
Anaya kini sedang berfikir, dia harus melanjutkan rencana nya atau mengubah rencana nya "Apa yang harus aku lakukan? , membereskan dua penjaga di depan atau mengikuti Arga yang membawa Ros" Anaya sedang dalam dilema, jika dia membereskan Penjaga terlebih dulu dia takut akan terjadi sesuatu pada , namun jika dia tidak membereskan penjaga itu sekarang, takutnya nanti saat dia melakukan penyerangan Arga akan memanggil penjaga itu.
"Haaaahhhh ada apa ini, kenapa Dewi Fortuna tidak berpihak padaku! " Anaya menggaruk kepala nya yang tak gatal.
Anaya menarik nafasnya dan menghembuskan perlahan, dia harus mengambil keputusan sebelum terlambat.
Anaya memantapkan langkahnya dia berjalan perlahan ke arah yang di lalui Arga, Anaya sudah tau akan berakhir di mana Ros, tentu saja di tempat Anak kecil itu di renggut nyawanya dan di ambil organnya tak tersisa.
Arga membawa masuk Ros, membuat kedua rekannya menatap Arga "Apakah dia mangsa baru? " Tanya dokter satu
"Benar, dia hanya menderita asma, seperti nya anak kuliahan di lihat dari teman yang membawanya kemari" Ucap Arga
"Sayang sekali, jika membunuh nya tanpa mencicipi nya terlebih dulu, dia terlihat muda dan lezat" Ucap dokter dua yang memainkan lidahnya di bibirnya menatap mesum ke arah Ros, dengan tubuh yang di penuhi darah benar-benar menjijikkan.
"Ide bagus, aku setuju! sudah lama tidak mendapatkan barang bagus seperti ini" Ucap dokter satu.
"Sebenarnya aku lebih tertarik pada temannya yang mengantarnya ke mari, sedikit lugu meski memakai kacamata aku bisa melihat kecantikan nya" Kali ini ekspresi Arga benar-benar mesum dia tengah membayangkan tubuh Anaya.
"Benarkah? kenapa kau tidak membawanya juga" Ucap dokter satu itu
"Tunggu tenang dia juga akan mendapatkan giliran, tapi kita juga tidak boleh menyia-nyiakan uang yang akan di bayarkan gadis itu" Arga benar-benar licik mungkin di pikiran nya hanya ada uang, uang dan uang.
"Kau benar-benar pintar Arga" Ucap dokter satu dan dua bersamaan
"Jika aku tidak pintar bagaimana kita bisa menghasilkan uang yang sangat banyak ini, dan bagaimana kalian bisa membeli alkohol dan wanita setiap hari jika aku tidak pintar" Arga menyombongkan dirinya karena menjual organ tubuh manusia adalah idenya.
Arga membaringkan tubuh Ros di ranjang , di sebelah ranjang Ros terlihat badan yang sudah tak tersisa organnya hanya tinggal kepala dan tubuh dengan luka yang terbuka hanya terlihat sisa usus saja bentuk tubuh sudah tak beraturan.
__ADS_1
"Wah benar-benar bagus, dia benar-benar menggoda dokter satu itu segera mendekat ke arah Ros mencium aroma Ros yang wangi " Dia benar-benar merangsang gair*h ku " Ucap nya tak tau malu.
"Kalau begitu lakukan lah dengan cepat! " Ucap Arga dia tak tertarik pada Ros tapi dia sangat tertarik pada Anaya.
"Kau tidak mau? " Tanya dokter dua.
"Sudah kubilang gadis yang satunya lebih menggoda, kalian nikmati yang tapi nanti jangan menganggu ku" Arga memperingati rekannya.
Anaya mengendap-endap melihat ke dalam ruangan itu, tubuh Anaya bergetar hebat matanya membulat tangannya semakin erat mengepal wajahnya mengeras emosi nya kian memuncak saat dia melihat tubuh Tua yang sudah tak berbentuk *Nenek" Gumam Anaya dia menyesal kenapa tak membawa nenek itu ke panti jompo. "Berengs*k setelah cucunya kau juga merenggut nyawa neneknya! Arga kau manusia yang tak pantas hidup! " Anaya benar-benar marah kali ini. Namun tubuh Anaya berkata jujur sebenarnya dia sangat takut melihat kekejaman yang sebenarnya di hadapan nya, tubuhnya tiba-tiba merasa lemas, luka lamanya terbuka kembali, dia mengingat tindakan keji Arga pada nya.
"Nenek tua ini sudah selesai, lebih baik kau bereskan! , kami akan bersenang-senang terlebih dahulu" Ucap Dokter dua pada Arga.
"Kalian mengambil semua organnya apa masih bagus? " Ucap Arga yang heran hampir semua organ mereka ambil
"Hahaha, aku rasa hidup susah mampu menjaga nenek tua ini tetap sehat" Cibir dokter satu membuat gelak tawa di ruangan itu.
Arga mengambil kantung besar dan coba memasukkan nenek itu, sedangkan dua dokter tengah mencoba menelanjangi Ros.
Pertama mereka melepaskan sepatu yang Ros gunakan, "Benar-benar indah" Ucap dokter dua menjilat kaki Ros.
Namun mata dokter satu tertuju pada darah di paha kanan Ros "Arga apa kau melukainya? " Tanya dokter itu melihat paha yang terluka.
"Hah? luka Apa? " Arga bingung karena dia tidak merasa melukai Ros dan dia juga tidak memperhatikan nya tadi saat membawa Ros. "Mungkin tergores, sudahlah jangan di pikirkan" Ucap Arga yang masih sibuk membereskan pekerjaan teman-teman nya
"Emmm Sst emm" Suara dokter dua yang menjilat kaki Ros, Ros tak tahan lagi
BUUUUGGGHHHH!!
__ADS_1
Ros menendang dokter dua itu dia sudah tak tahan untuk berpura-pura lagi, dia memang hari kehilangan kesadaran nya tapi dia melukai pahanya dengan kukunya membuatnya kesakitan dan mengeluarkan darah namun itu mampu membuat nya tetap sadar.
Anaya terkejut, namun sedikit lega ternyata Ros baik-baik saja dan tak terperangkap oleh Arga.
Arga dan dokter satu terkejut bahwa Ros masih sadarkan diri.
"Wanita sialan! beraninya kau menendang ku kau ingin mati! " Ucap dokter dua
"Aku bahkan berani membunuhmu! " Menatap dokter dua tajam.
"Wanita sialan! " Ucap dokter satu yang mengambil pisau ingin menusuk ke arah Ros.
Ros yang sedikit terpengaruh oleh obat, dia merasa sedikit pusing namun bergegas bangun sebelum dokter itu menusuknya dia sudah menangkap tangan dokter itu, dia memukul tangan dokter itu melepaskan pusat yang dia pegang.
Ros menarik tangan dokter itu memutarnya ke belakang " Aku akan mematahkan tangan kotor mu yang sudah merenggut banyak nyawa!! " Ucap Ros.
"Kau berani bertindak di wilayah ku? Nyali mu besar juga! " Ucap Arga dengan sombong nya menatap Ros "Kau lupa kau masih ada teman di luar! kau ingin dia mati? "
Ros tersenyum "Bukan dia yang akan mati? tapi kalian semua" Ros bergegas berlari menendang Arga namun Arga mampu menghalang dengan tangannya menangkap kaki Ros, Namun Ros dengan cepat menarik kakinya kembali!
Anaya di luar sudah membereskan dua penjaga, senjata yang dia bawa ternyata berguna , namun dia tidak baik-baik saja dua penjaga Itu sangat kuat Anaya harus mendapatkan dua luka pisau di lengannya, Anaya menyobek dua lengan bajunya untuk mengikat luka di lengannya *Sialan! bisa-bisa nya aku terluka" Ucap Anaya
*Sial di mana para penjaga yang aku panggil " Ucap Arga dalam hati
"Apa kau sedang menunggu penjaga mu! , Aku bawakan mereka kemari! tapi karena mereka terlalu besar aku bawa satu saja, tidak masalahkan" Anaya mengedipkan matanya mengejek Arga.
Arga melihat anaya yang tanpa kacamata dan rambut terurai karena perkelahian tadi dan melihat lengan Anaya yang putih dua kancing atas yang terbuka menambah kesan sksi di mata Arga. "Aku tidak salah lihat kau benar-benar cantik, kau lebih baik menyerah dengan pasrah dari pada harus berhadapan dengan pisau bedah ku! Gadis cantik ini wilayah ku" Arga menyeringai mengingatkan Anaya bahwa dia tidak bisa menyentuhnya di wilayahnya sendiri.
__ADS_1