Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 32 Ronald dan Raven


__ADS_3

Sewaktu dalam perjalanan pulang Gordhi tiba-tiba merasakan perutnya memulas. Dia coba menahannya tapi angin telah keluar lewat punggung bawahnya dan baunya membuat asisten dan sopirnya hampir muntah.


"Buka semua jendela sia**n!" Serunya pada sopir yang terlihat menahan bau yang tidak enak itu.


Setelah jendela mobil dibuka barulah mereka bertiga bisa bernafas lega tapi lagi-lagi perutnya terasa sangat memulas.


"Apa karna aku tidak bisa minum kopi cappucino." Gumamnya dalam hati.


Gordhi tidak menaruh curiga sedikit pun pada Raven, biarpun sakit perutnya itu adalah hasil perbuataan rencana Raven yang menyuruh OBnya memasukkan obat yang mempengaruhi diare.


Semakin lama, Gordhi semakin tidak bisa menahan perutnya yang terus memulas, dia ingin membuang hajat besarnya.


"Cepat sedikit bawa mobilnya! aku sudah tidak menahan." Teriak Gordhi.


"Aaaakkkhhh." pekiknya tidak menahan.


....


Azel yang mendapat kabar bahwa para anak buahnya mengalami kecelakan mobil dan mobil mereka meledak di tengah jalan raya yang sepi.


"Sia* mereka semua tidak ada gunanya, aaarrrgghhh!" Teriaknya murka.


Dia terpaksa kembali menghadap Ayahnya untuk mencari solusi yang tepat karena sudah beberapa rencananya yang gagal.


Azel melajukan mobilnya menuju ke rumah Aaron. Dengan wajah yang bengis dia menerobos masuk ke ruangan Ayahnya.


Seperti biasa Aaron sedang melakukan kegiatan panasnya bersama beberapa wanita. Aaron kaget dengan kedatangan Azel tapi dia tidak memberhentikan aktivitasnya itu.


Aaron malah tersenyum miring.


"Marilah ada dua wanita di sini." Ajaknya Aaron kepada Azel yang terlihat meneguk salivanya.


Azel segera melepaskan semua pakaian bawahannya dan menarik satu wanita untuk dirinya. Kelakuan kedua pria itu seperti kerasukan setan mesum.


Sehingga selesai melepaskan air kehidupan mereka barulah mereka berhenti. Azel mengenakan kembali pakaian bawahannya.


Kini mereka duduk berhadapan sambil menyeruput teh hangat yang baru saja dihantar oleh pelayan rumah.


"Tumben kau ke sini." Ucap Aaron menatap ke arah Azel yang sibuk menghidupkan rokoknya.


"Anak buahmu yang kemarin mati kecelakaan." Sahut Azel.


"Apa?" Aaron kaget. "Bagaimana bisa," lanjutnya lagi.


"Entah, mungkin mereka lagi mabuk." Azel menjawab santai.


"Tidak mungkin, apa kau sudah periksa keadaan jasad mereka?"


"Mobil meledak kok bagaimana mau pastikan."

__ADS_1


Aaron yang merasa kesal langsung saja memukul kepala Azel. Dan memberitahunya bahwa anak buahnya itu bukan kecelakaan murni tapi disengajakan dan pastinya mereka sudah mati sebelum kecelakaan itu terjadi.


Azel menimbang-nimbang apa yang dikatakan oleh Aaron. Menurutnya memang masuk akal tapi siapa yang berani membunuh mereka.


Hal itu menjadi PR untuk Azel karena tidak yakin Raven yang menghabisi mereka. Dia pikir mungkin saja anak buahnya salah target.


Oleh itu dia harus berhati-hati mungkin saja setelah ini ada yang mengincarnya karena anak buahnya salah target.


Azel telah meminta pengawal khusus Aaron sebanyak 2 orang untuk menjaga keselamatannya dan dia juga akan memanfaatkan mereka untuk mengerjai Raven.


....


Raven dan Rennia telah selesai makan. Para pelayan membawa piring-piring dan gelas yang semuanya telah tandas keluar dari ruang khusus Raven.


Raven yang terlihat memanjakan Rennia dengan mewarnai kuku Rennia terlihat sangat romantis. Rennia hanya menggelengkan saja kepalanya melihat tingkah Raven.


"Ok siap" ucap Raven tersenyum. "Minta upahnya," lanjutnya lagi.


Rennia menatap Raven yang membuat raut wajah seperti anak kecil yang berharap dikasihani ibunya, membuatnya tertawa kecil.


"Kamu mau apa?" tanya Rennia sambil memainkan jarinya di dagu Raven.


"Aku mau kita ada panggilan nama sayang." Sahut Raven.


"Ehmm yakin?"


"Ahh pengen makan kamu." Jujur Raven yang terlihat ingin sekali menerkam Rennia.


"Kamu loh makin nakal, intiku masih perih."


Raven menaikkan sebelah alisnya lalu tersenyum miring.


"Lalu kenapa kamu menggodaku seperti ini."


Rennia tertawa lepas dan terjadilah apa yang mereka pikirkan. Tapi kali ini Rennia yang mengaturnya dengan memposisikan dirinya di atas tubuh Raven.


Permainan mereka berlangsung selama 3 jam. Sofa yang mereka tempati menjadi basah oleh mereka setelah puas berbagi keringat.


Raven sempat membuat tanda yang banyak di buah apel Rennia, dan membuat Rennia merasa malu apabila menatap dirinya di depan cermin.


Dia mengingat bagaimana dirinya dulu menolak hal-hal begini tetapi dengan Raven dia telah menyerahkan semuanya. Tidak ada lagi hal yang tinggal pada dirinya, semuanya sudah dimiliki oleh Raven.


"Hari minggu ikut aku ya." Ucap Raven setelah mereka usai membersihkan diri mereka.


"Mau ke mana?" tanya Rennia.


"Kejutan." Jawab Raven singkat.


Rennia tersenyum dia langsung memeluk Raven dan menempelkan wajahnya di dada bidang Raven.

__ADS_1


"Ren, jangan membuat adikku bangun lagi."


Rennia tertawa lalu melepaskan pelukannya tapi Raven kembali menariknya.


"Kamu cantik." Puji Raven.


Raven membawa Rennia pulang dan kembali ke rumah Rennia. Tapi Raven tidak langsung saja pulang karena dia ingin membincangkan kembali soal Gordhi.


Dia ingin mencari tahu semua tentang Gordhi agar memudahkannya untuk menjeratnya dan membalas dendam orangtuanya dan mommy Rennia.


Ronald mengajak Raven untuk berbincang di dalam ruang kerjanya.


"Jadi bagaimana?"


Raven menghela nafas.


"Aku baru tahu orang yang Tuan katakan itu adalah Gordhi." Jawab Raven.


Ronald tersenyum.


"Rennia menceritakanmu?"


Raven menggeleng dan dia mulai bercerita dari awal dendamnya mulai tumbuh terhadap Gordhi dan memberitahu selama ini dia memang mengincarnya


Ronald mengangguk mendengar cerita Raven dan rencananya.


"Tapi kita harus sembunyikan Rennia dia tempat yang aman."


"Ehm aku tahu tempat yang aman, memang sudahku pikirkan sejak lama." Sahut Raven dengan wajah serius.


"Di mana tempatnya?" tanya Ronald penasaran.


"Di rumah Holo, biar dia menemani kak Erika dulu sementara kita sedang berperang dengan mereka nanti." Jawab Raven.


Ronald mengangguk setuju apalagi Raven mengatakan kediaman Holo tidak sembarang orang yang masuk. Penjagaannya juga sungguh ketat.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit ini sudah tengah malam." Raven berdiri dan menundukkan badannya.


"Menginaplah di sini. Pasti Rennia begitu gembira." Ucap Ronald.


"Ahh tapi..." ucapan Raven terpotong.


"Yang penting kalau dia hamil kamu jangan tinggalkan dia tau saya bunuh kamu" ujar Ronald lagi. "Kamu pergilah kamarnya lantai 2 pintu yang ada bunga-bunga itu," lanjutnya lagi.


Raven keluar dari ruang kerja Ronald dengan mengarukkan kepalanya yang tidak gatal. Tapi kesempatan ini dia takkan lepaskan begitu saja.


"Sejak kehadiran dia, Rennia terlihat begitu gembira dan bersemangat tidak seperti biasanya dia lebih memilih banyak berdiam, aku tidak bisa menolak Raven dia telah membawa Rennia keluar dari kegelapannya selama ini." Gumam Ronald sambil melihat foto Rennia.


"Daddy harap kamu terus bahagia sayang, kamu tidak sendiri kamu sudah mempunyai pria yang tulus mencintaimu."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2