Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 27


__ADS_3

Desakan sang ibu sukses membuat Wilson segera memesan tiket penerbangan ke pulau xxx malam itu juga. Nyonya Hovers adalah tipikal ibu yang selalu bertanya terus-terusan, dan Wilson adalah seorang anak yang tak suka ditanyai, apalagi diingatkan tiap hari. Untuk itu, agar ia tidak mendapat teror panggilan masuk ataupun pesan singkat, ia pun segera memesan tiket sepulang dari kediaman sang ibu.


Pria itu juga serius dengan niat hatinya, mengajak Maureen untuk menghabiskan waktu di pulau xxx. Karenanya, tanpa beban, Wilson langsung memesan empat tiket pesawat kelas terbaik. Untuknya, Maureen, Veila, serta Leo. Sebenarnya, Wilson juga tidak tahu apa yang memotivasinya untuk memesan empat tiket sekaligus tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu.


Biarpun Veila sedang duduk di sebelahnya, pria itu sama sekali tidak berniat untuk membicarakan hal ini. Ia juga tidak menelepon Leo terlebih dahulu untuk mengkonfirmasi apakah temannya itu bisa ikut atau tidak. Wilson Alexander Hovers, ia hanya asal pesan, mengikuti nalurinya dengan sangat baik.


"Sesampai di rumah, segera kemasi pakaianmu seadanya. Besok pagi kita harus pergi ke pulau xxx," titah Wilson, membuat kepala Veila tertoleh.


Tiga menit mobil mereka menepi di pinggir jalan yang sepi, dan tiba-tiba saja, saat tuas rem kembali ditarik dan mobil kembali bergerak, kalimat mengejutkan itu lolos dari bibir Wilson. Bukankah pergi bulan madu juga harus perlu kesepakatan dua belah pihak? Ah, Veila merasa ia benar-benar tidak dianggap oleh sosok angkuh yang tengah menyetir ini. Lagian, apa yang mau di harapkan dari pria di sebelahnya ini? Memberikan sedikit cinta dan kasih sayang barang sejumput saja? Huh, itu adalah keajaiban jika memang terjadi.


Veila tidak ingin membuka hatinya terlalu lebar lagi, ia trauma, takut jika akhir yang buruk akan menimpanya lagi. Sudah cukup ia termakan oleh rayuan dan kalimat manis dari Charlie saat itu, dan sekarang, Veila hanya ingin meraih kebahagiaan kecil saja. Namun pertanyaannya, adakah orang yang mau memberinya setitik kebahagiaan di hidupnya yang suram ini?


Semoga ini cepat berakhir, aku ingin bahagia. Ia berkata seperti itu karena sadar, selama ia masih terikat dengan Wilson yang kejam, dirinya belum dapat bahagia.


"Kau mendengarku, kan? Jangan terlalu banyak diam dan tanggapi perkataanku. Apa berbicara saja begitu sulit untukmu?" sungut Wilson, merasa jika Veila hanya menanggapinya dengan tolehan, yang jujur saja itu tidak memuaskan, dengan bibir yang tetap terkatup rapat.


Merasa kalau ia belum juga mendengar satu katapun keluar dari bibir Veila, Wilson pun segera menghentikan laju mobilnya secara mendadak, membuat Veila benar-benar terlempar ke depan. Jika saja tidak ada pengaman yang melindungi tubuhnya, mungkin keningnya akan terantuk dashboard lalu memerah.


"Susah sekali bicara dengan orang yang tidak pernah sekolah tinggi sepertimu. Bisakah sehari saja kau tidak membuatku kesal dan menghilangkan rasa untuk mencekikmu? Kau tidak bisu, tidak juga tuli, tanggapi aku, sialan!" Wilson marah, tetapi bukan hanya karena tak suka diabaikan.


Kemarahannya ini masih didasari oleh rasa pahit dari air mata Maureen pagi tadi. Entah kenapa, bagi Wilson, Veila pantas untuk dijadikan pelampiasan emosinya yang meledak-ledak. Wanita ini hanya diam dan diam, membuat Wilson benar-benar merasa puas jika harus memarahinya atau melakukan sesuatu yang buruk pada sang istri kedua.


Dan juga, ini adalah fakta yang tidak masuk akal, Wilson merasa jika Veila adalah kesalahan terbesarnya. Ya, mengambil Veila dari kelab malam, membawanya ke rumah, sampai dengan menikahinya adalah kesalahan paling fatal yang Wilson lakukan. Jika saja ia bisa memikirkan cara lain agar masalah anak bisa terselesaikan tanpa harus ada orang ketiga, mungkin ia tidak akan pernah melihat air mata kesedihan Maureen lagi.


Di mata Wilson, Veila Amor tidak tahu apa pun, selalu saja terlihat salah. Seperti sudah hukum alamnya, derajat yang lebih rendah akan selalu salah di mata si derajat paling tinggi. Dari semua kejadian yang telah dikumpulkan, apakah Veila masih pantas untuk disalahkan oleh Wilson? Mungkin para ahli yang melihat ini akan menganggap jika Veila adalah wanita yang pasrah akan hidup dan tidak sepenuhnya salah, dan berbalik, mereka akan menilai jika Wilsonlah yang berbuat salah di sini. Namun, bagi seorang penguasa yang punya segalanya seperti Wilson, Veila adalah seseorang yang bersalah.

__ADS_1


Wilson mengusap wajahnya dengan kasar, helaan napas berat pun ia keluarkan, dan sedetik kemudian ia berucap, "Keluar dari mobilku sekarang. Kau bisa pulang jalan kaki, aku tidak mau semobil denganmu."


Veila cukup terkejut saat mendengar perkataan Wilson barusan, tetapi dirinya juga sudah tidak heran lagi dengan pria pemarah ini. Namun, mengingat jika ini sudah malam, dan udara mulai mendingin, Veila pun memberanikan diri untuk menyerukan pendapatnya.


"Di luar dingin dan gelap, rumahmu juga masih jauh, aku juga tidak punya uang untuk naik taksi. Tidak bisakah, kau mengantarku pulang sampai ke rumah dengan selamat?" ungkapnya.


Dan bukannya memaklumi, Wilson malah makin kesal. Harusnya Veila mengerti kondisi Wilson sekarang, pria itu akan terus merasa bersalah jika melihat wajah Veila. Rasa bersalah karena mengkhianati Maureen benar-benar tumbuh besar dengan baik, menyebar begitu saja di hatinya, seperti tanaman merambat yang menyebar dengan cepat.


Kali ini Wilson tidak berkata apa pun. Pria itu hanya mengeluarkan dompetnya, menarik lembaran dolar dan melemparnya tepat di wajah Veila.


Benar-benar Wilson Alexander Hovers yang tidak punya perasaan dan hobi menjatuhkan harga diri. Veila kembali terluka karena perlakuan Wilson kepadanya.


"Bilang saja kalau ingin meminta uang. Gunakan itu untuk naik taksi, dan sekarang keluarlah dari mobilku tanpa memberi alasan apa pun lagi!" hardik Wilson, sangat menusuk dan membuat hati serta harga diri Veila terluka.


Ini bukanlah drama romantis yang biasa tayang di televisi dan bisa menjadi topik pembicaraan hangat para netizen. Veila tidak akan pernah melakukan tindakan dalam drama, di mana si pemeran utama akan berkata :


Melakukan itu di saat seperti ini bukanlah sesuatu yang baik, apalagi malam ini udara benar-benar dingin dan rasa letih yang sudah menyambar, mendekap erat. Yang Veila lakukan sungguh kebalikan dari adegan dalam drama.


Tak mau muluk-muluk, Veila pun segera meraih uang yang berceceran di pahanya dan jok penumpang, walau agak sulit, tetapi ia berhasil mengumpulkan semuanya. Ia melakukan itu karena dirinya butuh uang untuk naik taksi.


"Terima kasih."


Segaris senyum pahit terlukis di wajahnya, kata terima kasih terlontar begitu saja dari mulutnya, membuat Wilson mau tak mau ikut melirik dan memandang remeh si wanita. Uang dapat membuat siapapun tunduk, Wilson mempercayai hal itu.


Dan tanpa menunggu lama, Veila pun segera keluar dari dalam mobil, menutup pintunya dengan pelan sampai-sampai Wilson yang harus menutupnya dari dalam karena tidak tertutup dengan baik. Dan begitulah, selang beberapa detik kakinya menginjak tanah, mobil tersebut sudah melaju meninggalkannya sendiri di bawah langit malam.

__ADS_1


"Jika aku bertahan, maka aku bisa bahagia setelah ini. Namun, jika aku tidak mampu lagi untuk membuka mata guna melihat kehidupan dunia, akan lebih baik jika aku meminta Wilson untuk membunuhku. Setidaknya penderitaan duniaku akan usai dan tinggal mempertanggungjawabkan semua dosaku pada Tuhan," gumam Veila, menyeret kakinya untuk lebih dekat dengan sebuah palang rambu.


Matanya tertutup sejenak guna merasakan betapa dinginnya angin malam yang membelai permukaan wajahnya. Namun, tiba-tiba mata sang wanita terbuka saat merasakan jika ujung hidungnya ditumpahi oleh setetes air alami. Yang awalnya rintikan kecil pun kini berubah menjadi sedikit deras.


Veila celingukan, tetapi ia tidak menemukan tempat untuk berteduh. Wilson menurunkannya di jalan polos tanpa atap singgahan, sangat tepat sasaran jika ingin melihat Veila diguyur hujan sampai basah kuyup.


"Bahkan dunia saja menangis saat melihatku. Aku sudah tidak sanggup, tapi aku dipaksa untuk terus hidup. Aku berkelakuan baik selama di dunia, tapi kenapa tak ada satupun balasan indah untukku?" kesalnya dengan tangan yang turut meremas uang pemberian Wilson.


"Hei, Nona Amor! Apa yang kau lakukan di bawah hujan? Kau bukan anak kecil lagi yang suka mandi di bawah hujan, harusnya kau mencari tempat berteduh—" itu Leo dengan payungnya.


Perkataan pria itu terhenti karena sadar tidak ada tempat yang cocok untuk dijadikan tempat singgah sesaat guna menghindari diri dari guyuran hujan.


"Kau ... Menangis?" tanya Leo, menundukkan wajahnya, berusaha menemukan titik laju air mata yang terlapisi oleh hujan. Veila heran, kenapa Leo selalu datang di saat Wilson selesai menyakitinya? Leo, dia seperti malaikat tanpa sayap yang selalu siap siaga untuk menopang kaki Veila, membuat wanita itu merasa tenang karena masih ada yang peduli padanya—walau ia tak tahu apa motifnya.


Gelengan kepala yang Veila berikan tidak membuat seorang Leo Zhang percaya. Ia mendekatkan wajahnya dan menyipitkan matanya, masih berusaha untuk mencari bulir air yang tersamarkan.


Napas Veila tercekat saat melihat Leo yang melepaskan payungnya begitu saja dan kemudian menempelkan kening mereka, membuat puncak hidung keduanya saling bersentuhan. Sedetik kemudian, Leo tersenyum manis, berusaha membuat matanya terus terbuka walaupun terasa sakit karena terkena rintikan air. Bibir pria itu terbuka, terlihat sangat seksi di bawah guyuran air hujan, lalu perlahan bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu.


"Mari menangis bersama, Veila. Aku juga sedang terluka. Mari saling menghapus kepedihan di bawah hujan." Tangan Leo bergerak perlahan, meraih kedua sisi pinggul Veila dan mulai menariknya mendekat. Sangat intim, terlalu dekat, seakan tak ada jarak. Ditambah lagi pakaian yang basah membuat seolah-olah mereka tak mengenakan sehelai benangpun. Berbeda dengan Leo, Veila terlalu panik karena kikisan jarak, berusaha untuk menjauh, tetapi Leo tidak membiarkan.


Sementara di ujung jalan sana, beberapa meter dari tempat Leo dan Veila berada, terparkir rapi mobil mewah yang menurunkan Veila dengan seenaknya. Wilson Alexander Hovers berada di dalam sana tengah menyaksikan romantisme didasari luka yang diperagakan oleh dua aktor berbakat. Tanpa sadar, tangannya meremas kemudi mobil, merasa jika itu adalah sesuatu hal yang tak patut dilakukan oleh Leo dan Veila.


"Pria itu benar-benar sialan, aku menyuruhnya untuk menjemput Veila, bukan untuk bermesraan di bawah hujan," geram Wilson, memukul kemudinya sekali dengan penuh kekesalan.


Leo melakukan adegan ini untuk menjalankan misinya—membuat Wilson cemburu? Jawabannya tidak. Kali ini ia tidak melakukan itu seperti biasanya. Semua yang ia lakukan adalah benar-benar didasari oleh keinginan hatinya yang tengah terluka.

__ADS_1


Andai aku yang membelimu, bukan Wilson. Kau pasti adalah pelampiasan luka yang terbaik, Veila.


Wilson dan Leo, mereka berdua sama saja. Sama-sama terluka dan menjadikan Veila sebagai pembalasan.


__ADS_2