
Langkah Wilson terhenti seketika, suara pantofelnya tak lagi terdengar di koridor yang lumayan sepi dari para pengunjung rumah sakit. Ia berniat untuk mengunjungi anaknya yang diletakkan bersamaan dengan bayi-bayi lainnya di luar sana, tetapi di depan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan di dalam ruangan, ia menemukan sosok Maureen. Berdiri di sana dengan satu tangan memegang jendela kaca, senyumannya jelas tersungging dan dapat Wilson lihat.
Wilson meneguk salivanya, lalu menyapa, "Kenapa ke sini?“ Padahal ia tidak mengatakan apa pun pada Maureen perihal kelahiran anaknya, sedikit heran saja, bagaimana bisa wanita itu tahu tentang semuanya.
Ah, beberapa hari lalu, secara diam-diam, Wilson sudah mengirimkan sebuah lembaran surat cerai yang terbungkus rapi di dalam amplop cokelat berlambangkan hukum. Setelah dipikir-pikir dengan matang, lebih baik ia meninggalkan Maureen daripada mempertahankan wanita itu. Jikalau ingin mempertahankan pun, Wilson tidak tahu apa alasannya, padahal jelas sekali Maureen sudah mengkhianati dirinya.
"Jika ingin mengantarkan surat cerai, kau bisa mengiriminya lewat bantuan jasa kurir pos," lanjut Wilson karena Maureen tak kunjung membalas perkataannya. Beberapa saat wanita itu hanya diam, hanya memandang lurus ke arah susunan box bayi, dan ketika tangan Wilson sudah menyentuh gagang pintu, suara Maureen pun terdengar.
"Aku tidak mau bercerai denganmu. Setelah lima tahun kita bersama, kau malah meninggalkanku karena Veila? Kau membenciku dan memilih pergi sebab kekuranganku yang tak bisa memberimu keturunan, kan?" ujar Maureen, ia memang berbicara, tetapi belum berani untuk memandang si lawan bicara.
"Jangan asal bicara—" Padahal Wilson ingin melanjutkan kalimatnya, tetapi Maureen sudah lebih dulu memotong pembicaraannya.
"Aku tahu, aku mendengar pembicaraanmu dengan Leo di ruang tertutup itu. Tentang Veila dan tentangku juga. Kau berkata jika kau mempergunakan Veila sebagai objek untuk membuatku cemburu, benarkah?"
Saat itu, kira-kira sebelum malam di mana Maureen ditarik paksa oleh ibunya, ia sempat menguping pembicaraan Wilson dan Leo yang saat itu berlokasi di ruangan suaminya. Tak sampai habis, ia hanya menguping sebagian, membuat kesalahpahaman itu ia telan mentah-mentah dan menjadi sedikit lebih tenang.
"Ya, aku mengakui itu. Semuanya benar," gumam Wilson. Ia tidak mungkin berkata bohong dan tidak mengakui tujuan awalnya karena memang semua itu adalah benar, tetapi siapa yang sangka, di awal permainan yang dirinya buat sendiri, ia sudah kalah telak. Pesona Veila Amor sangat susah untuk ditolak, ia mati.
Napas tersenggal Maureen perlahan mulai kembali teratur, lalu dengan perasaan yang campur aduk ia kembali berkata, "Jelaskan padaku semuanya, dari awal."
Wilson memejamkan matanya sejenak, dan setelah itu ia segera memusatkan perhatian pada Maureen. "Sejak awal aku tidak pernah berniat mencintai Veila, kau tahu sendiri sikap kasar yang selalu aku berikan padanya. Uang seratus ribu dolarku terbuang percuma hanya untuk mengambil wanita kotor dan bau sepertinya. Kau kira aku mau bersanding dengan wanita yang kastanya berada di level yang sangat bawah? Dan juga, aku muak melihatmu yang selalu mendekatkanku dengan Veila, tak pernah menunjukkan tanda-tanda cemburu sama sekali. Kupikir, pasti ada sesuatu yang salah darimu, dan ternyata memang benar," jelas Wilson, ia belum mengungkapkan kebenaran tentang perselingkuhan sang istri dengan Leo. Tak bisa membayangkan, Maureen pasti terkejut saat ia mengatakan itu.
"Tujuanku sebenarnya adalah menggunakan Veila untuk memanas-manasimu yang tak pernah mengatakan 'aku mencintaimu' padaku. Kau tahu apa yang kurencanakan selanjutnya? Setelah dia melahirkan anakku, aku berniat untuk membuangnya, mengembalikannya ke kandang asal yang bau. Dia... tidak pantas untuk—"
Wilson berhenti berbicara saat pendengarannya menangkap suara isakan yang cukup terdengar di lorong sepi. Tak lama, kepalanya tertoleh ke belakang, menemukan Veila di sana dengan Leo tentunya.
"Veila ...." Wilson hendak menghampiri Veila dengan jantungnya yang sudah berdebar kencang.
Kenapa Veila harus muncul sekarang, di saat ia belum mengatakan semua isi hatinya? Namun, belum sempat ia melangkah, Maureen sudah menarik lengannya terlebih dulu, berkata jika Wilson harus menyelesaikan kalimatnya sekarang.
"Lepaskan tanganmu, Maureen Cruz," geram Wilson, berkali-kali berusaha menepis, tetapi tenaga si wanita lumayan kuat. Memangnya Maureen tahu apa yang akan terjadi pada hubungannya dan Veila setelah ini? Mungkin akan hancur, akan berakhir hanya karena perkataan yang tidak didengarkan sampai selesai.
Wilson menggeram, menarik napasnya cepat lalu melanjutkan kalimatnya. Ia harus menyelesaikan semua ini, lalu segera meluruskan kesalahpahaman dengan Veila, segera. "Ya, awalnya itu memang tujuanku, Maureen. Menggunakannya untuk mendapatkan dirimu kembali. Tapi apa yang terjadi? Wanita yang bahkan tidak selevel denganku itu berhasil membuatku jatuh cinta. Veila Amor, wanita dekil yang bahkan tak aku sukai keberadaannya itu memiliki sikap yang lebih baik daripada dirimu, kau yang berpendidikan tinggi, tapi tingkahmu berada di bawah binatang," lanjutnya, menepis tangan Maureen kasar dan akhirnya terlepas dari jerat tangan kecil tersebut.
Mata Maureen bergetar. “Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada bicara yang tak beraturan.
Wilson berdecih dan mulai menertawai Maureen. "Kau kira aku tidak tahu jika dirimu selingkuh dengan Leo, huh? Mau sampai kapan kau menutupi bau bangkai yang menyeruak dari tubuhmu, Maureen? Padahal selama ini aku yang menunggu gugatan ceraimu, bukankah itu yang harusnya terjadi? Padahal aku sudah memberimu banyak cinta, apakah itu masih kurang, masih belum cukup? Melihat itu, apakah kau pantas untuk dipertahankan? Kurasa menggugat cerai dirimu adalah keputusan yang amat tepat."
"Itu semua karena aku menyadari bahwa sebenarnya aku mencintaimu, Wilson!" Ini adalah kali pertama Maureen mengatakan kata 'cinta' pada Wilson.
Bukannya tersentuh, pria itu malah berdecih. "Sudah basi," ungkapnya, memandang Maureen dengan penuh ketidaksukaan. Yang tentunya berhasil membuat Maureen tercengang dan mengeluarkan air mata.
"Segera tanda tangani surat cerainya, kirim itu lewat jasa kurir pos dan jangan pernah bertemu denganku lagi. Kita berakhir sekarang," lanjutnya, tersenyum tipis sebagai tanda jika ia tengah meremehkan Maureen. Dan setelah itu segera pergi tanpa menoleh ke belakang, menggubris teriakan Maureen yang menyerukan namanya di dalam isak tangis.
Tidak ada lagi cinta untuk Maureen, yang tersisa kini adalah rasa cinta yang sepenuhnya hanya untuk Veila. Hanya Veila dan untuk Veila Amor.
__ADS_1
***
Wilson berlari, mencari Veila dengan tujuan awal ia adalah kamar inapnya. Namun, yang ia jumpai adalah kekosongan, tidak ada keberadaan sang istri di sana, membuat Wilson harus mengerahkan kembali tenaganya untuk berlari guna menemukan Veila. Ia sadar, perkataannya barusan pasti akan menyakiti hati Veila dan membuat hubungan yang ia bangun selama ini akan hancur. Hingga akhirnya, kedua tungkainya berhenti melangkah sesaat setelah ia menyambangi halaman belakang rumah sakit. Menemukan Veila yang kini tengah memeluk pinggang Leo serta membenamkan wajahnya di perut Leo, Wilson tak bisa bergerak karena ia tahu Veila sudah terluka karena perkataannya.
Leo mengusap puncak kepala Veila, ikut sedih saat melihat wanita itu menangis lebih keras dari biasanya. Yang pria itu mampu lakukan adalah menenangkannya dengan kata-kata singkat, sejujurnya, Leo juga tidak tahu harus melakukan hal apa.
"Leo Zhang, bawa aku pergi jauh dari Wilson," ujarnya pelan dan sukses membuat Leo terkesiap.
Pria itu menekan bahu Veila, mendorong pelan si wanita guna melihat wajah berantakan akibat menangisnya. "Jangan seperti itu, keputusan ini tidak bisa kau ambil sepihak, Nona Amor," sergah Leo, berusaha untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Veila cepat menggeleng dan berkata, "Apalagi yang harus kuketahui? Bukankah ini sudah lebih dari cukup? Di matanya, aku adalah wanita kotor yang pantas untuk dipermainkan. Aku tidak lebih dari wanita berbau comberan di hadapannya, Leo." Veila tidak bisa mengehentikan tangisannya, terus mengeluarkan buliran bening yang tersimpan di pelupuk mata, tak henti membasahi pipinya yang sudah memerah.
"Kumohon, bawa aku pergi meninggalkannya."
Leo tak sempat menyahut sebab suara Wilson sukses mengalihkan konsentrasi mereka berdua. Si pria memberi isyarat agar Leo pergi meninggalkan mereka berdua, jika seperti ini, semuanya harus diluruskan dengan membuka ruang obrolan secara empat mata. Awalnya Veila menahan kepergian Leo dengan cara menggenggam erat ujung bawah kemeja pria itu, tetapi dengan lembutnya Leo meminta lepas dan akhirnya segera pergi meninggalkan dua orang yang sedang bersitenggang.
Untuk sesaat, Wilson membiarkan Veila menghentikan tangisannya. Agak lama, tetapi mau selama apa pun itu, Wilson tetap akan menunggu. Dan setelah isakan tersebut mengecil dan akhirnya tak terdengar lagi, Wilson pun menyeru, “Veila—"
"Berikan aku uangnya, ambil anakmu, biarkan aku pergi dari hidupmu. Semuanya, mari ikuti sesuai dengan kontrak yang beberapa bulan lalu kau robek," ungkap Veila seraya menahan tangisnya. Sementara Wilson segera memposisikan dirinya di hadapan Veila, merunduk hanya untuk mencoba melihat wajah sang istri yang sama sekali tak bisa ia lihat.
"Dengarkan aku dulu Veila, kau belum mendengar semuanya sampai selesai. Jangan mengambil keputusan yang dapat memisahkan kita." Wilson berusaha untuk terlihat tenang, tetapi kenyataannya semua itu gagal. Ia tak bisa menyembunyikan ketakutannya yang sukses mengubah suaranya menjadi sedikit lebih bergetar.
Kepala Veila semakin menunduk, kali ini ia kembali menangis, membuat siapapun yang mendengarnya merasa pilu. Dengan tangan yang meremas kuat pakaian rumah sakit, Veila kembali berkata, “Aku tidak mau mendengar alasanmu lagi. Jadi, berikan aku uangnya dan—"
Wilson sedikit menjauh saat sadar jika Veila hendak beranjak dari dudukan kursi roda. Sedikit waswas karena Veila sempat kehilangan keseimbangan karena agak susah berdiri, tetapi pria itu tidak berani mendekat guna mengulurkan tangannya. Merasa jika Veila akan pergi meninggalkannya, Wilson pun segera menarik lengan si wanita, menarik dan membawanya ke dalam pelukan tubuhnya. Tak disangka, mereka berdua malah menangis dengan Wilson yang terus berusaha untuk menahan dekapannya. "Jangan pergi, Veila ....”
"Biarkan aku pergi, Wilson. Cukup berikan uangnya padaku dan lepaskan aku. Mau sampai kapan kau menyakitiku?" tanya Veila, masih menangis dengan tubuh yang lumayan bergetar.
"Kumohon, pikirkan lagi permintaanmu, jangan tinggalkan aku, kita bahkan sudah berjanji untuk mengurus Christian bersama." Wilson yang ikut menangis pun mulai berkata, berharap jika Veila mengurungkan niat untuk meninggalkannya.
Veila yang tadinya mencengkeram pakaian Wilson pada area pinggang pun kini mulai menggantikannya dengan sebuah balasan pelukan. Ingin segera mengakhirinya, Veila berkata, "Aku akan pergi, meninggalkanmu. Apa pun itu, semuanya tetap berjalan sesuai kontrak."
Aku ingin mengakhiri penderitaanku yang bersembunyi dengan tenangnya di balik kebahagiaan. Aku tahu, wanita sepertiku tidak pantas untuk bahagia. Menyakitkan, tapi aku tak bisa menampiknya - Veila Amor.
***
Pintu kamar berwarna cokelat tua itu berderit pelan. Veila yang tengah memasukkan barang-barangnya ke dalam koper pun seketika menoleh. Tepat setelah itu, manik Veila dan pria itu bertemu. Diputusinya kontak mata yang terjadi secara tak sengaja itu karena jika diteruskan, dadanya akan makin tambah sesak. Sudah cukup ia menangis sambil menggigit bantal selama semalaman penuh. Hari ini, ia tidak ingin menangis lagi. Sesuai kesepakatan yang dirinya buat sewaktu di rumah sakit, jika sudah lewat dari empat puluh sehari setelah melahirkan, maka ia akan pergi dari rumah mewah yang sepi hunian ini. Tidak ada lagi yang bisa mencegah, bahkan tangisan pun tak membuat keputusannya mengabur, apa pun alasannya, ia tetap akan pergi meninggalkan Wilson.
Ditutupnya koper hitam miliknya karena menurutnya ia tak perlu mengemasi seluruh barangnya secara keseluruhan. Membawa beberapa helai baju kepunyaannya saja sudah cukup. Veila mengangkat tubuhnya sendiri, beranjak meninggalkan keramik yang terlalu dingin untuk diduduki.
Sekarang, sampailah wanita itu di depan pintu kamar. Ia sudah melewati pria yang tengah berdiri seraya menyenderkan lengannya pada tembok yang sama dinginnya dengan lantai.
Ia juga sudah sempat menunduk hormat, memberi salam terakhir sebelum dirinya pergi meninggalkan rumah mewah ini. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat pria yang sedari tadi hanya diam dan memandanginya itu kini mulai membuka suara.
"Kau memaksaku untuk mengatakannya, Veila," pungkas Wilson, sedikit menggeram karena si wanita tak berbicara sedikitpun sejak tadi. Padahal jelas-jelas dirinya ingin mendengar suara manis yang keluar dari bibir itu.
__ADS_1
Didiamkan oleh Veila selama empat puluh hari lamanya sukses membuat Wilson merasa saraf-sarafnya putus beberapa, ia bisa gila lama-lama. Apalagi Veila yang selalu menghindar jika Wilson menunjukkan tanda-tanda ingin mengeluarkan kata cinta.
"Sekarang, tidak lagi, Wil—" sahut Veila, akhirnya suara lembut nan kecil tersebut keluar dari birai merahnya. Suara yang sangat ditunggu-tunggu oleh pria itu.
"Mau kau menghendakinya ataupun tidak, sekarang aku akan mengatakannya," sanggah pria itu dengan tubuh yang sengaja ia balikkan hingga terpampanglah punggung ringkih si wanita.
"Silakan. Aku tidak akan mendengar—” tukas Veila sembari kembali melangkahkan tungkai jenjangnya.
"Aku mencintaimu."
Bahkan kata yang Wilson lontarkan tidak membuat Veila menghentikan langkahnya. Wanita itu terus berjalan, semakin menjauh, sebelum akhirnya Wilson bergegas menyusul dan mencengkeram lengan Veila kuat.
"Jika kau ingin pergi, bawa juga Christian bersamamu!" sentak Wilson, napasnya terengah.
Veila menanggapinya dengan gelengan, kemudian menyahut seraya berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman kuat Wilson. "Kau sudah memberiku uang, karenanya Christian Eugene Hovers sudah menjadi hak milikmu."
Tak mau kalah begitu saja dan tetap terus membujuk, Wilson pun segera menarik Veila, membawa wanita itu menuju kamar bayi mereka, membuat Veila rasanya hendak menangis saat melihat Christian Eugene Hovers yang tengah menggerak-gerakkan badannya di dalam box bayi. Padahal sejak semalam ia sudah berusaha untuk menguatkan diri karena akan berpisah dari anaknya, tetapi tindakan Wilson sukses membuatnya menjadi tidak rela untuk melepas Christian.
"Wilson Alexander Hovers! Biarkan aku pergi!" pekik Veila, dan nyatanya berhasil melepaskan cengkeraman tangan Wilson.
"Bawa Christian bersamamu! Kau ibunya, dia lebih membutuhkanmu! Kau kira aku akan membiarkanmu pergi dengan tangan kosong setelah aku melihat bagaimana susahnya kau mengandung dan melahirkan Christian?" Wilson ikut menyentak, bagaimana pun juga Christian harus tumbuh bersama ibunya, dengan kasih sayang yang pastinya akan Veila berikan.
"Kau boleh meninggalkanku, tapi jangan tinggalkan anak kita! Biarkan aku yang menanggung rasa kehilangan, dan jangan sampai Christian ikut merasakannya. Dia membutuhkanmu, membutuhkan kasih sayangmu. Dan aku... aku juga membutuhkanmu, Veila," kata Wilson dengan suara yang semakin mengecil. Tak menunggu lama, setelah mengatakan itu, Wilson pun langsung menggendong Christian, memberikannya pada gendongan sang ibu dengan berat hati.
Veila mengalihkan wajahnya saat sadar jika air matanya sudah jatuh mengenai wajah sang anak, tidak sanggup jika semuanya harus berjalan seperti ini. Tidak ingin berlama-lama dan lebih memilih untuk bungkam, Veila pun segera menggerakkan tungkai kakinya, melangkah keluar lalu menghentikannya sejenak karena mendengar suara lutut yang bersinggungan dengan ubin lantai.
"Veila, jangan tinggalkan aku. Kenapa kau sulit sekali percaya jika aku sudah benar-benar mencintaimu? Aku tidak tahu, nantinya, apakah aku bisa hidup tanpamu," gumamnya kecil dengan kepala yang tertunduk.
Maafkan aku, Wil.
Veila hanya mengatakan itu di dalam hati, menghapus air matanya sekilas lalu segera pergi walau sempat melirik ke belakang sebentar. Sedangkan Wilson tidak bisa lagi menahan rasa pedih di hatinya dan mulai menangis. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, menahan pun tak ada gunanya. Namun, tak berapa lama setelahnya, Wilson segera bangkit dan mulai berlari untuk mengejar dua orang berharganya. Ia ingin menggunakan kesempatan pada detik-detik terakhir yang masih tersisa, tetapi semuanya terasa sia-sia saat melihat mobil Leo sudah pergi menjauh, membawa Veila dan Christian pergi dari kehidupannya.
Wilson yang berusaha meraih kini sudah ditinggalkan.
"Jika kau tidak ada lagi di sisiku, bisakah aku terus menjalani hidup, Veila?” ujarnya pelan, membiarkan air matanya mengalir begitu saja.
Aku bahagia, setidaknya cukup pernah merasa bahagia karenamu. Mungkin kebahagiaan terakhir yang kita lalui bersama adalah ketika Christian lahir ke dunia, dan saat itu aku sadar, itu menjadi adegan terakhir kita bersama. Veila Amor, sampai kapan pun, kau akan selalu ada di hatiku — Wilson Alexander Hovers.
Tamat ....
Alhamdulillah, sudah tamat. Novel pertama dengan sad ending. Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca, like, dan komen.
How do you feel?
See you
__ADS_1