
Rennia telah memaksa Vitra untuk mengatakan apa yang mereka bicarakan sebelum kedatangan dirinya kemarin. Vitra terpaksa berkata jujur karena Rennia mengancam akan mendiaminya kalau dia berani memarahi Raven.
Rennia tersenyum dengan perlakuan hangat Raven. Sungguh dia tidak menyangka kejadian pertemuan pertama mereka membawa rasa suka yang mendalam.
Hanya saja saat ini dia sedang menerima dengan ikhlas hati dengan pekerjaan ilegal yang dilakukan oleh Raven. Mungkin ada alasan di balik Raven memilih menjadi pembunuh bayaran. Suatu hari Rennia akan bertanya kepadanya.
"Rav, terima kasih. Aku masuk dulu ya." Baru saja Rennia hendak menarik tuas untuk membuka pintu mobil, Raven segera menariknya.
Posisi mereka saat ini saling bertatapan dan tidak ada jarak di antara mereka. Rennia tau Raven ingin menci** dirinya, sebelum Raven bergerak Rennia sudah terlebih dahulu menempelkan bibirnya di bibir Raven.
Suasana dalam mobil berubah menjadi sedikit panas karena aksi ci**an mereka sungguh romantis. Saling bertukaran saliva dan saling menresapi satu sama lain itulah yang sedang mereka lakukan.
Hampir 10 menit, barulah Raven melepaskan tautan bibir mereka.
"Pergilah belajar yang baik, aku akan menjemputmu saat pulang." Ucap Raven dengan lirih. "Jauhkan dirimu dari mantanmu itu." Lanjutnya dengan nada cemburu.
Rennia menarik kecil hidung mancung Raven.
"Baiklah aku mengerti." Jawabnya lalu melepaskan pelukan Raven dengan perlahan.
Raven menatap Rennia dengan tatapan penuh cinta, dia menunggu Rennia sehingga benar-benar masuk ke dalam bangunan kampusnya. Sayangnya dia tidak bisa menghantar Rennia sehingga ke kelasnya karena memang yang bukan siswa ataupun wali siswa tidak bisa melewati pintu bangunan kampus.
Raven meneruskan perjalanannya menuju ke rumahnya karena hari ini dia akan melakukan sebuah misi lagi.
"Aku harus menghabisi target dengan cepat lalu menjemput Rennia." Raven saat ini sedang memilih-milih senjata yang akan dibawanya.
Raven kali ini mengenakan pakaian serba hitam, termasuk masker mulutnya. Misi yanh di lakukannya hari ini adalah membunuh beberapa koruptor sebuah perusahaan besar.
Alamat telah dikirimkan kepada Raven, dia mengenderai mobil SUV putihnya.
Tatapan mata Raven berubah seperti ingin menghabis mangsanya.
Raven menyamar jadi penghantar paket setelah sampai depan rumah salah satu koruptor.
"Permisi pak, ada paket." Ucapnya sambil melihat-lihat ke sekelilingnya.
Tidak ada sahutan, Raven langsung saja perlahan mengorek kunci pintu rumah itu agar terbuka, dan tidak menunggu lama pintu telah dibuka.
__ADS_1
"Saya pak." Ucapnya perlahan.
Raven mengeliling lantai dasar rumah itu dan dia tidak menemukan siapapun. Matanya menuju ke lantai dua rumahnya.
Tiba-tiba pintu kamar lantai dua terbuka lalu keluarlah seorang pria berumur dengan tubuh yang gempal berjalan menuruni tangga sambil menghisap rokoknya.
Raven telah bersembunyi di balik dinding ruang dapur yang menyekat antara ruang makan, karena targetnya pasti akan menuju ke dapur begitulah tebakannya dan benar saja tebakkannya benar.
Pria itu berjalan menuju ke arah kulkas, dia tidak sadar kehadiran Raven di situ. Baru saja hendak membuka kulkas Raven langsung saja menusuk pria itu dari belakang tepat di bagian jantung.
Raven menggunakan pisau Jagkomandonya yang mempunyai tiga sisi tajam, dia putarkan pisau tersebut seperti ingin membuat hancur isi daging bagian dalam pria itu.
Raven menarik tancapan pisaunya, darah mengalir begitu banyak dan Raven coba menghindarinya.
Baru saja hendak menuju ke pintu utama tiba-tiba Raven mendengar suara wanita.
"Sayang, sayang..."
"Sayang jangan terlalu lama aku masih belum puas loh..."
"Sayang, sayang?"
Raven berlalu dan menuju ke alamat seterusnya, tapi alamatnya kali ini adalah perumahan orang kaya dan tidak sembarang orang bisa masuk kecuali mempunyai izin.
"Ck, ribet sekali." Ucap Raven sambil mengigit bibir bawahnya dan memikirkan sebuah alasan yang tepat untuk memasuki kawasan perumahan itu.
Raven melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 9 pagi. Sedang asyik mencari ide, Raven melihat sebuah mobil box menuju ke gerbang perumahan tersebut dengan cepat Raven berlari menuju ke mobil box tersebut dan coba membuka box belakangnya.
Raven masuk ke box itu agar dia bisa masuk ke kawasan perumahan itu.
Setelah dia rasa mobil itu berjalan, sekitar 5 menit dan telah melewati gerbang itu, Raven melompat keluar.
"Akhh." Pekiknya perlahan karena tangannya yang luka kembali tergesek di aspal.
"Si** luka ini membuatku terlihat lemah, cuih." Gerutunya karena kesal.
Raven berjalan dengan santai sambil menuju ke nomor rumah koruptor target keduanya itu. Kini dia telah berdiri tidak jauh dari rumah itu, terlihat pria yang menjadi targetnya baru saja hendak keluar, dia segera berlari mengendap-ngendap dan masuk ke mobil pria itu.
__ADS_1
Mujur saja kawasan perumahan terbilang elit dan penghuninya tidak berada diluar rumah.
Raven berada di kursi penumpang mobil pria itu, setelah keluar dari gerbang perumahan, sekitar kurang lebih 20km jauh dari kawasan perumahannya, Raven langsung saja mengejutkan pria itu dari belakang dan membuat pria itu kehilangan kendali dalam menyetir mobilnya.
Mobilnya dia hentikan di tengah jalan sepi.
"Ka...u si...apa?" tanya pria itu gugup dan gementar.
"Tidak perlu kau tau, aku hanya menginginkan nyawamu." ketus Raven sambil menodong pisau Jagdkomandonya.
"Ampun, jangan bunuh...aku... Aku masih punya istri dan anak." Pria itu coba merayu kepada Raven.
"Hehh." Raven tersenyum sungging.
Dengan cepat tangannya mengerat leher pria itu hingga darah bercipratan di dalam mobil itu, Raven kembali mengoyak leher pria itu hingga terlihat hampir putus dari tubuh pria itu.
"Ehm aku lebih memilih uang ketimbang rayuanmu." Ucapnya lalu keluar dari mobil itu dan menuju ke arah jalan umum yanh terdapat banyak kenderaan.
Raven memberhentikan mobil taksi lalu di naikinya untuk kembali ke tempat mobilnya berada.
"Lagi 2 orang, harap sempat aku habisi mereka sebelum Rennia pulang." Gumamnya sambil melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul 10 pagi.
Target yang ketiganya agak gampang di incar karena sedang mengadakan sebuah pesta di luar rumahnya.
Raven mengatur posisi yang tidak terlalu jauh lalu menargetkan kepala pria itu dengan senjata api andalannya. Dia memasang suppressor agar bunyi tembakannya tidak terdengar.
Sssttt...
Peluru tepat mengena kepala pria itu, keadaan pesta menjadi kacau dengan teriakan-teriakan dari orang yang hadir di pesta itu.
Raven berlalu dari tempat persembunyiannya dengan santai dan menuju ke alamat yang terakhir.
Pria yang menjadi target terakhirnya berada di sebuah cafe sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita yang terlihat begitu seksi.
Raven masuk ke cafe tersebut lalu menunggu waktu yang tepat. Pria itu memesan minuman kopi hangat, pelayan membawa kopi milik pria itu, Raven segera mendekatinya lalu pura-pura bertanya tapi tangannya dengan cepat menumpahkan cairan arsenik dalam jumlah yang banyak ke dalam kopi itu.
Raven kembali ke meja untuk memastika. pria itu meminun kopinya baru dia akan pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Selesai ! Aku harus kembali cepat."
Bersambung...