
Veila mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka. Awalnya ia kira itu adalah Wilson yang baru kembali setelah menghadiri rapat, tetapi ternyata, yang muncul dari balik pintu adalah sosok Leo, membuat mereka berdua saling melempar senyuman manis.
Sebenarnya, Leo tak tahu jika Veila ada di ruangan Wilson, ia pergi ke sini pun karena disuruh Jack untuk meletakkan satu dokumen penting di atas meja si atasan—karena saat itu Jack tengah mendampingi Wilson dalam menghadiri rapat. Dan beruntungnya, ia bisa bertemu dengan Veila di sini setelah kemarin tidak bisa menepati janjinya untuk pergi ke rumah sakit guna memeriksa kandungan.
Ya, janjinya harus ia ingkari karena Wilson yang mengajaknya berdebat dan merampas kunci mobilnya dengan cepat lalu pergi begitu saja. Definisi pria sialan, kan?
"Apa yang kau lakukan di sini, Nona Amor?" tanya Leo, mendekatkan diri ke arah Veila, lalu ikut mendudukkan dirinya di sofa, tepat di sebelah si wanita.
Guna menjawabnya, Veila pun segera mengarahkan telunjuknya pada kotak bekal yang ia letakkan di atas meja, dan kemudian menjawab, "Wilson menyuruhku mengantarkan bekal untuknya."
Mendengar itu, Leo mengangguk, sedikit heran karena biasanya yang mengantar bekal adalah Maureen. Namun tak apa, dengan begini, dirinya jadi bisa berbincang dengan Veila sebentar.
"Ah, masalah janjiku kemarin, maaf karena tak bisa menepatinya. Tiba-tiba saja Wilson menyuruhku untuk menyelesaikan semua tugasnya," papar Leo dengan dipenuhi rasa bersalah.
Namun, gelengan kepala serta jawaban Veila mampu membuat rasa bersalah itu memudar dan sedikit terkejut tak percaya. "Tidak apa. Kemarin aku sudah pergi ke dokter bersama Wilson," jawabnya sambil tersenyum kecil, membuat Leo juga ikut tersenyum simpul― nama Wilson berhasil membuatnya tak bisa tersenyum lebar dalam menanggapi perkataan Veila barusan.
"Oh ya? Sungguh mengejutkan karena seorang Alexander Hovers mau menemanimu. Tapi ya... ada baiknya juga dia memperhatikanmu seperti itu. Ah, apa yang dokter katakan? Testpack itu benar, kan?" Leo kembali bertanya, rasa penasaran akan perkataan si dokter kemarin membuat dadanya berdebar, seolah-olah ia adalah ayah asli dari si bayi yang tengah dikandung Veila. Pria itu bahkan terlihat lebih antusias dan matanya lebih berbinar daripada sosok Wilson yang jelas-jelas statusnya adalah ayah kandung dari si bayi.
Dua pria itu memiliki sifat yang berbeda, Leo bisa menunjukkan semuanya lewat ekspresi wajah, sedangkan Wilson terlalu sulit untuk menunjukkannya dan lebih memilih untuk menyimpannya sendiri. Namun sebenarnya, dua pria itu memiliki antusiasme yang sama—hanya berbeda cara pengungkapannya saja.
__ADS_1
"Usianya empat minggu, jalan lima minggu sebentar lagi. Mendengar dokter mengatakan aku sedang hamil, rasanya aku masih tidak percaya dengan semua itu. Ya, maksudku... bukankah ini terlalu cepat, Leo? Tapi setelah aku melihat hasil dari tes usg yang dokter perlihatkan, ada rasa haru yang menghampiri. Aku ingin menangis saat melihat janin yang masih seukuran biji jagung itu, dan membuatku jadi berpikir, apakah dulunya mamaku juga menangis haru saat mendengar ada aku yang hidup di dalam rahimnya?" ujar Veila, hampir menangis saat menceritakannya, tetapi air matanya tak sampai keluar, mampu bertahan dipelupuk mata. Sekilas, ia menatap Leo yang kini tengah mengusap puncak kepalanya, lalu segera menyunggingkan senyuman tipis.
"Semua ibu pasti akan menangis haru sepertimu, Veila, kita mungkin tak bisa tahu seberapa bahagianya ibu kita saat mendengar jika ada nyawa lain yang tengah menuntut untuk dijaga. Tapi aku yakin, tak ada ibu yang tidak menangis haru saat mendengar kabar bahagia itu," balas Leo, memberanikan diri untuk menurunkan tangannya dari puncak kepala dan mulai beralih memegang perut Veila yang masih rata.
Pria itu tersenyum saat tangannya bergerak mengusap lembut perut Veila dari luar pakaian yang dikenakan, lalu dengan santainya ia berceletuk, "Jadilah anak yang baik, ya. Jangan membuat ibumu repot dengan kenakalanmu nanti. Kau harus melindungi ibumu dari ayahmu yang jahat―"
"Jahat katamu?" Suara Wilson yang terdengar sukses membuat dua orang tersebut menolehkan kepalanya, memandang Wilson yang kini tengah berdiri di depan pintu ruangannya yang terbuka sedikit seraya bersidekap.
Tak mau memperpanjang masalah, Leo pun segera menarik tangannya dari perut Veila dan menghela napas gusar. Kenapa Wilson selalu muncul di saat-saat yang tidak tepat seperti ini?
Tak suka dengan keberadaan Leo sekaligus tak terima dibilang jahat, Wilson pun segera ikut duduk di sebelah kiri Veila dengan tidak santainya. la memandang Leo sekilas dengan tajam, lalu segera meletakkan tangannya di perut Veila. "Hei baby, nanti jika kau sudah lahir, tolong benci uncle Leo sebesar mungkin. Daddy akan membelikanmu mainan yang banyak agar kau bisa melempar uncle menyebalkan ini dengan semua mainanmu—" Wilson tak menyelesaikan kalimatnya dikarenakan Veila yang tiba-tiba saja menyingkirkan tangannya dari perut Veila.
Tak terima, Wilson pun membalas dengan sewotnya. "Apa bedanya aku dengan Leo? Dia bahkan mengataiku pria jahat."
Mendengar itu, Veila menghela napas pendeknya lalu berkata, "Kau kan memang jahat."
"Apa? kau—aish...." Wilson tak jadi memarahi Veila dan mulai mengatur napasnya. Tak berapa lama setelah itu, ia segera mengalihkan pandangan ke arah Leo. Pria yang sudah berselingkuh dengan Maureen ini sepertinya cocok untuk dijadikan penyaluran rasa kekesalan yang Wilson rasakan. Telunjuknya terarah, menunjuk lurus tepat ke arah wajah Leo.
“Kau, kenapa masuk ke ruanganku tanpa menelepon terlebih dulu? Kau tahu kan, aku tidak suka jika ada orang yang masuk ke ruang pribadiku dengan seenaknya, seolah-olah ini adalah ruangannya sendiri."
__ADS_1
Dahi Leo justru berkerut saat mendengar pernyataan konyol Wilson, dan kemudian segera menyerukan sebuah ketidakterimaan. "Biasanya juga seperti itu. Kau bahkan memberikan akses bebas padaku dan juga Jack untuk masuk ke ruangan ini tanpa memberitahu terlebih dulu."
Wilson berdehem, lalu segera mengatakan sesuatu karena tak mau terlihat kalah dengan sahutan Leo barusan. "Itu dulu. Dan peraturan itu baru aku resmikan pagi tadi. Apa Jack tidak bilang apa pun padamu?" Pria itu sengaja berbohong, membuat Leo menjadi tersudutkan dan akhirnya meminta maaf.
Padahal Wilson sengaja diam setelah mengatakan itu— menunggu Leo untuk segera pergi dari ruangannya. Namun, si selingkuhan ini tidak juga beranjak dari tempat duduknya, membuat Wilson yang harus mengusirnya dengan kata-kata.
"Kenapa masih di sini? Sana keluar. Banyak pekerjaan yang menunggumu," usir Wilson yang akhirnya membuat Leo menyerah dan pamit undur diri. Dan segera setelah terdengar bunyi tutupan pintu, Wilson segera mengalihkan perhatiannya pada Veila.
"Kau bawa bekalnya, kan?" tanya Wilson, dan dibalas dengan anggukan kecil dari Veila. Tangan si wanita pun terjulur untuk mengambilkan kotak bekal, membuka tutupnya, lalu menyodorkannya ke arah Wilson.
"Kau yang makan," suruh Wilson, membuat kedua mata Veila membesar, lalu menggelengkan kepalanya, menolak untuk memakan sayuran hijau tersebut.
"Jangan pilih-pilih makanan, ayo makan sayurannya. Aku membaca artikel di internet jika asam folat bagus dikonsumsi untuk ibu hamil. Jadi, kau harus memakannya—"
"Aku tidak suka baunya, Wil. Lagipula rasanya pasti pahit dan tidak enak dilidah. Kau saja yang memakannya, aku tidak mau," protes Veila seraya memundurkan tubuhnya, tak mau terlalu dekat dengan Wilson yang tengah memegang kotak bekal berisi salad sayur. Pria itu bahkan tidak tahu jika Veila menyuruh juru masak untuk menyiapkan makanan hijau ini karena ia tidak tahan dengan baunya.
Beberapa menit berlalu, dan yang Wilson lakukan hanyalah memaksa sampai akhirnya ia menyerah dan menutup kembali kotak bekalnya setelah melihat gejala mual yang Veila tunjukkan.
"Karena kau tidak mau memakannya, aku tidak mengizinkanmu untuk pulang sekarang. Jangan kabur dan tetap di sini, aku mengawasimu dari meja kerjaku," gumam Wilson, lalu segera beranjak dan melangkah menuju meja kerjanya.
__ADS_1