
Sebenarnya Veila sudah berkata jika ia akan turun dari pesawat sendirian dan mulai berpisah dari Justin. Namun, pria itu malah bersikukuh agar mereka berdua untuk turun bersama, dan berakhir dengan Hyewon yang tangannya sudah dikunci oleh Justin. Pria itu banyak bertanya, dan Veila hanya membalas dengan seadanya.
“Sayang sekali wanita cantik sepertimu masih belum dimiliki orang," celetuknya, membuat Veila merasa tak enak pada si pria.
"Eh tapi sebenarnya aku—"
Lagi-lagi perkataan Veila disela oleh Justin. "Aku tahu, tidak apa. Biasanya orang cantik kebanyakan masih betah sendiri. Oh ya, boleh minta nomor teleponmu agar aku bisa menghubungimu untuk mengajakmu pergi berkeliling kota—"
Kalimat Justin otomatis terpotong saat ia melihat seorang pria mencekal pergelangan tangan Veila dan menarik si wanita agar menjauh dari sisi Justin. Melihat itu, tentu saja Justin tidak terima dan mulai protes, "Hei! kau tidak boleh—"
Wilson pun menoleh dan menatap Justin dengan tajam, lalu memperingatkan, "Tutup mulutmu dan diam! Cih." Dan setelah itu, tanpa menggubris perkataan Justin, Wilson segera membawa Veila dengan cepat untuk pergi menjauh. Sedangkan setelah itu, Justin segera menoleh setelah mendapat rangkulan pada bahunya.
"Sayang sekali, teman. Kau salah sasaran dalam menggoda wanita. Suaminya marah saat melihat istrinya digoda. Ah, jika terjadi sesuatu yang buruk pada si wanita, mau tanggung jawab?" jelas Leo seraya meremas bahu Justin kuat.
Dan setelah puas dan mendapati permohonan maaf dari Justin, Leo pun segera melepaskan rangkulannya dan berkata sekali lagi. "Ya, ya... aku tahu jika ibu hamil kecantikannya akan bertambah dua kali lipat. Tapi sayang sekali, kau menggoda orang yang salah," lanjutnya dan setelah itu segera pergi meninggalkan Justin.
Sementara di area yang berbeda, tetapi masih di tempat yang sama—bandara, Wilson masih menarik tangan Veila, memaksa wanita itu untuk mengikuti langkahnya yang terkesan besar dan cepat.
Karena khawatir, Veila pun kemudian berceletuk cepat, "Wilson! Tidak bisakah kau membawaku dengan sedikit pelan? Aku sedang hamil."
Mendengar itu, Wilson pun mulai mengurangi kecepatan langkahnya, mengela napas sejenak, lalu mensejajarkan langkahnya dengan Veila. Mendapati itu, Veila pun akhirnya bisa bernapas dengan sedikit tenang dan melirik Wilson sejenak, lalu-seakan ingat sesuatu, ia pun menoleh ke belakang. "Di mana Leo Zhang?"
Pertanyaan yang Veila lontarkan barusan pun sukses membuat pria itu berhenti melangkah, merasa tak suka jika birai si wanita meloloskan nama pria lain dengan begitu mudahnya apalagi pria itu adalah Leo yang statusnya sekarang adalah selingkuhan Maureen.
"Kenapa bertanya tentang Leo padaku?“ Gusar Wilson, lalu melanjutkan langkahnya dengan tangan yang kini mulai berhenti mencekal pergelangan tangan milik Veila, menggantinya dengan sebuah genggaman lembut yang mengunci pada jari-jari si wanita.
"Kau mengajaknya juga, kan?" tanya Veila dan langsung mendapat jawaban dari Wilson. "Tidak! Aku dan kau, hanya berdua. Tidak ada Leo atau siapapun itu. Jadi, berhentilah bertanya tentang Leo!" Lalu, setelah kalimat tersebut keluar dari bibir Wilson, Veila pun hanya bisa mengikuti si pria dalam mencari mobil, serta supir yang sengaja dia sewa, dan pergi menuju hotel, berdua.
__ADS_1
***
Kebetulan sekali, di depan hotel ada sebuah butik yang masih buka pada jam sebelas malam yang sebenarnya hendak tutup. Tanpa mengatakan apa pun, Wilson segera membawa Veila masuk, membuat wanita itu kembali tercengang saat melihat deretan baju yang dipajang.
Butiknya lebih mewah daripada butik yang pernah ia datangi saat menemani Wilson dan Maureen kala itu, pakaiannya juga terlihat berbeda dari pakaian dari butik yang pernah ia datangi. Hal tersebut, pakaian-pakaian yang berjejer itu mampu dan tak sanggup membuat Veila meneguk ludahnya untuk melanjutkan langkahnya dari tempatnya berpijak sekarang.
"Kau bisa pilih apa pun, aku akan membayarnya. Tolong pilih pakaian yang bagus karena seleramu itu jika dilihat-lihat sangatlah kampungan," ujar Wilson, nada sarkasmenya berhasil membuat setiap sudut bibir Hyewon menciut.
"Aku tidak tertarik," balas si wanita pelan, agak kecewa dengan kalimat Wilson yang terang-terangan menyindirnya.
Melihat raut wajah Veila yang berubah seketika, Wilson sadar jika perkataannya barusan telah menyenggol sisi emosional seorang wanita hamil. Karena itu, saat ini Wilson sedang berpikir keras untuk mencairkan suasana.
"Kalau begitu, aku saja yang memilih. Ayo cepat, butiknya sudah mau tutup," ajak Wilson dan kemudian mereka berdua segera masuk lebih dalam dan mencari pakaian bersama.
Veila yang sejak tadi tengah sibuk melihat-lihat pun segera membeku saat merasakan jika seseorang tengah menyampirkan sebuah pakaian tebal berwarna biru pada kedua pundaknya.
“Beli pakaian yang tertutup saja. Jangan beli yang terlalu terbuka, aku tidak suka dan kau juga tidak cocok mengenakan pakaian terbuka." Wilson berkata seraya memberi isyarat agar Veila turut memasukkan kedua tangannya secara bergantian untuk mencoba pakaian yang Wilson pilih.
"Kenapa dadamu jadi lebih besar?" Pria itu sedikit kaget, dan otomatis, tanpa ragu langsung mendapat pukulan kecil pada bagian puncak kepalanya.
"Jangan meremasnya, itu sakit! Lagipula aku kan sedang hamil, wajar jika da**ku jadi lebih besar dari sebelumnya," kesal Veila, masih sedikit merasa nyeri pada bagian dadanya karena ulah Wilson. Mendengar itu, wajah Wilson langsung memerah dan segera mengaitkan kancing pakaian yang masih tersisa dengan cepat.
la berdehem sebentar, lalu berkata, "Apa pakaiannya ketat dan menekan perutmu?“ Pria itu melihat Veila dari arah belakang karena memang sejak awal ia berada di belakang Veila, merasa sedikit khawatir jika pakaian yang ia pilih terlalu ketat dan menekan.
Veila menggeleng. "Sepertinya tidak. Mungkin karena aku mengenakan pakaian lagi di dalamnya, jadi ini terlihat sempit."
Wilson mengangguk, lalu memutuskan untuk membeli pakaian yang sempat ia sematkan tadi. Dan di saat dirinya hendak pergi ke arah lain, ia pun masih sempat berceletuk, "Jangan lupa beli pakaian dalam. Ganti bramu dengan ukuran yang lebih besar juga."
__ADS_1
Veila membalasnya dengan anggukan, lalu segera pergi ke sisi yang berbeda dari Wilson.
Setelah hampir setengah jam berada di dalam butik, mereka berdua pun segera keluar dan pergi ke hotel yang kebetulan berada di seberang.
***
Suasana hati Wilson yang tadinya sudah mulai membaik, kini menjadi hancur kembali saat melihat Leo yang berdiri di sampingnya, tengah mengantri untuk check-in.
"Kenapa kau harus menginap di sini?" gumam Wilson pelan, tetapi masih bisa ditangkap oleh pendengaran Leo.
Pria itu sempat menoleh ke arah Veila yang berada di belakang Wilson, tersenyum ramah sekilas lalu kembali mengalihkan perhatiannya kepada Wilson. "Ini yang paling dekat dari lokasi fashion week adikku. Memangnya aku tidak boleh menginap di sini, Tuan Wilson yang terhormat?"
Tak menjawab lagi, Wilson pun segera menyelesaikan proses check-in nya, lalu segera mengambil kartu kamarnya dengan cepat, tak lupa membawa Veila juga bersamanya. "Nomor tiga ratus lima," tutur Wilson, saat mereka berdua sudah berada di lorong lantai sepuluh dan tanpa disadari Leo yang kebetulan juga sudah selesai check-in-pergi ke lantai sepuluh dengan lift berbeda kini juga sudah berada di lorong pun berceletuk.
"Oh, sepertinya kamar kita berseberangan, Nona Amor."
Mendengar itu, Veila pun menoleh dan tersenyum. Membiarkan Wilson untuk berjalan lebih dulu ke kamarnya, sedangkan ia justru mensejajarkan langkah dengan Leo.
Namun, Wilson malah berhenti melangkah, tidak sengaja mempersilakan dua orang tersebut untuk berjalan di depannya.
"Sebelum ke sini, aku sempat mampir ke toko souvenir dan membeli ini. Kurasa, gelang ini cantik jika kau yang mengenakannya," tunjuk Leo, membuat Veila kembali tersenyum saat melihat barang kecil yang Leo perlihatkan padanya.
Lalu, pria itupun melanjutkan kalimatnya, "Kemarikan tanganmu, biar kupakaikan." Tidak ada penolakan, Veila segera menyodorkan tangan kanannya, dan Leo pun dengan senang hati memakaikan gelang pemberiannya.
"Terima kasih," ucap Veila dan mendapat balasan serta senyuman sekaligus dari Leo.
Setelah itu mereka mulai berbincang seperti biasa, hingga akhirnya Wilson berceletuk geram, "Hei, mau ke mana? Kamarmu di sini!“ Mendengar itu, Veila menoleh dan segera pamit, sedangkan Leo kembali tersenyum.
__ADS_1
"Selamat malam!" seru Leo, tetapi tidak mendapatkan balasan karena Wilson yang sudah membawa Veila masuk terlebih dulu ke dalam kamar.
Bersambung ....