
Bukannya tidur, Wilson malah melamunkan sesuatu sembari mengarahkan pandangan ke arah langit-langit kamar yang gelap. Tidak seperti Maureen yang tidur dengan lampu terang benderang, Veila malah sebaliknya.
Maureen takut dengan gelap, membuat Wilson sudah terbiasa tidur dengan lampu menyala dan harus mengenakan sleeping mask jika ingin tidur nyenyak. Karena, jika boleh jujur, Wilson tidak bisa pergi ke alam bawah sadar jika cahaya lampu masih menembus masuk lewat kelopak matanya yang sudah terpejam.
Ada beberapa hal yang tengah ia renungkan, salah satunya adalah perihal masalah hatinya. Sepertinya, bersikap baik pada Veila adalah sesuatu yang salah karena dapat membuat hati kecilnya tidak tenang. Wilson adalah tipe seseorang yang tidak mudah jatuh cinta, dengan Maureen pun ia butuh waktu beberapa bulan untuk terpikat. Karena itu sebenarnya Wilson ragu, apakah ia sudah jatuh hati pada wanita yang selalu ia sakiti ini? Dalam kurun waktu yang sangat cepat?
Pria itu bahkan tidak mempercayai rasa itu, menganggap jika semua itu hanya perasaan aneh yang sekedar lewat yang tidak bisa ia jabarkan maknanya. Dan juga, apa yang membuat pria itu jatuh hati pada sosok wanita yang terikat kontrak dengannya?
__ADS_1
'Tidak, tidak. Aku masih mencintai Maureen. Jelas-jelas aku merasa cemburu dengan perselingkuhannya.' Detik itu, Wilson meyakinkan kembali perasaannya yang mulai goyah.
Mengatakan pada dirinya sendiri jika ia masih sangat mencintai Maureen Cruz apa pun yang terjadi. Dan seketika, saat pikiran tentang Maureen hadir, rasa bersalah pun menghampiri. Ini sudah dua jam semenjak ia pergi dari kamarnya dengan alasan ingin mencari udara segar, tetapi sampai sekarang ia tak kunjung pergi dari kamar Veila—tak ada niatan untuk kembali.
Jika dipikir-pikir, Wilson merasa jika ia sudah berlaku jahat pada Maureen, berjanji untuk kembali, tetapi malah mengingkarinya dan membetah untuk tinggal di kamar yang luasnya lebih sempit dari kamarnya. Hal itupun tak ayal membuat Wilson segera beranjak, menimbulkan sedikit bunyi berderit yang untungnya tidak membuat Veila terbangun.
Sekarang ini, ia berencana untuk kembali ke kamar Maureen, tak mampu dirundung rasa bersalah yang sukses membuatnya tidak bisa tidur. Jika malam ini ia terus terjaga, bisa-bisa ia tertidur saat rapat dengan beberapa penjabat tinggi. Perusahaan Wilson memanggil para pemegang saham perusahaannya sebagai penjabat tinggi. Namun, saat kedua kakinya sudah menjuntai ke bawah, hendak menggapai sandal rumah warna putihnya, suara kecil Veila mampu membuat Wilson menoleh.
__ADS_1
Satu nama yang lolos dari bibir manis Veila mampu membuat Wilson kembali menarik kedua kakinya, tak jadi untuk pergi meninggalkan kamar dan justru kembali duduk dengan kaki bersila seraya menatap Veila yang masih memejamkan matanya.
Wanita itu dengan entengnya menyebutkan nama Leo dalam tidurnya. Apa yang Veila mimpikan sampai-sampai nama pria yang Wilson tak sukai itu harus lolos dari bibir si wanita? Suasana hati yang buruk membuat Wilson menyilakan kedua tangannya di depan dada, tak mau berhenti untuk terus mengawasi Veila, kalau-kalau nama Leo kembali disebut, tangannya sudah siap menampar birai merah si wanita dengan gemasnya.
"Aku tidak bisa menerka kapan wanita ini menyebutkan nama Leo, bisa saja ini terjadi lagi dan lagi. Mereka berdua tidak baik untuk terus bersama, aku tidak mau jika nantinya anakku jadi mirip Leo!" celetuk Wilson seraya menggelengkan kepalanya, menepis segala khayalan buruk tentang rupa sang anak nantinya.
Akan sangat berbahaya nanti jika wajah anaknya jadi mirip dengan Leo, membuat semua orang bertanya-tanya perihal ayah sang anak. Padahal sudah jelas-jelas benih Wilsolah yang tertanam di rahim Veila, bukan Leo, yang berarti Wilsonlah ayah dari sang bayi.
__ADS_1
Nama Leo yang Veila sebutkan tadi mampu membuat pria itu lupa dengan niatnya untuk kembali ke kamarnya dan malah terus-terusan menatap Veila lekat, tak ada niatan untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sepertinya malam ini Wilson tidak akan pernah bisa memejamkan matanya.
Bersambung ....