
Sejujurnya, Veila bisa berdandan sendiri, tanpa perlu bantuan pelayan. Namun, tiba-tiba saja, saat ia selesai mandi, kamarnya didatangi oleh dua orang pelayan yang membawakannya sebuah kotak berisikan selembar pakaian. Padahal ia sudah sempat meminjam satu dress dengan Maureen pagi tadi, dan sepertinya dress tersebut tidak akan pernah ia gunakan karena sebuah kotak di depannya ini sudah berisi sebuah pakaian kata si pelayan.
Setelah mendapat sebuah perintah agar ia segera membuka kotak tersebut, tangannya pun mulai terjulur, membuka kotak tersebut dengan pelan sebelum akhirnya kedua bola matanya membulat sempurna.
Diambilnya dress hitam cantik tersebut, dipegangnya dengan erat sembari diputar untuk dilihat bagian depan dan belakangnya, lalu kemudian ia segera memeluk pakaian tersebut denga erat.
Tiga hari yang lalu, ia sangat menginginkan dress ini, sempat memegangnya juga dan berniat untuk membeli jika uangnya sudah cukup. Namun sekarang, tanpa perlu mengeluarkan lembaran uang dan menyusun koin-koin agar setara dengan satu lembar uang, dress cantik tersebut sudah berada di tangannya dan akan ia kenakan malam ini.
Satu kebahagiaan kecil yang datang padanya setelah semua hal berat yang menindihnya, ia hampir menangis karena kebahagiaan kecil ini.
__ADS_1
"Tuan Wilson membelikannya untukmu. Tuan ingin melihatmu mengenakannya dan tampil cantik di pesta nanti,” tutur si pelayan, membuat Veila mengendurkan pelukannya dan terdiam sesaat.
Hanya sedikit tak menyangka karena pakaian ini dibelikan oleh orang jahat seperti Wilson. Dan juga, kenapa pakaian ini bisa sesuai dengan seleranya? Sempat melamun sebentar sebelum akhirnya disadarkan oleh sang pelayan, Veila pun segera permisi untuk segera berganti pakaian.
Tidak butuh waktu lama untuk menggantikan pakaian lusuhnya dengan dress cantik yang sangat ia sukai ini, karena waktu yang terlalu mepet juga, Veila pun segera keluar dari kamar mandi dan meminta agar si pelayan segera mendandaninya. Satu hal yang Veila sadari, ada Leo yang tengah menunggunya di bawah sana.
Tidak menuntut banyak dan memprotesi apa yang pelayan lakukan pada wajahnya, Veila hanya melihat setiap prosesnya. Selama ini, wajahnya tidak pernah disentuh oleh alat-alat make up kecuali saat ia menikah kemarin. Dan hari ini, barang mahal tersebut kembali menghiasi wajah cantiknya, membuat Veila sedikit berbedar dalam menunggu hasilnya.
Setelah mengucapkan terima kasih pada kedua pelayan tersebut, Veila pun segera meraih dompet kecilnya dan pergi meninggalkan kamar. Ia telat lima menit dari waktu janjian dengan Leo, agak tak enak karena membuat Leo menunggu. Sempat berpikir jika Leo akan mengomelinya karena telat, tetapi nyatanya, tidak ada omelan karena hal sepele yang diperbuatnya.
__ADS_1
Leo Zhang, saat Veila muncul dari di hadapannya, yang ia lakukan hanyalah terdiam dan mengangakan mulutnya. Bukankah ia baru saja melihat jelmaan seorang putri kerajaan yang amat cantik? Tak percaya jika Veila bisa menjadi sangat cantik dari biasanya wanita itu memang dasarnya sudah cantik, tetapi karena bantuan make up, kecantikannya semakin memancar.
Leo mengacungkan kedua jempolnya, tersenyum simpul dan meyuarakan sebuah pujian singkat. "Kau cantik, Nona Amor. Aku tidak tahu harus mengatakan hal apa lagi selain cantik."
Perkataan Leo yang mampu membuat Veila salah tingkah. Sudah pernah ia katakan sebelumnya, Leo selalu menjadi orang pertama yang memujinya dalam hal apa pun.
"Jangan berlebihan. Ayo pergi," sanggah Veila, tak mau menerima fakta yang Leo utarakan tadi. Pria itupun segera memutar balikkan tubuhnya dan menyusul langkah Veila, sengaja mensejajarkan langkah mereka dan setelah itu segera menggenggam tangan kiri si wanita tanpa izin.
Melihat itu, langkah Veila tentunya terhenti dan pandangannya langsung tertuju pada kedua tangan mereka yang kini sudah saling bertautan. "L-leo, tanganmu—“
__ADS_1
"Tidak apa. Seperti yang Nyonya Hovers katakan, malam ini kita berdua adalah pasangan," potong Leo dan perlahan mulai mengeratkan genggaman tangan mereka berdua. Malam yang indah untuk seorang Leo Zhang.
Bersambung ....