Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 11 Dalam misi.


__ADS_3

Raven yang masih membuntuti targetnya di atas jalan raya umum sehingga mereka berbelok ke arah jalan yang buntu, Raven terpaksa meneruskan saja perjalanannya.


Dia melihat mereka dari kaca spion motornya sehingga kenderaan targetnya sudah hampir tidak kelihatan. Raven cepat memberhentikan motornya di pinggir jalan lalu menyembunyikannya di dalam semak-semak.


Raven mengambil jalan yang memasuki hutan. Malam kian larut, bunyi suara burung hantu bersahut-sahutan. Dengan langkah yang berhati-hati dan di terangi cahaya bulan yang samar-samar, Raven terus melangkah hingga terlihat cahaya berwarna merah di depannya.


Ungun api dinyalakan oleh para targetnya itu, mereka tampak mengelilingi ungun api tersebut dan berbincang-bincang. Raven yang berada tidak jauh dari mereka terus saja mengintai mereka.


Dia tidak langsung menyerang mereka karena dia harus tau setiap posisi para targetnya itu. Raven coba bergerak perlahan dan mengambil jarak yang sedikit dekat.


Hampir saja dia ketahuan apabila ada salah satu pria dari targetnya menuju ke arahnya, mujur saja targetnya tidak melihat kelibatnya yang cepat-cepat bersembunyi di balik pohon.


"Sial hampir saja dia melihat aku." Gerutu Raven dalam hatinya.


Pria yang berada sangat dekat dengan posisinya itu sedang membuang air kecil, setelah selesai pria itu membalikkan tubuhnya baru hendak melangkah pergi, Raven langsung menariknya ke belakang lalu memotong bagian leher pria itu dengan pisau kecil yang sudah di olesi dengan cairan arsenik tadi.


Dia menarik perlahan pria itu lalu menyembunyikannya di belakang pohon. Raven terus mendekat ke arah kawasan para targetnya. Beberapa kemah telah dipasang untuk mereka bermalam di sana.


Raven mengeluarkan Glocknya lalu memasangkan suppressor. Dia berjalan mengendap-ngendap dari arah belakang kemah itu. Ada seorang pria lagi berada di situ sedang menghisap rokoknya dengan tenang.


Raven menunjukkan dirinya, pria itu melotot baru saja hendak berteriak untuk memanggil temannya, Raven langsung melepaskan satu peluru yang tepat terkena di bagian dada pria itu. Pria itu langsung jatuh tergeletak tanpa ada siapapun yang sadar.


"Dua telah selesai kini yang di sana lagi. Huft." Ucap Raven lirih.


Dua orang sudah berhasil dia tumpaskan dan di sembunyikannya mayat mereka agar tidak menimbulkan kecurigaan yang berlebihan.


Raven coba menguping perbicaraan beberapa orang yang sedang duduk melingkari ungun api itu. Raven menghitungnya ada sekitar 8 orang, padahal tadi cuma ada 6 orang yang berada di pelabuhan.


Tapi Raven salah perkiraan, rupanya masih terdapat dua orang berada hampir dekatnya sedang memasak sesuatu sepertinya untuk makan malam mereka.


Salah satunya menegur Raven, awalnya Raven kira dia bakal ketahuan tapi rupanya mereka saja tidak mengenal teman mereka. Dua orang pria yang memasak tadi sedang berbicara bersama Raven di samping kemah itu sambil memasak.


"Bro bagaimana menurutmu, haruskah aku memasukkan bawang bombay ke dalam masakan ini atau menambah wortel dan kentang?" Ucap salah satu pria itu.


"Masukin aja bro, mereka tetap akan memakannya lagian pasti rasanya makin nikmat." Jawab Raven.

__ADS_1


"Kalau begitu biar aku menambahkan lagi wortelnya." Salah satu pria itu mengambil wortel lalu mengupasnya dan satu lagi meletakkan bawang bombay yang telah di irisnya.


Raven pura-pura memainkan peran sebagai komplotan mereka. Sedang mereka asyik bercerita Raven menumpahkan sesuatu ke dalam masakan mereka dan mereka tidak menyadari kelakuan Raven.


Arsenik dalam kadar yang melebih 200miligram kini berada dalam makanan mereka.


Raven berpura-pura pamit ingin membuang air kecil dan pada saat itu juga kedua pria tadi mencicipi masakan mereka. Raven tersenyum sungging setelah mendengar bunyi piring dan sendok mereka berjatuhan ke tanah.


Raven kembali memeriksa keadaan kedua pria itu, dia memeriksa bagian nadi mereka, sudah tidak ada detak jantung yang bisa di rasakan, wajah mereka juga sudah berubah memucat dan dari mulut mereka mengeluarkan busa.


Raven kembali menyeret mereka ke arah belakang kemah. Kini dia akan fokus kepada 8 orang tersebut. Tampak mereka sedang serius berbicara sehingga salah satunya berteriak.


"Hei, apa masakan sudah jadi? Kami sudah lapar." Teriak salah satu pria tersebut.


Raven tidak menanggapi dan tidak menjawab tapi dia menunggu mereka untuk menuju ke arahnya. Dan tepat dengan dugaannya, tiga orang telah datang menghampirinya. Raven coba membelakangi mereka dengan asyik mengaduk masakan tadi.


"Hei bro, bagaimana? Kami sudah terlalu lapar." Ucap salah satu dari ke tiga pria itu.


Raven tidak menjawab tapi mereka belum juga curiga. Sehingga dua dari mereka mengambil mangkuk yang sudah berisi dengan makanan tersebut lalu langsung melahapnya tapi tidak sampai 5 menit mereka langsung jatuh dan mulut mereka mengeluarkan busa.


Darah menyemprot keluar lewat mulut pria itu dan mengenai pakaian Raven.


Raven melepaskan tancapan pisau tersebut dari dada pria itu lalu mendorongnya hingga jatuh tergeletak di lantai.


Dengan santai, Raven berjalan kembali ke samping kemah tersebut, dia melihat hanya ada dua orang yang masih duduk dekat ungun api tersebut. Raven kembali tersenyum lalu membalikkan badannya dan ternyata benar kini dia sudah ketahuan.


"Sudah ketahuan deh." Batin Raven.


Mereka mengacukan senjata mereka ke arah Raven tapi tidak membuat Raven mundur malah Raven semakin tersenyum lagi. Ketiga pria itu menarik pelatuk senjata mereka ingin menembak Raven. Dengan cepat Raven langsung menembak tepat di dada kedua orang tersebut karena dia sudah menyiapkan Glocknya sedari tadi.


Kini hanya tinggal satu pria yang menganga dengan kecepatan gerakan yang di lakukan oleh Raven. Lamunan pria itu membuyar apabila merasakan sesuatu telah menancap tepat di bagian jantungnya.


Raven berhasil membunuh ketiga pria itu. Dan yang terakhir adalah dua pria yang masih sedang serius berbicara.


....

__ADS_1


Di tempat Rennia.


Rennia kembali terbangun karena bermimpi buruk. Dia cepat mengambil botol air yang berada di atas nakas sebelah ranjangnya lalu meneguknya hingga tandas.


"Kenapa aku bisa mimpi Raven di tikam. Huftt." Ucap Rennia sambil mengusap dadanya agar kembali tenang karena mimpinya tadi seperti kelihatan benar saja.


Rennia mengambil ponselnya lalu untuk melihat sekarang jam berapa.


"Ternyata sudah jam 4 pagi huhh." Ucap Rennia.


Rennia tidak melanjutkan tidurnya, dia malah mengerjakan beberapa tugas yang di beri oleh dosennya. Tanpa ia sadar kini sudah jam 6 pagi dan ponselnya tiba-tiba saja berdering.


Rennia mengambil ponselnya lalu melihat ke layarnya, senyumnya mengembang karena pagi-pagi lagi Raven telah menelepon dirinya. Rennia segera mengeser tombol hijau di layar ponselnya.


[Helo, selamat pagi Ren.] -Ucap Raven dari seberang sana.


[Pagi juga, Rav.] -Sahut Rennia dengan berbunga-bunga.


[Ren, ehmm bisakah kamu bekerjasama denganku?] -Ujar Raven tiba-tiba.


Rennia sempat mengerutkan keningnya.


[Bekerjasama apa?] -Jawab Rennia yang bingung.


[Hari ini jangan menyetir sendiri kamu ya, aku tidak mau kejadian kemarin terulang lagian kamu satu kampus dengan pria marga Lyton itu.] -Ungkap Raven terus terang.


[Jadi kerjasamanya itu? Tidak menyuruhku menyetir sendiri?] - Tanya Rennia kembali.


[Yups, mau ya. Pulang aku yang akan jemput tapi untuk pergi pagi aku tidak bisa Ren, kamu minta sopir kamu aja ya.] -Raven coba memujuk Rennia agar mau mendengarnya.


[Baiklah, aku tidak menyetir tapi kamu juga harus jemput tepat waktu ya takutnya Azel tiba-tiba mendatangiku lagi.] -Ujar Rennia.


[Sip cantik, sudah bersiaplah untuk sarapan dan pergi ke kampus.] -Lanjut Raven lagi.


Panggilan telah berakhir dan Rennia kini siap untul masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2