Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 6 Permintaan Raven


__ADS_3

Jam 5 pagi, Raven berganjak dari tempat dia berada sekarang lalu kembali ke rumahnya.


Kantuk mulai terasa, sebelum tidur Raven sempat tersenyum melihat foto wanita yang dia lihat dari jarak jauh tadi.


Raven tau dia sudah mulai jatuh cinta pada pandang pertama. Karena dia tidak pernah merasakan hal ini tapi setelah dia puas mencari di pencarian mbak google akhirnya dia dapat bahwa dia mengalami cinta pandang pertama.


Setelah mengetahui hal itu, jantung Raven berdegup dengan kencang merasakan getaran yang aneh ketika dia menyebut cinta pandang pertama.


Tapi kini dia membiarkan perasaannya itu ikut larut dalam mimpi indahnya.


Raven tertidur pulas hingga matahari benar-benar di atas kepalanya. Dia mengucek matanya mencari ponselnya karena baru teringat bahwa dia harus melaporkan kepada Holo.


Raven mengambil posisi duduk lalu membuat panggilan telfon.


[Yo siang Rav. Bagaimana?] Ucap Holo dari seberang sana.


[Semalam ada kendala, maaf hari ini aku tidak bisa berarti besok baru aku selesaikan semuanya.] Jawab Raven.


[Ok. Selesaikan dulu kendala itu baru fokus.] Ucap Holo lagi.


[Baik.] Jawab Raven singkat.


Raven melihat ke arah kalendarnya, hari ini genap 3 tahun setelah kepergian kedua orangtuanya.


Dia bersiap-siap akan mengunjungi pemakaman lagi kali ini dengan membawa bunga yang banyak dan juga minum kaleng kesukaan Papanya karena meningatkan Papanya akan meminum minuman kaleng di saat mereka lagi sedang bersantai dan berkumpul.


Begitu juga dengan Mamanya yang suka dengan berbagai jenis bunga-bungaan.


Raven tersenyum melihat barang belanjaannya. Untuk hari ini dia akan menjadi anak yang pada dasarnya normal.


Raven memasuki kawasan pemakaman dan berdoa kepada kedua orangtuanya lalu meletakkan bunga dan minum kaleng di atas makam kedua orangtuanya.


Raven mengambil kaleng minuman yang khas untuk dirinya lalu membukanya, tidak lupa juga dia buka satu kaleng minuman untuk Papanya lalu di siramnya di atas makam Papanya dan membuat cheers dengan kalengnya.


"Ma, Pa. Padahal sudah 3 tahun kalian tinggalkan Raven. Tapi Raven sering merasa kejadian itu baru saja. Masih ada rasa sakit. Maafkan Raven tapi Raven janji akan membalas pria brengsek itu." Ucap Raven dengan sendu lalu meminum hingga tuntas minuman kalengnya yang berupa minuman berakohol rendah.


Raven tidak mau terlalu larut dalam kesedihan, dia menjadi semakin marah karena mengingat pria brengsek yang telah membuat dia kehilangan kedua orangtua yang ia cintai.


Raven pamit pulang kepada kedua orangtuanya. Setelah dia menghadap ke belakang dia di buat terkejut karena ada seorang wanita telah berdiri di belakangnya tanpa ia sadari.

__ADS_1


Dan dia mengira dia hanya berkhayal karena wanita ini adalah wanita yang membuatnya jatuh cinta. Raven sempat mencubit lengannya dan ia merasa sakit.


"Bagaimana wanita ini bisa berada di sini tanpa aku sadar." Uca Raven dalam hati.


"Bukankah kau Rennia, yang kemarin itu?" Tanya Raven basa basi.


"Yups, benar. Aku juga tidak sangka akan bertemu denganmu di sini." Jawabnya dengan memberikan senyuman semanis madu.


"Uhukk.. Maaf, tapi kenapa kau berada di sini bukankah kau masih harus di rumah sakit?" Tanya Raven lagi.


"Aku tidak akan bisa berada lama di rumah sakit lagian aku datang mengunjungi mendiang Ibuku, dia ada di sana tidak jauh dari sini." Jawab Rennia sambil menunjuk ke arah makam Ibunya.


Raven mengangguk lalu baru saja Raven ingin pamit tapi Rennia meminta untuk menunggunya sedikit karena dia ada hal penting yang harus di bicarakan.


Raven menunggu Rennia dekat mobilnya. Pikirannya menerawang ke mana-mana entah apa yang ingin Rennia bicarakan. Dia sudah lama tidak pernah berinteraksi dengan baik sama lawan jenisnya sejak kejadian kecelakaan kedua orangtuanya.


Raven yang mulai menghela nafas karena merasa terganggu dengan pemikirannya. Dia tidak merasa selesa padahal baru tadi pagi-pagi buta dia mengawasi Rennia yang berada di rumah sakit.


Rennia akhirnya datang dan menawarkannya untuk berbicara di kafe yang tidak jauh dari kawasan itu.


Raven hanya mengangguk mengikuti saja. Mereka masing-masing menaiki mobil sendiri. Raven membuntuti mobil Rennia hingga sampai di sebuah kafe yang lumayan jauh dari tempat pemakaman itu.


"Maaf tadi awalnya aku mau singgah di kafe yang ku tunjuk tadi tapi mengingat banyak kenangan manis yang membuat aku sakit hati jadi aku memilih kafe yang ini aja. Maaf padahal lumayan jauh ya." Ucap Rennia menyengir.


"Tidak apa. Mari kita masuk." Jawab Raven yang kelihatan sangat teramat canggung.


Setelah memesan beberapa menu, Rennia memberitahu apa yang ingin di bicarakan kepadanya. Rennia tidak ingin berhutang makanya dia menawarkan kepada Raven agar memberinya satu pekerjaan untuk membalas budinya tapi hanya 3 bulan saja.


Raven yang mendengar perkataan Rennia pun tersenyum kecil tapi dalam hatinya dia bersorak karena seperti dia akan dapat jackpot.


Awalnya Raven pura-pura karena merasa tidak enak dengan penawaran Rennia lagian dia juga hanya membantu berdasarkan nurani sesama manusia.


Tapi Rennia terus membujuknya, Rennia memberitahunya bahwa dia tidak suka merepotkan orang lain tapi kalau sudah orang lain membantunya dalam hal darurat berarti dia harus mengembalikan budi kepada orang itu.


Rennia juga sempat menawarkan sejumlah uang kepada Raven tapi sebagai lelaki Raven menolak tapi ada saja ide Rennia agar Raven mau menerima penawarannya.


Karena Raven menolak untuk menerima uang dan menerima pekerjaan darinya. Makanya Rennia menawarkan dirinya untuk melakukan sesuatu permintaan Raven dan berlaku selama 3 bulan.


Raven mulanya pura-pura berpikir, permintaan apa yang cocok untuk Rennia. Dalam pikiran Raven sudah terlintas saja sebuah ide yah yang menurutnya mungkin bakal di tolak oleh Rennia tapi tidak salah jika dia mencobanya.

__ADS_1


Seperti mendapat ide Raven tersenyum simpul dan dia menatap Ryna dengan tatapan sumringgah.


"Apa benar kau akan melakukan apa saja?" Tanya Raven untuk memastikan sekali lagi jika Rennia sanggup melakukan apa saja permintaannya.


"Ya benar Rav. Kecuali mahkota suciku." Ucap Rennia dengan sangat yakin.


"Aku tidak berpikiran sampai ke situ." Jawab Nathan datar.


"Ok maaf hehe, jadi bagaimana?" Tanya Rennia lagi.


"Ehm jadi pacarku saja." Ucap Raven.


"Pa...car?" Tiba-tiba Rennia menjadi gugup. Ingatannya tentang Azel berputar di kepalanya dan yang paling menyakitkan adalah Azel berselingkuh. Tanpa sadar air matanya mulai mengalir.


"Ya pacar. Kenapa menangis?" Raven merasa keheranan melihat Rennia tiba-tiba menangis.


Rennia menggelengkan kepalanya lalu mengusap air matanya.


"Kalau kau rasa berat sudah lupakan saja." Ucap Raven kesal dan kini dia mulai berdiri dan hendak meninggalkan Rennia.


"Tunggu, mau ke mana?" Tanya Rennia.


"Urusan kita sudah selesaikan jadi aku mau pulang." Jawab Raven dengan wajah datar tapi terdengar kesal.


"Ehm." Rennia mengangguk dia belum menjawab permintaan Raven tadi karena bingung mau jawab apa.


Rennia melihat Raven mulai meninggalkannya dan sudah keluar dari kafe. Rennia baru saja tersadar dia harus mengembalikan budi Raven.


Rennia mengejar Raven mujur saja Raven masih berada di luar kafe tadi.


"Tunggu, Rav... Aku mau." Ucap Rennia ngos-ngosan.


"Mau apa?" Tanya Raven bingung.


"Mau jadi pacarmu selama 3 bulan." Ujar Rennia percaya diri.


Deg!!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2