
Robert berterima kasih pada pelayan berumur yang telah mengantarkan secangkir kopi hitam untuknya sebagai penghilang rasa lelah. Jika saja ini bukan permintaan dari sahabat karibnya sejak ingus masih meler, Robert tak akan mau jauh datang ke pulau xxx dengan tergesa-gesa. Bayangkan saja, setelah mendapat telepon yang diwakilkan oleh Leo Zhang, pria itu langsung memesan tiket pesawat secara online, mencari penerbangan secepat mungkin, lalu segera pergi ke pulau xxx tanpa membawa apa pun—hanya membawa tas kebanggaannya.
Iming-iming bayaran tiga kali lipat sebetulnya tidak ada peran besar atas kehadirannya kemari. Lagipula statusnya sekarang adalah seorang dokter yang bekerja di rumah sakit ternama pusat kota, dengan jam kerja yang padat pula. Gajinya bahkan sudah lebih dari cukup untuk membiayai dirinya sendiri, ia datang ke sini atas dasar ikatan persahabatan.
"Kau beruntung mempunyai sahabat yang selalu siap sedia sepertiku, Wil. Jika itu bukan aku, siapa yang mau datang dengan cepat ke pulau xxx hanya untuk memeriksa istrimu? Lagipula permintaanmu itu aneh, kenapa harus aku yang memeriksa di saat sudah banyak rumah sakit yang tersebar di pulau ini?" sembur Robert, sedikit membanggakan dirinya.
Kapan lagi ia bisa membanggakan diri di depan pria sombong seperti Wilson? Karenanya, ia memanfaatkan momen itu untuk bergerak sedikit lebih tinggi di atas sahabatnya. Tangannya bergerak, menyesap kopi hitam pekat yang terasa manis karena Robert meminta untuk dibanyakin gula. Dahaganya menghilang sedikit, tetapi tenggorokannya masih terasa kering.
Wilson mengalihkan pandangannya keluar jendela besar, melihat lautan yang sedikit tidak tenang, seolah melambai, memanggilnya untuk mendekat.
"Aku hanya tidak ingin orang tahu bahwa aku memiliki istri kedua. Aku sudah pernah mengatakan padamu, Robert, pernikahan ini adalah sebuah rahasia besar yang tak akan pernah kubiarkan tersebar luas. Lagipula, untuk apa aku jauh-jauh membawanya ke rumah sakit jika dirimu bisa datang di saat aku menelepon?"
Beberapa bulan yang lalu Wilson baru saja berinvestasi pada yayasan rumah sakit di pulau xxx. Ia membeli saham dalam jumlah yang besar, dan hal itulah yang membuat Wilson enggan untuk datang ke rumah sakit. Nama serta fotonya terpampang jelas di sebuah mading khusus yang berada di lobi rumah sakit, dan pastinya, saat ia datang dengan wanita lain—yang bukan istrinya di mata publik, pernikahan keduanya pastilah akan tercium baunya.
Robert terkekeh kemudian segera memperbaiki kacamata bulatnya yang sudah sedikit melorot. "Kau pandai memanfaatkanku ternyata." Perkataan yang ditanggapi Wilson dengan senyum tipis.
Wilson ingin berbicara dengan sahabat karibnya ini lebih banyak, tetapi ia bingung bagaimana cara memulainya. Tidak ada yang tahu rahasia besar ini kecuali dirinya. Ia pun sudah bertekad untuk menyimpan semuanya sendirian. Namun, wajah Robert seakan memanggil suara Wilson untuk segera mengeluarkan keresahannya. Hal itupun membuat Wilson bercelatuk. "Robert, aku bisa mempercayaimu, 'kan?"
Robert terdiam sambil memandangi Wilson selekat mungkin. Raut wajah serius dapat terlihat, membuat Robert mengangguk, memberi sebuah pernyataan langsung lewat bahasa tubuh jika dirinya adalah seorang pria yang bisa dipercaya. Dan Wilson mempercayai anggukan Robert. Pria itu menarik napasnya sejenak kemudian mulai membuka mulut.
"Maureen, dia selingkuh dengan Leo Zhang," ungkap Wilson, berani jujur di depan Robert karena ia percaya bahwa sahabatnya ini bukan tipikal pria bermulut ember.
__ADS_1
Tersirat sebuah rasa terkejut pada raut wajah Robert, tetapi beberapa detik kemudian ia mulai mengatur ekspresinya. Masalah seperti ini harus ditanggapi dengan kepala dingin jika tak ingin menyulut api emosi. Tahu jika Wilson masih ingin bercerita, Robert pun memilih untuk kembali diam. Sepertinya menjadi pendengar adalah sebuah tindakan yang bagus untuk sekarang.
"Aku tidak tahu ke mana diriku yang sebenarnya selama setahun ini sampai-sampai mereka berdua bisa menutupi hal itu dengan baik. Jika kau bertukar posisi denganku, mengalami situasi yang sama sepertiku, apa yang akan kau lakukan?"
Wilson menolehkan kepalanya, menatap Robert dengan ekspresi wajah yang tak dapat diartikan. Pria itu ingin meninggalkan Maureen, mencampakkan adalah sebuah balas dendam yang sudah ia pikirkan matang-matang. Namun, kenapa rasanya terlalu sulit untuk membuang rasa cinta yang sudah ia bangun bertahun-tahun lamanya? Ia ingin membuat Maureen cemburu padanya jika dirinya sudah mulai menaruh simpati dan memberikan sedikit perhatian pada Veila, tetapi yang jadi pertanyaannya, Apa Maureen akan cemburu saat melihat itu? Sudah jelas jika dia tidak menaruh setitik cinta untuk Wilson.
"Meninggalkannya, itu adalah pilihan pertama dan yang paling beresiko untuk hati. Mencari penggantinya, itu adalah sebuah pilihan kedua yang penuh kemustahilan jika hati masih dibutakan dengan cinta. Melampiaskan, itu adalah pilihan ketiga yang dapat membuatku sedikit merasa tenang sebagai ajang balas dendam atas rasa sakit yang mendera. Namun, pilihan ketiga bukanlah sesuatu yang musti dilakukan, itu terlalu beresiko untuk orang lain yang menjadi objek pelampiasan.
Kau tersakiti, maka otakmu akan terus berpikir jika orang-orang harus merasakan kesakitan yang sama dengan apa yang kau rasakan. Kau mungkin akan merasa lega karena hal itu, tapi objek tersebut? Mungkin dia akan jauh lebih tersakiti daripada dirimu. Masih mending jika kau melampiaskannya dengan berlatih tinju, tapi jika kau melampiaskannya pada sebuah objek yang sangat sensitif dan bisa merasakan sebuah rasa sakit? Akan kupastikan jika objek hidup tersebut akan menderita di kemudian hari."
Perkataan panjang Robert seakan menampar Wilson. Ia sudah melakukan pilihan ketiga itu pada Veila, melampiaskan segala emosinya dengan cara menyakiti fisik si wanita yang notebenenya tidak tahu apa-apa.
Robert menghela napas kemudian lanjut untuk bercelatuk, "Jadi, sekarang apa yang ingin kau lakukan, Wil? Melihat kondisi istri keduamu tadi, kurasa kau sudah melakukan opsi ketiga yang kusebutkan. Kusarankan, sebaiknya kau berhenti dan tinggalkan saja Maureen—"
"Tidak. Aku masih mencintainya dan mau mempertahankannya, Robert. Jika aku berusaha sedikit lebih keras untuk membuatnya merasakan sebuah rasa tak rela, aku yakin dia pasti akan meninggalkan Leo dan kembali padaku." Wilson sengaja memotong kalimat Robert, tak setuju dengan saran idiot yang Robert anjurkan.
Ya, Wilson memang sengaja tidak melabrak Maureen langsung bukan semata-mata hanya untuk menunggu sedikit lebih lama atau menunggu waktu setepat mungkin. Ia hanya ingin mengaduk-aduk perasaan istri pertamanya, ingin mencari setitik rasa cemburu yang melambangkan sebuah cinta.
"Dengan cara menyakiti orang lain? Balas dendammu terdengar konyol, kau terlihat seperti monster. Bolehkah aku menyebutmu sebagai pria gila? Jikapun ingin balas dendam, jangan gunakan kekerasan fisik! Matanya membiru dan sedikit bengkak, **** ************* juga lecet! Dia manusia, bukan binatang, Wilson!
Kau mungkin tak pernah tahu sebuah cerita yang dapat membuat wanita itu masih bertahan hidup sekarang. Kau menyakitinya tanpa pernah sadar jika mungkin saja selama ini ia menjaga dirinya dengan baik. Wilson Alexander Hovers, kau hanya orang asing yang masuk dalam hidupnya lalu menghancurkannya secara perlahan. Bolehkah aku harap jika dia tidak akan pernah mengandung anakmu? Seratus persen, aku yakin kau akan membuangnya setelah anak itu lahir!"
__ADS_1
Robert segera berdiri setelah mengatakan kalimat panjang yang penuh dengan emosi tersebut. Jangan katakan jika ia tidak mengenal Wilson dengan baik! Pria itu, hanya melihat gerak-gerik Wilson saja sudah tahu apa yang diperbuatnya.
"Kau tahu apa? Dia wanita yang aku beli di kelab malam. Wanita yang dengan rela dihancurkan dan bisa diperbaiki dengan uang. Apa kau tahu berapa banyak uang yang kukeluarkan untuk menyeretnya dalam hidupku? Lagipula aku tidak sampai membunuhnya—"
"Gila! Mau dia wanita baik-baik mau ****** sekalipun, kau tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Perasaan dibalas perasaan. Jika hatimu yang tersakiti, apakah wajar kau memberikan balasan double? Fisik dan hati, segera hilangkan yang fisik dan bermainlah dengan hati. Jangan menjadi pria serakah yang hanya ingin memuaskan egomu saja," timpal Robert dengan cepat. Namun, hanya dibalas tertawaan kecil oleh Wilson.
"Cukup sakiti hatinya, jangan fisiknya Wilson. Berhentilah menjadikannya tempat tinjumu, jadikan dia pelampiasan yang sedikit memiliki tempat tinggi pada permainan ini. Suatu saat nanti, dia mungkin terjatuh ke lembah yang paling dalam saat tahu perannya, selain menjadi mesin pencetak anakmu tentunya. Dan asal kau tahu, luka hati akan sulit disembuhkan. Itu saja sudah cukup membuatnya menderita dan ya ... kau akan menang setelah itu."
Robert mengambil tas dokternya kemudian segera pamit untuk pulang karena pesawatnya akan berangkat dalam waktu satu setengah jam lagi.
"Mungkin nanti kau akan dihadapi oleh pilihan sulit. Kau akan mendapatkan Maureen kembali, aku yakin itu. Dan juga, kau akan kehilangan seseorang yang mungkin besar perannya untukmu. Selamat bermain, Wilson! Ya ... kuharap jika nanti sudah game over, kau bisa meresetnya kembali." Robert tersenyum lalu segera keluar dari vila megah milik keluarga Hovers.
Wilson mengusap kasar wajah tampannya. Sekarang ini dirinya tengah mempertimbangkan perkataan Robert. Sedikit heran saja karena pria itu pandai membaca masalahnya, tahu dengan cepat jika ialah yang menyakiti fisik Veila. Cukup lama ia bergelut dengan pikirannya sendiri, hingga akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan beranda vila dan pergi menuju lantai atas kamar Veila. Napasnya sengaja ia embuskan dengan kasar sebelum akhirnya gagang pintu ia tekan dan pintu pun terbuka.
"Leo Zhang? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Wilson, menyaksikan dua orang tersebut yang tengah saling berbagi pelukan di depan jendela kamar yang tertutup. Sejak diperiksa Robert, wanita itu masih belum sadarkan diri. Namun, saat ini, Veila sudah bisa berdiri dan berbagi pelukan dengan Leo. Sungguh sebuah adegan yang membuat Wilson ingin meninju habis wajah Leo.
Dan permainan sebenarnya baru akan dimulai.
Sebuah pertarungan hati yang sesungguhnya.
Bersambung ....
__ADS_1