Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 65


__ADS_3

Fashion Week berakhir pada pukul lima sore waktu setempat, dan Veila tak bisa berhenti tersenyum karena ia puas dengan ajakan Leo. Sebenarnya, di New York juga sering diadakan acara semacam Fashion Week, dan itupun tak bisa Veila datangi karena ia tidak punya undangan untuk datang dan hanya bisa melihat sedikit cuplikannya lewat unggahan beberapa orang di internet.


Dan hari ini, berkat Leo, ia bisa melihat bagaimana beberapa model berjalan di atas catwalk dengan anggunnya sembari memamerkan pakaian yang cocok untuk mereka kenakan, dan semuanya terjadi di kota yang terkenal dengan sebutan 'kiblatnya mode'.


Seakan lupa dengan keberadaan Wilson, di saat Leo menawarkan untuk berkeliling kota Paris guna menghabiskan malam, Veila pun tidak ragu untuk mengiyakannya. Lagipula, penjelasan Leo tentang festival kembang api yang berpusat di halaman menara eiffel sungguh menarik perhatiannya, membuat perasaan ingin datang untuk melihat menyapa dan memaksanya.


Jika bersama Leo, waktu yang panjang jadi terasa singkat. Veila mengalaminya, mulai dari kepergian mereka dari pusat acara Fashion Week pukul lima sore, mampir di sebuah cafe yang terletak di pusat kota dengan Leo yang mentraktirnya apa pun, mengabadikan momen dengan polaroid yang Leo bawa, hingga akhirnya di saat matahari sudah menghilang, mereka sudah berada pada pemberhentian terakhir— halaman luas di dekat menara eiffel untuk melihat festival kembang api.

__ADS_1


Dan entah kenapa, Veila merasa sangat spesial jika di samping Leo. Pria itu memperlakukannya dengan lembut, memberikan kesan bahwa dirinya—Leo adalah seseorang yang ramah.


"Mau makan Crepes?" tawar Leo, pria itu berniat untuk membelikan cemilan yang terkenal di kota Paris sebelum festival kembang apinya dimulai.


Veila berpikir sejenak, sengaja diam untuk mengambil keputusan. Ia tidak terbiasa berada di keramaian seorang diri, apalagi ini bukan negara asalnya. Agak sedikit takut jika nanti ia tenggelam oleh lautan orang-orang yang terlihat sudah memadati area ini dan berakhir dengan Leo yang tidak bisa menemukannya.


Namun, dirinya juga sangat ingin mencoba cemilan yang Leo tawarkan karena beberapa jam lalu ia sempat melihat gerai makanan yang menjual Crepes. Hingga akhirnya, iapun mengangguk, menginginkan Crepes yang dimaksud.

__ADS_1


Bukan hanya Veila yang sebenarnya khawatir, Leo pun juga merasakan hal yang sama, ditambah lagi mereka sedang berada di kota asing. Namun, Leo meyakinkan dirinya sendiri jika Veila tidak akan hilang begitu saja, palingan, ia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencari Veila di keramaian.


Pria itu pergi dengan senyuman yang terkembang sempurna seraya mengingat bagaimana ia menghabiskan hari bersama dengan Veila. Rasanya seperti menghabiskan waktu berdua bersama dengan kekasih sendiri, walau sebenarnya Veila sekarang sudah menjadi milik orang lain yang iapun tidak tahu bagaimana akhir hubungan dua orang tersebut.


Membicarakan tentang hubungan, ada rasa ingin mengakhiri perselingkuhannya dengan Maureen lalu berpaling untuk mengejar seseorang yang sudah sering terluka. Bukan karena cinta di dalam lubuk hati yang mudah menghilang, bukan juga karena dirinya yang mudah sekali jatuh cinta. Semua rasa yang timbul itu murni muncul karena sikap Maureen sendiri.


Leo merasa cintanya digantung, menebak jika sebenarnya Maureen menyimpan suatu perasaan pada Wilson yang tak bisa wanita itu jelaskan lewat kata.

__ADS_1


Veila Amor yang awalnya ingin ia jadikan sebagai pelampiasan kekecewaan atas sikap Maureen pun sekarang memiliki nilai lebih di hati Leo. Pria itu ingin masuk ke dalam hidup Veila lebih jauh lagi, menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan di saat si wanita dibuang oleh Wilson—nanti. Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah wanita itu benar-benar akan terbuang?


Bersambung ....


__ADS_2