
Suara klakson mobil membuat Veila sedikit tersentak dan segera mendongakkan kepalanya. Beberapa jam terakhir ia banyak melamunkan sesuatu, pikirannya sering melayang, membayangkan apa yang akan terjadi jika Wilson mengetahui pasal kehamilannya. Tidak, bukan maksud Veila untuk menyimpan kabar ini sendirian, hanya saja ia belum terlalu siap untuk mengatakan itu pada Wilson dan juga Maureen.
Sudah sejak lama Veila tahu perihal Maureen yang tak bisa memberikan keturunan pada keluarga Hovers karena masalah pada rahimnya, membuat Veila merasa tidak enak untuk mengatakan jika sekarang dirinya tengah mengandung anaknya Wilson. Terlalu jahat? Itu yang Veila pikirkan jika kabar ini ia sampaikan dalam waktu yang cepat dan tiba-tiba. Terlebih ada satu hal yang ia takuti di saat ia telah mengatakan perihal kabar besar itu.
la takut Wilson malah memarahinya. Ibaratnya, seperti Veila yang tak bisa menjaga perasaan Maureen. Padahal sebenarnya, jika Veila berpikir lebih jauh, maka ia akan mengingat poin perjanjian yang membuat mereka berdua terlibat dalam sebuah pernikahan, yaitu anak.
Klakson mobil terdengar sekali lagi, kali ini lebih panjang daripada yang pertama, membuat Veila segera meraih tas selempang kecil miliknya yang sengaja ia letakkan di kursi teras rumah, menyampirkannya di bahu kanan, dan kemudian bergegas menuju mobil hitam yang familiar, mobil milik Leo.
Pagi tadi, Leo memang sempat membisikinya perihal waktu janjian untuk pergi ke rumah sakit guna memeriksa kehamilannya. Pukul satu siang, setelah jam makan siang berakhir, itu waktu yang Leo janjikan. Dan sekarang, pria itu datang sedikit lebih awal, dua puluh menit lebih cepat dari waktu janjian. Sedangkan Veila, wanita itu memang sengaja menunggu di depan teras rumah lebih dulu dari waktu janjian agar Leo tak perlu repot-repot menungguinya.
Veila masuk ke dalam mobil dengan cepat, tanpa sempat menoleh ke arah kursi pengemudi yang ia kira ada Leo di sana, karena Leo adalah pria baik yang selalu berbicara dengan lemah lembut terhadap wanita, mengabaikan Leo adalah satu hal yang tak perlu Veila cemaskan.
Lagipula, pria itu memang sering dirinya abaikan, pasalnya Veila sama sekali tak punya hal bagus untuk diceritakan, hidupnya terlalu buruk untuk dikisahkan. Akan menjadi sesuatu hal yang memalukan jika dirinya menceritakan kepahitan yang selama ini menimpanya. Biar hanya dirinya yang menyimpan seluruh luka, tak perlu melibatkan orang lain karena mereka belum tentu menjadi obat untuk seluruh atau sebagian luka hidupnya.
Namun hebatnya, ia selalu menjadi wanita lemah di hadapan Leo. Pria itu sering melihat kesedihan Veila lewat air mata yang lolos dari bendungan pelupuk mata.
"Oh ya Leo, jika sampai di rumah sakit nanti, kau—" Perkataan Veila otomatis terhenti saat kepalanya tertoleh ke samping tepat mengarah ke kursi kemudi.
Melihat siapa yang tengah menyetir sekarang nyatanya sukses membuat matanya membesar dan mulutnya langsung mengatup rapat. Pantas saja klakson mobil dibunyikan dengan keras, karena pria yang tengah mengemudi ini adalah sosok suaminya sendiri, Wilson Alexander Hovers.
"Apa yang mau kau katakan? Cepat lanjutkan!" Sentak Wilson saat sadar jika perkataan yang Veila lontarkan berhenti secara otomatis, sengaja digantungkan dan membuat Wilson merutuk di dalam hati.
Sentakan Wilson yang sebenarnya berisi sebuah desakan pun terpaksa membuat Veila menggelengkan kepalanya, tak ada maksud untuk melanjutkan semuanya karena pria yang tengah berada di kursi kemudi bukanlah sosok Leo, orang yang ia percayai.
__ADS_1
Faktanya, gelengan Veila membuat Wilson benar-benar kesal. Ia sudah memulai perkelahian kecil dengan Leo di kantor, membebankan seluruh pekerjaannya pada Leo، mulai dari memeriksa dokumen sampai menghadiri rapat tertutup dengan karyawan kantor, ia juga merampas mobil Leo secara terang-terangan dan pergi begitu saja sebelum jam makan siang usai saat tahu waktu janjian Leo dengan Veila.
Sejujurnya, ia masih bingung dengan dirinya sendiri. la yang menjadikan Veila sebagai salah satu karakter dalam game kehidupan yang dia buat, menciptakan permainan ini setelah memikirkannya secara matang dengan tujuan untuk merebut hati Maureen dari Leo kembali. Tak ingin meletakkan secuil pun perasaan sebagai nyawa dari karakter dalam permainan yang ia buat tersebut.
Namun sekarang ini, kenapa dirinya terlihat seperti telah meletakkan perasaan di dalam game-nya? la bukannya marah karena Leo adalah pria beruntung yang menang banyak atas kepemilikan dua orang wanita—Veila dan Maureen, tetapi Wilson rasa ia marah karena cemburu?
Namun, apakah benar ia cemburu di saat hatinya masih terisi dengan sosok Maureen?
"Kau bahkan menolak kebaikanku untuk membawa dokter Robert ke rumah agar dia bisa memeriksamu. Dan sekarang, kau malah menerima ajakan Leo untuk pergi ke rumah sakit. Hei, kau itu istri siapa? Leo atau aku?" Wilson kembali menyentak Veila, tidak lebih kuat dari sebelumnya, nada bicaranya sengaja ia turunkan sedikit agar tidak membuat wanita itu takut padanya dan berakhir dengan sebuah kebisuan yang memuakkan.
"Tentu saja aku istrimu, hanya saja sekarang ini konteksnya berbeda. Aku menerima tawaran Leo karena—"
Tidak ada celah untuk Veila melanjutkan perkataannya karena Wilson—seperti biasa menyela kalimat yang wanita itu ucapkan.
"Kenapa kau marah begini padaku? Bukankah di dalam perjanjian awal tertera jika kita menikah hanya untuk status anakmu?" Pertanyaan yang Veila lontarkan barusan sukses membuat Wilson skakmat, tak tahu lagi harus membalasnya dengan kalimat seperti apa. Seperti permainan catur, bidik miliknya yang tersisa hanyalah raja yang bisa dimakan kapan saja.
Seketika, Wilson berdehem setelah sempat meneguk salivanya beberapa kali. "Jadi intinya, kau menyukai Leo?" tanyanya, nada bicaranya sudah kembali normal, tidak membentak ataupun menjadi lebih tinggi.
Veila menghela napasnya sejenak, ingin mengatakan kata tidak, tetapi lidahnya kembali keseleo dan jadi mengucapkan kata 'ya' yang berhasil membuat mobil milik Leo yang Wilson kendarai pun berhenti berjalan.
"Kau—"
Wilson menggeram terhenti, memandangi Veila lewat ekor matanya karena tak berani untuk menatap langsung.
__ADS_1
"Tidak apa, jika kau ingin menurunkanku di tengah jalan seperti kebiasaanmu pada umumnya. Aku akan turun sekarang dan akan pergi dengan taksi ke rumah sakit sendiri. Selama aku masih punya dua kaki dan bisa melangkah dengan baik, kenapa harus meminta orang yang tempramental sepertimu untuk menemaniku?" ujar Veila yang merupakan sebuah kejutan besar bagi Wilson.
Wilson mengira jika itu adalah sebuah ancaman karena seperti kejadian-kejadian sebelumnya, Veila tak suka jika seseorang menurukannya di tengah jalan—tidak mengantar sampai tujuan. Karenanya, saat kalimat tersebut selesai lolos dari bibir Veila, yang Wilson lakukan adalah menertawakan perkataan si wanita, sengaja memberi sebuah remehan lewat tertawaan memuakkan yang khas miliknya.
Namun, siapa yang menyangka jika Veila akan benar-benar keluar dari dalam mobil Leo, meninggalkan si pria yang masih menganga tak percaya di dalam sana sendirian? Tentulah hal tersebut malah membuat Wilson mengumpat dan akhirnya ikut keluar, berniat untuk menyeret Veila masuk lagi ke dalam mobil.
'Berbaiklah sedikit pada Veila jika kau tak ingin aku mengambilnya.' Kalimat yang Leo lontarkan saat mereka berdebat kecil kembali terngiang saat tangan Wilson berhasil meraih lengan si wanita.
Leo Zhang adalah pria yang mampu memporak-porandakan hati Wilson lewat perkataannya, seakan tahu apa yang menjadi kelemahan atasannya sekarang. Dan Wilson, ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri karena sudah terlibat jauh dalam permainan perasaan ini.
"Jangan mempersulit dan memperlama! Kau kira aku hanya hidup dan bernapas untuk mengurusimu? Cepat masuk kembali sekarang!" geram Wilson, menarik lengan Veila dengan unsur paksaan, tetapi tidak sekasar biasanya.
Namun, tindakan yang Veila lakukan malah membuat Wilson tercengang tak percaya. Wanita itu, dengan beraninya menepis tangan Wilson, menyingkirkan tangan si pria dari area lengannya, dan kemudian, dirinya malah terkejut akan perbuatannya sendiri barusan.
Wilson sedang marah dan Veila malah membuat emosi itu semakin membuncah. Tiba-tiba saja rasa takut menyerang, tak mau jika Wilson menamparnya dan malah mengasarinya karena perbuatan refleksnya.
Namun, yang Wilson lakukan justru mendekat dan mengangkat—ah tidak, yang Wilson lakukan sekarang lebih dapat dikatakan seperti sebuah gendongan, dengan santainya, pria itu menggendong Veila, membawanya masuk kembali ke dalam mobil, menjadikan tindakannya sebagai drama penghibur di siang bolong saat jalanan tengah macet.
Hal yang justru membuat Veila membeku dan tak bisa mengatakan ataupun melakukan apa pun. Pria itu dengan beraninya menggendong Veila di depan umum, di saat wajahnya bisa dilihat oleh banyak orang, padahal faktanya, Wilson sangat tak ingin pernikahan kedua ini diketahui oleh khalayak banyak, yang jikalau hal tersebut dilihat banyak orang, maka akan menjadi sebuah pertanyaan besar.
"Emosiku sedang naik, jadi, jangan macam-macam lagi jika tak ingin kukasari, mengerti?" tanya Wilson, sengaja melihat ke arah Veila, menangkap anggukan yang wanita itu lakukan, lalu kembali melajukan mobilnya. Siang ini adalah hari yang berat untuk Wilson.
Bersambung ....
__ADS_1