
Bughh...
Gordhi mengebrak meja di depannya.
"Bagaimana seorang pria biasa bisa menghabiskan 5 orang sekaligus!" Ketusnya dengan wajah terlihat marah.
Beberapa anak buah yang diutusnya untuk membuntuti Rennia telah dihabisi nyawa mereka oleh Raven tanpa sedikit belas kasih pun.
Asisten Gordhi tertunduk karena merasa takut akan amukan Tuannya itu.
"Saya sudah pastikan mereka berlima sudah mati Tuan."
Gordhi berdecak kesal karena kejadian di luar dugaannya.
"Apa mungkin ada yang membantu pria itu?"
Gordhi masih merasa tidak puas hati karena menurut penilaiannya wajah Raven hanyalah orang biasa saja yang memiliki sebuah ladang anggur yang besar.
"Tidak pasti Tuan, jalanan itu tidak ada cctv yang bisa kita periksa " Jawab sang asisten.
"Pasti ini semua ulah Ronald! Tidak mungkin pria itu sendiri pasti dia bersama orang hebat yang disewa oleh Ronald, cih." cetus Gordhi menebak siapa yang membunuh anak buahnya.
Gordhi melihat ke layarnya, dia menatap foto Raven lalu tersenyum.
"Aku ada ide, kamu siapkan dokumen kerjasama lalu kita akan bertemu dengan pria ini."
Gordhi berpikir dia akan melakukan kerjasama bersama Raven untuk hasil panen buah anggurnya. Dia ingin mengambil kesempatan itu untuk mendekati Raven lalu menjebak Ronald dan Rennia.
Dalam pikiran sudah tersusun rapi pelbagai rencana yang menurutnya akan berhasil. Gordhi kini tertawa karena merasa menang padahal perang saja belum dimulai.
Asisten Gordhi merasa merinding mendengar bunyi tawa Gordhi, dia sudah bisa menebak jalan pemikiran sang Tuannya itu. Karena dia juga merupakan orang yang terpenting bagi Gordhi.
....
Di tempat Raven.
Raven sedang membalut luka akibat tembakan yang mengenai lengannya, mujur saja hanya luka kecil karena di sempat menghindarinya.
Raven melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan jam 12 malam. Raven tidak bisa melelapkan matanya karena pikirannya menuju ke orang-orang tadi.
"Siapa mereka? Kenapa mereka membuntutiku, ck." Raven merasa bingung, dia menggapai ponsel misinya lalu menekan nomor Holo.
Setelah panggilan tersambung, Raven menceritakan tentang kejadian tadi dari awal dia dibuntuti sehingga penyerangan yang berlaku.
Holo mendengar dengan seksama keseluruhan cerita Raven, dia mencoba mencari kesimpulan yang tepat.
[Rasanya aku tau kesimpulan dari kejadian ini Rav.] Ucap Holo dari seberang sana.
__ADS_1
[Apanya?] Sahut Raven yang merasa penasaran.
[Mereka tidak mengincarmu, tapi mereka mengincar Rennia.] Begitulah menurut kesimpulan Holo.
[Lalu kenapa mereka ingin aku mengikuti mereka?] Raven agak kaget tapi dia masih tidak faham kenapa mereka mengikuti dia.
[Coba pikirkan lagi, kau pasti ketemu jawabannya. Oklah istriku sudah menunggu di kamar.] Holo langsung mematikan ponsel secara sepihak dan membuat Raven mendengus.
"Ck, dasar tua tidak sadar diri." Gerutu Raven.
Raven masih berpikir alasan mereka mengikutinya tadi sehingga dia bertemu dengan alasan yang tepat.
"Sh** mereka ingin menggunakanku untuk menjebak Rennia." Ucap Raven dengan nada kaget.
Raven kini harus lebih memperketatkan lagi penjagaan terhadap Rennia agar tidak terjadi apa-apa, dia mengingat kata pria yang terakhir dibunuhnya tadi.
Flashback On.
Raven mendekati mobil hitam itu dengan langkah yang perlahan tapi tatapan matanya tajam. Tiba-tiba seorang pria keluar lalu menodongkan pistol ke arahnya.
"Menyerahlah sebelum kematian menjemputmu." Ucap pria itu menyeringgai.
"Kau siapa? Kau malaikat maut?" tanya Raven yang kini sudah berdiri tepat di depan mobil hitam itu.
"Hahaha, aku hanya pengutusnya tapi Tuankulah yang menentukan. Menyerahlah dan ikuti aku, kau pasti akan selamat dari maut." Sahut pria itu. "Kau akan menjadi umpan untuk mereka keluar tapi jangan risau kau aman." Lanjutnya lagi.
"Selamat menyusul teman-temanku."
Takk...
Bunyi peluru dilepaskan ke arah Raven dalam waktu yang sama Raven melemparkan pisau kecilnya yag tertusuk tepat mengenai leher pria itu.
Lengan Raven terkena gesekan peluru yang meleset tadi. Gerakan cepat membuatnya harus hilang keseimbangan berdiri.
Raven kembali bangun dan menuju ke arah pria yang sudah terjatuh di atas aspal dalam keadaan memegang lehernya.
"Siapa bosmu?" tanya Revan sambil memijak dada pria itu.
Pria itu tidak bisa menjawab karena tusukan pisau itu mengena tepat di tengkorokannya.
Melihat hal itu, Raven berjongkok lalu menekan pisau itu semakin ke dalam dan di tariknya ke samping. Leher pria itu terkoyak di bagian sebelah kiri, dia telah mati.
Raven meninggalkan ke semua mayat itu terkapar di jalanan, lalu dia kembali ke mobilnya, dengan santai dia kembali pulang rumahnya.
Flashback End...
"Berarti yang dia maksudkan tadi Rennia dan Ronald." Gumam Raven.
__ADS_1
Raven harus menemui Ronald untuk mengetahui siapa yang telah mengincarnya dan Rennia. Agar dia bisa melindungi Rennia di mana saja dia berada.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Raven menjemput Rennia untuk pergi ke kampus, dia sudah berada di depan gerbang setengah jam sebelum Rennia keluar dari rumah.
Rennia yang buru-buru bersiap karena Raven telah menunggu di depan, dia meminta bibi yang mengurusi makan pagi untuk memasukkan sarapannya ke dalam kotak makan dan di tambah porsinya.
Setelah dia selesai bersiap, bibinya juga telah siap memasukkan kotak makanan ke dalam tas kecil khusus untuk kotak makan tersebut.
Rennia pamit kepada Daddy dan bibinya lalu berlari keluar rumah dengan terburu-buru.
Ravej sudah berdiri di luar mobilnya ketika melihat Rennia telah keluar dari pintu rumahnya. Dia menatap sekeliling kawasan rumah Rennia.
"Tidak ada yang mencurigakan." Gumamnya.
Raven kembali menatap ke arah Rennia yang berlari menuju ke arahnya.
"Jangan berlari Ren." Teriaknya tapi tidak endahkan oleh Rennia.
Rennia ngos-ngosan setelah berada di depan Raven.
"Ma...af agak lama..." Ucapnya.
Raven tersenyum lalu membawa Rennia berjalan menuju ke pintu kiri mobil. Setelah Rennia telah dia pastikan duduk nyaman di dalam barulah dia menyusul masuk lewat pintu kanan mobil.
Sebelum memulai perjalanan menuju ke kampus Rennia, Raven mengambil botol minuman yang terletak di dalam dashboard mobilnya lalu dibukanya.
"Minumlah pasti cape buru-buru tadi." Raven memberi Rennia botol minuman tadi.
Rennia terkekeh menyambut botol minuman tersebut lalu dia meminumnya hingga tandas.
"Maaf membuatmu menunggu lama, tadi bangun telat setelah baca pesanmu aku langsung mandi, setelah selesai kau sudah berada di depan gerbang." Ucap Rennia menerangkan kenapa dia bisa terburu-buru.
"Tidak apa-apa sayang." Jawab Raven lalu mengusap puncak kepala Rennia. "Kita jalan ya." Lanjutnya lagi.
Rennia mengangguk sambil tersenyum bahagia, perlakuan Raven begitu hangat tidak seperti sewaktu bersama Azel dulu, perlakuannya sangat berbeda. Ini yang membuat Rennia semakin hari semakin jatuh cinta pada Raven.
Dia berdoa dalam hatinya agar hubungan mereka tidak seperti hubungan masa lalunya bersama Azel. Tapi Rennia lebih mempercayai Raven karena dia bukan hanya menunjukkan perlakuan hangat tapi juga berani berjanji dengan Vitra.
__ADS_1
Bersambung...