Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 69


__ADS_3

Kali ini Wilson sepertinya benar-benar berpegang dengan perkataan hatinya sewaktu di Paris. Di awal ia memang bertujuan untuk memanfaatkan Veila sebagai orang ketiga yang bertugas untuk menyambungkan hubungannya dengan Maureen. Namun, seiring berjalannya waktu, Wilson mulai menyadari jika ia sedang jatuh cinta—lagi.


Sebenarnya ia sempat meragukan perasaannya, hendak menghentikan cinta itu di tengah jalan pada kurun waktu yang lebih awal, niatnya ingin menjaga perasaan Maureen. Namun, jika diingat-ingat, Maureen bahkan tidak menjaga perasaannya sama sekali.


Teganya dia berselingkuh dengan sahabat karib suaminya sendiri, Leo Zhang, yang sialnya berhasil mereka tutupi dengan rapat dari Wilson. Padahal Wilson sudah benar-benar menyerahkan perasaannya untuk Maureen. Biarpun tujuan Wilson sudah berubah haluan, pria itu tetap belum mau membongkar kebusukan Maureen, ia ingin wanita itu yang jujur padanya.


Berbicara tentang perasaan, Wilson merasa jika cintanya pada Maureen tidak lagi menguat seperti dulu, semua itu efek sakit hati karena diselingkuhi. Sebenarnya, Wilson sudah menyadari perubahaan perasaannya sejak di mana ia mengetahui fakta pahit itu, hanya saja ia ingin mencoba untuk mempertahakan perasaan cintanya, dan sayangnya semua itu terpatahkan oleh pesona seorang Veila Amor, wanita yang selalu ia panggil sebagai wanita seratus ribu dolar. Ini terdengar gila, tetapi merupakan sesuatu hal yang wajar oleh seseorang dirasakan baik pria maupun wanita.


Perihal perasaan sayangnya, ia akan segera mengatakan itu pelan-pelan pada Veila sebentar lagi, tentunya dengan kalimat yang tidak membuat Veila terbebani. Setidaknya, semuanya harus diawali dengan pembatalan kontrak terlebih dulu. Dan setelah itu, barulah ia mengatakan tentang isi hatinya pada Maureen, berusaha untuk mengikhlaskan istrinya dengan Leo.


Wilson Alexander Hovers, bukankah pria itu kelewat baik pada Maureen? Harusnya, ia sebagai suami perlu menindak keras kelakuan tidak etis yang istrinya perbuat, menegurnya habis-habisan dan memberi hukuman yang dapat membuat Maureen menyesali perbuatannya.


Namun, pria itu terlalu lembek jika berhadapan dengan Maureen, tak mau membuat hati sang istri terluka karena bentakannya. Apalagi saat itu ia masih benar-benar mencintai Maureen dengan sepenuh hati.


Oh, ini sudah hampir dua bulan semenjak ia dan Veila menghabiskan waktunya berdua di Paris. Waktu begitu cepat berlalu dengan kelakuan Veila yang membuat Wilson harus terus bersikap sabar. Padahal Wilson niatnya ingin terus mendekatkan diri, mempererat hubungan dengan cara terus bersama dengan Veila.


Namun, yang ada wanita itu justru mengusir dirinya jika ia hendak mendekat, mengatakan jika kepalanya pusing saat mencium aroma parfum Wilson, ataupun bau tubuh si pria. Intinya, jika Wilson mendekat, maka Veila otomatis akan menjauh. Setiap hari seperti itu, layaknya kucing dan tikus yang bermain petak umpet.


Dan yang paling menyebalkan adalah ketika Veila tidak menolak keberadaan Leo. Ya, Wilson akui jika ia memberi akses lebih bagi Leo untuk keluar masuk rumahnya, karena itu, kapanpun Leo bisa datang sesukanya.


Belakangan ini, Leo selalu datang ke rumahnya dengan membawa makanan yang-sialnya-selalu disukai oleh Veila. Mulai dari corndog sampai dengan Bagel yang selalu Leo bawa bergantian tiap harinya habis dimakan oleh Veila.


Sedangkan Wilson, ketika ia membawa Pratzel panggang ataupun kuah kerang, Veila selalu menolaknya, berkata jika ia tidak menyukai makanan yang Wilson bawa. Tentu saja saat itu Wilson benar-benar merasa kesal, apalagi jika mengingat bagaimana ia harus mengantre panjang untuk membeli makanan tersebut.

__ADS_1


Sebenarnya, akhir-akhir ini Wilson selalu pulang lebih awal dari waktu berakhirnya jam kerja. Tentu saja karena ia ingin cepat-cepat melihat Veila yang berada di rumah dan juga untuk pergi ke gerai makanan yang sudah terkenal akan cita rasanya untuk mengantre membeli makanan. Sebenarnya, orang kaya seperti Wilson bisa saja membeli makanan enak di restoran bintang lima, dimana hanya para orang kaya yang bisa mengecap makanan yang dijual.


Sayangnya, Wilson tahu jika tidak semua restoran bisa menyajikan makanan yang luar biasa enak seperti gerai makanan pinggir jalan. Jack dan Leo pun terkadang sampai kewalahan karena Wilson selalu membebankan pekerjaannya pada mereka berdua. Namun tenang, Wilson tidak sejahat itu. Setiap perbuatan pasti ada harganya, karena itu ia sepakat untuk menaikkan gaji Jack dan Leo dua kali lipat.


Seperti hari ini, Wilson pulang lebih awal dengan tangan kanan yang menenteng satu kantong plastik berisi Bagel-makanan yang selalu Leo bawa karena memang mudah ditemukan. Berniat untuk memberikannya pada Veila karena ia tahu Veila selalu menyukai makanan yang selalu Leo bawakan—Bagel.


Dengan cepat, ia segera melangkah menuju ke arah Veila yang saat ini sedang duduk di sofa depan televisi. Tepat di saat Wilson mendudukkan dirinya di sebelah Veila, wanita itupun segera menjaga jarak dengan si pria. Sengaja menggeser tubuhnya ke arah kiri untuk memberi ruang yang lumayan berjarak. Hal itu sukses membuat Wilson berdecak dan kemudian segera mengalihkan diri untuk membicarakan perihal Bagel yang barusan ia beli.


Melihat itu, Veila sontak langsung menggeleng dan berkata, "Aku tidak suka Bagel. Jauhkan itu, Wil!"


Pernyataan Veila barusan tentunya membuat kedua mata Wilson melebar dan mulutnya menganga. Jelas-jelas beberapa hari belakangan, Veila sangat menyukai makanan yang sekarang tengah ia pegang ini. Malahan tidak berhenti mengucapkan terima kasih pada Leo karena telah pengertian padanya dan tahu apa yang ingin ia konsumsi. Tapi... Tapi kenapa sekarang Veila justru menolak Bagel yang telah ia beli?


"Apa yang salah dengan Bagel pemberianku dengan pemberian Leo? Aku bahkan membelinya di tempat yang sama! Aku juga membeli ini karena belakangan kau sangat suka memakan Bagel. Apa karena ini pemberianku makanya kau menolak?" Gusar Wilson seraya berdecak, sedikit merajuk karena sikap Veila padanya.


Veila tentunya langsung menggeleng, tidak membenarkan semua kemarahan Wilson barusan. "Aku bosan makan itu. Selama tiga hari terakhir Leo selalu membawaku Bagel, dan hari ini aku ingin makan yang lain," jelasnya, membuat Wilson mendesah pelan, berusaha untuk tetap sabar.


"Wil, jauh-jauh dariku. Aku tidak suka bau tubuhmu. Aroma parfummu juga membuatku ingin muntah," seru Veila seraya terus menjauhkan diri dari Wilson.


Mendengar itu, Wilson tidak punya pilihan selain meletakkan Bagel itu di atas meja. Ia berniat untuk menarik lengan Veila, membawa ibu hamil itu mendekat dan memberinya pelukan erat.


Namun, belum sempat tangannya terulur, sapaan Leo yang menyerukan nama Veila sukses membuat niat Wilson terurungkan. Ada rasa tak suka saat matanya menangkap senyum cerah yang Veila tujukan pada Leo saat ini. Oh, haruskah ia melarang Leo untuk datang ke rumah ini dengan sebebasnya?


"Veila, aku membawakanmu pratzel panggang, kau mau memakannya? Aku mendapat rekomendasi gerai penjual pratzel dari temanku." Leo bertanya, sempat-sempatnya ia melihat Wilson sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangan ke arah Veila.

__ADS_1


Bukannya mendapatkan jawaban dari Veila, Leo justru mendapatkan sungutan dari Wilson. "Ck, dia tidak mau makan pratzel—"


"Eh, aku mau makan pratzel, Leo!" Veila memotong perkataan Wilson, membuat pria itu lagi-lagi menganga.


Dengan tergagap, Wilson menyahut, "Kemarin saat aku membawakan pratzel kau tidak mau memakannya! Tapi kenapa kau tidak menolak saat Leo membawanya? Aku bahkan rela mengantre, berdesak-desakan dengan pria bau bawang yang menghimpitku untuk dapat membawakanmu pratzel."


"Itukan kemarin, sekarang berbeda lagi,“ jawab Veila dengan santainya. Membuat Wilson benar-benar kesal dan belum beranjak dari sofa, walaupun sekarang Leo sudah ikut duduk di sisi kiri Veila seraya mengeluarkan pratzel dari dalam plastik.


"Aku tidak akan beranjak dari sofa, biar saja kau muntah di sini karena mencium aromaku!" cerca Wilson, tidak mau beranjak sekalipun telah diusir oleh Veila dengan gerakan tangan.


"Bukankah Wilson itu kejam, Veila?" bisik Leo, tetapi masih mampu di dengar oleh Wilson dan langsung mendapat balasan dari orang yang dibincangkan. "Hei, provokator! Sebaiknya kau diam!" Wilson berkata seraya menatap Leo dengan tajam.


"Wilson, segeralah pergi. Aku tidak bisa mencium aroma pratzel jika kau masih di sini," usir Veila, yang tentunya tidak ditanggapi oleh Wilson.


"Aku akan pergi jika kau memberiku ciuman di sini, di sini, dan di sini," tuturnya seraya menunjuk keningnya, pipi kanannya, lalu yang terakhir adalah bibirnya, membuat Leo dan Veila saling melirik untuk beberapa saat.


"Yasudah, kita berdua saja yang pindah," ajak Leo dan langsung diiyakan oleh Veila.


Wilson sempat melirik, melihat kedua orang tersebut yang sudah beranjak dari posisi duduknya, lalu tak berapa lama ia kembali menatap layar hitam televisi.


Diluar dugaan, Veila justru melepaskan genggaman tangan Leo, mengisyaratkan agar pria itu mau menunggunya sebentar karena dirinya hendak menghampiri Wilson terlebih dulu. Wilson mendongakkan kepalanya saat ekor matanya berhasil menangkap sosok Veila yang berada di depannya.


Jantung pria itu rasanya berhenti berdetak saat telapak tangan Veila menyentuh pipi kanannya, memberi elusan lembut yang seketika meredakan emosinya. Apalagi saat melihat senyuman yang Veila berikan, rasanya peredaran napasnya terhenti detik itu juga. Oh Tuhan, benar apa yang ayahnya katakan beberapa hari lalu, jika wanita akan terlihat semakin cantik jika sedang hamil.

__ADS_1


Sedetik kemudian rasanya Wilson hampir mati karena jantungnya yang sudah jatuh hingga ke perut saat mendapat kecupan singkat pada keningnya. Veila berkata jika ia tidak bisa memberikan ciuman lebih seperti permintaan Wilson, tetapi diluar dugaan, hanya mendapatkan ciuman di kening saja sudah membuat Wilson sangat puas dan buru-buru berujar, "Aku akan segera mandi."


Bersambung ....


__ADS_2