Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 29 Raven diserang lagi


__ADS_3

Raven membawa Rennia menuju ke kafenya untuk makan malam, dalam perjalanan Rennia baru teringat sesuatu.


"Rav tadi bagaimana kamu bisa menemuiku?" tanya Rennia yang tiba-tiba saja merasa penasaran.


"Ehmm, ada siswa memberitahuku, Azel mengajakmu makan di restoran hotel itu dan tempat itu punya temanku yang malam itu." Jawab Raven jujur.


"Oh, begitu ya dan ponselku?" Rennia bertanya karena ponselnya tiba-tiba saja ada bersamanya padahal setahu dia ponselnya tertinggal di rumah.


"Aku sempat ke rumahmu tadi dan bibik yang berikan ponselmu padaku." Ujar Raven sambil fokus menyetir.


Rennia mengangguk, dia tidak sangka Raven mencarinya dari kampus hingga ke rumahnya. Dia tersenyum senang, pilihan memang tidak salah.


Setelah sampai di kafa seperti biasa Rennia akan memesan makanan yang sederhana saja karena takut kelebihan kenyang.


Raven tidak ingin lepas darinya, dia duduk di samping kiri Rennia, biasanya mereka akan duduk berhadapan.


Raven menatapnya sambil tersenyum.


"Bagaimana kepalamu? masih pusing?" tanya Raven sambil tangannya memainkan rambut Rennia yang tergerai di atas pundaknya.


Rennia tersenyum karena Raven kembali memperlakukannya secara hangat.


"Sudah tidak, hanya bagian tengah selengkang** masih terasa perih." Jawab Jennixia perlahan.


"Maaf, kalau aku terlalu kasar tadi habisnya kamu terlalu menggoda." Kata Raven lagi dengan suara yang serak karena hasratnya kembali membeludak.


Rennia menggelengkan kepalanya, dia menatap netra mata Raven yang menatapnya dengan intens.


Baru saja Raven hendak menci** bibir Rennia tiba-tiba pelayan kafe mengetuk pintu dan Rennia cepat menolak Raven.


Tok...tok...tok...


"Permisi Tuan."


"Masuk." Raven sedikit kesal karena tidak bisa mencapai bibir Rennia, dia memasang wajah dingin sehingga para pelayan kafenya itu bergerak cepat menata pesanan itu di atas meja.


Rennia terkekeh geli melihat tingkah lucu Raven.


"Bisa-bisanya dia kesal." batin Rennia.


Setelah selesai Raven kembali menarik Rennia secara kaget dan melakukan apa yang ingin dilakukannya tadi. Tapi tidak terjadi lama karena Raven takut makanan mereka mendingin.


"Ku suapin ya?" Raven mengambil sendok Rennia lalu menyuapinya.


"Aku bisa makan sendiri Rav, lihat makananmu akan dingin kalau kamu menyuapiku." Rennia ingin merebut perlahan sendok yang ada ditangan Raven tapi Raven menolak perlahan tangannya.


"Jangan, ini tanda permintaan maafku karena mendiami kamu seharian kemarin."


"Kan tadi sudah minta maaf."


"Harus minta maaf lagi, takut nggak dapat jatah nanti."

__ADS_1


Rennia hampir tersedak mendengar ucapan Raven yang berterus terang.


"Kamu ya mulai nakal." Rennia mencubit kecil paha Raven.


"Yang penting nakal dengan kamu aja sayang." Ucap Raven sambil terkekeh.


....


"Sia*, kalian cari bajingan yang sering bersama Rennia bawa dia menghadap aku! Kali ini aku tidak akan main-main lagi." Azel mengarahkan pada anak buahnya untuk mencari Raven.


Karena dia yakin rencananya gagal karena Rennia mengatakannya pada Raven. Kalau tidak hari ini dia akan bersenang-senang tapi itu hanya tinggal khayalannya saja.


Azel coba menelepon nomor Azel tapi tidak aktif.


"Ck, pasti dia memblokir nomorku dan pasti sia**n itu telah menikmati tubuhnya yang seharusnya aku nikmati." Geramnya kepada Raven.


Pranggg...


Azel membanting gelas minumannya hingga terdengar bunyi pecah.


"Aku harus hancurkan kau!"


Azel keluar dari apartmennya dengan wajah yanh teramat emosi, dia menuju ke tempat yang menjadi langganannya di saat dia sedang ingin melepaskan rasa emosinya.


....


Gordhi sedang menghayalkan bagaimana jikalau dia berhasil mengusai Kafe yang terkenal itu, pasti keuntungannya sangat banyak dam dia semakin menjadi orang kaya dengan harta yang berlimpah.


Gordhi memeriksa kembali berita tentang kekayaan Kafe Throns dan tentang pemegang saham yang terbesar.


Tanpa dia tahu pemegang saham yang besar tidak siarkan didalam mana-mana siaran maupun web begitu juga dengan Raven, hanya wakilnya saja yang sering berada dalam siaran internet dan tv.


"Tapi kok di sini bukan Raven, apa dia mempermainkanku? tapi tidak mungkin bagaimana dia bisa tahu ada rapat pemegang saham, aku harus pergi supaya aku tahu " Ucap Gordhi dengan begitu yakin.


Dia beralih menatap foto Rennia yang menjadi incarannya sekarang.


"Ck, sebelumku beri kau kepada kepala gangster itu, aku akan menikmati dulu kau seperti ibumu dulu."


Gordhi tersenyum licik, dia pikir dia bisa sekali dayung saja semuanya yang dia inginkan.


....


Setelah selesai makan, Raven menghantar Rennia pulang ke rumahnya. Raven sebenarnya masih ingin berlama-lama bersama Rennia tapi jam sudah menunjukkan jam 8 malam.


Dia harus menghantar Rennia karena harus mengambil hati Ronald bahwa dia pria yang baik-baik saja walaupun Ronald mengenalnya sebagai pembunuh bayaran.


"Kamu istirehat ya, aku sebentar masih ada kerjaan, kalau tidak bisa tidur telepon aja, biar aku temani tidurmu." Pesan Raven sebelum Rennia keluar dari mobilnya karena mereka telah sampai di depan rumah Rennia.


"Pengennya sama kamu." Rengek Rennia manja.


"Kita nikah yuk." Ucap Raven secara frontal.

__ADS_1


Rennia tertawa geli, dia memberi kucupannya pada Raven lalu pamit.


"Besok aja nikahnya, aku masuk dulu ya."


Raven tersenyum senang dalam pikirannya sudah membayangkan jika Rennia menikahinya, dia akan terus lakukannya di mana pun dia mau.


Mesum juga otaknya ckckck.


Dalam perjalanan kembali ke rumah tiba-tiba mobil Raven dipalang oleh 6 orang pria yang bertato.


Mereka memukul-mukul mobil Raven menggunakan kayu, lalu berteriak.


"Kalau berani keluar!" Teriak salah satu pria itu.


Raven keluar dari mobilnya dengan wajah datar. Para pria itu tersenyum lalu tertawa.


"Pria ini gampang."


"Kalian siapa dan mau apa?" tanya Raven masih dalam keadaan santai.


"Kami mau seret kau." Jawab salah satu pria itu lalu tertawa.


"Serang!"


Mereka menyerang Raven serentak dan Raven tersenyum miring lalu menepis pukul mereka, dia membalas mereka dengan tangan kosong, sehingga terdapat salah satu pria itu memukul belakangnya dan Raven sedikit terdorong ke depan.


Raven dengan cepat menstabilkan kakinya lalu menarik pisau lipat kecil yang senantiasa berada di dalam sakunya. Raven mengerat sendi tangan pria yang hendak menyerangnya sehingga pria itu meringgis.


"Mundur!" Ucap salah satu pria itu.


"Oh pakai pisau ya! Kalian keluarkan pisau kalian." Perintah pria itu kepada temannya yang lain kecuali pria yang telah di kerat sendinya tadi tidak bisa berbuat apa-apa.


Raven mendengus kesal, dia masih ada misi yang harus dijalankan setelah ini. Tidak ada cara lain selain menggunakan Glock kesayangannya.


"Mau ambil senjata apa lagi hahh!" Bentak pria itu ketika melihat Raven mengambil sesuatu dari dalam jaketnya.


Glock yang memang sudah terpasang Suppressor itu langsung saja Raven menodong pada mereka dan menembak dengan gerakan yang cepat.


Kelima pria itu tertembak tepat didada mereka kecuali yang menahan sakit tadi. Raven menuju ke arahnya.


"Hei, bilang padaku siapa yang menyuruh kalian?" tanya Raven sambil menodong Glocknya di wajah pria itu.


"Az...el...Azel Lyton." Sahut pria itu gementar menahan sakit.


"Oh dia, ok aku akan meringkan sakitmu, selamat beristirehat." Raven melepaskan tembakan tepat di otak pria itu.


"Ck, padahal aku baru menganti mobil kemarin, hari ni harus ganti lagi." Gerutunya melihat keadaan mobilnya.


"Azel ya."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2