
Veila sama sekali tidak berani menyentuh alkohol. Padahal Leo sudah berkali-kali menawarinya segelas anggur yang lezat, tetapi Veila selalu menolak dan lebih memilih untuk menghilangkan dahaga dengan air jeruk.
Sepertinya pesta pun sudah hampir selesai, terlihat dari beberapa orang yang sudah mulai pamit pulang dan pergi meninggalkan ballroom. Veila sebenarnya juga ingin pulang, sudah sedari tadi meminta Leo untuk mengantarnya kembali. Dan tentunya Leo menyetujui itu, tetapi Veila harus menunggu sedikit lebih lama karena ada sesuatu mendadak yang harus Leo urus bersama dengan Jack.
Tak ada pilihan lain, yang Veila lakukan pun hanyalah berdiri dan mengamati ballroom yang sudah semakin kacau ini. Musik klasik masih mengalun indah, iapun kadang terhanyut dengan nada yang tercipta. Matanya pun tak lepas dari beberapa orang yang berbincang hangat, saling menceritakan sesuatu hal yang ringan dan bisa ditanggapi dengan tertawaan kencang.
Kadang, Veila akan tersenyum jika melihat seseorang tersenyum, buktinya seperti sekarang, saat dirinya tengah melihat beberapa kumpulan orang tertawa lepas. Namun, tiba-tiba saja senyumannya luntur saat melihat Wilson yang berjalan mendekat ke arahnya. Saking paniknya saat melihat tatapan tajam yang Wilson layangkan, Veila pun sempat memundurkan tubuhnya.
Napas mereka berdua sama-sama tercekat saat Wilson mulai menjatuhkan kepalanya di pundak Veila. Ini gila! Kenapa Wilson seperti ini di depan banyak orang? Mabukkah? Spekulasi yang Veila hadirkan di dalam hati pun semakin diperkuat oleh bau alkohol yang tercium dari tubuh Wilson. Ia sempat mengapit hidungnya dan berkata jika Wilson bau. Terdengar decakan kecil dari bibir Wilson, dan setelah itu ia mulai meraih pinggul Veila, mendekatkan tubuh mereka serta mulai mengendus ceruk leher si wanita.
"A-aku bukan Maureen," ucap Veila saat Wilson mulai mengecupi lehernya, dan dapat dirasakan jika kini sudut bibir Wilson mulai terangkat sedikit, menandakan jika pria itu tengah tersenyum tipis.
__ADS_1
"Aku tahu," balasnya, seraya masih menciumi leher Veila. Selang beberapa detik, ciuman gila tersebut terhenti karena Wilson turut menjauhkan diri dari Veila.
"Kau Veila Amor, aku tahu itu," ucap Wilson lagi, persis seperti nada-nada orang yang tengah mabuk berat.
"Lalu, kenapa kau malah berbuat seperti itu di depan orang banyak? Mabuk pun harus tahu tempat," ujar Veila, sedikit jengkel dengan pribadi Wilson yang tengah mabuk
Makin seenaknya saja. Ditatapnya Veila dengan semakin lekat, jarak dekat seperti ini, ditambah dengan hilangnya akal karena alkohol membuat Wilson mulai tak bisa memfokuskan pandangannya. Seperti terbagi tiga yaitu, wajah cantik Veila, bibir penuh nan seksi, serta leher putih yang indah.
Ia menyeringai, mulai mendekatkan wajahnya pada wajah cantik si wanita, sudah memiliki niat untuk ******* habis bibir merah menggoda tersebut. Namun sayangnya, hal tersebut cuma sebuah niat karena selanjutnya Veila harus menahan berat tubuh Wilson karena pria itu kehilangan kesadarannya.
Setelah membaringkan tubuh Wilson di atas sofa, Veila pun bergegas menuju kamarnya di lantai atas untuk mengambil sebuah selimut. la bukan manusia jahat semacam Wilson yang tidak punya hati, bagaimanapun juga udara malam yang masuk lewat ventilasi sangatlah dingin.
__ADS_1
Karenanya, tanpa ada niat apa pun, Veila segera menyelimuti tubuh Wilson dengan selimut kepunyaannya. Ah, dirinya pulang dengan supir Nyonya Hovers karena Leo tak kunjung kembali.
Sedangkan Maureen pun tidak tahu di mana keberadaannya setelah mengabari jika ia menginap di kediaman kedua orang tuanya. Tak mau berlama-lama di sini, Veila pun berniat untuk langsung kembali ke kamarnya. Namun, lagi-lagi ia harus menghentikan langkah saat tersadar jika pergelangan tangannya tergenggam. Tepat saat ia berbalik, tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh Wilson, membuat dirinya jatuh di sebelah Wilson.
"Hei, sudah berapa kali kukatakan jika aku bukan Maureen?" keluh Veila saat Wilson mulai mendekapnya dengan erat, mengunci setiap pergerakan dengan menindih kaki Veila.
Mendapati jika Veila yang tak bisa diam saat dipeluk, Wilson pun menggeram kesal. "Aish, biarkan aku pergi. Bau alkoholnya, aku tidak su-“
Tak membiarkan Veila kembali berceletuk, Wilson pun segera mencuri ciuman. ******* serta hisapan yang Wilson berikan, semuanya didasari oleh rasa iri terhadap Leo, dan bibir merah sempurna milik Veila pun mendukung untuk dicumbu mesra.
Ciuman panjang pun akhirnya Wilson akhiri yang disertai dengan batukan kecil yang lolos dari bibir Veila. Dan setelah itu, seakan tidak memberikan Veila waktu untuk bernapas, Wilson pun kembali memeluk erat si wanita. “Aku tahu kau itu Veila Amor." Itu kalimat terakhir yang Wilson ucapkan.
__ADS_1
Bersambung ....
Kalau ada yang Nemu typo nama "JIAN WEI, KEVIN SANG, LIN YEN" harap maklum ya, ini dulu cerita dengan latar tempat di Tiongkok, tapi aku ganti ke Amerika.