Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 75


__ADS_3

Setelah beberapa menit Wilson meninggalkan Veila di dalam kamar, pintu cokelat tersebut kembali terbuka, membuat Veila buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan, berusaha untuk terlihat baik-baik saja di hadapan seseorang yang tengah mengunjunginya.


Veila tersenyum, tidak, mereka berdua sama-sama tersenyum getir di saat tatapan saling bertemu dan detik itu juga, Maureen Cruz mendekat.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya, setelah raganya berada tepat di depan Veila, persis seperti posisi Wilson sebelumnya.


Sebenarnya ia tidak baik-baik saja, tetapi Veila mengangguk, menggumamkan bahwa dirinya baik-baik saja. Berbohong untuk membuat orang lain tenang, Veila sering melakukannya.

__ADS_1


Maureen menengadahkan kepalanya ke langit-langit kamar, ia ingin membicarakan sesuatu pada Veila sejak kemarin, tetapi semuanya selalu berhasil ia urungkan karena tak bisa menemukan waktu yang tepat. Namun, sekarang, Maureen merasa jika ia harus mengatakan curahan hatinya pada Veila sebab dirinya tak mampu untuk memendam. Ia khawatir, tak bisa memejamkan matanya dengan baik tiap malam, ketakutan benar-benar menghantuinya.


"Aku ingin membicarakan sesuatu yang serius denganmu,” ungkapnya dengan kedua telunjuk yang tengah ia mainkan. Melihat pergerakan Maureen, Veila merasa ada sesuatu yang tidak beres, terasa sulit untuk diloloskan oleh birai tipisnya. "Ya?" Jawaban singkat Veila mampu membuat Maureen berdebar. Sebenarnya ia tak enak untuk mengatakan ini, tetapi demi kebaikan dan masa depannya, birainya terpaksa mengeluarkan satu kalimat panjang.


"Kau tetap mengikuti alur kontraknya, kan? Memberikan bayinya padaku dan meninggalkan Wilson setelah itu?" Tidak tanggung-tanggung, Maureen mengatakan semua kecemasannya langsung di depan wajah Veila. Membuat si wanita yang disodorkan pertanyaan pun terdiam, tak bisa menjawabnya dalam waktu singkat.


Merasa jika pertanyaannya diabaikan, Maureen pun langsung menyahut kembali. "Kau sudah menandatanganinya, itu artinya kau menyutujui susunan isi kontraknya."

__ADS_1


Maureen berhenti memainkan kedua telunjuknya dan kemudian menyembunyikan kedua tangannya yang mulai bergetar ke belakang punggung. "Aku merasakan perubahan sikap pada Wilson selama dua bulan terakhir. Dia bahkan memutuskan untuk tidur denganmu, memberiku alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Jika kau berada di posisikų, apa yang akan kau rasakan, Veila? Kami sudah membangun rumah tangga ini selama lima tahun lamanya, tapi karena kehadiranmu... haruskah kami berdua mengakhirinya?"


Veila hanya bisa mendengarkan, tak bisa menjawab semua pertanyaan yang Maureen lontarkan. Ia tahu apa yang tengah Maureen rasakan sebagai istri pertama sekarang. Namun, haruskah semua itu dibebankan padanya, padahal Veila hanyalah seseorang yang menerima cinta?


Maureen mulai menangis, mereka berdua sama-sama menangis dalam diam. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik, sebelum akhirnya Maureen angkat bicara untuk yang kesekian kalinya. “Apa yang dikatakan mamaku benar, kan? Tapi, aku akan meminta maaf untuk mewakili mamaku yang telah berbicara kasar tadi. Veila, aku tidak ingin menyakiti dirimu atau diriku, aku hanya ingin semuanya berjalan sesuai dengan kesepakatan awal," ujarnya.


Maureen ingin semuanya kembali seperti dulu dengan dia yang mengingkari semua perkataannya di masa lalu di mana ia akan pergi meninggalkan Wilson. Wanita itu menghapus air matanya sekilas, menundukkan kepala, lalu segera pergi meninggalkan kamar.

__ADS_1


Di saat kamar besar itu kembali kosong, Tangisan Veila kembali terdengar. Kebahagiaan yang menyambanginya tak pernah bertahan dalam waktu yang lama. Ibunya, Charlie, dan sekarang Wilson, orang-orang yang pernah membuatnya bahagia semuanya pergi begitu cepat, seperti butiran salju yang turun ke tanah lalu perlahan mulai mencair.


Bersambung ....


__ADS_2