Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 24


__ADS_3

Setelah mempersentasikan proyek terbarunya di depan seluruh rekan kerjanya secara singkat, padat, dan jelas, Wilson pun segera duduk di kursi khususnya. Kesepuluh jari tangannya diketuk satu persatu, membuat bunyi yang tidak begitu nyaring, tetapi sukses mengalihkan perhatian para rekan kerja yang duduk di kanan dan kirinya.


Berada di ruang rapat adalah sesuatu yang paling membosankan. Ia ingin pergi, tetapi dirinya tidak bisa karena sejatinya Wilson adalah seorang atasan, pemilik perusahaan, harus memberikan contoh yang baik untuk para karyawan.


Pandangannya terfokus pada slide presentasi. Dicermatinya setiap tulisan di sana, telinganya juga bekerja dengan baik, mendengarkan setiap penjelasan rekan kerjanya yang cukup meyakinkan. Kalau boleh jujur, Wilson malas jika harus menghadiri rapat di malam hari, ditambah lagi perutnya belum terisi oleh sejumput nasi. Akan lebih baik jika ia menyuruh Jack ataupun Leo untuk menggantikan posisinya. Namun, mengingat ini adalah proyek yang sangat besar, serta rapat yang dihadiri oleh pimpinan perusahaan yang akan bekerjasama dengannya, Wilson pun mau tidak mau harus menghadiri rapat ini. Ah, dia bukan pria malas yang selalu membebankan pekerjaan pada kaki tangannya, ia adalah salah satu bagian dari pria rajin di dunia. Wilson hanya ingin memanfaatkan kata 'bos' dengan baik, hanya itu.


Di dalam hati, Wilson menghitung mundur dengan netra yang sesekali melirik pada jamnya. Tepat di saat jarum panjang sudah menyentuh angka enam, Wilson segera bangkit dari kursinya, membuat seluruh perhatian tertuju padanya lagi. Tidak ada yang membuka suara saat Wilson mulai berjalan meninggalkan ruang rapat. Para rekan kerja hanya mengangguk pasrah saat beberapa karyawan berbisik pelan jika Wilson memang mempunyai waktu khusus dalam menghadiri rapat.


Itu peraturan yang Wilson tetapkan baru-baru ini, karena ya ... Ia tak bisa mengatasi rasa bosan kalau berada terlalu lama di dalam ruang rapat yang dinginnya mengalahkan Kutub Utara. Akan tidak sangat profesional jika nantinya para rekan kerja menangkap basah kalau kelopak matanya tengah tertutup dan alam mimpi datang membuai.


Lebih baik Wilson menetapkan hal ini, dirinya akan keluar dari ruang rapat jika sudah tiga puluh menit. Karena itu, kalau presentasi mereka ingin ditanggapi oleh Wilson, maka mereka harus bisa menyampaikan poin penting di awal presentasi. Jika mereka gegabah, malah melantur dan boros perkenalan, siap-siap saja Wilson angkat kaki dari ruang rapat tanpa mendengar poin penting dari presentasi tersebut. Dan akibatnya? Rencana kerjasama akan batal begitu saja tanpa toleransi.


Wilson berjalan dengan tangan yang bergerak memijat tengkuknya. Rasa penat menyelimuti, dirinya sudah tidak tahan untuk segera menginjakkan kaki di kediamannya dan melihat sang istri tercinta. Ah, pria itu sadar jika dirinya belum menghubungi Maureen sejak siang tadi, dan kemudian rasa bersalah datang bertamu.


Maureen pasti menunggu kabar darinya, itu yang terbesit pada pikiran Wilson.


Sesaat, Wilson menghentikan langkahnya karena atensinya menangkap sosok tak asing yang tengah berjalan ke arah ruangannya.


"Leo Zhang? Bukankah dia mengatakan tidak akan kembali lagi ke kantor?" Ia bertanya pada dirinya sendiri, menarik kesimpulan jika ada sesuatu yang tertinggal dan mengharuskan Leo untuk kembali ke gedung perusahaan.


"Dia pasti meninggalkan sesuatu di ruanganku, dasar ceroboh," lanjutnya, bersama dengan kakinya yang kembali ikut melangkah.


Wilson dapat melihat semuanya, mulai dari Leo yang masuk ke dalam ruang kerjanya, sampai dengan pintu cokelat tersebut tertutup rapat kembali. Melihat Leo, Wilson jadi berniat untuk mengajak temannya itu makan malam bersama. Namun, saat pintu ruangannya terbuka, kalimat ajakan makan malam tersebut refleks tergantikan.


"Apa yang kalian berdua lakukan?"


Kalimat itu langsung keluar dari belah bibirnya, sirat terkejut cukup tergambar jelas di wajahnya. Di depannya, dua orang berlawanan jenis ini tengah duduk berpangkuan dengan permukaan bibir yang saling menempel. Tengkuknya yang penat menjadi semakin penat, rasa lapar tiba-tiba saja tergantikan dengan sendawa kekenyalan virtual.


Pemandangan di depannya sukses membuat suasana hatinya menjadi buruk, seolah-olah awan hitam datang menemui. Hatinya mengumpati dua orang di depannya. Dari jarak ini, dapat Wilson lihat Veila yang mendorong dada Leo dan segera bangkit menjauh dari pangkuan pria yang penuh pesona itu.


Sedangkan Leo, ia hanya menoleh dan mengukir senyum, membuat Wilson merasa ingin melayangkan tinjunya di wajah polos Leo Zhang.


"Aku hanya memberinya hukuman karena sudah berani menyentuh dokumen rahasia perusahaan. Jangan menyalahkanku, oke? Masalah hukuman, kau bilang terserah, kan?" tuturnya santai tanpa rasa bersalah.


Wilson tentu tidak langsung menanggapi sahutan Leo barusan. Pria itu lebih dulu mengalihkan pandangannya ke sudut lain, menetralkan amarahnya, dan mengatur pasokan oksigen yang masuk. Wilson berusaha mati-matian untuk tidak terlihat marah, lagipula untuk apa dia marah? Mau Leo dan Veila berhubungan intim di ruangannya pun, ia tak akan pernah marah. Namun, lagi-lagi otak, hati, dan tubuhnya tidak sejalan. Wilson bingung, sungguh.


"Ya, apa pun itu aku tidak peduli. Mau kau menyetubuhi dia di sini pun, aku tidak akan marah," sungut Wilson membuat Leo tercengang.

__ADS_1


Tawa kecil keluar dari bibir Leo. "Benarkah?"


Wilson mengangguk. "Ya, selama kau tidak mengeluarkannya di dalam, itu bukan masalah untukku. Setidaknya hanya aku yang boleh menanamkan benih, dan seratus ribu dolar ini hanya boleh melahirkan penerus keluarga Hovers. Jika mau, kau bisa menunggu jika pernikahan ini usai." Pria itu berkata dengan santainya, mengobral Veila pada Leo dengan seenak jidat tanpa memikirkan perasaan si wanita.


"Gila." Gumaman itu keluar dari mulut Veila.


Mendengar penuturan Wilson tadi sungguh melukai harga dirinya sebagai seorang wanita. Kenapa ia terlihat tidak berharga sama sekali? Seratus ribu dolar tak sebanding dengan harga dirinya sebagai seorang wanita baik-baik, mendiang ibunya sudah susah-susah merawatnya, mengorbankan semua untuk hidupnya, tetapi kenapa masa depannya suram seperti ini? Kenapa jerih payah sang ibu seperti tidak ada harganya?


Wilson dan Leo, mereka berdua sama-sama menoleh karena mendengar gumaman kecil tersebut berhasil ditangkap oleh pendengarannya.


"Apa katamu?" Bukan Leo, melainkan Wilson. Pria yang barusan telah menginjak harga diri seorang Veila membuka suaranya, seakan-akan umpatan Veila tadi adalah tindak kriminal yang mampu membuat emosinya meledak.


Perlahan, Veila mengeluarkan kepalan tangannya. Helaan napas lelahnya terdengar kecil, dan setelah itu ia kembali berkata.


"Aku mau pulang sekarang." Tidak peduli, bagi Veila sekarang, tertangkap lagi oleh ayah tirinya adalah hal yang baik. Setidaknya luka fisik tidak seberapa sakit dibandingkan dengan luka penghinaan harga diri.


"Bukan itu kalimat yang aku dengar tadi!" bentak Wilson. Pria itu marah tanpa alasan yang jelas, seolah-olah kata gila haram untuk dilafalkan. Leo bahkan sampai terkejut dibuatnya karena ini adalah kali pertama ia mendengar Wilson membentak dengan sangat keras.


"Kau gila! Kau adalah pria kaya yang gila! Mentang-mentang uang adalah segalanya, kau menginjak harga diriku—"


"Kau yang gila! Mau sok suci tapi sering keluar masuk kelab malam? Hei, sudah ada berapa pria yang mencicipimu? Sudah seberapa sering kau membuat beberapa pria mendesah menyebut namamu? Sudah seberapa sering kau berada di bawah kukungan para pria? Tindakan kelewat sucimu itu membuatku ingin muntah! Harusnya kau bersyukur karena aku masih mau melakukan **** denganmu. Pria di luar sana? Sudah pasti jijik untuk memasukimu!" Wilson berkata panjang lebar dan diakhiri dengan napas yang terengah.


"Wilson Alexander Hovers—"


Dada Wilson berdesir pelan saat belah bibir Veila menyebut namanya dengan lengkap. Ini adalah pertama kali namanya disebut.


"Aku tidak punya harta, tidak punya cinta, dan sekarang tidak punya harga diri. Aku terlalu miskin untuk terus hidup. Jika nanti semuanya sudah berjalan sesuai dengan kemauanmu, akan bagus jadinya jika kau langsung membunuhku," lanjutnya, dan setelah mengeluarkan kalimat itu, Veila langsung pergi dari ruangan terkutuk ini.


"Wil, kau membuatnya menangis. Kata-katamu barusan juga sungguh keterlaluan," ujar Leo, mengingatkan kesalahan yang Wilson ucapkan. Sedangkan si pemulai pertengkaran hanya mampu terdiam. Hari ini adalah pertama kalinya ia mendengar Veila menyebut namanya secara lengkap dan melihatnya meneteskan air mata.


***


Wilson menekan gagang pintu, membuatnya terbuka, kemudian melangkah masuk ke dalam. Sudah kebiasaan baginya untuk masuk ke kamar Veila tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Dapat ia lihat jika kini Veila sedang berbaring di atas kasur dengan pandangan yang tertuju di layar ponsel. Entah apa yang sedang wanita itu tonton, Wilson mulai penasaran. Segaris senyuman menambah kadar kemanisan seorang Wilson Hovers. Pria itu tersenyum dengan sendirinya, membuat ia merasa menjadi pria paling gila saat ini.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, pria itu dengan seenaknya mulai mengisi bagian kasur yang hanya terisi oleh udara dingin, kosong. Dari dalam selimut tebal, tangannya merayap bergerak untuk mencari sebuah kehangatan, hingga akhirnya berhenti di pinggul Veila. Sentuhan dari Wilson yang lebih mirip dengan pelukan ini pun membuat Veila menoleh.

__ADS_1


"Apa yang kau tonton?" tanya Wilson, ikut melirik ke arah layar ponsel Veila.


Wanita itu menggeleng. "Bukan apa-apa, aku hanya tidak bisa mengalihkan perhatianku dari bayi imut-imut ini. Bukankah mereka lucu, Wil?"


Perkataan Veila barusan sukses membuat Wilson mengangguk. "Sebentar lagi, kita juga akan memilikinya. Rumah ini akan dipenuhi bayi-bayi yang lucu, pastinya," balas Wilson.


"Hei, Veila, mau membuat bayi yang lucu malam ini?"


Kalimat Wilson berhasil membuat Veila mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Apa?" Ia hanya bisa bertanya, selebihnya, ia tak bisa melakukan apa pun lagi karena sekarang Wilson sudah berada tepat di atasnya, mengurung dirinya dalam penjara tubuh kekarnya.


Veila tak bisa berkutik saat pandangannya terkunci penuh pada sosok Wilson yang kini tengah melepaskan kausnya dengan gerakan cepat. Salivanya tertelan begitu saja saat mendapati perut kotak-kotak milik Wilson. Oh, katakan saja ia tengah melihat sebuah surga dunia milik pria tampan—Wilson.


Mendapati Veila yang terkesima dengan tubuhnya, senyuman tipis pun tersungging. Perlahan, Wilson mulai mendekatkan tubuhnya, mengalami sensasi geli saat kulit polosnya bersinggungan langsung dengan pakaian tidur Veila. Dan tanpa izin terlebih dahulu, bibirnya sudah mengambil alih area leher si wanita, Wilson beruntung karena Veila hanya menggunakan pakaian tidur dengan belahan dada rendah, dan kemudian mulai menghisap kuat tulang selangka Veila. ******* yang keluar dari bibir si wanita sukses membuat sesuatu yang di bawah sana terasa sesak.


"W-wil—"


"Ssst, aku tahu kau pasti akan menikmati setiap sentuhanku. Malam ini, akan menjadi malam panas untuk kita," bisik Wilson, tepat di telinga kanan Veila. Si pria hanya tersenyum kecil saat mendapati Veila yang menggeliat, geli karena telinganya mendapat gigitan kecil, hadiah manis dari Wilson.


Setelah puas menggerayangi telinga Veila, Wilson pun mulai menjatuhkan tatapannya pada bibir merah alami milik si wanita. Sejak awal ia penasaran dengan rasa bibir itu, tetapi Leo sudah lebih dulu mencobanya, dan itu membuatnya marah besar. Tak terima jika Leo menjadi yang pertama.


Sambil tersenyum kecil, matanya pun terpejam. Wajahnya pun mendekat, berusaha mempertemukan dua bibir yang berbeda bentuk tersebut. Dan di saat dua benda kenyal itu hampir bertemu, Wilson membuka kedua kelopak matanya dengan paksa. Keringat dingin bercucuran dari dahinya, membasahi area rambutnya juga. Kasur berderit saat pria itu mendudukkan dirinya.


Mimpi sialan! Wilson mengumpat dalam hati.


Kenapa juga ia mengalami mimpi itu dengan Veila sebagai pemeran utamanya? Gila! Wilson rasa alam bawah sadarnya sudah kehilangan kewarasan.


"Kau mimpi buruk?" tanya Maureen yang kebetulan saat itu belum tidur, masih memainkan ponselnya.


Wilson refleks menoleh kemudian mengangguk. "Sangat buruk."


Mendengar itu, Maureen buru-buru meletakkan ponselnya di atas nakas dan mulai mendekat ke arah Wilson. "Ayo tidur lagi, pelukanku akan melindungimu malam ini," ujar Maureen, membuat Wilson tak bisa melunturkan senyumannya. Seperti anak kecil, pria itu menurut, membaringkan tubuhnya lagi dan segera memeluk Maureen dengan erat.


"Sudah lama kau tidak didatangi mimpi buruk, Wil. Apa semenakutkan itu sampai-sampai keringatmu bercucuran seperti ini?" tanya Maureen lagi dengan telapak tangan yang mengusap setiap permukaan wajah Wilson.


"Hmm, menakutkan sekali. Kurasa itu mimpi buruk sekaligus tergilaku," jawab Wilson. Perasaannya campur aduk, antara senang dan sedih karena mimpi tersebut terhenti di awal. Entah apa yang membuat itu hadir dan membuat Wilson tak bisa menghilangkan jejak bunga tidur tersebut.

__ADS_1


Dan di sisi terdalamnya, Wilson benar-benar ingin bercinta. Bukan dengan Maureen, melainkan Veila.


Aku gila! Batinnya.


__ADS_2