Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 33 Raven seorang psikopat


__ADS_3

Rennia menunggu pesan dari Raven sehingga mondar mandir di dalam kamarnya.


"Daddy bicara apa kok lama sekali." Gerutu Rennia.


Rennia coba membuat panggilan telepon kepada Raven tapi panggilannya ditolak. Sehingga dia memutuskan untuk menguping saja perbicaraan mereka.


Rennia baru saja membuka pintunya dan Raven telah berdiri di hadapannya. Raven mendorong Rennia perlahan untuk masuk kembali ke dalam kamarnya.


Rennia hanya terdiam, Raven menarik tangannya hingga sampai ke sofa kamar miliknya. Raven duduk lalu mendudukkan Rennia di atas pahanya.


"Ren, Tuan Ronald beri lampu hijau." Ucap Raven setengah berbisik.


Rennia bingung dengan maksud ucapan Raven.


"Lampu hijau apa?"


Raven tertawa kecil dan tangannya mulai bergerak nakal diperut ramping Rennia.


"Rav, nanti ketahuan Daddy." Rennia memberhentikan tangan nakal Raven.


Raven menatap Rennia dengan intens membuat Rennia menjadi salah tingkah. Raven tidak berkata apa-apa dia hanya menatap wajah cantik Rennia.


"Rav kalau kau menatapku begitu kau bisa membuatku menerkam dirimu." Ucap Rennia yang mulai gelisah.


"Malam ini aku tidak ada misi dan aku sudah minta izin untuk tidur di sini." Ujar Raven sambil memainkan hujung rambut Rennia.


"Terus Daddy setuju? atau kau saja yang nyosor sampai ke kamarku?" tanya Rennia dengan wajah menelisik.


"Menurutmu?" Raven sengaja memancing penasaran Rennia.


....


Azel telah kembali ke apartmennya bersama dua orang anak buah Aaron yang memiliki kekuatan dan tubuh yang lebih besar.


Azel akan menggunakan kesempatan ini untuk memberi pelajaran kepada Raven yang sering menganggunya untuk mendapatkan hati Rennia lagi.


.


.


.


.


.


Azel sampai ke kampus bersamaan dengan kedatangan Raven yang telah masuk ke parkiran kampus. Azel memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mobil Raven.


Dia memperhatikan mereka dari dalam mobilnya. Azel merasa geram melihat kemesraan Rennia bersama Raven apalagi dia menangkap kissmark yang ada dileher Raven.

__ADS_1


Azel mengenggam stirnya karena dia merasa semakin berapi-api ingin menghancurkan Raven.


Setelah Rennia telah masuk dan bayangnya menghilang dibalik pintu utama bangunan jurusannya barulah Azel keluar dari dalam mobilnya.


Azel menuju ke arah ke arah Raven yang masih berdiri di depan mobilnya. Azel melepaskan bogem ke arah wajah Raven tapi Raven berhasil menepis tangan Azel.


"Apa yang kau lakukan pada Rennia hahh?" bentak Azel dengan wajah yang memerah.


Azel memasang kuda-kudanya untuk menghajar Raven dan para siswa yang masih berada di parkiran mulai berkeruminan mengelilingi mereka.


Raven masih terlihat santai dan dengan sengaja dia membuka kancing leher baju kemejanya. Terekspos dengan jelas tanda cinta dari Rennia banyak tercetak di bagian leher Raven.


Mata Raven semakin memerah dan wajahnya terlihat sangat murka, ingin sekali dia menghajar Raven.


"Kau merusak pikiran Rennia!" Teriaknya.


Raven tidak menjawab dia hanya tersenyum miring dengan tatapan sinis.


"Di jalan xxx."


Raven memberi kode untuk bertemu dengan Azel. Walaupun dia sebenarnya ingin menghajar Azel sekarang tetapi dia masih ingat tempat ini masih di kawasan parkiran kampus yang terdapat banyak satpam.


Oleh itu dia memberi kode dengan nama jalan agar Azel mengikutinya. Raven memasuki mobilnya dan melaju ke tempat yang dia bicarakan tadi.


Azel tersenyum kemenangan karena rencananya untuk membawa Raven keluar berhasil, dia menelepon anak buahnya untuk menuju ke tempat yang diberitahu oleh Raven.


Azel melajukan mobilnya menyusuli Raven. Siswa yang berkerumun tadinya telah bubar dan beberapa siswi yang sekelas dengan Rennia berlari memasuki kelas untuk memberitahukan hal ini pada Rennia.


"Ren, tunanganmu berkelahi dengan Azel."


"Mereka telah pergi!"


"Kau harus menelepon tunanganmu, kau tahu Azel siapakan."


"Kasian dia kalau terjadi kenapa-kenapa."


Begitulah ucap teman-teman sekelasnya. Tetapi ekspresi Rennia masih tenang walaupun dalam hatinya mulai mengkhawatirkan Raven.


"Baiklah terima kasih infonya kalian bisa duduk, sebentar aku akan menelepon tunanganku." Ucap Rennia.


Siswi tadi telah bubar dan kembali ke meja masing-masing. Rennia segera merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.


Rennia membuat panggilan telepon pada nomor Raven.


[Helo sayang? sudah mulai rindu ya?] Ucap Raven dari seberang sana.


[Ya sudah rindu kamu, pengen nyium kayak semalam haha.] Jawab Rennia yang tidak langsung bertanya tentang Azel.


[Nanti aku izin bawa kamu menginap di rumahku saja, kalau di rumahmu tidak terlalu bebas.] - Raven.

__ADS_1


[Atau hujung minggu aja nanti aku minta izin bagaimana?] - Rennia.


[Boleh sayang kalau mulai hari ni sampai hari minggu juga bisa.] - Raven.


[Kamu nakal sekali Rav, oh ya aku ada mau tanya ni.] -Rennia


[Ok tanya apa sayang?] -Raven.


[Kau mau berkelahi dengan Azel?] - Rennia dengan nada khawatir.


[Jangan khawatir aku ingin memberi dia sedikit pelajaran saja, kamu fokus kuliah dan pulang nanti aku jemput ya.]


Bel telah berbunyi Rennia mematikan ponselnya setelah berpamitan dengan Raven.


"Ya Tuhan semoga Raven tidak kenapa-kenapa." Batin Rennia.


....


Di tempat yang di janjikan tadi.


Terlihat Raven telah berdiri di samping mobilnya dengan bersandar pada pintunya.


Azel datang bersamaan dengan kedua anak buahnya. Wajah sinis memandang remeh pada Raven terlihat di wajah Azel.


Raven tidak banyak bicara dia langsung saja membetulkan posisinya untuk menghadapi kedua pria yang bertubuh lebih besar daripadanya.


Tapi sedikit pun Raven tidak menunjukkan wajah takut ataupun gelisah, dia malah menunjukkan wajah sinis dengan tatapan seperti ingin memangsa orang.


"Serang dia!" perintah Azel dengan lantang.


Azel memperhatikan dari depan mobilnya sambil berharap Raven akan jatuh dengan cepat barulah dia akan menghajarnya lagi.


Tapi tanpa dia duga dengan gerakan sekelip mata, anak buahnya sudah terbaring di atas aspal dan tidak menggerakkan tubuh mereka.


"Hoii bangun tidak, lebih baik bangun sebelum aku yang menghajar kalian!" teriak Azel mulai gementar.


Dia tidak percaya Raven yang melakukan hal ini dan kini Raven melangkah dengan perlahan menuju ke arahnya.


Azel berlari masuk ke dalam mobilnya karena ketakutan melihat wajah Raven berubah seperti psikopat. Senyumannya sungguh mengerikan, Azel memilih meninggalkan kawasan itu.


"Sia* pria apa yang Rennia temui ini, dia bukan manusia biasa dia psikopat gila." Gerutu Azel yang kini bernafas lega karena telah keluar dari jalan yang sepi itu.


Raven menghela nafas dan tersenyum sinis.


"Kali ini kau lepas tapi suatu hari nanti aku pastikan kau mati ditanganku Azel Lyton." Ucap Raven sambil melihat ke arah jalanan yang Azel lewati tadi.


Raven meninggalkan tempat itu dan jasad anak buah Azel yang tergeletak di atas jalanraya itu.


"Aku harus pulang dulu dan mandi, biar Rennia makin lengket." Gumamnya mencium aroma tubuhnya yang bau darah itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2