
Raven menatap Rennia yang mendengkur halus sambil memainkan rambutnya. Rennia mulai tertidur setelah selesai berbagi peluh bersama Raven.
Raven tersenyum bangga karena Rennia telah menjaga mahkotanya dengan baik, walaupun akhirnya yang merusaknya adalah Raven. Dia bangun lalu memperbetulkan selimut yang menutupi tubuh Rennia yang polos.
Raven memungut pakaiannya yang berserakan dilantai. Lalu diletakknya di atas sofa.
Sebelum ke masuk ke kamar mandi Raven sempatkan diri mengucup kening Rennia.
"Tidur yang nyenyak sayang."
Raven membersihkan dirinya lalu mengenakan kembali pakaiannya, dia meninggalkan nota kecil untuk Rennia.
Setelah hampir 10 menit Raven keluar, Rennia terbangun. Dia melihat ke sekelilingnya, tidak ada bayang Raven.
"Raven ke mana?" gumamnya.
Dia baru saja mau melihat ke arah ponselnya di atas nakas dan dia malah melihat sekeping kertas nota di atas ponselnya.
Rennia mengambil nota tersebut, lalu membacanya dan tersenyum.
[Ren, aku keluar sedikit. Tidak akan lama, aku cuma pergi mencari baju baru untukmu, jangan banyak bergerak tunggu sampai aku datang. ILY]
Rona pipi Rennia mulai bersemu merah seperti kepiting rebus, dia baru ingat bahwa beberapa jam yang lalu dia telah menyerahkan kesuciannya kepada Raven.
__ADS_1
Rennia perlahan-lahan mengangkat selimutnya dan melihat ke arah bagian bawah tubuhnya lalu dengan cepat menutupinya kembali karena sampai saat ini dia masih polos tanpa sehelai kain pun.
"Aaahhh bagaimana aku harus berhadapan dengab Raven, aku malu." Ucapnya sambil menarik ke atas selimutnya.
Rennia coba mencari handuk kimono yang tadi dia kenakan ternyata sudah berada di atas sofa.
Rennia coba menggerakkan kakinya tapi dia merasa sangat perih di bagian inti tubuhnya.
"Perih juga ya, tapi kenapa tadi tidak terasa dan sekarang baru terasa." Ucap Rennia sambil berdiri perlahan dan berjalan sambil menahan rasa sakitnya.
Ceklek...
Rennia menoleh ke arah pintu, Raven telah pulang. Rennia menjadi kaku di tempat, ingin saja dia bersembunyi tapi dia tidak bisa berlari.
"Ren, kenapa kau berdiri di situ?" Raven bergegas menuju ke arah Rennia yang mematung di tempat itu.
Raven langsung mengambil inisiatif dengan mengendong Rennia ala bride style dan membawanya kembali ke ranjang.
Rennia masih saja menundukkan wajahnya karena merasa malu. Raven dengan perlahan meletakkan Rennia di atas ranjang.
"Ren..." Raven kembali memanggil Rennia.
Tapi tidak ada sahutan dari Rennia, membuat Raven tersenyum. Raven mengangkat wajah Rennia dan menci** bibirnya dengan sekilas.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, mulai sekarang kau tidak diizinkan meninggalkanku." Ucap Raven dengan senyuman yang terukir jelas di wajahnya.
Rennia mengangguk dan menghamburkan pelukan kepada Raven.
Dia tertegun karena ucapan Raven dan berharap agar Raven tidak akan meninggalkannya.
"Ren, ini aku bawa pakaian baru, kamu bergantilah. Kita akan keluar makan setelah ini."
Rennia mengikuti ucapan Raven, dia masuk ke kamar mandi sambil membawa tas belanjaan Raven tadi. Setelah selesai membersihkan dirinya, dia baru ingat pakaian ********** semua basah.
"Ah bagaimana ini, semuanya basah." Rennia mulai bingung, dia mencoba obrak abrik tas belanjaan tadi.
Mata Rennia membulat, dia melihat sepasang dalaman atas dan bawah berwarna biru muda. Lagi-lagi Rennia di merasa malu.
"Raven begitu teliti dengan semua hal." Gumamnya sambil tersenyum malu.
Setelah selesai Rennia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Tapi masih terlihat rona merah pada pipinya.
"Ren..." Panggil Raven, dia tertegun melihat penampilan Rennia yang aura pesona dirinya semakin menguar.
Raven menatap Rennia dengan tatapan intens membuat Rennia menjadi salah tingkah. Raven menuju ke arah Rennia.
"Ren, kamu terlihat begitu cantik." Puji Raven lirih.
__ADS_1
Bersambung...