Wanita Pembunuh Bayaran

Wanita Pembunuh Bayaran
Bab 17 Rencana Gordhi


__ADS_3

Bunyi pukulan terdengar dari dalam gudang lama itu. Gordhi dan beberapa pengawal pribadinya menghajar beberapa anak buah yang berjaga di gudang lama itu.


"Si**an baj***an KAMU SEMUA TIDAK BERGUNA! SEORANG WANITA SAJA KAMU TIDAK BISA JAGA, KAMU MAU AKU MEMBUNUH KALIAN SEBAGAI GANTI DIRINYA HAH!" Bentak Gordhi yang tampak sangat murka dengan anak-anak buahnya.


Setelah kedatangan Gordhi untuk melihat keadaan Rennia, dia mendapati Rennia telah menghilang dan hal itu sama sekali tidak di sadari oleh para anak buahnya.


Gordhi telah menyisir seluruh kawasan gudang lama itu bersama anak buahnya sehingga larut malam, tapi tidak ada tanda-tanda Rennia berada di tempat itu apalagi tempat itu merupakan hutan yang lumayan jauh dari jalan umum.


Gordhi curiga Rennia telah lama melepaskan diri, dia juga merasa murka dan kesal. Ingin sekali dia menembaki kepala anak buahnya yang berjaga di gudang ini tapi dia masih memikirkan jumlah anak buahnya yang tidak begitu banyak jika dia harus membunuh mereka.


"Cek cctv jalan umum yang menuju ke jalan ini SEKARANG!" Ujarnya lagi kepada asisten pribadinya.


Sementara asistennya sedang cek rekaman cctv, Gordhi masih menghajar para anak buah tadi untuk melampiaskan semua kekesalannya.


"Tuan, maaf jika saya harus menyampaikan ini." Ucap asistennya yang terlihat ragu.

__ADS_1


"Apa katakan saja!" Sahutnya dengan suara yang kuat hingga tempat itu berdenging.


"Ini, Tuan bisa lihat rekaman cctv ini sepertinya sudah di potong sebagian." Asistennya menunjukkan layar laptop yang memainkan rekaman cctv tersebut.


"Si** ini semua memang ulah Kakak ku itu! Ck, hehh sekarang dia sudah ada kekuatan untuk melawan tapi tunggu saatnya aku akan buat dia kehilangan anak perempuan kesayangannya itu." Ucapnya dengan seringgai jahat.


Gordhi mengarahkan anak buahnya untuk pulang dan mereka akan menyusun semula rencana yang lain untuk membuat Ronald jatuh ke dalam keterpurukan.


....


Rennia hanya duduk seharian di dalam rumahnya karena dia harus beristirehat hari ini tapi dia menjadi tidak tenang apabila Raven tidak membalas pesan dan tidak mengangkat panggilan teleponnya.


"Ck kemana sih dia." Gerutunya yang sudah bolak balik memeriksa ponselnya tapi tidak ada tanda-tanda Raven membalas pesannya.


Vitra yang masih dalam hari liburnya mulai curiga kalau Rennia mempunyai kekasih dan dia merahsiakan siapa kekasihya.

__ADS_1


Vitra mendekati Rennia yang duduk di sofa dengan wajah cemberut. Dia lantas mengambil posisi duduk sofa yang berhadapan dengan Rennia, dia menatap wajah Rennia dengan tatapan bingung.


"Kenapa sih Kak Vit?" Rennia mulai merasa tidak selesa karena tatapan Vitra.


"Kamu kelihatab cemberut, apa karena kekasihmu tidak membalas pesanmu." Sahutnya sambil menaikkan alis kirinya.


"Sangat menyebalkan, dia tidak mengabariku padahal tadi masih asyik..." Rennia terdiam karena keceplosan, wajahnya mulai berubah panik dan salah tingkah.


"Huft, kenakan... Ok bilang pada Kak Vit siapa dia yang kamu maksudkan."


"Dia siapa? Rennia tidak mengerti." kilah Rennia lalu berdiri ingin meninggalkan Vitra di ruang tamu tapi segera dihadang oleh Vitra.


"Eits mau ke mana?" tanya Vitra sambil menghadang jalan Rennia. "Ayolah cerita dikit dengan Kakak, kalau kamu cerita Kakak izinin kamu keluar bersamanya." Vitra coba memancing Rennia.


Rennia yang mendengar ucapan Vitra langsung saja berubah menjadi berbinar, karena memang Daddy dan Kakaknya tadi yang tidak menyuruhnya keluar dari rumah karena dia harus beristirehat padahal dia ingin sekali bertemu dengan Raven.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2