
Sebelum masuk ke dalam, menembus keramaian, ia menarik napas sejenak, berusaha mengusir ketegangan dalam dada. Dan kemudian, di saat ia baru saja berjalan beberapa langkah, seseorang menepuk bahunya yang sukses membuat ia menoleh.
"Punya Anda, Nona?" Seseorang menjulurkan sebuah anting ke arah Veila, menayakan kepemilikan dari benda berwarna perak tersebut.
Melihat itu, dengan cepat, Veila memeriksa kedua daun telinganya dan kemudian berkata, "Ah, punyaku. Terima kasih." ungkapnya, seraya mengambil anting yang sudah disodorkan tersebut. Agak heran juga dengan antingnya yang kenapa bisa lepas dari tindikan telinganya.
Tak menunggu lama, Veila pun segera memasukkan satu antingnya tersebut ke dalam saku mantelnya, memiliki rencana untuk memasangnya kembali jika sudah berada di dalam pesawat.
"Tujuanmu, Nona?" Veila kira orang baik itu akan langsung pergi sesaat setelah menyerahkan anting tersebut. Namun, diluar dugaan, dia malah bertanya, yang akhirnya membuat Veila menjawab, "Prancis."
Dapat Veila tangkap senyuman lebar yang terpatri, dan detik berikutnya, orang baik yang berjenis kelamin pria tersebut berkata, “Wah! Tujuan kita ternyata sama. Bagaimana jika kita masuk ke dalam bersama, Nona?"
Veila hendak menolak, berkata tidak perlu' karena pria ini masih tergolong pria asing. Namun, belum sempat ia menolak, pria itu sudah lebih dulu menarik tangan Veila, memperlakukan wanita itu seperti teman dekat yang sudah kenal lama yang akan melakukan perjalanan bersama.
Melakukan proses check-in dengan cepat, hingga menunggu di gate bersama, yang kemudian, tak berapa lama membawa mereka berdua masuk ke dalam pesawat. Dan disaat ini juga Wilson belum kembali, sebuah hal yang wajar karena jarak dari bandara ke rumah bolak-balik-memakan waktu satu jam sepuluh menit. Jika tidak telat, mungkin Wilson akan tiba pada detik-detik terakhir sebelum pesawat lepas landas.
"Oh Nona, bukankah ini sebuah takdir yang lucu? Bagaimana bisa kita duduk bersebelahan?" tanya si pria saat sadar jika nomor kursi mereka berdekatan—Tidak, melainkan merupakan sebuah angka kakak beradik, berdampingan.
Veila yang mendengar itu awalnya juga terkejut dan memeriksa kembali boarding pass miliknya, tetapi kenyataannya, ia dan pria kelewat ramah ini memang duduk bersebelahan. Wanita itu sempat mengira jika ia dan Wilson akan duduk bersebelahan, tetapi kenyataan malah sebaliknya.
Sebenarnya Wilson juga ingin memesan tiket dengan nomor kursi yang berdekatan agar mereka berdua bisa duduk bersebelahan, tetapi apa daya karena tiket first class hanya tersisa dua slot, itupun dengan nomor kursi yang berbeda, walau jaraknya berdekatan.
Menanggapi perkataan pria yang ia belum tahu namanya inipun, Veila hanya mampu menganggukkan kepala dan tersenyum kikuk lalu segera duduk di kursi miliknya. Awalnya mereka saling diam karena si pria sudah mulai terlihat sibuk dengan kegiatannya sendiri mengotak-atik kameranya, dan juga memeriksa ponselnya. Namun, di saat pesawat sudah lepas landas sejak lima belas menit yang lalu, si pria tersebut mulai melirik ke arah Veila dan menanyakan sesuatu yang membuat si wanita menoleh.
"Nona? Boleh kenalan? Kita belum mengetahui nama masing-masing."
"Kau tidak mengenalku? Aku, Justin Joel," pria tersebut mengenalkan dirinya sembari tersenyum manis, memicu Veila untuk menjawab cepat.
"Ah, aku Veila Amor. Dan maaf, aku tidak mengenalmu," balasnya, membuat Justin menganggukkan kepalanya.
"Coba perhatikan wajahku sekali lagi. Bukankah wajahku terlihat familiar? Aku sering berseliweran di televisi," ujarnya, yang justru membuat dahi Veila berkerut. Percuma saja, ia sudah lama tidak menonton televisi, terakhir kali saat SMP, itupun tidak lama.
__ADS_1
Sembari meminta maaf, Veila pun turut menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak mengenal pria di sebelahnya, wajahnya bahkan tidak familiar sama sekali.
Pria itu menghela napasnya, berusaha menerima kenyataan jika wanita cantik yang duduk di sebelahnya ini tidak mengenal dirinya sedikitpun.
"Ah, sayang sekali. Padahal aku ini aktor terkenal...." Dalam mimpinya.
Justin Joel, pria itu memanglah seorang aktor yang sering menghiasi berbagai series atau film genre apa pun. Namun, kemunculannya dalam series atau film hanyalah sebatas pemeran figuran, terkadang mempunyai dialok selama sepuluh detik, atau bahkan hanya berlalu lalang di sekitaran pemeran utama.
Cita-citanya adalah menjadi aktor terkenal, dan semuanya berawal dari pemeran figuran—dari bawah terlebih dulu.
"Ah, benarkah?" gumam Veila tak percaya, dan Justin pun mengangguk.
Sebenarnya ia sedih karena wanita cantik di sebelahnya ini tidak mengenalnya. Namun, sejurus kemudian ia tersenyum sembari mengeluarkan sebuah spidol dari dalam ranselnya.
"Mau tanda tanganku?" tawarnya dengan spidol hitam yang turut ia gerakkan dengan irama teratur.
Mendengar tawaran tersebut, Veila pun berceletuk pelan. "Tapi aku tidak bawa buku."
"Di sini juga bisa, kan?" kekehnya dengan tangan yang gesit mengukir sebuah tanda tangan kerennya.
Veila sejujurnya agak terkejut dengan semua perlakuan Justin, tetapi melihat senyum manis si pria membuat Veila tak mampu untuk menolak. Bisa saja tolakan halusnya bisa menghilangkan kebahagiaan kecil yang tengah pria itu rasakan.
"Terima kasih," balas Veila seraya memperhatikan punggung tangannya yang sudah diukir oleh tarikan-tarikan garis. Sedangkan Justin membalasnya dengan mengatakan 'tidak masalah' pada Veila. Selang itu, baik Veila maupun Justin semuanya kembali diam.
"Nona—”
Veila kembali menoleh, hendak berkata agar Justin berhenti mengajaknya bicara. Namun, perkataannya tidak bisa tersampaikan karena si pria yang sudah lebih dulu melanjutkan kalimatnya.
"—kau cantik. Benar-benar pergi ke Prancis sendirian?"
Mendengar itu, Veila hanya bisa menatap Justin dengan heran lalu menjawab, “Ah, aku sebenarnya pergi dengan—"
__ADS_1
“Apa kau sudah memiliki kekasih? Mau jadi kekasihku tidak? kita bisa menghabiskan waktu di Prancis bersama—"
Perkataan Justin terpotong dikarenakan suara bersin yang terdengar cukup kuat dari arah belakangnya. Suara yang membuat dua orang tersebut menoleh guna mencari si pemilik suara bersin yang besar tadi.
Berbeda dengan Justin, Veila malah terkesiap saat melihat siapa yang duduk di belakang mereka berdua, la segera mengalihkan wajahnya kembali ke arah depan dikarenakan tak sanggup untuk bertatap mata dengan Wilson, yang ternyata duduk tepat di belakangnya. Pria itu menatapnya dengan lekat dan tajam, seolah-olah hendak memakannya.
"Hei Nona cantik, biar kutebak, kau pasti belum punya keka—"
"Uhuk! Kenapa pesawat ini berdebu sekali, astaga!" Veila kenal betul, itu bukan suara Wilson, melainkan suara seorang Leo Zhang.
Ya, bukan hanya Wilson yang sempat ia lihat, melainkan ada sosok Leo juga, dan kebetulan dua pria itu duduk saling bersebelahan. Ia tidak tahu kenapa Leo bisa satu pesawat dengan mereka, apakah Wilson yang mengajaknya atau hanya kebetulan semata.
Sedangkan Wilson yang barusan mendengar suara Leo dari arah sebelahnya pun seketika langsung menoleh. Terkejut dan tidak percaya jika ada sosok Leo duduk di kursi sebelahnya. Jujur, awalnya ia tidak tahu jika itu adalah Leo.
Wilson datang lebih awal terlebih dulu dan terlalu fokus pada dua makhluk di depannya. Dan di saat pria itu bersuara, barulah pria itu tahu dan merasa jika ia dan Veila tidak akan pernah diizinkan untuk punya waktu berdua saja.
Sergahan Leo tadi berhasil membuat Justin menoleh, melirik mereka dan bertanya, "Apakah kau punya masalah? Sejak tadi, secara bergilir, kalian berdua selalu saja memotong pembicaraanku.“
Namun, Justin tidak mendapat gubrisan karena sekarang Wilson sedang menatap Leo tajam seraya bertanya, "Apa yang kau lakukan di sini? Di dalam pesawat?" Nada tidak suka yang Wilson keluarkan pun mendapatkan balasan dengan nada yang sama, tetapi terkesan lebih santai.
"Kau lupa? Aku sudah minta izin jauh-jauh hari untuk pergi ke Prancis karena adikku mengundangku untuk datang ke Paris Fashion Week di mana ia turut berkontribusi dalam pendesainan pakaian," balasan Leo barusan seakan merangsang otak Wilson untuk mengingat lebih jauh, menuju ingatan yang lalu sekitar tiga hari sebelumnya. Dan ya... jika Wilson ingat tentang itu, mungkin dirinya akan menunda keberangkatan pergi ke Prancis atau lebih baik menyambangi negara lain saja.
Tahu jika dirinya tidak akan mendapat balasan karena dua orang itu sibuk berdebat, Justin pun kembali mengarahkan wajahnya ke arah depan, dan kebetulan, saat hendak mencapai posisi awal, ia melihat Veila yang tengah mengeluarkan satu anting dari dalam sakunya, hendak memasangnya pada daun telinga sebelah kanan.
Justin adalah tipe orang yang terkesan sok kenal, tetapi bertujuan untuk mengenal target temannya lebih dekat, untuk meminimalisir kecanggungan. Jadi, dengan girang ia berceletuk, "Biar aku yang memasangkannya, Cantik, kau terlihat kesusahan."
Sementara dua orang yang tengah berdebat di belakang sana pun segera menoleh ke arah depan saat mendengar suara Justin yang sangat kencang. Leo bahkan sempat berdiri sejenak untuk melihat apa yang pria itu lakukan kepada Veila karena mereka berdua tidak bisa melihat dari belakang sini.
"Tidak usah." Veila baru saja hendak menyela, ingin mengatakan jika ia bisa memasangnya sendiri. Namun, tangan pria itu terlihat gesit dalam meraih anting perak itu, kemudian memasangnya pada daun telinga Veila dan setelah itu memuji kecantikan si wanita.
Sementara Wilson terlihat mulai kesal dan mengalihkan pandangannya keluar jendela, merutuki dua serangga yang ada di samping dan di depannya. Seharusnya ia mengajak Veila untuk pergi ke Italia saja.
__ADS_1
Bersambung ....