Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 42


__ADS_3

Berdebat dengan orang tua adalah sesuatu hal yang sering terjadi. Jika dipikirkan kembali, Wilson sering sekali berdebat dengan sang ibu daripada ayahnya. Menurut pandangan Wilson, ibunya adalah seseorang yang selalu memiliki banyak keinginan. Terlebih Wilson tak suka jika ibunya mulai memaksakan kehendak dan Wilson harus mengalah karena tak ingin disumpahi oleh ibunda tercinta.


Walau ada saatnya ketika sang ibu yang harus mengalah dan menerima kekerasan kepala sang anak yang merupakan sifat turunan darinya. Dan saat ini, mereka berdua tengah memperdebatkan perihal Veila yang harus pergi atau tidak ke pesta ulang tahun perusahaan besok.


Jujur, Wilson menentang keras usulan Nyonya Hovers barusan. Tidak ada satupun kerabat kerja maupun karyawan yang mengetahui pernikahan kedua Wilson, serta dirinya juga tidak menginginkan jika publik mengetahui masalah ini.


Ia ingin terlihat baik-baik saja di depan semua orang, walau Wilson yakin ada beberapa orang yang berbisik di belakangnya, mencerca kehidupan Wilson yang hampa karena tak bisa memiliki keturunan dari Maureen. Pasalnya ia sempat berkata di depan banyak orang jika dirinya tidak akan pernah menduakan sosok istri tercinta, apa pun yang terjadi. Namun, kini? Dia telah mengingkari semua perkataannya, menuruti kemauan orang tuanya untuk menikah lagi demi mendapatkan keturunan.


"Mom, di depan publik, istriku cuma satu, hanya Maureen. Aku tidak mau membuat semua orang bertanya-tanya saat tahu jika aku membawa dua wanita sekaligus,” kesal Wilson, masih menentang keinginan ibunya, berharap jika sang ibu tidak berkuat dengan keinginan yang Wilson anggap terlalu konyol tersebut.


Sedangkan nyonya Hovers malah terus memaksa, meladeni perdebatan yang ia mulai, tidak mau kalah dari anaknya sendiri dan terus berkuat agar Veila bisa pergi ke sana. Secara garis besarnya, Veila patut untuk ikut menghadiri pesta penting tersebut karena sekarang dia sudah berstatus sebagai istri Wilson.


Saat ibunya tengah mengatakan sesuatu yang membuat telinga Wilson memanas, iapun segera menolehkan kepalanya ke arah Veila, memberi isyarat dengan matanya agar wanita itu segera menolak untuk ikut. Tidak bodoh, setelah Nyonya Hovers selesai berceletuk, Veila pun mulai membuka suaranya.

__ADS_1


"Tidak apa jika aku tidak ikut. Mommy tidak perlu memaksa Wilson untuk membawaku pergi ke sana. Hanya berdiam di rumah dan mendengar kabar jika pesta berlangsung dengan lancar saja sudah membuatku senang. Lagipula pernikahan kami berdua tidak diketahui oleh khalayak ramai. Ini demi nama baik Wilson juga, Mom.“


Mendengar itu, Nyonya Hovers menggeleng. Walaupun ia mendengar kalimat penolakan itu dari mulut Veila langsung, tetapi dirinya tetap bersikeras mengajak sang menantu keduanya untuk menikmati euforia pesta ulang tahun perusahaan.


“Tidak, tidak. Veila, kau harus ikut ke sana. Sangat tidak adil jika kau tidak pergi ke sana," sergah Nyonya Hovers, melihat Veila dengan tatapan kelewat sayu, berharap jika menantunya berubah pikiran dan ingin pergi ke sana.


"Baiklah, aku tidak melarang Veila pergi ke sana. Tapi, dia tidak bisa pergi bersamaku karena aku akan pergi dengan Maureen. Mommy bisa menyuruhnya untuk pergi sendiri atau—”


"Dengan Leo. Veila, kau mau pergi bersama Leo, kan? Pria itu, aku akan menyuruhnya untuk bersikap baik padamu." Nyonya Hovers sengaja memotong perkataan Wilson, kembali mengalihkan pandangannya ke arah Veila dan menunggu jawaban dari mulut si wanita.


"Mom, tidak bisakah Veila pergi sendiri saja? Dia bisa diantar supir atau Mommy dan Daddy bisa mengajaknya pergi bersama!" Wilson kembali menentang, membuat dahi Nyonya Hovers berkerut dan menatap Wilson tak suka.


Anaknya ini benar-benar sudah kelewatan, selalu saja menentang kehendaknya. Padahal apa susahnya untuk mengiyakan? Lagipula, apa yang salah dengan Leo sampai Wilson menentang usulan tersebut? Helaan napas pun diembuskan paksa oleh Nyonya Hovers, mulai menatap lekat sang putra dan berkata,

__ADS_1


"Memangnya apa yang salah jika Veila pergi dengan Leo? Kau saja tidak mau mengajaknya, kan? Suka-suka mommy ingin menyerahkannya pada siapa."


"Mom, tidak usah. Aku tidak apa pergi sendiri."


"Besok, kau harus pergi. Mommy akan memberitahu Leo tentang ini," ujar Nyonya Hovers yang lagi-lagi memotong pembicaraan seseorang.


Keputusan sepihak tersebut membuat Wilson muak dan akhirnya pergi dari hadapan sang ibu, tak menggubris juga panggilan Maureen. Ia terlanjur kesal karena Leo selalu terlibat dan merutuki sifat ibunya yang tak mau kalah.


Sedangkan Maureen, kala ia melihat punggung tegap sang suami menjauh, ia segera beranjak, pamit untuk mengejar Wilson. Dan di saat Maureen mulai menghilang dan meninggalkan dua orang berbeda usia tersebut di ruang keluarga, Nyonya Hovers pun tersenyum.


"Anak itu harus dikerasi. Dan juga, jangan terlalu patuh padanya atau dia akan merasa tinggi di depanmu," tutur nyonya Hovers seraya mengusap punggung Veila lembut.


Masalahnya bukan hanya itu. Tak masalah jika Wilson merasa tinggi jika berhadapan dengannya. Hanya saja, Veila takut jika ia akan dikasari lagi.

__ADS_1


Bersambung ....


Kalau ada yang Nemu typo nama "JIAN WEI, KEVIN SANG, LIN YEN" harap maklum ya, ini dulu cerita dengan latar tempat di Tiongkok, tapi aku ganti ke Amerika.


__ADS_2