
Wilson panik setengah mati saat pagi buta, di mana langit baru saja mulai membiru, Veila membangunkannya, berkata dengan santai jika air ketubannya sudah pecah. Dibandingkan Veila, Wilson lebih panikan, mengira jika sesaat setelah air ketuban pecah, maka beberapa menit setelahnya pasti akan langsung melahirkan— korban drama.
Pria itu juga sedikit menceramahi ketenangan Veila di saat dirinya benar-benar panik. Wilson tahu, air ketuban yang sudah pecah menandakan jika Veila sudah siap untuk melahirkan dan segera diharuskan untuk menginap di rumah sakit. Karena itu, Wilson segera membawa Veila ke rumah sakit terbaik hanya dengan menggunakan piyama dan juga tanpa sempat membasuh wajah.
Namun, sesampainya di rumah sakit, dokter berkata jika Veila baru mengalami pembukaan empat menandakan jika si wanita sudah siap untuk melahirkan, tetapi belum waktunya untuk mengeluarkan bayi. Hal tersebut tentunya membuat Wilson gelisah dan semakin tidak tenang. Padahal Veila yang disuruh dokter untuk berjalan mengitari kamar inap agar pembukaannya mencepat, terapi justru Wilson yang melakukannya karena panik.
Wilson sudah menelepon orang tuanya, dan mendapat jawaban jika mereka akan segera ke sana saat matahari sudah mulai terlihat. Saat orang tuanya sudah tiba pun mereka hanya bisa terkekeh saat melihat raut wajah pucat Wilson, seakan-akan ialah yang berada di posisi Veila. Mereka juga hanya bisa melihat bagaimana Wilson bolak balik memanggil dokter saat Veila mengadu jika kontraksinya semakin terasa kuat dan sakit.
Pada saat Veila sudah dipindahkan ke ruang Vie, dan dokter bilang jika sekarang si calon ibu sudah berada pada tahap pembukaan delapan, Wilson yang kebetulan diizinkan untuk masuk pun tetap berdiri di sebelah Veila. Harus sedikit sabar karena kontraksi yang dirasakan Veila semakin terasa sakit. Apalagi Wilson harus rela saat Veila menarik rambutnya dengan kuat karena tak tahan menerima rasa sakit.
Baru pembukaan delapan, tetapi Veila sudah terlihat lelah dengan tubuh yang dibaluri keringat dingin. Melihat ini rasanya Wilson ingin menghentikan niatnya untuk memiliki anak lagi. Dan pada pembukaan sembilan, rasa iba terus menguat—Veila terlihat pasrah dan berkata jika dirinya ingin mengejan, tetapi dokter belum mengizinkan hal tersebut selama belum masuk pada tahap pembukaan sepuluh.
Veila berkata pada Wilson jika rasa mulasnya sudah terasa sangat hebat dan terasa seperti ada tekanan yang sangat besar ke arah bawah, seperti ingin buang air besar dan itu tentunya membuat Wilson mati kutu karena panik dan hanya bisa menuruti kata dokter yang sudah berada di ruangan agar Veila jangan mengenjan terlebih dulu.
Puncaknya ketika dokter berkata jika Veila sudah memasuki pembukaan sepuluh dan mulai memberi instruksi untuk Veila agar memposisikan dirinya dengan baik sesuai dengan arahan dokter dan juga dibantu oleh dua suster. Wilson menelan salivanya dengan susah payah, bahkan bisa dibilang jika Wilson hampir tak bisa menelan air liurnya sendiri saat melihat bagaimana perjuangan Veila dalam mengeluarkan anak mereka.
__ADS_1
Yang bisa Wilson lakukan sekarang adalah menghapus keringat di dahi Veila, mengecup keningnya sesekali sambil menyerukan kata-kata untuk menyemangati, dan ikut membalas genggaman Veila yang semakin menguat. Menatap Veila yang mengenjan dengan setengah mati membuat Wilson merasa bersalah atas kelakuannya saat membuahi Veila. Bagaimana cara ia merobek selaput dara sang istri dengan kasar, mengira jika keperawanan Veila sudah bobol terlebih dahulu, dan ternyata ia adalah orang pertama yang memasuki Hyewon.
Harusnya, jika ia bisa melihat masa depan dan tahu jika sakitnya melahirkan akan separah ini, akan lebih baik jika ia bermain sedikit lembut dengan Veila. Sebuah kesalahan yang memang sudah berlalu dan hanya bisa diingat.
Setelah melewati tiga jam dengan berbalutkan darah, keringat, dan air mata, Wilson dan Veila pun akhirnya bisa bernapas lega saat mendengar suara bayi yang menangis dengan kencang. Berkali-kali Wilson mengecup kening Veila sembari membisikkan kata terima kasih karena sudah mengandung dan melahirkan anak pertama mereka dalam kondisi sehat. la ingin menangis terharu, tetapi rasa gengsi dan tak mau diolok oleh dokter ataupun suster pun membuat Wilson tidak jadi menangis. Mungkin setelah ini ia akan menangis diam-diam di dalam kamar mandi.
Setelah merampungkan proses melahirkan—ternyata bukan hanya sekedar mengeluarkan yang bayi saja, baby Hovers yang sudah dibersihkan dan melakukan pengukuran pun langsung diletakkan dokter di dada Veila agar mereka berdua ibu dan anak bisa berinteraksi, dari kulit ke kulit atau skin to skin contact.
Padahal Wilson sudah merasa greget untuk membantu anaknya dalam menemukan puncak dada Veila untuk melakukan proses menyusui pertama kali, tetapi dokter berkata jika bayi tidak boleh dibantu karena baiknya si bayi dan ibu harus saling melakukan interaksi secara alami. Wilson terkekeh dalam hati, setidaknya ia lebih pintar dari baby Hovers dalam menemukan puncak dada Veila.
Yang menunggu diluar ruang pun merasa lega saat tangisan bayi sudah dapat ia dengar, merembes keluar menyambangi indera pendengaran mereka yang berada di luar ruangan. Nyonya dan Tuan Hovers yang paling senang karena sebentar lagi mereka akan segera menimang cucu untuk pertama kalinya.
***
"Oh, kau mau ke mana?" Leo yang saat itu baru masuk ke dalam kamar inap Veila pun segera bergegas mendekat, membantu Veila untuk berdiri. Pria itu mendapat perintah dari Wilson untuk membawa tas yang tertingal di kamar, yang berisi pakaian Veila—saking paniknya, Wilson sampai tak sempat mengambil tas tersebut. Leo pun segera meletakkan tas tersebut di atas ranjang, dengan tangan satunya yang masih memegang lengan Veila.
__ADS_1
Setelah mengucapkan terima kasih, Veila pun segera berkata, “Ingin ke ruang bayi. Kau mau ikut, Leo? Kau juga belum sempat melihat bayinya, kan?" Tentunya Leo mengangguk semangat, sangat ingin melihat wajah anak Veila apakah lebih mirip ibu atau ayahnya.
"Pakai kursi roda saja. Biar aku yang dorong. Ibu yang baru melahirkan tidak terlalu boleh banyak bergerak," tutur Leo seraya mengambil kursi roda yang berada di pojok ruangan.
Veila tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Leo dan tak berapa lama mereka berdua segera meninggalkan kamar inap dan pergi menuju ruang bayi. Tepat di saat Leo tengah asyik bercerita dan mereka juga hampir sampai di ruang bayi, Veila menepuk punggung tangan Leo, mengisyaratkan agar pria itu menghentikan dorongannya.
Leo yang saat itu tidak mengerti maksud dari Veila pun mulai mengalihkan pandangannya ke arah depan. Tepat di depan sana, mereka berdua bisa melihat Wilson yang tengah membelakangi mereka, tengah berbicara dengan Maureen.
Pupil Leo melebar ketika mendengar apa yang Wilson lontarkan, mengarahkan kedua tangannya pada telinga Veila agar tutupan tak seberapanya dapat menghalangi suara yang masuk. Namun, Veila segera menyingkirkan tangan Leo dengan lembut. "Biarkan aku mendengarnya, Leo."
"Kita pergi saja, ya. Balik ke kamar dulu. Nanti kita balik lagi ke sini—”
"Biarkan aku melihat dan mendengarnya, Leo," pinta Veila, suaranya bahkan sudah bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Membuat Leo tidak tahu harus berbuat apa.
Saking sudah tak sanggup menangan tangisannya lagi, isakan Veila pun mulai keluar dan mampu di dengar oleh dua orang yang sedang berbicara di depan sana. Wilson menoleh, mendapati Veila dan Leo yang berada tak jauh darinya. Mendapati Veila yang menangis di atas kursi roda membuat Wilson sudah sigap berbalik, hendak pergi ke arah Veila. Namun, Maureen justru menahan lengan Wilson, meminta pria itu tetap berada di sini dan menuntaskan perkataannya.
__ADS_1
"Bawa aku pergi dari sini, Leo—” Itu kalimat terakhir yang Veila ucapkan sebelum akhirnya terus menangis karena perkataan Wilson yang ia dengar selalu terbayang-bayang di pikirannya. Benar, kebahagiaan itu hanya sementara.
Bersambung ....