
Playlist : Siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi' (HIV!)
Veila menutup buku dongeng yang sengaja ia buat dengan kreativitasnya sendiri dan kemudian mulai mendekatkan bibir guna mengecup kening Christian. Padahal dongeng yang Veila ceritakan sudah habis dibaca, tetapi sang anak belum juga menutup matanya seperti malam-malam biasa.
“Mama, kenapa ibu beluang harus pelgi meninggalkan ayah beluang?" tanya Christian, matanya mengedip lucu, membuat Veila gemas dan mulai menarik hidung mancung anaknya.
"Kasihan ayah beluangnya nangis." Christian protes, tak menerima akhir dongeng yang dikisahkan oleh ibunya.
Perlahan, sudut bibir Veila terangkat, ia tersenyum sekilas. "Karena kesepakatan awalnya sudah begitu, ketika bayi beruangnya lahir, maka orang tuanya harus berpisah." Christian yang tidak terlalu mengerti pun tetap protes, masih belum bisa menerima akhir kisah dongeng yang ibunya ceritakan.
Veila memerhatikan wajah anaknya dengan teliti, seketika ia tersenyum dan berceletuk, "Matamu mirip papamu, ya. Lucu," kekeh Veila membuat Christian tersenyum dan membalasnya dengan semangat.
"Milip papa Leo, kan? Teman-temanku bilang jika mataku mirip sepelti papa Leo, sepelti bulan... bulan apa ya, Ma?" Christian balik menatap Veila, menunggu jawaban yang akan ibunya sampaikan. Senyuman pun kembali terlukis, dielusnya puncak kepala Christian lalu menjawab, "bulan sabit. Jika tertawa matamu akan hilang. Mirip seperti papa Leo."
Christian mengangguk semangat, membenarkan perkataan ibunya. Teman-temannya sering berkata jika matanya sangat indah, mirip dengan ayah yang sesekali menjemputnya saat dirinya baru saja masuk taman kanak-kanak.
Semenjak Veila pergi dari Wilson, tinggal di suatu kota yang jauh, Leo selalu datang mengunjungi mereka. Membelikan Christian pakaian baru, mentraktir makan makanan enak, mengajak jalan-jalan jika ada waktu senggang. Sampai-sampai Christian meminta izin untuk memanggil Leo dengan panggilan papa, yang tentunya sama sekali tidak memberatkan si pria. Saat ditanya, jika besar Christian ingin jadi apa oleh gurunya, anak kecil itu selalu berkata, aku ingin jadi supelman seperti papa Leo! Membuat Veila terkadang kewalahan karena Christian yang selalu bertanya tentang Leo.
"Tapi hidungnya mirip sepertiku, kan? Setidaknya tak pesek seperti Leo." Veila dan Christian sama-sama menoleh, dan setelahnya sang anak segera bangun dari posisi berbaringnya, berjingkrak sebentar di atas kasur seraya merentangkan tangannya dan kemudian kakinya pun sudah mulai nakal, hendak terjun menuruni kasur.
Melihat itu, Veila pun segera menahan Christian dan memberi teguran, "Chris, kau kan sudah cuci tangan dan kaki serta gosok gigi, jangan turun dari kasur. Biarkan Papamu yang ke sini, ya."
Memang untungnya Christian yang penurut, anak itupun tak jadi turun dari kasur dan malah melompat di atas kasur, menunggu kedatangan sang ayah yang sudah berjalan menghampiri.
__ADS_1
"Papa!" pekik Christian senang sembari menghamburkan diri dalam pelukan tubuh kekar sang ayah. Dua pria beda generasi itu saling berpelukan lama sebelum akhirnya mengakhiri karena Veila yang berceletuk. "Wil, kau belum mandi? Chris, ayo lepaskan pelukannya, biarkan papamu mandi dulu—"
"Chris, mamamu iri. Sepertinya ingin dipeluk juga," bisik Wilson dan diiringi dengan tertawaan kecil Christian. Veila menghela napasnya, setelah itu segera meraih tangan Christian dan menuntunnya untuk kembali berbaring di ranjang. "Wil, sebaiknya kau mandi dulu."
"Eh, Chris ingin tidul dengan Papa, dan Mama juga. Papa nanti saja mandinya, ya. Temani Chris tidul dulu," protesnya, membuat Wilson tersenyum sembari menatap Veila yang sudah pasrah dan tak bisa bergeming menolak permintaan anaknya.
Setengah jam mereka habiskan di dalam kamar kecil ini guna menemani Christian menutup matanya. Sampai akhirnya, Veila bisa mendeteksi jika anaknya sudah tertidur dan mulai beranjak dari kasur. "Akan kusiapkan air hangat untukmu," gumam Veila yang ditujukan untuk Wilson, melegang pergi meninggalkan kamar anaknya dengan segera.
Wilson yang melihat Veila pergi meninggalkan kamar dengan cepat pun segera ikut menyusul, tak lupa memberikan ciuman di kening untuk anaknya terlebih dahulu. Dengan langkah besar, Wilson segera menangkap presensi Veila, memeluknya dari belakang dengan dagu yang sudah bertumpu sempurna pada pundak wanitanya. "Aku merindukanmu."
"Kau mengatakannya setiap malam, Wil. Huh, lepaskan tanganmu. Aku harus menyiapkan air hangat untukmu," perkataan Veila barusan langsung ditepis Wilson dengan gelengan.
la belum mau mandi, lagipula tubuhnya tidak mengeluarkan bau tak sedap, justru masih wangi-wangi saja. Veila terkesiap saat Wilson melepaskan pelukannya, mengira jika kemanjaan sang suami sudah tidak kumat lagi. Namun, dugaannya salah karena Wilson melepaskan pelukannya hanya untuk membalikkan tubuh Veila, membuat mereka berdua saling bertukar pandang.
"Iya aku tahu, Wil," tukas Veila seraya memberikan senyuman tipis. “Jadi, lepaskan dulu tanganmu dari pinggang―"
Tak rela melepaskan pelukannya yang terlampau erat pada pinggul Veila, pria itupun segera mencumbu mesra birai ranum sang istri. Memangut dan menghisapnya dengan penuh kelembutan saking rindunya. Oh, ini adalah ciuman pertama mereka setelah empat tahun berpisah, enam bulan melakukan pendekatan kembali, dan enam bulan tinggal seatap. Wilson tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Veila mengira jika Wilson sudah mengakhiri pangutan panas mereka, tetapi nyatanya pria itu malah mengangkat Veila, menyilangkan kedua kaki Veila pada pinggangnya sampai-sampai si wanita memekik dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Wilson, dan kemudian kembali menyambar bibir Veila yang hampir membengkak karenanya. Dibawanya Veila ke dalam kamar, dan mulai melepaskan ciumannya dengan napas keduanya yang sudah tersenggal.
"Wil, hei, berhenti membuka kancing bajumu," cekal Veila dengan wajah yang sudah memerah. Salah satu tangannya bahkan sempat menahan tangan kanan Wilson yang tak berhenti membuka kancing baju. Bukannya berhenti, Wilson justru terus membuka kancing kemejanya dengan bibir yang menyunggingkan senyum tipisnya, hingga berhasil membuat wajah Veila tertoleh ke samping karena tak sanggup menyaksikan tubuh atas Wilson yang sudah terlihat.
"Kenapa mengalihkan wajahmu, hmm?" goda Wilson, berhasil membuat wajah yang sudah merah pun semakin memerah.
__ADS_1
Veila menggeleng. “Kancing kembali bajumu dulu." Wilson tak sanggup mengulum senyumnya, membiarkan sudut bibirnya terangkat dan memperlihatkannya pada Veila. "Kalau begitu tolong kancingkan," gumamnya pelan. Membuat Veila terbelalak sebelum akhirnya mulai memajukan kedua tangan, hendak mengancing kembali kemeja Wilson.
Pergerakan tangan Veila tiba-tiba terhenti, padahal kancing pertama saja belum berhasil ia kaitkan. Napasnya tersenggal saat tangan Wilson menyelinap masuk ke dalam kaus tipisnya, mengusap perutnya dan menggoda area pusarnya. Melihat Veila yang menggigit bibir bawahnya bahkan sudah membuat sesuatu yang terkurung di dalam celana mendesak, minta untuk segera dikeluarkan.
"Dua hari yang lalu, Christian berkata padaku jika dia ingin punya adik. Katanya, semua temannya memiliki adik, hanya dia yang tidak punya." Sembari mengatakan itu, tangan Wilson yang tadinya tengah bermain pada area perut Veila pun mulai bergerak, merayap menuju belakang punggung. Tak butuh waktu lama, pengait bra milik Veila berhasil ia lepaskan. Mendapati itu, dengan gemetar karena gugup, Veila pun mulai menggerakkan kedua tangannya menuju belakang punggung, hendak mengaitkan bra nya kembali. Namun sayangnya, Wilson lebih cepat dalam menahan tangan Veila, tak membiarkan penyangga dada itu kembali terkait sempurna.
"S-setidaknya mandi dulu," tutur Veila, tak membiarkan Wilson mendekatkan wajah pada perpotongan lehernya. Bisa-bisa dirinya yang akan lepas kendali dan meminta lebih, bukannya Wilson. Pria itu pandai dalam meningkatkan libido Veila. Wilson menggeleng, lalu mulai mengarahkan bibirnya pada telinga Veila dan mulai meggigitnya kecil. Pria itu sudah tahu dimana letak kesensitifan Veila, telinga, dada, dan juga sesuatu yang sebentar lagi akan ia masuki di bawah sana.
"Untuk apa mandi jika nantinya akan jadi lengket lagi?" tanyanya, memandangi Veila yang napasnya sudah terengah, seperti habis lari dengan rute yang panjang. Dengan bersemangat, iapun mulai menggerayangi tubuh Veila, mulai dari bagian atas dengan memberikan sentuhan-sentuhan yang mampu membuat de ssahan Veila keluar, hingga akhirnya berhenti di bagian pusat Veila yang masih dibaluti oleh pakaian dalam.
Wilson tersenyum sekilas. "Sudah basah, Sayang," bisiknya. Setelah itu ia mulai membuka seluruh pakaiannya dan juga melucuti pakaian Veila tanpa tersisa, tak lupa menutupi tubuh polos mereka berdua dengan selimut tebal.
"Aku ingin anak kembar," ungkap Wilson.
Bagaimana cara mereka bertemu lagi? Biarkan itu menjadi sebuah rahasia untuk mereka berdua.
Tamat ....
Banyak yang komen tentang part 2 nya mana? Jadi ini kukasih Extra Part aja, ya.. Ini udah benar-benar tamat, ya. Nggak ada tambahan lagi.
Karena udah tamat betulan, ayo pamitan sama Wilson, Veila, Leo dan Maureen. Mereka berempat udah mewarnai cerita ini dengan apik. Oh, jangan lupakan nyonya Cruz yang minta dihujat, Xavier yang petakilan, serta orang tua Wilson yang mengerti sang anak.
Jangan lupa berterima kasihlah pada Charlie dan keegoisan Maureen. Karena mereka Wilson - Veila bisa bersatu.
__ADS_1
See you and thank you, guys.