih tersisa.


Rennia memeriksa ponselnya, senyumannya mengembang setelah melihat pesan Raven dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Raven.


Rennia membuat panggilan keluar ke nomor Raven dengan wajah yang gembira.


Di tempat Raven.


Tidur Raven yang pulas kini terganggu oleh bunyi deringan ponselnya, dia bangun dengan wajah memelas lalu meraba ponselnya di atas nakas sebelah ranjangnya.


Tanpa melihat siapa pemanggilnya Raven menjawab panggilan telepon itu.


[Hmm] nada khas baru bangun.


Terdengar kekehan dari seberang sana, Raven langsung membuka matanya dan melihat ke layar teleponnya.


[Rav, apa aku menganggumu?]


[Maaf Ren, tidak kau tidak menganggu hehe.]


[Ehm, maaf juga semalam aku tidur lebih awal mungkin karena kecapean.]


[Its Okay sayang aku mengerti.]

__ADS_1


Panggilan telepon berlangsung sekitar satu jam, banyak perkara yang Rennia bahas kepada Raven begitu juga dengan rencana-rencana kencan mereka.


Bersambung...


__ADS_2