
"Pertemuan pertama membawa kita menuju pertemuan-pertemuan selanjutnya."
Veila mempercayai kalimat yang teman sekolahnya katakan, dan memang benar, jika kita sudah bertemu dengan seseorang sekali, maka di hari-hari berikutnya, atau di masa yang akan datang, kita akan bertemu lagi dengan mereka.
Pertemuan pertama adalah penyatuan benang, sedangkan pertemuan-pertemuan berikutnya adalah penarikan benang. Mau menghindar sekalipun, bahkan sampai bersembunyi ke ujung dunia, benang itu tidak akan putus. Katakan saja, jika itu memang sudah kodrat alamnya. Dan hari ini, Veila kembali dipertemukan dari sosok pria yang dulunya sempat singgah di hati.
Charlie, pria yang sebetulnya sangat ramah dan murah senyum, entah bagaimana bisa tengah duduk di hadapannya, melihatnya dengan senyuman yang tersungging. Ini menggelikan, sungguh.
Dulu, Charlie adalah orang pertama yang ingin ia temui. Namun sekarang, Charlie adalah orang pertama yang paling tidak ingin ia temui. Tidak ada lagi cinta yang terukir di hati kecilnya, perasaan tersebut sudah terkikis bersama waktu semenjak ia tahu kebusukan si pria. Ia sebenarnya takut, sangat takut jika Charlie menariknya paksa lagi dan mengulangi semua kejadian-kejadian buruk. Namun, di depan pria yang tengah tersenyum ini, Veila berusaha untuk tetap terlihat berani. Tidak ada yang melindunginya dari Charlie, karena itu Veila harus melindungi dirinya sendiri, bagaimanapun caranya.
Hai, apa kabar, sudah lama, ya?
Kalimat basa-basi yang selalu digunakan untuk setiap orang—di belahan bumi manapun. Andai kata jika itu bukanlah Charlie, mungkin ia akan menjawab dengan sebuah kebohongan, seperti; aku baik-baik. Kehidupanku sangat baik, aku mencintai hidupku. Namun, lain halnya di depan Charlie, Veila tak bisa berbohong bahwa hidupnya kini terbilang baik-baik saja, tidak ada masalah serius yang membuatnya tertekan secara psikis.
"Aku tidak baik-baik saja. Karenamu aku hancur untuk yang kedua kalinya. Masih bisakah kau tersenyum di hadapan orang yang pernah kau sakiti?" Itu yang Veila katakan beberapa detik lalu, membuat senyuman Charlie luntur serta kepala yang menunduk. Tidak ada alasan khusus, Veila hanya ingin Charlie menyadari kesalahannya satu bulan lalu.
"Veila, jangan berbohong. Kau dibeli oleh orang kaya, pastinya hidupmu nyaman sekarang. Tidak sepertiku, menjalani hidup yang semrawutan," celatuk Charlie, mengetuk-ngetukkan telunjuknya pada meja kayu di depannya.
__ADS_1
Charlie, tidak bisakah pria itu membaca ekspresi wajah serta nada bicaranya, sekarang ini, untuk apa ia berbohong di hadapan si akar masalah? Bukankah itu tidak ada gunanya dan terkesan hanya menipu diri sendiri?
"Benar. Benar yang kau katakan, Charlie. Aku dibeli oleh orang kaya, sangat kaya malahan. Bukan hanya fisikku yang dibeli, sekarang harga diriku pun sudah dibeli. Aku jatuh ke titik yang paling rendah, dan semua itu karenamu. Apa yang musti kubanggakan lagi di depanmu? Di depan orang banyak? Tidak ada ... semuanya sudah hilang, terinjak, dan hanya menyisakan secuil noda. Aku hancur, Charlie," tutur Veila, hampir menangis jika saja ia tidak bisa menarik kembali air matanya yang tak berharga—akibat keseringan menangis.
Charlie mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Veila yang ada di depannya. Wajah cantik sang wanita sukses membuat dada Charlie berdesir pelan. Jika saja ia tidak menjual Veila dan tobat setelah menjual tiga wanita sebelum Veila, mungkin ia bisa menghabiskan sedikit lebih banyak waktu bersama Veila.
Bohong jika Charlie tidak tahu masalah dalam keluarga si wanita. Ia bahkan pernah Veila ditampar dan diinjak oleh ayah tirinya sendiri. Namun, tetap saja setan berhasil menghasutnya, membuatnya harus mengorbankan Veila demi uang untuk membayar segala hutangnya, lebih tepatnya hutang mendiang kedua orang tuanya. Dan kini, setelah Charlie berhasil melunasi semua hutang-hutang yang memenjarakan hidupnya, rasa penyesalan datang menggerogoti. Memang, ia banyak bertemu dengan wanita cantik di luar sana, tetapi dari sekian banyak wanita yang ia kencani, tidak ada satupun yang membekas di hati. Entahlah, apakah ini sebuah karma atau dirinya yang belum bisa berpaling dari Veila Amor sepenuhnya.
"Benarkah? Bagaimana bisa kau tidak bahagia? Apa si pria menjeratmu? Tidak melepasmu?"
Charlie bertingkah seperti orang bodoh yang tidak mengerti apa pun. Zaman sekarang, mana ada seseorang yang mau mengeluarkan uang senilai seratus ribu dolar untuk menebus seorang wanita tanpa mengharapkan sebuah imbalan setimpal? Jelas, Wilson tidak akan pernah melepasnya dan berkata jika ia mengikhlaskan dolarnya. Selagi masih bisa memanfaatkan, kenapa tidak? Pertanyaan bodoh Charlie pun sukses membuat Veila berdecih seraya tangannya terus meremat kaosnya.
“Veila ...."
"Apa salahku padamu, Charlie? Kau tahu kesakitanku, kau tahu seluruh penderitaanku. Tapi kenapa kau berbuat jahat padaku? Daripada kau menjualku, lebih baik kau memutilasiku saja. Sama-sama sakit, tapi lebih sakit jika aku masih bertahan. Rasa sakit akibat benda tajam untuk memotong-motong kecil tubuhku tidak ada rasanya dibanding rasa sakit yang akan berlanjut entah sampai kapan." Veila sengaja memotong perkataan Charlie, menyuarakan rasa sakitnya dan berharap mantan kekasihnya bisa merasakan semua itu.
Ya, benar saja. Rasa bersalah itu hadir dan membuat Charlie bersedih. Ia memang jahat, patut disalahkan. Lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain, ke mana perginya cita-cita sewaktu kecil? Superhero mana yang membuat seorang wanita lemah seperti Veila merasakan kesakitan berlebih-lebih parah daripada permukaan kulit yang terkena puntung rokok.
__ADS_1
Perlahan, diraihnya kedua tangan Veila. Digenggamnya dengan kuat kedua tangan tersebut dan berucap, "Maukah kau pergi bersamaku? Aku akan membawamu pergi, dan kita bisa memulai semuanya dari awal.“
Walau kesempatan kedua itu ada, tetapi Veila tak akan pernah memberikan Charlie kesempatan tersebut. Tangannya ia tarik paksa, membuat genggaman Charlie terlepas begitu saja dengan mudahnya.
"Berhentilah menipuku, aku tidak akan mempercayaimu lagi. Aku membencimu, tak ingin melihat wajahmu lagi. Tapi aku sudah memaafkan segala kesalahanmu. kita sama-sama manusia yang sering berbuat kesalahan, karenanya, memaafkan harus menjadi sesuatu yang mudah untuk mulut katakan walau sebenarnya hati terlalu sulit untuk mengeluarkannya dengan tulus," tukas Veila, ia beranjak dari bangku dan segera meraih kantung plastik putih miliknya.
"Kita sudah selesai, Charlie. Sekarang ini, biarkan aku menjalani kehidupan runyamku. Kau mengantarkanku sampai ke depan pintu neraka dunia, tapi selebihnya, aku tidak akan pernah memintamu untuk menggandeng tanganku, menemaniku melalui semua hal buruk. Aku bisa berdiri, berpijak dengan baik, tanpa harus dipapah olehmu," lanjutnya dan segera pergi dari hadapan Charlie. Tak peduli dengan panggilan yang Charlie layangkan untuknya, Veila tak akan pernah mau berhenti dan berbalik badan. Sudah cukup ia berurusan dengan Charlie, dan sekarang izinkan ia pergi meninggalkan pria yang dulu pernah dirinya cintai.
Belum jauh dari tempat pertemuannya dengan Charlie barusan, langkah Veila terhenti. Tidak, bukan karena Charlie yang tiba-tiba menahan kepergiannya, melainkan sosok Leo yang kini tengah berdiri di depannya. Sepertinya, dia melihat semuanya, tetapi tak bisa menangkap apa yang mereka berdua bicarakan. Leo mengangkat kedua sudut bibirnya, memperlihatkan dua gelas kopi kepada Veila dengan sedikit canggung, dan setelah itu, yang Leo lakukan hanyalah diam membeku. Tak disangka, Veila malah menabrakkan dirinya pada tubuh Leo, menenggelamkan wajahnya di dada bidang si pria yang menenangkan lalu seketika ia menangis. Sungguh pemandangan yang mengiris hati.
"Kau selalu seperti ini jika tengah terluka, Leo. Jadi, bolehkah kita bertukar peran sehari saja? Setidaknya, aku ingin memelukmu sebentar," ujar Veila, suaranya mengecil hingga akhirnya yang terdengar hanyalah isakan tangis yang memilukan.
Leo Zhang, pria itu justru tidak keberatan dengan hal itu. Dua gelas kopi yang tergenggam ia lepaskan, dibiarkan berhamburan pada aspal jalanan yang kasar. Setelah itu, dua tangan kosongnya segera mendekap erat punggung Veila, membawanya lebih dekat seraya diusap-usap pelan.
"Tidak apa, kau boleh memelukku kapan saja. Kau juga boleh meminjam bahu atau dadaku untuk ditumpahi air mata. Aku siap untuk memberikannya secara cuma-cuma, hanya untukmu, Nona Amor," gumam Leo, lalu kemudian menciumi puncak kepala Veila dalam waktu yang lama.
Leo yang mudah jatuh hati, sangat takut jika hatinya berpaling.
__ADS_1
Bersambung .....