
Aaron mulai menyesalinya, kini dia benar-benar yakin Raven bukan orang sembarangan. Mobil yang digunakan oleh para anak buah dan anaknya sendiri iaitu Azel telah meledak hangus dijalanan.
Dan semua anak buahnya ditumpukan dalam 5 buah van. Hanya satu motor saja yang tidak meledak karena anak buah sempat parkir di kawasan agak jauh untuk mengelakkan hal lain berlaku.
"Sia* ke mana mereka bawa Azel." Ucap Aaron sambil mengepal tangannya.
Aaron menatap dengan amarah ke layar yang memainkan rekaman penuh sewaktu perkelahian sedang terjadi.
Kalau saja dia percaya ucapan Azel pasti semua ini tidak terjadi. Kali ini Aaron memanggil seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Raven.
Aaron akan membalas semua perbuatan Raven terhadap Azel dan anak buahnya.
"Kau tunggu saja, aku pastikan kau berlutut di depanku."
Aaron menyusun rencananya untuk menyerang Raven, dia tidak peduli saat ini Raven berada di mana dan dia akan langsung saja menyerang mereka.
Asisten Aaron masih sibuk melacak keberadaan Raven, suasana rumah Aaron menjadi begitu tegang karena amukan dari Aaron.
....
Setelah menghantar Rennia ke rumahnya pagi-pagi buta, Raven langsung saja kembali ke rumahnya karena hari ini juga dia ada perjumpaan bersama beberapa pemegang saham sekalian untuk menjebak Gordhi masuk ke dalam rencananya.
Ronald termasuk salah satu pemegang saham yang baru dan telah menanam saham yang lebih besar dari Gordhi.
Dalam sebuah Restoran, Gordhi menatap sinis ke arah Ronald yang duduk bersama pemegang saham besar dan terlihat begitu akrab.
Rasa iri dalam hatinya semakin membuak-buak. Tapi dia akan menggunakan kesempatan ini untuk menjebak Ronald.
Raven masuk ke dalam ruangan Vip dengan langkah yang gagah dan tegas. Kursi khas untuknya berada tidak jauh dari Gordhi.
Salah satu karyawannya memulaikan rapatnya dan presentasi tentang kemasukan dalam kafenya.
Gordhi tidak fokus pada penerangan tetapi dia fokus kepada jumlah penghasilan kafe itu, pikirannya sudah mulai menerawang dan tidak sabar untuk mengambil alih posisi Raven.
Setelah selesai pertemuan dan rapat, Raven terpaksa meninggalkan ruangan tersebut lebih awal karena dia tidak suka duduk dalam keramaian apalagi banyak yang sengaja melontarkan kata-kata memuji dirinya hanya untuk mendekatinya.
Sewaktu Raven keluar dan diikuti Ronald yang pergi bersamanya. Banyak bisik-bisik yang terdengar di telinga Gordhi membuatnya semakin panas.
"Dengar-dengar Tuan Raven dan Tuan Ronald akan jadi keluarga."
"Wah anak gadisnya berhasil mengambil hati Tuan Raven."
__ADS_1
"Beruntung Tuan Ronald."
"Makanya Tuan Raven mengundang Tuan Ronald dalam rapat kali ini."
"Eh, kemarin Tuan Ronald juga sudah menanam saham."
"Iya aku juga dengar, dan sahamnya sebanyak 15 persen."
"Wow, pasti itu untuk invest anak gadisnya."
"Kita tinggal tunggu undangan saja."
Gordhi meninggalkan ruang itu dan berniat untuk mengejar Raven dan Ronald. Tapi sampai di parkiran dia melihat beberapa keributan telah berlaku.
Gordhi coba bersembunyi dibalik tembok untuk melihat keributan itu. Matanya menangkap sosok Raven sedang melawan beberapa pria kekar dengan kecepatan tangannya.
Tapi sayangnya, Raven kalah jumlah dan Ronald terlihat ditawan oleh seseorang yang dia kenal.
"Dia kan Aaron?" gumam Gordhi.
Gordhi keluar dari tempat persembunyiannya lalu menuju ke arah mereka.
"Wow, Aaron?" sapa Gordhi sambil bertepuk tangan.
"Hei, kebetulan sekali," sahut Aaron dengan wajah menyeringgai.
"By the way, aku akan mentransfermu Aaron. Karena kau telah berhasil menangkap targetku," ucap Gordhi lalu mendekat ke arah Aaron yang menahan Ronald menggunakan pisau yang berada hampir ke lehernya.
"Oh ya? Berarti pria ini yang kau maksudkan?" tanya Aaron.
"Kedua-duanya," Jawab Gordhi sambil tersenyum miring.
Mata Raven terlihat tajam menatap Gordhi, dia tidak memperkirakan hal ini berlaku hari ini, memang dia cukup waspada tapi tidak dia sangka Aaron menyerangnya secara terang-terangan.
"Sia**n, aku harus kirim sinyal kepada Holo untuk selamatkan Rennia," batin Raven sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jas bagian dalam.
Raven memencet tombol sinyal yang ada dibalik jasnya. Dia berharap Holo segera mencari Rennia dan mengirim beberapa orang untuk menyelamatkan dia dan Ronald.
Bughh!
Raven jatuh tersungkur dan hilang kesadarannya apabila sebuah balok mengenai tengkuknya. Ronald juga dibuat pingsan oleh obat bius yang dihirupnya.
__ADS_1
Aaron dan Gordhi menaiki satu mobil yang sama, dan tawanan mereka akan menaiki mobil yang dikenderai oleh anak buah Aaron.
Mereka menuju ke sebuah gudang yang berdekatan dengan rumah Aaron, lalu mengikat Raven dan Ronald pada sebuah kursi kayu.
....
Beberapa pria telah merusuh masuk ke kawasan rumah Rennia, dan beberapa pengawal yang berjaga telah diserang menggunakan gas helium.
Mereka memasuki rumah itu dan mengancam pelayan rumah Rennia, mereka memeriksa seluruh rumah itu hingga tidak ada yang terlewat tapi mereka tetap tidak menemukan Rennia.
"Di mana wanita itu hah?" bentak salah satu pria itu kepada pelayan rumah Rennia.
Pelayan rumah Rennia hanya menggelengkan kepala dan menangis, karena dia benar-benar tidak tahu Rennia ke mana, setahu dia Rennia berada di kamarnya sejak pagi tadi dan tidak keluar sama sekali.
Pria yang bertanya itu rasa berang lalu, memukul tengkuk hingga pingsan pada wanita paruh baya alias pelayan itu.
"Kita pergi, mungkin dia tidak berada di sini, kita periksa di kampusnya." Perintahnya pada pria yang lain.
Mereka bergegas meninggalkan rumah itu dalam keadaan yang berantakan, dan menuju ke arah kampus Rennia.
Mereka telah meninggu hingga sore tapi sosok Rennia tidak mereka temukan, mereka telah mengabarkan pada Aaron dan Aaron menyuruh mereka kembali ke rumahnya saja.
Di rumah Aaron,
Aaron tampak meremas ponselnya dan wajahnya berubah merah.
"Wanita itu tidak ditemukan," ucapnya pada Gordhi.
Gordhi terlihat kaget, lalu dia coba berpikir-pikir ke mana Rennia akan pergi, Gordhi ingin menyuruh anak buah Aaron membuat kekacauan di kafe milik Raven tapi dia mengingat banyak sekali pengawal yang tersedia di tempat itu dan penjagaannya sangat ketat.
Gordhi kembali menebak-nebak.
"Mungkin, dia disembunyikan di kantor ladang anggur?" tebak Gordhi sambil menatap Aaron.
"Bagaimana kita ke sana?" tanya Aaron lagi sambil menyeringgai.
"Kita bisa pergi malam ini, lagian tempat itu tidak dijaga ketat seperti kafe miliknya," jawab Gordhi.
"Ok, hehh aku pastikan akan membuat wanita itu sebagai boneka pemua* na**uku," sahut Aaron yang tersenyum miring.
Aaron mengarahkan setengah anak buahnya untuk menjemput Rennia, mereka berharap Rennia benar-benar ada di sana. Tidak lupa juga Aaron menyuruh mereka mencari keberadaan Azel yang menghilang.
__ADS_1
"Rennia-Rennia kau bakal jatuh dalam tanganku," gumam Aaron.
Bersambung...