Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 31


__ADS_3

Setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Maureen, Wilson pun segera meninggalkan sang istri, keluar begitu saja tanpa menggubris panggilan yang Maureen layangkan untuknya. Tidak peduli, sekeras dan selembut apa pun suara sang istri, Wilson tetap melangkahkan kakinya menjauh, membawa dirinya keluar dari vila.


Rencananya ingin menghirup udara segar dan melampiaskan rasa emosi serta kecewanya dengan memukul sesuatu, tetapi tanpa disengaja, pandangannya tiba-tiba tertuju pada dua orang yang tengah duduk berdekatan di sebuah bangku. Di saat nama Veila terbesit di dalam otaknya, tiba-tiba saja Wilson mulai merasa jika Veila adalah objek yang tepat untuk dijadikan sebagai pelampiasan. Ia bisa melakukan apa pun pada Veila secara sudah banyak uang yang sudah ia keluarkan untuk membeli wanita itu.


Dengan cepat, ia pun segera menggerakkan kakinya mendekat ke arah dua orang tersebut. Samar, ia dapat mendengar perkataan Leo, tidak jelas, tetapi ia bisa menangkap beberapa kata seperti 'menemanimu' dan 'membutuhkan'. Dan cengkeraman tangan serta tarikannya sukses membuat Veila tak jadi membalas perkataan Leo. Tanpa mengatakan apa pun, dengan sedikit kasar, ia segera menarik Veila menjauh. Namun, semuanya tidak berjalan mulus karena Leo turut ikut andil dan menggenggam tangan kiri Veila، membuat langkah Wilson terhenti dan memaksanya untuk berbalik dan bertukar tatap dengan Leo.


"Jangan membawanya dengan kasar, Wilson. Dia sedang sakit. Jika memerlukannya, kau bisa membawanya dengan sedikit lembut," tandas Leo dengan tangan yang masih mencengkeram pelan pergelangan tangan Veila.


Seperti yang dikatakan sebelumnya, Wilson merasa emosi jika harus bertatapan dengan Leo. Masih terpatri jelas kalimat Leo dan Maureen lontarkan, sesuatu hal yang sukses membuat hati Wilson hancur berkeping, tak bisa lagi disatukan. Sengaja, pria itu pura-pura tidak tahu dan membiarkan hal itu terjadi, ingin melihat sebatas mana kemampuan mereka untuk bertahan dan menyembunyikan hal gila tersebut. Lagian, ia punya sosok Veila, wanita yang tepat untuk dijadikan pelampiasan rasa sakit.


"Jangan ikut campur," desis Wilson, menatap nyalang Leo dan menarik Veila, membuat cengkeraman Leo terlepas lalu Veila yang tertarik ke belakang.


Sedikit terkejut saat mendapati nada yang ketus, Leo pun merasa heran dan banyak bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang membuat suasana hati Wilson memburuk?


"Aku tidak ikut campur, hanya mengingatkan agar kau sedikit lebih lembut padanya," balas Leo, sedikit tersulut emosi juga karena nada bicara Wilson yang seakan-akan mengajaknya untuk berperang.


Wilson tak mau menghabiskan suaranya untuk membalas perkataan tak guna yang Leo layangkan. Hanya menatap sesaat, kemudian ia segera menarik Veila kembali. Cepat dan terburu-buru, langkah Wilson tak bisa Veila imbangi dan akhirnya membuat dirinya terjatuh dengan bunyi lutut yang terbentur dengan cukup kuat.


"Cepat berangkat!" bentak Wilson, memaksa Veila untuk segera berdiri dari posisi jatuhnya. Hal tersebut tentu saja membuat Leo tak bisa tinggal diam dan akhirnya berlari kecil menghampiri Veila yang tengah berusaha untuk kembali berdiri tegak, lalu mengulurkan tangan untuk membantunya.


"Wilson Alexander Hovers! Kau keterlaluan! Kau memperlakukannya seakan ia pantas untuk dikasari secara fisik ataupun mental. Jika tahu seperti ini, akan lebih baik jika kau tidak menebusnya!" Leo emosi, paling tidak tega jika harus melihat seorang wanita dikasari oleh seorang pria. Walaupun ia juga menjadikan Veila sebagai tempat pelampiasan, tetapi ia tidak bermain kasar seperti Wilson.

__ADS_1


"Jangan sentuh dia, sialan!" makinya, melayangkan tinjunya pada wajah Leo, membuat pria itu terhuyung dan sudut bibirnya terluka. Wilson menghantam wajahnya dengan cukup kuat, sampai-sampai membuat sebuah luka baru.


Melihat itu kedua mata Veila membulat, buru-buru ia segera berdiri lalu menampar wajah Wilson.


"Aku sudah cukup sabar menghadapimu. Bagaimana bisa kau memukulnya hanya karena dia berniat membantuku? Sebenarnya hatimu terbuat dari apa?!" Veila membentak Wilson dengan suara yang bergetar. Jujur saja, ia menampar Wilson karena refleks. Melihat pria itu meninju Leo membuat keberaniannya sesaat timbul ke permukaan dan akhirnya berani melayangkan sebuah tamparan kuat yang dapat mengalihkan wajah Wilson.


Tidak ada yang namanya mengalah pada kamus hidup seorang Wilson Hovers. Emosinya semakin membuncah tatkala Veila Amor ikut campur dengan semuanya. Seenaknya menampar tanpa tahu kondisi hati yang sesungguhnya. Wilson Alexander Hovers, ia melayangkan tinjuan karena merasa kesal telah dikhianati oleh Leo, sangat wajar, 'kan?


Hanya saja pria itu meninju Leo dengan perkara objek yang berbeda, Veila. Merasa benar-benar kesal dengan Veila, Wilson pun balas menampar. Bunyi pipi yang bersinggungan dengan telapak tangan terdengar menggema di malam yang sunyi. Wilson menampar Veila dengan cukup kuat, lebih kuat dari tinjuannya pada Leo.


"Wilson Hovers!" pekik Leo, berlari mendekat ke arah Wilson dan turut melayangkan satu bogeman kuat sebagai pembalasan karena telah menampar Veila yang tidak tahu apa pun.


Wilson terkekeh dengan hati yang menangis, lalu tanpa mau membalas meninju, ia pun langsung menarik lengan Veila kembali, membawa wanita seratus ribu dolarnya masuk ke vila dan meninggalkan Leo di pekarangan yang gelap.


Wilson tak menggubris panggilan Maureen. Ia hanya melewati sang istri tanpa menoleh dengan tangan yang masih betah menyeret Veila dengan kasar. Dirinya bahkan pura-pura tak melihat sosok Maureen. Istri tercintanya itu harus diberi pelajaran atas sesuatu yang sudah dia lakukan. Entah ke mana Wilson membawa Veila, yang pasti bukan ke kamar si wanita atau bukan kamar yang ia tempati dengan Maureen. Pria itu membawa Veila kesembarang kamar, menutup pintunya dengan kasar kemudian segera mendorong Veila, membuat wanita itu jatuh telentang di atas ranjang.


"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Veila, suaranya bergetar, tatapan tajam Wilson sukses membuatnya takut. Bolehkah ia minta maaf sekarang karena telah menampar Wilson tadi?


Tidak ada balasan yang keluar dari bibir Wilson, pria itu tidak mau membuang-buang waktunya hanya untuk membalas pertanyaan konyol tersebut. Dengan tak sabaran dan dirinya yang dilingkupi emosi, Wilson segera merobek gaun tidur Veila, membuat wanita itu menjerit dan terpekik, berusaha untuk menutupi tubuhnya yang hanya ditutupi oleh pakaian dalam.


"A-aku minta maaf karena sudah menamparmu tadi. Jangan perlakukan aku seperti ini, kumohon," gumam Veila, menggelengkan kepalanya kuat, berusaha untuk hal yang tidak-tidak. Ia tahu dirinya salah karena sudah menampar pria angkuh penuh kuasa ini, tetapi setidaknya bukankah balasan tamparan yang Wilson layangkan pada pipinya sudah cukup disebut sebagai pembalasan?

__ADS_1


Seakan tuli dan buta hati, Wilson pun tidak menghiraukan perkataan memelas yang Veila tunjukkan. Tidak ada secuil pun rasa kasihan, yang ada hanyalah pikiran untuk melampiaskan sakit hatinya. Tak perlu jauh-jauh untuk pergi dan menyewa wanita malam di kelab, jika di depannya sekarang ia sudah punya orang yang pantas—bagi Wilson— untuk dijadikan pelampiasan emosi.


Tidak butuh waktu lama bagi Wilson untuk menanggalkan celananya dan merobek ****** ***** Veila. Seruan ampun yang Veila lontarkan seakan tak ada gunanya, Wilson Alexander Hovers, pria itu langsung memasukkan kejantanannya begitu saja tanpa ada pelumasan terlebih dahulu. Benda tumpul dengan ukuran yang lumayan besar tersebut berhasil Wilson masukkan, merobek selaput darah Veila, membuat bercak darah berceceran di atas sprei putih saat pria itu mulai menggerakkan tubuhnya.


Dapat Wilson rasakan jika bahunya terluka karena cakaran Veila saat ******* berusaha untuk masuk ke dalam sana. Ia juga bisa mendengar pekikan tertahan yang keluar dari belah bibir Veila. Namun kemudian, saat ****** sudah masuk sepenuhnya dan pinggangnya sudah ia gerakkan dengan cepat, tiba-tiba saja pergerakannya terhenti. Maniknya melihat banyak darah yang menodai sprei putih, dadanya berdebar kencang, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah wajah Veila.


Wanita itu menangis karena merasakan sakit yang teramat sangat, nyawanya seakan dicabut saat benda tumpul tersebut membobol dirinya, jika seperti ini rasanya ia ingin mati saja, lagipula rasanya sama-sama sakit, walaupun Veila tahu proses pencabutan nyawa rasanya jauh lebih sakit.


Sial! Wilson kira Veila sudah tidak perawan lagi, karenanya ia langsung memasukkan miliknya begitu saja, tanpa melumasinya terlebih dahulu. Kupu-kupu malam biasanya sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Namun, kenyataannya, Veila masih seorang gadis, dan Wilson malah memasukinya dengan kasar, tanpa pelumasan terlebih dahulu.


"K-kau masih perawan?" Wilson bertanya, melihat Veila yang berusaha untuk tidak menangis lagi.


Wajahnya yang awalnya tertoleh ke arah kanan, kini mulai beralih menatap Wilson. Selama beberapa detik, mereka masih saling berpandangan sebelum akhirnya mata Veila kembali mengabur. Air matanya terjatuh mengalir melewati pipinya, tangannya pun ikut meremas sprei putih dengan sedikit kuat.


"Wilson itu sakit," katanya dengan tangis, membuat Wilson benar-benar melemah. Diraihnya tangan Veila yang tengah meremas sprei dan kemudian mulai menyatukan jari-jari tangan mereka. Wilson meremas jari-jari kecil Veila dengan kuat. Berharap wanita itu berhenti menangis karena ulahnya.


Tak hanya sebatas saling menyatukan jari yang ukurannya berbeda, Wilson pun turut memberikan ciuman pada bibir Veila.


Selain tamparannya sukses membuat pipi Veila memerah, sudut bibir yang beberapa hari lalu terkoyak pun kembali terluka, luka keringnya kembali terluka. Ini adalah kali pertama Wilson menyesap bibir seorang wanita yang terluka. Rasa besi berkarat serta asin yang berasal dari air mata pun menyapa mulutnya. Tanpa berniat mengakhiri sesuatu yang tanggung di bawah sana, Wilson pun langsung melanjutkan aktivitas yang sempat terhenti tadi, tentunya dengan bibir mereka yang masih melakukan penyatuan.


Veila rasa ia tak bisa melakukan apa pun lagi selain pasrah akan semuanya. Membiarkan Wilson menciumnya, serta membiarkan Wilson menghancurkannya juga. Sekarang ini tidak ada lagi yang patut ia banggakan dalam dirinya, dan yang tersisa saat ini hanyalah penantian untuk bahagia di kemudian hari, hanya itu yang ia harapkan sekarang.

__ADS_1


Setelah melakukan pelepasan, menyemburkan benih berharganya pada rahim Veila, Wilson pun segera menindih tubuh Veila—lebih tepatnya terjatuh—menarik napasnya sesaat dan kemudian membisikkan sesuatu sebelum akhirnya melepaskan penyatuan mereka.


"Jangan menangis. Aku minta maaf." Itu yang Wilson bisikkan. Kalimat langka yang mungkin tidak akan pernah Veila dengar di masa depan.


__ADS_2