
Rennia sedang berada dalam pelukan Raven dan ia tertidur pulas sehingga jam menujukkan pukul 10:00 pagi. Barulah Rennia menggerakkan tubuhnya.
"Selamat pagi sayang." Sapa Raven.
Rennia tersenyum lalu mengeratkan pelukannya ditubuh Raven. Merasa malu karena di tatap Raven apalagi dia sadar dia belum mengenakan sehelai kain pun.
"Kau bisa membangun juniorku lagi Ren." Ucap Raven yang mulai terasa tubuhnya terasa panas dingin.
Rennia melonggarkan pelukannya dan melihat ke arah junior Raven, lalu dia mendengkus.
"Rav, aku masih terasa cape, seluruh tubuh seperti remuk." Renggek Rennia agar Raven tidak terpikir untuk melakukan pergulatan panas itu lagi.
Raven tersenyum jahil, lalu mengelus punggung Rennia dengan begitu hangat.
"Mau aku gendong ke kamar mandi?" tanya Raven.
"Nanti kau usil lagi." Jawab Rennia sambil menghirup aroma tubuh Raven yang berbau lavender.
"Tidak aku akan turun membuat makan dan kau akan mandi setelah itu kita makan bersama." Ujar Raven.
Rennia mengangguk dan mulailah Raven menghantar Rennia masuk ke dalam kamar mandi. Wajah Rennia bersemu merah karena tubuhnya yang polos di tatap oleh Raven.
"Sayang kalau sudah siap panggil aku aja, biarku bantu kau berpakaian." Raven mulai memberi ide yang nakal.
"Ck, aku tau otakmu. Sudahlah aku ingin mandi." Rennia menutup kamar mandi lalu memulai ritual membersih dirinya.
Raven turun ke lantai dasar untuk menyiapkan makan untuk mereka makan. Dengan cekatan tangan Raven menyiapkan makanan yang super mewah seperti menu makanan di kafenya.
....
Setelah menghabiskan waktu berdua, Raven menghantar Rennia pulang ke rumahnya. Walaupun hatinya terasa berat tapi dia tetap harus menghantar Rennia karena perjanjiannya akan menghantar Rennia minggu sore.
Dalam perjalanan pulang, mobil mereka dipalang oleh beberapa pria bertubuh besar dan bertato.
Raven mulai menatap wajah mereka dan dia menangkap sosok yang ingin dia hancurkan berada di dalam mobil yang terparkir di depan.
"Rav, mereka siapa?" Rennia mulai ketakutan.
"Sayang, kau tahu lihat gps?" Raven kembali bertanya kepada Rennia sambil mengusap perlahan tangan Rennia agar dia tenang.
"Tau tapi kenapa?" Rennia mengangguk tapi dia masih dalam keadaan bingung.
__ADS_1
"Ini gps ke rumah Holo, aku akan memperlambatkan gerakan mereka dan memancing mereka keluar, setelah mereka semua keluar kau langsung melaju menuju ke titik merah ini." Terang Raven lalu menunjuk titik merah di layar mobilnya.
"Tapi Rav, mereka ramai kau sendiri. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa." Sahut Rennia yang tidak tega meninggalkan Raven sendiri.
"Dengarkan aku, kau adalah tanggungjawabku, kau harus selamat kalau tidak Tuan Ronald akan menarik restunya." Raven coba membujuk Rennia sambil menoleh sekilas ada beberapa pria membawa tongkat mereka mendekati mobil Raven.
"Tapi Rav..."
"Cepat Rennia minta bantuan Holo, pasti sekitar sini ada orang-orangnya. Aku tidak menghafal nomornya dan ponsel misiku tertinggal, jadi kau harus pergi."
"Kau harus janji dan harus kembali padaku."
Raven mengangguk dia menciu* sekilas bibir Rennia, lalu keluar dari mobilnya. Raven berdiri di samping mobilnya lalu menuju ke arah yang berdiri tidak jauh darinya.
"Well, kemarin masih tidak puas. Sekarang kau bawa teman-teman lagi. Kau yakin mereka bisa mengalahkanku?" Ucap Raven sedikit menjerit agar Azel keluar.
Prokk prokk prokk
Azel keluar lalu menepuk tangannya, dia menatap Raven dengan seringgai.
"Rennia akan jadi milikku."
Azel tahu Rennia ada di dalam mobil Raven dan sedang memperhatikan dirinya.
Tapi sayangnya Rennia tidak bisa mendengar perbicaraan mereka karena mobil Raven adalah kedap suara.
Rennia hanya terkejut karena melihat siapa dalang orang yang menghalangi jalan mereka.
"Ck, awas kau kalau berani melukai Raven." Ucap Rennia yang terlihat marah.
Raven hanya menatap Azel dengan tatapan tajam seperti elang yang ingin memangsanya. Dia akan membuar perhitungan kepada Azel tapi dia masih berpikir untuk menghabisi hampir dua puluhan anak buah Azel.
Apalagi Glocknya belum diisi peluru baru entah tinggal berapa peluru di dalam Glocknya, dia harap beberapa bantuan akan di hantar oleh Holo.
"Kalian yang lain keluar dan ambil paksa wanita dalam mobil itu dan kamu yang lain bersiap sedia untuk menyerang pria itu." Perintah Azel pada anak buahnya.
Mereka masing-masing mengambil posisi, ada yang sudah berdiri melingkari Raven dan yang lain telah menuju ke arah mobil Raven di mana Rennia berada.
Setelah Rennia melihat mereka telah hampir mendekatinya barulah Rennia menghidupkan mesin dan melaju menerobos beberapa pria itu.
Setelah mereka hampir dilanggar oleh Rennia, mereka berlari ke samping secara berhamburan.
__ADS_1
Rennia berhasil keluar dari tempat itu. Saat ini air matanya terus mengalir karena dia sungguh mengkhawatirkan keadaan Raven yang harus berhadapan dengan begitu ramai pria yang berbadan besar.
Tapi Rennia tetap fokus menuju ke titik merah yang ada di layar mobil itu. Rennia tersentak apabila melihat ke kaca spion dia sadar ada berapa mobil yang mengikutinya.
Rennia menambah kelajuannya dan dia berhasil memasuki kawasan yang dia tuju. Rennia berlari keluar dari dalam mobil Raven lalu menuju ke pintu utama rumah yang hanya satu-satunya di sana.
"Tuan Holo, tolong...tolong ini Rennia tolong Tuan....hisk tolong...hisk hisk." Rennia menoleh ke belakangnya dan melihat 4 orang pria menuju ke arahnya dengan menyeringgai.
Rennia terus mengetuk pintu rumah Holo sehingga seorang wanita membuka pintunya dan menarik Rennia masuk. Rennia melihat Holo keluar dan melepaskan beberapa tembakan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Erika sambil mengusap air mata Rennia.
Tubuh Rennia gementar, dia kira dia tidak akan sempat diselamatkan. Rennia baru teringat tentang Raven.
"Kak, tolong selamatkan Raven dia sedang bertarung dengan hampir dua pulahan pria berbadan besar." Terang Rennia sambil memohon kepada Erika.
"Di mana dia?" tanya Holo dengan suara tegasnya.
"Ini, ini dia ada meninggalkan alamatnya padaku." Rennia menunjukkan lengannya yang tertulis alamat di mana Raven berada.
"Kayaknya Raven sudah kehabisan kertas sehingga harus mencoret lenganmu, ehmm kau harus menghukumnya saat dia kembali." Ujar Holo sambil menekan ponselnya.
Rennia hanya mengangguk kecil saja, dia masih saja larut dalam kesedihannya. Sehingga Erika kembali mengusap punggungnya.
"Hei, saya Erika dan kamu pasti Rennia kan?" tanya Erika sambil tersenyum hangat menatap Rennia.
"Ya, kak. Selamat berkenalan, maaf kak sudah merepotkan hisk hisk." Sahut Rennia.
"Kamu jangan menangis lagi, sekarang pasti Raven telah amankan sayang." Ujar Erika sambil menoleh ke arah suaminya Holo.
"Iya, dia sudah dibantu sebentar kalau sudah selesai dia akan sampai, kamu ikutlah bersama Erika." Ucap Holo lalu meninggalkan mereka berdua di ruang tamu itu.
"Terima kasih." Rennia menundukkan wajahnya.
"Hei cantik, jangan berterima kasih. Lagian Raven kami sudah anggap seperti keluarga, kamu jangan khawatir kalau Holo sudah katakan sebentar dia akan sampai maka sebentar lagi dia akan muncul." Terang Erika.
Erika membawa Rennia masuk ke kamar tamu dan memberikannya minuman hangat agar dia bisa kembali tenang dari ketegangan yang berlaku tadi.
Kini Rennia sedang berbaring di sebuah ranjang yang ada di dalam kamar tamu itu. Rennia coba berpikir positif dan dengan sabar dia menunggu Raven.
"Rav, cepat pulang aku merindukanmu." Ucap Rennia sebelum tertidur dan hanyut ke alam mimpi.
__ADS_1
Bersambung...