Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 24 Rencana jahat


__ADS_3

Raven sampai di rumah Rennia dengan perasaan yang gugup tapi dia berusaha terlihat tenang. Dia menunggu Ronald di ruang tamu, Rennia telah memanggil Ronald yang kebetulan berada di ruang kerja.


Tok...tok...tok...


"Dad, ini Rennia." Ucapnya sebelum meminta izin masuk ke ruang kerja Ronald.


"Masuklah sayang." Sahut Ronald dari dalam.


Sebelum membuka pintu ruang kerja Daddynya, Rennia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan perlahan agar dia bisa kembali tenang dari kegugupannya.


"Pasti bisa." Ucapnya perlahan dengan mantab.


Rennia membuka pintu ruangan Daddy dan mengukirkan senyuman yang termanis untuk mengambil hati Daddynya.


"Daddy." Panggilannya dengan nada lembut dan manja.


Ronald terkekeh geli, dia sudah mengetahui apa yang ingin dibicarakan oleh Rennia, karena dia sudah melihatnya di layar Cctv yang Rennis tidak tau keberadaannya.


"Daddy curiga dengan kelembutanmu, pasti anak bungsu Daddy ini menginginkan sesuatu." Ucap Ronald berpura-pura tidak tahu.


"Ahh Daddy tahu aja." Rennia tersipu malu.


"Jadi katakan apa yang kamu mau?"


"Tapi Daddy janji jangan marah ya."


"Sejak kapan Daddy pernah memarahimu, kau segalanya bagi Daddy Ren."


"Hehe terima kasih Dad, ehmm sebenarnya aku bawa pulang seorang pria dan dia...dia...dia kekasih aku Dad." Rennia sudah bersedia menerima kemurkaan dari Ronald.


Walaupun selama ini Ronald dan Vitra tidak pernah sedikit pun memarahinya. Hanya sering memberi nasihat dan saran saja.


"Dia ada di bawah, di ruang tamu." Lanjut Rennia lagi.


Ingin sekali Ronald tertawa karena melihat nyali Rennia menciut apalagi Rennia memasang wajah gugupnya.


Ronald sebenarnya tidak apa-apa kalau Rennia ingin berpacaran tetapi dia juga harus kenal siapa pria itu agar jika terjadi sesuatu terhadap Rennia pasti dia akan mencari kekasih Rennia.


Ronald juga sudah tahu Rennia telah berpacaran dengan Raven iaitu pembunuh bayaran yang pernah dia sewa 2 kali. Dia tidak mempermasalahkannya tapi mungkin ini akan jadi masalah bagi Raven suatu saat nanti.


"Dad?" panggil Rennia lagi karena Ronald tiba-tiba melamun.


"Kita ke bawah." Ronald memasang wajah serius.

__ADS_1


Rennia menggangguk dan menelan salivanya, dia harus mendapatkan restu agar hubungan mereka lebih terjamin ke depannya.


Rennia berjalan di belakang Ronald, dia menundukkan wajahnya sehingga Ronald berhenti dia sempat menabrak punggung Ronald.


"Akhh."


Ronald juga kaget karena Rennia tiba-tiba melabrak punggungnya. Dilihatnya wajah Rennia yang terlihat sedih.


"Kamu kenapa Ren?" tanya Ronald sambil mengusap kepalanya Rennia.


Rennia menggeleng lalu cepat menuju ke arah Raven dan berdiri di sebelahnya.


"Daddy, kenalkan ini Raven." Rennia mengenalkan Raven pada Ronald.


Raven segera mengulurkan tangannya dan diterima baik oleh Ronald. Senyuman Rennia mengembang.


Raven tanpa basa basi meminta restu hubungannya dengan Rennia, awalnya Ronald sengaja memancing Rennia agar Rennia menjadi tidak tenang.


Rennia teringat dengan jam tangan merek Billionare watch yang terbuat dari 260 karat berlian zamrud. Dia segera keluar mencari di dalam tasnya yang berada di samping Raven.


"Kau yakin mau bersama anak saya, Rennia ini cengeng, manja, penyemburu dan kuat marah tidak jelas." Ucap Ronald sengaja memanasi telinga Rennia.


"Oh ya satu lagi, Rennia ini mempunyai tahap panik anxiety yang parah." Lanjutnya dengan pemberitahu penyakit yang sering menyerang Rennia.


"Tapi saya hanya punya satu anak perempuan ehmm beri waktu saya pikirkan lagian saya belum mengenalimu, mungkinkah kamu mafia atau gangster atau pembunuh bayaran."


Ucapan Ronald membuat Rennia terbatuk-batuk.


Uhukk...uhukk...uhukk...


"Ck, Daddy padahal kenal dengan Raven." batinnya.


Rennia mengubah raut wajahnya dari serius jadi raut perayu, hebat sekali Rennia. Dia berpindah tempat duduk lalu duduk di sebelah Ronald.


"Dad, aku hampir lupa. Kemarin aku sempat melihat jam tangan Daddy sudah agak terlihat lama jadi aku dan Raven membelikan Daddy yang baru."


Rennia memberi Ronald tas kain yang berisi jam itu, Ronald ingin tertawa tapi sebisa mungkin dia menahannya.


....


Azel kembali ke rumahnya, lalu bertemu dengan Aaron iaitu ayahnya yang sedang bermesraan dengan pelayan wanita di rumah mereka.


Wanita itu tanpa rasa malu berjalan di depannya tanpa menggunakan sehelai kain pun.

__ADS_1


"Kau mengangguku saja Zel." Tegur Aaron yang sambil mengenakan jubah kimononya.


"Ayah tidak bosan terus-terusan melakukan hal seperti ini?" Kata Azel dengan sinis.


"Halah kau jangan munafik, Ayah tau kau juga sering menyewa wanita untuk memuaskan hasratmu." Sindir Aaron sambil tersenyum sungging.


Azel tertawa, dia dan Aaron tidak jauh beda suka bermain-main dengan para wanita untuk memuaskan hasratnya. Apalagi jika ada yang mereka incar pasti akan mereka dapatkan dengan berbagai cara sekalipun.


"Terserah dong, ehm tapi aku ke sini karna ada perlu." Terang Azel kembali menunjukkan wajah serius.


"Perlu apa? Uang atau wanita?"


"Aku memerlukan beberapa anak buah, ada yang aku incar."


Azel menceritakan semuanya kepada Aaron, awalnya Aaron merasa malu tapi setelah Azel memberitahu alasannya akhirnya Aaron menyetujui untuk memberi Azel beberapa anak buahnya.


Aaron berpesan untuk menghabisi saja siapa pun mereka yang menganggu dirinya.


"Habisi pria itu dengan cara paling sadis sambil kau goyang wanita itu biar dia makin menderita." Sela Aaron sambil tersenyum smirk.


"Oh sudah tentu, aku sudah memikirkannya, aku akan jadiin wanita itu boneka pemuasku, dan aku akan melakukannya di depan kekasihnya nanti." Ujar Azel dengan penuh percaya diri.


Azel dan Aaron tertawa seperti orang kesurupan, mereka tidak mengira siapa pun dia, mereka harus dapatkan dan habisi saja.


Azel pamit meninggalkan Aaron, dia berjalan di koridor rumah mereka dan menemui wanita tadi yang dipakai oleh Aaron sudah menunggunya di depan kamarnya.


Azel tersenyum miring lalu mengajak wanita itu masuk ke dalam kamarnya untuk memuasinya.


Dalam waktu yang sama Gordhi sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Aaron, dia ingin meminta bantuan Aaron untuk menjadi backupnya dalam rencana memusnahkan Ronald.


Gordhi memberi Aaron sejumlah uang yang cukup besar untuk kerjasama mereka.


"Aku akan berpura-pura mengajukan kerjasama dengan kekasih ponakanku lalu aku akan menjebak ponakanku untuk keluar dan aku yakin Ronald pasti muncul saat itu." Ucap Gordhi.


"Kau yakin hal ini bisa berjalan lancar?" tanya Aaron agak meragui rencananya.


"Heh, kau tinggal serang Ronald saat itu, pukul dia habis-habisan tapi jangan dibuat mati karena aku butuh tandatangannya untuk semua asetnya." Sahut Gordhi lagi.


"Boleh tapi ponakanmu itu beri kepadaku, aku ingin menjadikannya boneka pemuasku." Imbuh Aaron yang sudah membayangkan dia akan mempunyai boneka yang mulus.


"Baiklah, setelah mendapatkannya aku akan serahkannya padamu." Jawab Gordhi diikuti dengan senyuman jahatnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2