
Sejak dulu, Maureen menyukai beberapa jenis tanaman. Karenanya, saat ia menikah dengan Wilson, dirinya sudah meminta izin lebih dulu pada Wilson untuk membangun sebuah rumah kaca di halaman belakang. Tidak banyak, Maureen hanya menanam bunga mawar berbeda warna, Sharon, serta Azalea. Sebenarnya, Veila ingin menanam lebih banyak bunga cantik, tetapi karena keterbatasan tempat, hanya tiga bunga inilah yang ia tampung di green house miliknya.
Setiap sore, rutinitas Veila adalah menyirami bunga-bunga cantiknya. Melihat bunga tersebut diguyur oleh pancuran air, Maureen selalu teringat dengan perkataan mamanya.
"Maureenku yang cantik, mama selalu memberimu makanan sehat yang bergizi, jadilah wanita yang cerdas dan pilihlah pasangan yang setara dengan dirimu."
Perkataan ibunya, entah kenapa, sangat mirip dengan perkataannya saat ia tengah menyirami bunga-bunganya.
"Bungaku, aku selalu memberimu makan setiap hari, jadi mekarlah dengan cantik jika sudah waktunya."
Walaupun kalimatnya berbeda, tetapi maknanya terdengar mirip. Maureen hanya bisa tersenyum jika mengingat itu.
Mendapati jika ponsel yang berada di saku roknya bergetar, ia pun segera meletakkan gembor putihnya di atas meja kayu dan mulai mengalihkan perhatian pada layar ponselnya. Awalnya ia kira itu adalah pesan singkat dari Wilson, suaminya selalu bertanya hal-hal kecil di sore hari, tetapi nyatanya, yang mengiriminya sebuah pesan adalah kekasihnya sendiri, Leo. Heran juga, mereka berdua sudah berjanji untuk tidak saling berkomunikasi terlalu sering lewat ponsel, Wilson adalah alasannya, tetapi sore ini Leo melanggarnya.
Bukan pesan biasanya melainkan sebuah foto yang sukses membuat Maureen penasaran dan akhirnya membuka pesan tersebut. Ia terdiam cukup lama saat melihat Wilson dan Veila berada dalam satu foto, tengah tertidur dengan kepala mereka yang saling bersinggungan. Berkali-kali dirinya berkata jika hal tersebut merupakan kemajuan yang bagus, tetapi wanita itu agak bingung, kenapa pikiran dan hatinya berlawanan? Hatinya seolah memberontak tak setuju saat melihat foto tersebut. Ada percikan ketidakrelaan di lubuk hati terdalam seorang Veila.
"Kenapa hatiku terasa panas seperti ini? Kenapa rasanya sangat sulit menerima kenyataan ini? Jika seperti ini, bagaimana bisa aku meninggalkan Wilson secepat mungkin? Sebenarnya aku kenapa? Hati dan pikiranku bertolak belakang, dan jika aku membiarkannya, maka ini akan menjadi semakin rumit," gumam Maureen seraya memegang dadanya yang berdetak kencang.
__ADS_1
Meninggalkan Wilson adalah kemauannya sejak awal masa pernikahan. Ya, mereka berdua memang sudah mengenal sejak lama karena hubungan bisnis antara orang tua. Berbeda dengan Wilson yang benar-benar terlihat ingin menjalin hubungan serius dengan Maureen, wanita itu hanya menganggap Wilson sebagai teman bicaranya saja.
Saat itu, Maureen masih menaruh rasa cinta yang besar pada teman SMAnya. Arthur McBone, seorang dosen tampan dan pintar sukses memikat hati Maureen selama bertahun-tahun lamanya. Niatnya ingin mengutarakan rasa cinta, tetapi sayang, orang tuanya sudah lebih dulu berkata jika Maureen lebih baik hidup bersama Wilson Alexander Hovers.
Jadilah anak yang baik. Mama dan papa sudah mengeluarkan semuanya untukmu. Menikahlah dengan Wilson, maka kau sudah berhasil membuat kedua orang tuamu ini bahagia. Jangan sampai kau menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya.
Perkataan sang mama sungguh membuat Maureen tak bisa berkutik. Ia tak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa dan mulai mengungkit perihal biaya yang mereka keluarkan untuk mengurusnya. Ada kalanya, Maureen merasa sedih saat orang tuanya berkata jika biaya hidup Maureen sejak masih berada dalam kandungan sampai sebesar sekarang tak bisa ditulis lengkap di dalam sebuah bon. Terlalu banyak sampai-sampai mereka lupa berapa biaya yang dikeluarkan.
Wanita itu sadar betul jika ia banyak berhutang pada orang tuanya, mulai dari kasih sayang hingga materi. Namun, jika diungkit terus-terusan, bukankah jatuhnya semacam 'tidak ikhlas' dalam mengurus anak? Tanpa dikatakan pun Maureen tahu jasa kedua orang tuanya yang mungkin sampai kapanpun tak bisa ia gantikan dengan apa pun.
Tak tahan jika hal tersebut selalu diungkit, Maureen pun hanya mampu menyetujui kedua orang tuanya. Ia dan Wilson semakin lama semakin dekat, sampai pada akhirnya mereka berdua sepakat untuk membangun rumah tangga bersama hanya dengan Wilson yang menimbun cinta, sedangkan Maureen diselimuti keterpaksaan. Dan sampai di usia pernikahan mereka yang ke-lima tahun, Maureen selalu meyakinkan dirinya jika ia tak pernah menaruh perasaan pada sosok suaminya sendiri.
"Wilson bilang dia mencintaiku, menyuruhku untuk menunggu sedikit lama. Aku ingin, tapi tidak bisa. Aku terikat dengannya, dengan Leo juga, sudah berjanji untuk meninggalkannya dan menyatu bersama dengan Leo. Aku tidak boleh egois, tapi aku ingin menjadi egois. Wilson dan Leo, dua orang penting dalam hidupku," lanturnya, mulai bingung dengan perasaannya sendiri.
***
Hal pertama yang Wilson lakukan saat terbangun adalah diam. Tidak ada Leo di kursi kemudi, mobilnya pun sudah terparkir rapi. Namun, yang membuat Wilson terdiam bukanlah hal itu, melainkan hal kecil lainnya. Wanita seratus ribu dolarnya yang kini tengah tertidur dengan kepala menyandar di pundaknya adalah satu hal yang membuat Wilson Alexander Hovers tak bisa berkutik.
__ADS_1
"Menyebalkan sekali jika posisinya harus seperti ini," gerutu Wilson seraya melirik Veila. Geram, giginya pun ia gertakkan, kenapa juga kepala wanita ini harus bersandar pada pundaknya? Wilson merasa risih dan tak suka jika orang asing dengan seenaknya menjadikan pundak berharganya sebagai tempat peristirahatan.
Untuk sementara, Wilson memberi waktu sekitar satu menit untuk menunggu Veila terbangun, dan hasilnya pun nihil. Wanita ini malah semakin terlelap dan hanyut dalam dunia mimpinya. Sesekali wanita itu tersenyum kecil, menyebutkan sesuatu dengan suara bergetar, sesuatu hal yang membuat Wilson menarik sebuah kesimpulan jika Veila memang tengah berada di pulau mimpi. Karena tak kunjung bangun, Wilson pun segera menyingkirkan kepala Veila dengan kasar dari pundaknya, membuat si empu kepala refleks terkejut dan membuka kedua matanya secara paksa.
Jantung Veila berdegup cukup cepat, berasa seperti dirinya terjatuh dari tempat yang tinggi. Setelah menenangkan napasnya selama beberapa detik, ia pun segera menoleh dan sadar akan kesalahannya.
"Maaf," kata itulah yang pertama kali keluar dari mulut Veila. Wilson bahkan tak bisa menghitung sudah berapa kali Veila menggumamkan kata maaf untuknya.
"Jangan pernah berani tertidur di pundakku lagi. Jangan karena kita yang sebentar lagi akan menikah, kau jadi seenaknya saja meletakkan kepalamu pada pundakku, atau melakukan kontak fisik lainnya. Ingat, kita menikah hanya karena perihal keturunan. Jikapun kontak fisik, maka aku yang harus memulai, bukan kau," peringatnya, membuat Veila mengangguk.
Pura-pura mengerti, padahal wanita itu sama sekali tak menangkap maksud perkataan Wilson. Maksud perkataan pria itu apa? Veila tak bisa memulai kontak fisik, hanya pria itu yang boleh, membuat si wanita tertawa dalam hati, mengejek tingkat kepercayaan diri Wilson yang amat tinggi. Lagipula, siapa yang mau berkontak fisik dengan pria itu? Tadi saja ia tidak sadar jika sudah tertidur dengan posisi kepala yang berada di pundak Wilson.
Tak mau jika harus berada di mobil berdua dengan Veila, Wilson pun bergegas meraih pintu mobil, hendak membuka dan menghirup aroma luar. Namun seketika, raut wajahnya berubah menjadi masam saat mendapati jika pintu mobilnya terkunci, membuatnya harus terjebak di sini dalam waktu yang lebih lama.
"Leo Zhang, sebenarnya apa maunya pria itu?" kesal Wilson seraya menendang pintu mobilnya, membuat Veila terkejut dan agak sedikit menggeser posisinya menjauh dari Wilson.
Tak berani berkata, yang Veila lakukan hanyalah melirik gerak-gerik Wilson dengan hati-hati. Pria yang tadinya hanya diam saja seraya bersidekap dan menyender di punggung mobil, kini mulai mengeluarkan ponselnya, dan tiga detik setelahnya, Veila dapat mendengar kemarahan Wilson yang keluar seperti lava gunung aktif.
__ADS_1
Bersambung ....