
Bughh!
Azel melepaskan amarah dengan memukul punch bag miliknya. Dia merasa kesal dan teramat marah karena ancaman yang diucapankan oleh Raven. Di restoran tadi dia tidak bisa membalas Raven karena tempatnya terlalu umum dia tidak ingin mengambil resiko berhubungan dengan pihak keamanan.
Tapi dia berharap suatu hari dia akan bertemu dengan Raven di luar sana, dan saat itulah dia akan membalas semua yang Raven pernah lakukan padanya.
"Calon istri HAHH!" Cetusnya dengan amarah.
Ditambah lagi Azel tidak terima jika Raven akan menjadikan Rennia sebagai istrinya, dia rasa dia masih belum selesai bersama Rennia dan Rennia harus menjadi miliknya.
"Rennia semakin cantik dan membuat ghai**hku semakin ingin memilikinya, hehh awas saja kau Ren, aku akan mendapatkan kehormatanmu sebelum si sia*** itu." Ucapnya sambil tersenyum licik.
Hahahahaha...
Bunyi ketawa terdengar sampai ke luar kamarnya. Azel yang sedang membayangkan lengkuk tubuh Rennia membuat hasrat ingin dipuaskan.
Dia menyambar jaketnya yang berada di sofa kamar lalu keluar dari rumah untuk mencari wanita baru yang bisa memuaskan hasratnya saat ini.
"Suatu saat kau yang akan memuaskan diriku Rennia!"
....
Dalam perjalanan pulang, Rennia masih saja bergayut di lengan Raven seperti anak kucing yang tidak bisa lepas dari induknya begitulah Rennia.
Kejadian Azel mendatangi mereka tadi tidak mempengaruhi mood ingin bermanjanya dengan Raven, malah dia makin ingin lekat saja.
Raven yang merasa gemas ingin sekali dia mencubit pipi Rennia. Raven tanpa sengaja melihat motor dan mobil hitam di belakang mereka, insting pembunuhnya mulai mengata mereka sedang dibuntuti.
Raven meremas stir mobilnya, bola matanya terus memperhatikan gerakan mobil dan motor itu sangat mencurigakan.
Raven sengaja mengambil jalan yang agak jauh untuk sampai ke rumah Rennia, untuk melihat adakah benar firasatnya tadi.
Rennia agak bingung karena Raven mengambil jalan yang jaraknya sedikit jauh dari jalan yang tadi hingga sampai ke rumahnya.
"Rav, kenapa kita ikut jalan ini?" tanya Rennia sambil menatap wajah serius Raven dari samping.
Raven menatap Rennia sekilas lalu tersenyum.
"Aku belum puas bersamamu sayang." Ucap Raven sambil menaikkan alisnya.
__ADS_1
Rennia tertawa geli, melihat Raven yang coba menggodanya, tapi dia sadar anak mata Raven kelihatan seperti sangat serius dan sering melihat ke arah spionnya.
"Rav..." Panggil Rennia dengan lirih.
Raven mengangkat kedua alisnya sambil fokus menyetir.
"Ada yang membuntuti kitakan?" ucap Rennia lagi.
Seketika raut wajah Raven berubah karena Rennia telah mengetahuinya, apalagi saat inu Rennia juga memperhatikan kaca spion dengan wajah yang serius.
"Huhh... Jangan dipikirkan, aku akan menghantarmu." Jawab Raven sambil tangan kirinya mengusap puncak kepala Rennia.
Rennia mengangguk lalu kembali menatap wajah Raven dari samping.
Hidung yang terlihat begitu mancung, bibir yang tipis dan bulu mata yang agak melentik itu membuat Rennia tidak ingin mengalihkan pandangannya.
"Sempurna ciptaan Tuhan." Gumamnya yang masih terdengar di telinga Raven.
Senyum Raven mengembang lalu dia sengaja memberhentikan mobil di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti?" Rennia kembali bingung lalu melihat ke arah spion, mobil dan motor yang membuntuti mereka juga berhenti agak jauh di belakang mereka.
"Hei, jangan lihat ke situ." Raven menarik perlahan dagu Rennia. "Kamu dari tadi terus menatapku dan bergelayut di tanganku, ehmm kamu kira aku mau apa sekarang." Lanjutknya lagi dengan nada menggoda.
"Kamu nakal ya, harus dihukum ni." Ucap Raven setelah melihat tingkah Rennia.
Raven menempelkan bibirnya di bibir Rennia lalu melu**t dengan ritme yang perlahan tapi menghanyutkan.
Semakin lama ci***n itu semakin turun hingga ke leher Rennia yang putih. Raven membuat kissmark pada leher Rennia lalu tersenyum puas.
Rennia yang tidak mau kalah juga membalas Raven dengan membuat kissmark pada bagian yang sama. Setelah selesai, Rennia tertawa geli.
"Rav kamu milikku." Sambil mengusap tanda yang dia buat tadi.
Raven merasa tertegun dengan ucapan Rennia, sehingga sekali lagi dia menyambar bibir Rennia yang terlihat menggoda, dia tidak peduli dengan warna lipstik Rennia yang akan berpindah ke bibirnya yang penting dia bisa merasakan manisnya bibir Rennia.
Hampir setengah jam aksi ci**an itu berlaku dan sekarang Raven kembali menyalakan mesin mobil untuk menghantar Rennia pulang.
Raven menghantar sehingga masuk ke gerbang rumah mereka karena dia tidak ingin kecolongan, apalagi dia tidak tau siapa yang membuntuti mereka tadi dan siapa tujuannya.
__ADS_1
....
"Oh berarti itu kekasihnya hehh, ikuti mobil itu dan bawa pria itu kepada bos kita." Ucap seseorang dari dalam mobil hitam itu.
Raven kini telah keluar dari kawasan rumah Rennia, mobil dan motor itu masih saja mengikutinya. Raven tersenyum miring.
Motor itu menambah kelajuannya apabila memasuki jalan yang agak sepi. Kini motor itu berada di depan mobil Raven dan tiba-tiba berhenti memalang jalannya.
Dua orang dari motor itu mulai mendekati mobil Raven. Mereka mengetuk kaca mobil Raven agar Raven mau membukanya tapi Raven tunggu saat mereka yang di dalam mobil itu keluar.
Benar saja tidak tunggu lama 2 orang lagi telah keluar dari mobil itu. Raven berpindah tempat duduk tanpa perlu takut dilihat oleh mereka, karena kaca mobilnya tidak bisa terlihat apa-apa kalau dari luar hanya dari dalam saja.
Raven sudah duduk di bagian kursi penumpang, dia perlahan membuka kunci pintu penumpang mobilnya. Keempat pria tadi memukul-mukul jendela sebelah kanan depan.
"Oii keluar atau kami akan merusakkan mobilmu!" teriak salah satu dari ke empat pria itu.
"Sia*** dia benar-benar menguji kesabaran kita, cepat lakukan sehingga mobil ini bisa terbuka." Perintah pria yang tadi.
Akhirnya salah satu dari mereka memukul kaca mobil Raven menggunakan kayu besbol sehingga terdengar bunyi retak. Dan salah satu dari mereka juga coba mencungkil pintu depan mobil Raven agar bisa di buka.
Setelah mereka berhasil membukanya Raven langsung saja keluar dari mobilnya dari pintu penumpang. Raven berdiri sambil menatap dengan bibir menyungging.
"Hehh, suprise." Ucap Raven singkat.
Keempat pria itu berjalan menuju ke arah Raven, salah satu dari mereka melayangkan kayu besbolnya tapi berhasil dihindari oleh Raven.
"Kau mau ke mana? Menyerah aja dan ikuti kami bertemu bos kami, lalu kau akan aman." Ucap pria tadi.
"Siapa bos kalian?" tanya Raven.
"Menyerah dan ikuti kami nanti kau akan tahu." Ucap pria itu lagi sambil tersenyum smirk.
"Cih jangan harap." Jawab Raven santai.
Mereka berempat mengelilingi Raven dengan gaya kuda-kuda sambil memegang pisau lipat mereka. Mereka kira Raven mudah ditewaskan tapi ternyata tidak.
Sudah berapa kali Raven menghindar serangan mereka, dan belum ada satu pun serang yang lolos mengena Raven. Sehingga mereka merasa agak lelah barulah Raven membalas serangan mereka.
Raven menggunakan tendangnya untuk menjatuhkan dua orang pria tadi sekaligus dan dua sisanya Raven melayang bogem mentah dengan gerak cepat.
__ADS_1
Mereka berempat jatuh di tanah, Raven mengeluarkan pisau kecil andalannya. Dia menarik mengerat leher ke empat pria tadi tanpa rasa ampun, saat ini matanya tertuju pada mobil hitam tadi.
Bersambung...