
Vitra melihat mobil Raven telah terparkir di luar gerbang. Dia keluar karena ingin bertemu dengan Raven, dia harus mencari tau sesuatu tentang Raven. Dia tidak mau Rennia kembali di serang panic attack lagi hanya karena seorang pria membuatnya terluka.
Vitra sudah berada berdekatan dengan mobil Raven, dan tanpa Raven suruh Raven telah keluar dari mobilnya.
"Hai kita bertemu lagi." Ucap Vitra dengan wajah sinisnya.
"Ya." Jawab Raven dengan posisi sangat santai.
"Kau ingin menjemput Rennia? Mau ke mana?"
"Hanya bawa makan saja tidak lebih lagian kalau aku tidak memujuknya hari ini pasti seharian dia akan cemberut karena kesalahanku."
"Ya tadi aja wajahnya sangat jelek karena kau."
"Aku tidak sengaja menjatuhkan ponselku ke dalam ember tadi dan ini aku baru saja membeli ponsel baru."
"Alasan baku. Kau mungkin tidak serius dengannya Raven."
"Aku akan menyakinkanmu suatu hari nanti."
Perbicaraan mereka terhenti apabila Rennia sudah berlari kecil keluar dari rumahnya menuju ke arah Raven.
"Kak kau buat apa di sini?" tanya Rennia yang agak kaget karena Vitra berada di situ.
Vitra mengacuhkan pertanyaan Rennia dia hanya menatap Raven dengan sinis membuat suasana menjadi canggung.
Rennia mendekati Vitra lalu mencubit kecil lengan Vitra.
"Tadi sudah janji tidak akan ganggukan." Ucap Rennia dengan wajah dingin dan menakutkan.
"Sakit Ren, maaf maaf tolong lepas." Vitra merasa sakit karena lengannya terus dicubit oleh Rennia.
Rennia melepaskan cubitannya lalu berlari kecil menuju ke arah Raven.
"Ayo kita jalan, abaikan aja dia." Sinis Rennia sambil menatap tajam ke arah Vitra.
Vitra yang dibuat menciut itu pun langsung saja masuk ke dalam rumah sambil mengoceh tidak jelas.
Kini Raven dan Rennia menuju ke kafe Raven seperti biasa. Tapi kali ini mereka hanya mampir untuk Rennia mengganti pakaiannya.
Rennia mengenakan dress yang dibelikan oleh Raven sebagai hadiah permintaan maafnya karena sempat tidak mengabarinya tadi.
Awalnya Rennia menolak hadiah tersebut karena kejadian itu bukan sepenuhnya salah Raven tapi mungkin sudah memang begitulah. Rennia juga meminta maaf karena sempat berpikir buruk tentang dirinya yang tiba-tiba saja menghilang.
Walaupun begitu Raven tetap bersikeras menyalahkan dirinya dan meminta Rennia agar menerima hadiahnya, Raven berjanji akan membawa Rennia ke tempat mewah hari ini.
Sewaktu menunggu Rennia sedang menggantikan pakaiannya, Raven asyik membaca laporannya sehingga dia mendengar suara pintu dibuka barulah dia mengangkat kepalanya.
__ADS_1
Rambut yang tergerai indah dengan wajah bermake up yang tipis, bibir yang dipoles dengan lipstik berwarna merah, membuat Rennia terkesan sebagai wanita elegan.
Raven menatap Rennia tanpa mengedipkan matanya hingga membuat Rennia merasa malu. Bibir Raven mengukir sebuah senyuman.
Raven berjalan mendekati Rennia, dia menarik pinggang rampingnya mendekat ke arah dirinya lalu berbisik.
"Kau sungguh menawan babe, aku seperti ingin mengurungmu di sini saja."
Wajah putih Rennia bertukar menjadi merah seperti kepiting rebus, dia menatap wajah Raven dengan jarak yang sungguh dekat.
"Bibir ini yang membuatku candu." Batin Rennia sambil menyentuh bibir Raven.
Raven membiarkan saja Rennia memainkan jarinya di bibir tipisnya itu, dia sengaja tidak ingin bertindak dulu karena senang melihat wajah Rennia fokus pada bibirnya.
Ternyata Raven juga tidak bisa menahan hasratnya, dia memberhentikan tangan Rennia yang bermain di bibirnya dan langsung saja menyambar bibir Rennia dengan rakusnya.
Rennia membalas ciu*** Raven dengan sama geraknya, sambil mengalungkan kedua lengannya di leher Raven. Cukup lama mereka saling bertukar saliva, sehingga Rennia sudah mulai kehabisan oksigen barulah Raven melepaskan bibirnya.
"Maaf Ren." Sambil mengusap punggung Rennia.
Rennia menggeleng tanda dia baik-baik saja. Rennia coba menghirup oksigen sebanyak mungkin lalu menghela nafas dengan perlahan.
Wajah polos Rennia sangat lucu, Raven menjadi terkekeh.
"Kau sangat lucu sayang."
"Kenapa Ren? Apa yang lucu?" Raven merasa bingung.
"Itu... Bibirmu hahaha." Jawab Rennia sambil tertawa.
"Kenapa bibirku?" tidak mendapat jawaban dari Rennia, Raven langsung saja menuju ke arah cermin dinding lalu dia juga tertawa kecil.
"Oh kamu meledekku ya?" Raven kembali mendekati Rennia lalu menggelitik pinggangnya.
Rennia makin tertawa karena kegelian yang diciptakan oleh Raven sehingga dia terbatuk-batuk barulah Raven berhenti.
"Masih mau tertawakan aku?" tanya Raven.
"Maaf maaf, aku cukup dulu." Ucap Rennia yang kini sudah terduduk lemas di sofa.
Raven menyusul Rennia duduk di sofa lalu menuangkan air untuk Rennia.
"Minumlah."
Rennia menyambut gelas air itu dan meminumnya hingga tandas, lalu dengan cepat mengambil tisu. Rennia membersihkan bibir Raven dari warna lipstiknya.
"Maaf, aku pakai lipstik yang tidak tahan air makanya jadi begini." Sambil tangannya cekatan membersihkan sekitar bibir Raven.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bukan salahmu, salahku tadi yang langsung main nyosor saja." Jawab Raven sambil menatap lekat wajah cantik Rennia.
"Ehm, kita jadi mau jalan?"
"Of course babe, setelah ini kita akan jalan-jalan pergi nonton bioskop dan makan di restoran mewah bagaimana?"
"Jangan terlalu berlebihan Rav."
"Untukmu tidak ada yang tidak berlebihan." Ucapnya sambil mengusap pipi Rennia.
"Terima kasih."
Raven ingin sekali menci** Rennia lagi tapi Rennia melarangnya karena mereka akan keluar, takutnya bibirnya akan kembali tertempel warna lipstiknya.
Seperti perkataan Raven tadi, dia membawa Rennia makan di restoran mewah setelah selesai menonton bioskop.
Sewaktu hendak memesan makanan tiba-tiba seorang pria mendekati Rennia.
"Oh sekarang sudah ganti dengan pria ini lagi." Sindir pria itu.
Rennia langsung menoleh ke arah suara yang ia sangat kenal itu.
"Azel!"
Ya pria itu adalah Azel. Azel menatap sinis ke arah Rennia.
"Kenapa kaget? Ketahuan selingkuh?"
Rennia ingin membalas ucapannya tapi Raven lebih dulu bersuara.
"Bukan lo yang sudah ketahuan selingkuh lagi enak-enakan di atas ranjang." Cibir Raven sambil tersungging.
Azel yang tidak terima karena hinaan Raven, dia mulai melayangkan tangannya ingin memukul Raven tapi dengan sigap Raven menahan tangannya dan menekannya.
"Aku beritahu denganmu, ini yang terakhir kali, jangan pernah mengganggu calon istriku lagi, kalau tidak aku tidak akan pernah main-main lagi." Lirih Raven.
Raven melepaskan genggaman tanganya lalu membiarkan Azel pergi dengan wajah sinis.
Azel pergi dengan tatapan tajam.
"Aku akan membuatmu menderita tunggu saja." Batinnya.
Rennia menghela nafas lega setelah kepergian Azel, dia menatap wajah Raven yang masih terdapat gurat amarah.
"Sudahlah dia sudah pergi." Ucap Rennia sambil mengusap tangan Raven agar Raven bisa kembali tenang.
Bersambung...
__ADS_1