Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 44


__ADS_3

Wilson dan Maureen sudah tiba lebih dulu di lokasi acara. Sengaja memilih tema yang elegan dan terkesan glamour agar semua tamu undangan yang kebanyakan berasal dari keluarga kaya merasa nyaman dan cocok pada pesta ini.


Tidak perlu ditanya lagi perihal biaya yang ia keluarkan agar bisa menyelenggarakan acara yang super mewah ini, pastinya harus merogoh kocek yang dalam. Jika boleh jujur, Wilson amat sangat tidak menikmati kemerihaan ini. Semua orang yang ia temui hanya sekedar berbasa-basi menanyai kabarnya dan Maureen, lalu seketika selalu menyinggung perihal keturunan yang dapat membuat Maureen murung dan memutuskan untuk menjauh.


Ia harus terus tersenyum, mengobrol biasa tanpa memperlihatkan emosi yang sebenarnya sudah berada di ubun-ubun. Sudah pernah ia katakan, mengadakan pesta ulang tahun ini lagi bukanlah hal yang baik. Ia tidak bisa menjaga Maureen dari kecaman-kecaman yang orang luar berikan, membuat hati sang istri menjadi rapuh hanya karena pertanyaan singkat tersebut. Masalah anak bukanlah sesuatu yang harus disepelekan.


Di saat beberapa relasi tengah berbincang sopan dengan Wilson, tiba-tiba saja pandangan mereka langsung teralihkan ke arah lain, membuat Wilson merasa heran dan ikut melihat ke arah yang para relasinya tuju.


Tak bohong, Wilson sempat terdiam saat melihat Leo dan Veila yang masuk ke dalam ballroom acara berdua, sudah seperti pasangan pada umumnya. Leo Zhang, nama itu tentunya tidak asing di telinga para relasi karena Wilson sering mengandalkan soal rapat bisnis pada Leo, karena itu, saat ini, semua tamu undangan mengenal baik sosok pria yang tengah menggandeng tangan wanita cantik.

__ADS_1


Pandangan Leo dan Wilson sempat bertemu, sebelum akhirnya Leo memutuskan kontak mata dan mengedarkan pandangan serta senyum ke arah relasi lainnya. Ia berjalan mendekat, menyapa hangat dan kemudian mulai ditanyai oleh para relasi yang bisa dibilang cukup penasaran.


"Siapa yang kau bawa, Tuan Zhang?" Satu pertanyaan yang membuat Leo tersenyum dan Wilson yang melirik kaki tangannya dengan tajam.


"Calon istriku," jawaban yang sungguh mengejutkan bagi semua orang- termasuk Veila dan Wilson.


Si wanita sempat berbisik dan menyuruh Leo untuk tidak mengatakan hal-hal konyol yang dapat menimbulkan kesalahpahaman. Apalagi kata 'calon istri' bukanlah sesuatu hal yang dapat disepelekan. Namun, Leo hanya berkata dengan nada kecil seperti; tenang saja, merasa jika kebohongan tadi tidak akan berpengaruh pada apa pun.


"Apa kau sakit?" Sebuah pertanyaan yang mendefiniskan basa-basi, membuat Wilson makin jengkel dibuatnya. Wilson tersenyum singkat, harus terlihat cool saat membalas serangan Leo.

__ADS_1


"Oh tidak, aku baik-baik saja. Namun sepertinya kau yang sakit." Balasan Wilson yang membuat para relasi bertanya dalam hati, apakah dua sahabat ini tengah mengibarkan bendera perang?


Saat Leo hendak membalas perkataan Wilson, ingin mengembalikan harga dirinya, tiba-tiba saja Jack datang dan membisikkan sesuatu di telinga Wilson.


"Sepertinya saya harus pamit undur diri karena harus bersiap menyampaikan pidato pembuka untuk acara ini," ucap Wilson dan dimengerti oleh para relasi, membiarkan Wilson pergi meninggalkan lingkaran, lalu setelah itu mulai fokus pada Leo.


Ingin bertanya lebih banyak tentang kisah asmaranya. Wilson sempat melirik ke belakang sejenak, mengumpat karena Veila terlalu cantik malam ini, membuatnya menjadi pusat perhatian dan pujian orang-orang.


Tidak butuh waktu lama bagi Wilson untuk menyampaikan pidato pembuka. Saat suara lantang pria itu terdengar dengan bantuan pengeras suara, semua matapun langsung tertuju padanya. Berbeda dengan acara ulang tahun perusahaan lainnya yang terkesan formal serta mengikat, Wilson malah menyuguhkan konsep yang berbeda. Tidak ada bincang-bincang khusus serta acara formal yang membuat para tamu mengantuk.

__ADS_1


Kali ini, semuanya bebas melakukan apa pun entah itu berbincang, menikmati musik klasik, atau menghabiskan waktu untuk makan. Saat di podium, pandangannya tidak bisa lepas dari sosok Veila yang tengah berdiri di sebelah Leo, memandang ke arahnya juga. Wanita itu sempat mengalihkan pandangannya ke arah lain guna memutuskan kontak mata mereka, dan bersamaan Leo yang membawa si wanita pergi, Wilson pun mengakhiri pidato terlampau singkatnya.


Bersambung ....


__ADS_2