
Seperti yang Leo katakan kemarin, burung camar benar-benar memenuhi pandangannya saat fajar datang menyambut hari. Sudah satu jam ia duduk di bangku cokelat yang mendingin ini, mengamati kelompok burung camar yang tengah mengobrol asyik tanpa beban. Rasanya Veila ingin terlahir sebagai burung camar yang bisa terbang dengan bebas.
Tidak ada pakaian tebal yang membungkusnya, tubuhnya hanya dilapisi oleh long dress tipis yang ia temukan di lemari pakaian, entah punya siapa. Gaun tidur satu-satunya yang ia bawah sudah dirobek oleh Wilson dan terpaksa malam ini ia harus menggunakan pakaian yang sama dengan yang ia gunakan sekarang . Sempat merutuk karena persediaan pakaiannya tidak terlalu banyak juga ia cuma membawa beberapa helai pakaian.
"Hei, Nona Amor."
Suara Leo membuat Veila buru-buru menundukkan kepalanya. Punggung tangannya mengusap kasar bulir air mata yang mengalir, berharap jika tangisannya tak dapat terlihat oleh Leo. Sempat mengira jika Leo akan duduk di sampingnya, tetapi tiba-tiba saja Veila tersentak saat melihat Leo yang berjongkok dengan satu lutut yang bertumpu pada rerumputan.
"Apa yang Wilson lakukan padamu? Hal yang memberatkan sehingga membuatmu menangis sampai-sampai kedua matamu membengkak seperti ini?" tanya Leo, ibu jarinya sudah bergerak, mengusap lembut jejak air mata yang tidak terhapus secara baik.
"Bukan apa-apa," jawab Veila seraya menggenggam tangan Leo guna hendak menyingkirkan si ibu jari yang tengah membersihkan jejak air mata.
"Sudah berapa kali kau berbohong padaku, Nona Amor? Aku melihatmu sejak kamu mulai meninggalkan kamarmu, cara berjalanmu tidak seperti biasanya. Aku tahu ada sesuatu hal buruk yang kau alami malam tadi. Ya ... karena itu adalah hal buruk yang sudah menjadi bekas luka, aku tidak akan mengungkitnya. Anggap saja aku tahu dan lupakan penjelasanku tadi," tutur Leo, membuat Veila terdiam dan akhirnya pasrah, membiarkan ibu jari Leo bergerak menggerayangi pipi mulusnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Veila saat melihat Leo yang menyingkap long dress nya sebatas bagian atas lutut.
Kepanikan yang tersirat pada nada bicara Veila serta gerakan tangannya yang hendak menyingkirkan tangan Leo, membuat pria itu mendongak dan tersenyum.
"Aku tidak akan melakukan hal yang buruk. Aku hanya ingin melihat luka di lututmu saja," ujarnya, membuat Veila berangsur tenang dan tidak menghalangi perbuatan Leo lagi.
"Sudah mengering, tapi sepertinya plester adalah benda yang tepat untuk menutupi lukamu. Kudengar, luka dilutut itu akan susah menghilang, jadi kau harus bersabar. Nah, untuk mencegah iritasi karena debu atau kotoran lainnya, akan lebih baik jika kututup dengan plester. Aku tidak tahu apakah ini baik atau tidak untuk luka yang sudah mengering, tetapi menurutku, plester adalah sesuatu yang tepat sekarang."
Leo sengaja untuk menghentikan ucapannya sejenak guna melihat wajah Veila yang datar sangat tidak ekspresif sekali. Sedetik kemudian lesung pipi tersembunyinya keluar, menandakan jika ia tengah tersenyum lebar karena ada rasa senang yang datang menemuinya. Walau tidak ada ekspresi dan kedua mata Veila membengkak, tak bisa ditutupi, wanita itu masih terlihat cantik dan mempesona—walau sekarang pesona Maureen tidak ada duanya.
__ADS_1
"Biar aku menempelkannya pada lututmu. Karena sudah mengering, mungkin saat dipasang rasa sakitnya tak akan terasa. Tapi kusarankan untuk melepaskannya secara perlahan," lanjut Leo dan kemudian segera membuka bungkus plester dan mengarahkannya pada luka di lutut si wanita malang.
Suara deheman yang terkesan disengaja sukses membuat Leo mendongak, menghentikan pengobatannya sejenak, lalu melihat ke arah sumber suara dan menemukan Wilson Hovers yang tengah berada di tepian balkon. Mereka berdua saling pandang dengan Leo yang sebelumnya masih sempat melirik Veila. Dapat Leo tangkap jika tubuh Veila mulai menegang.
"Hei, seratus ribu dolar!"
Teriakan Wilson sukses membuat Leo menarik kembali tatapannya dan mulai fokus pada Veila. Telapak tangannya tergerak, menempel sempurna pada dahi Veila.
"Kau panas, masih demam, ya?" tanya Leo, berusaha untuk wanita itu tidak tegang dan merasa terancam.
Pertanyaan Leo ditanggapi dengan gelengan, masih mengelak jika ia sama sekali tidak terserang demam.
"Aku berbicara padamu, seratus ribu dolar! Siapkan aku air hangat! Aku ingin mandi!"
Tak tahan lagi, Veila hendak menoleh dan menanggapi perkataan Wilson, tetapi Leo malah menahan pergerakannya, berkata jika dirinya tak perlu takut dengan pria semacam Wilson.
"Ada aku, jangan takut. Pria seperti Wilson lebih baik tidak ditanggapi atau ia akan makin melunjak dan merasa hebat," bisik Leo, membuat Veila semakin merasa tidak tenang. Bagaimanapun juga ia tak mau hal buruk terjadi lagi untuk yang kedua kalinya. Malam kemarin sudah cukup baginya.
"Jika aku sempat turun ke bawah, siap-siap untuk kutarik kau, Veila!"
Setelah beberapa detik Wilson mengatakan kalimat itu, Veila pun menoleh. Namun, ia tak menangkap keberadaan Wilson di balkon kamarnya. Hal tersebut membuatnya semakin merasa takut dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke vila.
"Sebentar Nona Amor, lutut kananmu belum kutempeli plester. Harap tenang dan tidak panik, jangan bertingkah seolah-olah kau terjebak di kandang singa yang kelaparan," kekeh Leo, masih menganggap kepanikan Veila sebagai lelucon. Namun, tetap saja perkataan Leo tak mampu menenangkannya, karenanya, setelah plester itu ditempel, Veila segera bangkit dari bangku dan pamit pergi.
__ADS_1
Karena **** ************* masih sakit dan ngilu, Veila pun tidak bisa berjalan dengan kecepatan biasanya, malahan ia berjalan dengan sedikit berjinjit untuk meminimalisir rasa sakitnya.
"Nona Amor, mau kugendong?" tawar Leo, membuat Veila berhenti melangkah dan menoleh. Wanita itu menggeleng serta berterima kasih pada Leo, dan di saat pandangannya kembali tertuju pada area depan, sosok Wilson sudah berada di depannya, dengan jarak yang masih terbilang cukup jauh, sekitar tiga meter.
Melihat Wilson yang semakin mendekat ke arahnya membuat rasa takut Veila semakin membuncah. Tanpa sadar, di saat jarak mereka hanya berkisar dua puluh sentimeter, Veila kembali menjatuhkan air matanya, ia takut melihat Wilson.
"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu, tapi kumohon jangan seret aku," gumamnya, memohon agar Wilson tidak kasar padanya pagi ini.
Tidak langsung menjawab, Wilson pun segera meraih pergelangan tangan Veila dengan mudah, membuat napas si wanita tercekat saking takutnya. Ditariknya Veila mendekat dan kemudian dikecupnya pipi sang wanita.
Rasa asin dari bulir air mata menembus masuk pada tenggorokan Wilson, pria itu mengecup guna menghilangkan deraian air mata yang membanjiri kedua pipi secara bergantian. Saat melakukannya pun, bayangan semalam kembali menyambangi pikirannya. Hingga akhirnya kecupan itu terhenti, tergantikan dengan gesekan antara kedua hidung si pemeran utama dan penyatuan bibir mereka.
Veila terkejut, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan Wilson melumati bibirnya. Adegan dua orang tersebut pun sukses membuat Leo menolehkan wajahnya ke arah lain, sedangkan Maureen yang terdiam di tempat dengan selang air yang sudah terjatuh ke tanah.
Wilson menciumi Veila bukan tanpa alasan, semua itu karena ia melihat Maureen yang kebetulan tengah menyirami bunga yang tumbuh di taman kecil depan pintu masuk vila. Dan bukan hanya sekedar itu saja, ia ingin menunjukkan pada si keparat Leo jika Veila adalah miliknya, tak akan mudah diberikan untuk direbut, seperti Maureen, sebab Wilson yang terlalu lalai.
Ciuman tersebut berakhir dengan bibir Wilson yang sudah beralih pada leher jenjang milik Veila. Ia tersenyum miring lalu berbisik, "Aku lupa memberimu tanda, seratus ribu dolarku. Nanti, sering-seringlah tunjukkan tanda yang aku buat pada Leo. Agar si keparat itu tahu kau milikku."
Seakan tak membiarkan Veila membalas setiap katanya dan melarang perbuatannya, Wilson pun segera menggigit dan menghisap salah satu area leher milik Veila, membuat wanita itu memekik kecil dan kakinya melemas.
Wilson Alexander Hovers, pria itu bisa tersenyum menang sekarang.
Bersambung ....
__ADS_1