Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 56


__ADS_3

Jika aku melakukan cara ini, bisakah aku tinggal di sisimu untuk waktu yang lebih lama?


Maureen berdiri dalam diam dengan pandangan lurus ke depan, menatap sebuah bangunan dengan luas enam puluh meter persegi yang berdiri tegak di sana. Ia baru saja pulang dari kediaman kedua orang tuanya, dan tak menyangka jika akan pulang sebelum jam makan siang tiba. Sebenarnya, ia sudah berencana untuk kembali ke rumahnya saat sore tiba, tentu saja karena masih banyak yang harus ia lakukan di kediamanan kedua orangtuanya, apalagi sekarang sang ayah sedang jatuh sakit, membuat Maureen merasa ingin terus berlama-lama di sana, menemani sang ibu yang mudah cemas.


Namun, setelah ia bercerita tentang kehamilan Veila pada ibunya, wanita paruh baya itupun langsung menyuruh Maureen lebih tepat mengusir—untuk menginjakkan kakinya ke tempat ini— apotek.


Dengan susah payah, Maureen pun segera melangkahkan kedua kakinya untuk masuk ke dalam apotek yang buka dua puluh empat jam tersebut.


Bukan apotek besar di pusat kota, ibunya sengaja memberikan alamat sebuah apotek yang berada di pinggir kota, di mana apotek tersebut banyak menjual obat-obatan ilegal yang tidak disahkan oleh Negara untuk dijual sembarangan. Bibir dalamnya ia gigit pelan saat pintu apotek tersebut ia dorong dengan pelan—seperti tidak ada tenaga untuk membukanya membuat atensi dua apoteker yang sedang berjaga di depan pun tertuju padanya.


Ia meneguk ludahnya dengan kasar saat mendengar salah satu apoteker wanita bertanya, "Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" Satu pertanyaan yang membuat tubuhnya semakin mendekat dengan si penanya.

__ADS_1


Pertanyaan tersebut tentu langsung tak dijawab oleh Maureen, melainkan, setelah mendekat, yang ia lakukan adalah mengetuk-ngetuk telunjuknya pada meja laboratorium seraya memperhatikan jejeran obat-obatan yang terpajang di depannya di belakang si apoteker.


Setelah mendapat satu pertanyaan yang sama sekali lagi, iapun melepas gigitan pada bibir dalamnya dan mulai menjawab, "Tolong satu tablet misoprostol."


Mendengar apa yang dipesan oleh Maureen barusan berhasil membuat kedua bola mata si apoteker membesar, tetapi saat ini, dirinya tidak bisa berbuat apa pun selain mengambilkan misoprostol yang dimaksud.


"Apakah tablet obat tersebut bisa tolong dihancurkan? Maksudku, dibuat jadi semacam puyer agar mudah larut dalam air," pintanya, dengan suara yang bergetar, tetapi pelan.


"Aku akan membayarmu lebih jika kau mau menghaluskan tablet obat tersebut," sambar Maureen yang tentu saja berhasil membuat si apoteker tergiur dan menyanggupi permintaan Maureen.


Ia meminta agar Maureen bisa menunggu sebentar selama dirinya pergi ke area dalam untuk menghaluskan misoprostol tersebut.

__ADS_1


Dan di sini, Maureen menunggu dalam kecemasan. Perkataan sang ibu yang terkesan memprovokasi sukses membuatnya melakukan hal mengerikan ini.


Apa kau ingin Wilson pergi darimu? Kau mau kehilangan cinta dari suamimu? Kau pikir mudah untuk membagi hati tanpa adanya keberpihakan? Pertanyaan bertubi-tubi dari sang ibu sukses membuat kepalanya berdenyut. Ya, dirinya akui jika ia sangatlah egois, menginginkan Wilson dan Leo di saat yang bersamaan.


Memang, ia bahkan sudah berencana untuk meninggalkan Wilson, tetapi keberadaan Veila membuat satu keraguan mencuat dalam dadanya. Ia jadi tak mau kehilangan Wilson dalam waktu secepat ini.


"Ini obatnya." Ucapan si apoteker pun berhasil membuat Maureen tersadar dari lamunannya dan segera mengambil plastik berisi misoprostol yang telah dihaluskan. Tak menunggu lama, setelah obat tersebut berpindah tangan, iapun segera mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan menyerahkannya kepada si apoteker dengan cepat. Namun, bukannya langsung masuk ke dalam taksi— yang sudah ia sewa, wanita itupun justru berhenti tepat di depan apotek, tak jauh dari bangunan yang tak begitu luas tersebut.


Dipandanganya plastik berisi puyer yang tengah ia genggam, tangannya bergetar, menatap obat itu dengan penuh rasa takut. "Veila, maafkan aku," gumamnya, lalu segera memasukkan obat tersebut kedalam tas hitamnya dan melanjutkan langkahnya menuju taksi yang menunggunya.


Bersambung ....

__ADS_1


Note: Misoprostol adalah obat yang digunakan untuk memicu kehamilan, melakukan aborsi, mencegah dan menangani ulkus peptikum, dan juga untuk menangani pendarahan postpartum akibat kontraksi uterus yang buruk.


__ADS_2