Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 15 Strategi mempan


__ADS_3

Holo terus memperhatikan titik merah pada layar tabnya. Sebenarnya Holo juga mengkhawatirkan Raven bukan karena dia tidak bisa melawan mereka tapi karena yang menjadi korban penyulikan adalah wanita yang merupakan kekasih Raven.


Holo tidak pernah melarang Raven untuk jatuh cinta kepada siapa pun karena dia sadar dirinya juga mempunyai seorang wanita yang sangat ia cinta dan butuh ia lindungi.


Jatuh cinta adalah lumrah seorang manusia yang sudah di tetapkan dari penciptanya. Holo terus mengawasinya tidak lupa juga dengan pengawasannya saat ini.


....


Raven melihat dari arah hutan yang sedikit jauh dari kawasan gudang lama itu, dia memantau gerakan para pria yang berjaga di sana.


"Ck pasti Rennia ada di dalam sana." Ucapnya dalam hati.


Raven kali ini tidak langsung menyerang mereka, dia tidak mau gegabah karena nyawa yang berada ditangan mereka merupakan seorang wanita yang telah memenuhi relung hatinya.


Raven mengendap-ngendap untuk mencari celah agar dia bisa memasuki gudang itu. Dari dalam hutan dia berjalan mengitari gudang itu.


Sehingga dia menemukan celah. Di sisi gudang lama itu terdapat dinding yang sudah mulai buruk dan mempunyai celah yang sedikit besar.


Raven berpikir akan masuk ke gudang itu lewat celah dinding itu. Dia melihat ke 3 orang sedang bermain ponsel di depan gudang dan 2 orang lagi sedang berdiri di pintu utama gudang.


Dengan langkah yang berhati-hati dan cepat Raven sampai di sisi gudang tanpa ada yang sadar dengan pergerakannya. Di masuk lewat celah dinding itu.


[Holo, aku berada di dalam gudang, kalau dalam 10 menit aku belum sampai, kau kesinilah.] Ucap Raven lewat intercom mereka.


[Baik, berhati-hatilah Rav.] Jawab Holo.


Raven meneruskan langkahnya, terdapat banyak kotak kayu yang besar di dalam sana, hal ini memudahkan Raven untuk bersembunyi.


Di depan sana terdapat lampu samar-samar. Raven menuju ke arah itu perlahan, sehingga dia menemukan arah cahaya lampu itu.


Di bawah cahaya lampu itu, ada Rennia yang masih dalam keadaan diikat dikursi. Rennia menundukkan kepalanya dan tangannya yang diikat di belakang berusaha melonggarkan ikatan talinya.


Air mata membasahi wajah Rennia, dia tidak tahu apakah Raven tahu dia berada di sini dan apakah Daddynya sadar dia telah menghilang. Dan siapa sebenarnya yang menculiknya, semua pertanyaan itu berputar-putar di dalam pikiran Rennia.


Sehingga dia merasa ada tangan yang menyentuh tangannya di belakang, Rennia baru saja hendak berteriak tapi mulutnya ditutupi oleh Raven.


"Ssstt.. Ini aku Raven. Diamlah dan bekerjasama." Ucap Raven berbisik di telinga Rennia.


"Raven? Bagaimana bisa?" Gumamnya dalam hati.


Raven memotong dengan cepat tali yang mengikat tangan dan kaki Rennia. Setelah selesai, dia langsung mengendong Rennia ala bride style masuk ke celah-celah kotak kayu yang berada di dalam gudang itu.


Raven tidak banyak bicara, matanya hanya fokus ke depan. Dari kilatan matanya Raven kelihatan sangat marah, sehingga Rennia juga tidak berani mengatakan apa-apa.


[Holo, aku akan keluar bersama Rennia, bersiaplah kita akan langsung pergi.] Ucap Raven lewat intercom yang tersambung kepada Holo.

__ADS_1


[Kau membunuh mereka atau ?] Tanya Holo.


[Rennia dalam keadaan sadar.]


Holo mengerti dengan maksud ucapan Raven, dia mematikan sambungan intercom lalu lanjut menatap layar tabnya.


....


Sepanjang perjalanan Rennia mau pun Raven tidak ada yang berbicara menanyakan keadaan mereka, dan suasana menjadi sangat cangung membuat Holo berasa tidak nyaman.


Holo memilih berhenti di pinggir jalan, lalu berkata.


"Selesaikan, aku akan tunggu di luar."


Belum sempat Raven menolak, Holo telah keluar dan menjauh dari mobil yang mereka naiki.


Raven mendengus kesal dengan apa yang dilakukan Holo walaupun dalam hati kecilnya dia bersorak sorai bisa berdua sebentar bersama Rennia.


"Kalau kau marah, biar aku yang panggil temanmu untuk kembali." Ucap Rennia tiba-tiba sambil memegang tuas pintu.


"Tidak usah, dia tidak akan datang kecuali aku yang memanggilnya." Jawab Raven sambil bersandar di tempat duduk dalam mobil itu.


"Ren, apa kau marah padaku?" Lanjutnya lagi dengan bertanya.


Rennia mengerutkan alisnya.


Raven menoleh ke arah Rennia, karena dia mengira Rennia marah padanya karena ucapannya berapa hari yang lalu.


Kini Raven mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan Rennia.


"Aku tidak memarahmu Ren, malah aku pikir kau yang marah padaku."


Rennia menggelengkan kepalanya.


"Aku juga tidak marah kok, aku cuma kesal aja karena kau tidak menghubungiku 3 hari. Apa kau yakin kau cinta padaku?"


"Ehh kenapa aku bisa katakan tentang itu." Batin Rennia. Kini Rennia menjadi salah tingkah.


Raven tersenyum melihat kepolosan Rennia, dia tidak menyangka Rennia akan mengungkit tentang perasaannya terhadap Rennia.


"Aku memang mencintaimu, aku cuma mau beri kau ruang dan waktu untuk berpikir." Jelas Raven.


Wajah Rennia mulai memanas, dia merasa malu. Untuk menatap Raven saja saat ini dia sangat malu.


"Tatap aku Rennia, aku ingin mendengar jawabanmu." Ucap Raven sambil mengangkat perlahan dagu Rennia agar bisa menatap wajahnya.

__ADS_1


"Rav, aku..." Rennia sedikit gementar. "Tapi aku tidak bisa berikan sesuatu yang berharga padamu." Lanjutnya lagi.


Raven menaikkan sebelah alisnya.


"Maksudnya?"


Rennia menjelaskan kepada Raven tentang bukti untuk hubungan cinta mereka, bukan merasa kaget malah Raven tiba-tiba menertawakannya, sehingga membuatnya kesal.


Raven coba membujuk Rennia tapi Rennia masih saja merasa kesal karena diketawakan oleh Raven. Dia mengakui memang dirinya sangat polos dalam hubungan yang melibatkan perasaan tapi dia tidak sebodoh wanita lain yang sanggup mengorbankan harga diri mereka demi sang kekasih.


Raven berulang kali meminta maaf tapi tetap di acuhkan oleh Rennia sehingga Raven menggunakan strategi sama sewaktu Rennia cemburu.


Cup!!


Rennia lantas memandang ke arah Raven yang berada sangat dekat dengannya. Raven tersenyum lalu kembali meminta maaf.


"Maafkan aku." Ucap Raven lirih dengan suara yang mampu menghipnotis Rennia.


Rennia memperhatikan bibir tipis Raven yang sangat menarik, sehingga tanpa sadar dia menempelkan bibirnya di bibir Raven.


Raven tiba-tiba menjadi kaku, dia tidak menolak mau pun membalas tapi dia cukup diam dan merasakan hangatnya bibir wanita yang ia cintai ini.


Rennia melepaskan bibirnya, tapi tiba-tiba saja air matanya mengalir dengan deras. Raven menjadi panik.


"Ren, kau kenapa? Apa ada yang sakit?" Ucapnya dengan cemas.


Rennia menggeleng lalu dia mengatakan bahwa dia teringat kejadian buruk yang mereka lakukan padanya.


"Salah satu...dari mereka menci** bibirku kemarin Rav, aku sudah ternoda oleh pria asing, maafkan aku Rav."


Raven mengepalkan tangannya, lalu menarik Rennia ke dalam pelukannya.


"Tenang Ren." sambil mengusap punggung Rennia dengan perlahan.


Tangisan Rennia makin kuat, Raven yang tidak tega kini mengangkat wajah Rennia yang tadi terbenam di dada bidangnya kini menatapnya.


Raven dengan perlahan menempelkan bibirnya lalu melu*** perlahan, Rennia diam dari tangisnya dan coba untuk membalas ciu*** Raven.


30 detik, Raven melepaskan bibirnya lalu berkata.


"Aku sudah membersihkan bibirmu, jangan menangis lagi ya."


Senyum Rennia mengembang, baru saja hendak melanjutkan tiba-tiba Holo masuk ke dalam mobil.


"Kalian sambung aja lain kali, istriku di rumah kesepian." Sindir Holo kepada Rennia dan Raven sambil tersenyum sungging.

__ADS_1


Raven dan Rennia otomatis menjadi salah tingkah, mereka melepaskan pelukan dan kini duduk berjauhan.


Bersambung...


__ADS_2