
Leo sengaja menepikan mobilnya di pinggir jalan, tidak peduli jika mobilnya berhenti di area yang memiliki plakat yang bertuliskan 'dilarang parkir'. Kenapa Leo setenang itu? Tentu saja karena ia memiliki Wilson yang kini tengah duduk manis di belakang sambil mengobati lukanya. Bukankah atasannya itu punya banyak uang dan bisa membayar denda yang mungkin bagi Wilson nominalnya tak seberapa.
Saat ia ingin berhenti melirik Wilson, tiba-tiba saja, secara tak sengaja netranya berhenti tepat pada sosok Veila yang kebetulan tengah memandang ke arah depan. Posisi wajah yang seperti itu membuat Leo dapat melihat sudut bibir yang robek. Ia meringis saat melihat luka yang hampir mengering tersebut.
"Hei, Nona Amor, sudut bibirmu juga robek ... kau tidak berniat mengobatinya?" tanya Leo, membuat Veila tersentak dan tersadar dari lamunannya.
Veila menggeleng, mengatakan lewat gerakan jika luka kecilnya ini tak perlu diobati. Lagipula hanya sudut bibir yang robek, dan Veila sudah pernah mengalami luka-luka yang lebih parah dari ini. Seberapa sering pun kulitnya tergores oleh luka, wanita itu sama sekali tidak pernah mengobatinya dan membiarkan luka tersebut mengering dengan sendirinya.
"Nona Amor, sekecil apa pun lukanya, itu harus diobati. Oh, apa kau tidak pandai mengobati luka fisik? Kalau begitu, biar aku yang obati," tawar Leo dengan tubuh yang memutar ke arah belakang. Ia melirik Veila sekilas dan kemudian segera mengarahkan tangannya pada kotak P3K milik Wilson yang tengah terbuka.
Leo segera menarik tangan kanannya dari kotak P3K saat Wilson tiba-tiba saja bergerak menutup kotak obat tersebut. Jika terlambat ditarik, mungkin teriakan Leo akibat tangannya dijepit mungkin akan menggema di dalam mobil. Wilson yang marah benar-benar mengerikan, Leo pun bisa diterkamnya.
"Biar aku saja," ucap Wilson, membuat mata Leo terbuka lebar. Sekarang Leo mulai menerka kenapa Wilson langsung menutup kotak P3K-NYA saat tangan Leo baru saja menyambar masuk.
Ada dua opsi yang hadir di pikiran Leo, yang pertama karena Wilson masih marah padanya perihal posisi kemudi, kedua karena Wilson tidak mau melihat Leo menyentuh Veila sedikitpun. Sepertinya, Leo lebih menyukai opsi yang kedua.
__ADS_1
"Kemarikan wajahmu," titah Wilson, membuat Veila menoleh.
Melihat kepala si wanita yang langsung menoleh saat Wilson melayangkan perintah, membuat Leo merasa iri. Veila selalu saja menolak apa yang Leo katakan, tetapi saat diperintah Wilson, wanita itu selalu menurut bahkan tidak berkutik sama sekali. Leo yang merasa iri akan hal itu tidak tahu jika Veila menurut pada Wilson sebab beban balas budi.
Wilson diam sejenak dengan tangan yang masih berada di sudut bibir Veila. Padahal pria itu sengaja mengobati luka si wanita dengan asal-asalan, kenapa dia sama sekali tidak meringis sakit? Jika yang tengah ia obati adalah Maureen, mungkin ringisan kesakitan akan menggema di dalam mobil.
"Kenapa kau tidak meringis saat kuobati?" Wilson bertanya karena penasaran, membuat Leo melirik diam-diam dari kaca spion.
"Aku sudah lelah meringis, aku sudah sering mengalami luka fisik, dan luka ini adalah luka teringan yang kualami. Jadi, untuk apa aku meringis karena luka kecil sedangkan saat luka besar saja aku tak menangis?"
"Sepertinya hidupmu menyedihkan Nona Amor," gumam Leo, membuat Veila menoleh dan melihat ke depan. Tidak bisa menyalahkan, hanya bisa membenarkan, hidupnya memang menyedihkan sekali.
"Kau tahu, teman-temanku dulunya sering menjadikanku tempat curhat. Kau bisa curhat padaku jika mau," tawar Leo, nada bicaranya terdengar tulus. Tak bermaksud apa-apa, hanya saja rasa kasihan itu hinggap di hati Leo, menggerakkan mulutnya untuk berkata seperti itu.
"Bisakah kau mengemudi dengan cepat? Kita sudah terlalu lama di jalan, dan juga fokuslah menyetir."
__ADS_1
Bukan jawaban Veila yang Leo dapat, tetapi semburan kalimat mematikan dari Wilson. Perkataan yang sukses membuat Leo menambah kecepatan mobilnya dan tak penasaran lagi dengan jawaban Veila.
***
Butuh waktu sekitar tiga puluh detik bagi seorang pengemudi handal, Leo Zhang, untuk memarkir rapi mobil tuannya. Sebelum mematikan mesin mobil, pria itu lebih dulu menutup mulutnya dengan tangan agar terlihat sopan saat menguap. Ia benar-benar mengantuk karena tidak ada yang mengajaknya bicara di dalam mobil.
Wilson bungkam sedangkan Veila pelit bicara, membuat Leo menghibur dirinya sendiri dengan cara bersenandung, pria itupun menghidupkan radio, berharap jika perjalanan panjang ini lebih terasa mengasyikkan, baginya. Namun faktanya, memutar radio malah membuat matanya memberat.
Seat belt terbuka, membuat Leo lebih leluasa bergerak. "Wil, kita sudah samp—" perkataan Leo terhenti saat kepalanya tertoleh ke belakang, mendapati jika dua orang di belakang sana tengah tertidur dengan kepala yang saling bersinggungan. Buru-buru, ia pun segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, mengarahkan kamera belakang tepat pada Wilson dan Veila, dan dalam hitungan ketiga Leo mulai membidik, mengabadikan momen langka ini.
Pria itu tersenyum. "Kurasa Maureen akan senang jika melihat ini." Dan ketika itu juga, Leo segera mengirimkan foto tersebut pada kekasihnya. Leo yakin, momen inilah yang Maureen harapkan.
Bersambung....
Maaf kalau aku baru up, enjoy this story.
__ADS_1