Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 25


__ADS_3

Hari yang paling tidak ditunggu-tunggu oleh Wilson maupun Veila pun akhirnya tiba. Di dalam gereja kecil pinggir kota, mereka duduk bersanding di depan mimbar. Tidak ada yang berani untuk saling lirik, pandangan mereka hanya fokus pada pendeta di depan sana.


Wilson mengeluarkan budget yang besar untuk pernikahan ini. Bukan, bukan karena acara pernikahan yang megah, jika berbicara tentang itu, Wilson hanya mengeluarkan sedikit uang, hanya membayar biaya pemberkatan, itu saja. Namun, yang membuat Wilson harus menguras kantong dalam—sekali lagi—adalah penyewaan orang tua palsu.


Tiga puluh lima ribu dolar untuk dua orang sekaligus bukanlah sesuatu yang perlu Wilson permasalahan. Ia rela mengeluarkan lembaran dolar tersebut hanya untuk menyewa dua orang yang harus menyamar sebagai orang tua Veila. Tentunya, Wilson tidak sembarangan mencari orang. Dengan bantuan Leo, pria itu berhasil menyewa dua orang paruh baya yang terlihat cerdas dalam hal bicara dan berbohong.


Buktinya, saat Leo menjelaskan semuanya hari itu, dua orang yang tengah berpura-pura menangis terharu ini pun langsung bisa mengaplikasikannya dengan baik. Setidaknya, tiga puluh lima ribu dolar tidak jatuh ke tangan orang-orang yang gila uang tanpa melakukan pekerjaan dengan benar.


Gereja ini tidak ramai, bahkan masih banyak kursi-kursi kosong di belakang sana. Yang datang menyaksikan acara sakral ini hanya keluarga Hovers, Cruz, serta keluarga palsu Amor, tentunya dengan Leo yang berada di kursi paling ujung, turut menyaksikan Wilson yang menikah untuk kedua kalinya.


Di saat pendeta tengah melakukan pemberkatan, yang Wilson lakukan adalah melirik Maureen yang duduk di sebelah orang tuanya. Wanita itu tersenyum simpul, membuat Wilson mau tak mau turut tersenyum. Melakukan pernikahan di depan sang istri adalah sesuatu yang terberat bagi Wilson. Kata mengkhianati benar-benar terpatri jelas pada otaknya. Wilson Alexander Hovers, ia tidak tenang, ada rasa bersalah sekaligus tidak enak yang melanda. Pria itu ingin ini semua cepat berakhir agar ia dapat memeluk Maureen dan meyakinkan jika pernikahan ini bukanlah sebuah awal baru yang dapat merusak rumah tangga mereka.


Wilson benar-benar mencintai Maureen. Ia merasa tinggi saat dirinya berhasil menaklukkan hati sang istri. Di antara banyak pria yang mencoba mendekat, Maureen malah menerima kehadiran Wilson. Entah bagaimana proses jelasnya, yang pasti kerja keras Wilson bisa dikatakan sukses dan tidak sia-sia.


Lima tahun lalu, mereka juga mengucapkan janji suci di depan pendeta, saling berjanji untuk setia dan mencintai satu sama lain dengan bibir yang dilapisi senyuman manis. Namun hari ini, Wilson merasa jika ia telah mengkhianati janji sucinya lima tahun lalu. Semua ini hanya karena keturunan, dan Wilson membenci fakta itu.


Tepat setelah Wilson kembali menolehkan kepalanya ke depan, kembali melihat pendeta, nyonya Cruz mencolek lengan Maureen pelan, membuat sang anak menoleh dan menatap ibunya penuh tanya.


"Bodoh! Kenapa kau membiarkan suamimu menikah lagi? Apa kau sanggup saat melihat perhatian suamimu terbagi? Otakmu di mana, Maureen? Jika masalah anak, masih banyak solusi lain yang bisa kalian berdua pikiran bersama!" Nyonya Cruz marah, hampir mengamuk jika saja ia tidak tahu posisi. Setidaknya ia harus jaga image dan menjadi orang tua yang baik, selalu mendukung keputusan anaknya tanpa banyak protes.

__ADS_1


"Jika sudah seperti ini, bisa-bisa kau dibuang oleh Wilson. Kau tahu betapa susahnya kami berdua menjalin kerjasama dengan keluarga Hovers dan akhirnya mengenalkanmu? Dan hei, Maureen, kau tak akan mendapat harta apa pun dari suamimu jika seperti ini caranya. Oh, betapa bodohnya dirimu, padahal selama ini aku sudah memberimu makanan mahal dan bergizi." Nyonya Cruz merasa jika kepalanya berdenyut, membuat tangannya refleks tergerak dan memijat dahinya pelan.


Biaya hidup kembali diungkit, membuat Maureen merasa mual dan ingin mengeluarkan segala isi perutnya sekarang juga. Bisakah ibunya berhenti mengungkit akan hal itu? Atau bisakah sang ayah mengusap pundak ibunya guna menghentikan perkataan tak berbobot tersebut? Kecaman ibunya sukses membuat Maureen merasa bahwa ia adalah anak yang tak tahu balas jasa. Padahal selama ini ia sudah menuruti semua kemauan orang tuanya, termasuk menikah dengan Wilson.


"Mama, ini bukan sekedar tentang anak, tapi ada hal lain juga yang tidak Mama ketahui. Selama ini aku selalu mematuhi perintah Mama dan Papa, bibirku tak pernah melayangkan sebuah protes atau kepalaku tidak pernah menggeleng. Jika berbicara perihal harta, dua tahun lalu Wilson sudah memberikanku sertifikat rumah dan tanah, dia membeli dua hal itu atas namaku, memberikan dua hal besar tersebut dengan percuma padaku.


Jika berbicara masalah perhatian, Wilson selalu mengatakan jika dia mencintaiku sepenuhnya. Aku mempercayai perkataan Wilson, Ma. Tentang masa depanku juga, Mama dan Papa tidak perlu khawatir," jelasnya, membuat nyonya Cruz tertegun dan tidak percaya jika ini bukanlah anaknya. Maureen, anak satu-satunya, tidak pernah berbicara sepanjang ini dengan orang tuanya.


"Tanpa Mama dan Papa katakan dengan jelas pun, aku sudah tahu maksud dari kalian yang mati-matian mendekatkanku dengan Wilson. Suamiku kaya, hartanya tak akan habis walaupun dikuras oleh tangan-tangan jahil. Dan saat itu, Mama dan Papa benar-benar ingin selalu berada di atas, dipandang tinggi oleh kolega bisnis. Saat itu, mendapatkan hati Wilson bagaikan sebuah sayembara untuk para pebisnis sukses, 'kan? Sekarang Mama dan Papa sudah mendapatkannya, aku bersyukur," lanjutnya dengan sebuah senyuman tipis nan pahit yang menghiasi sudut bibirnya.


"Aku kehilangan Arthur McBone, Ma—"


Aku kehilangan Arthur McBone, tapi aku bertemu Leo Zhang.


Maureen tak bisa mempertahankan pernikahan ini, mengingat jika ia sudah menjadi milik Leo. Mereka saling mencinta, hanya tinggal menunggu waktu yang membongkar semuanya, menyudahi lakon berat ini. Namun, Wilson Alexander Hovers yang sudah memberikan seratus persen kasih sayang dan cinta, sulit untuk Maureen lepaskan. Benar, ia serakah, jika ia bisa memiliki Wilson dan Leo bersamaan, dengan Wilson yang memberinya cinta, dan dirinya yang memberi cinta untuk Leo Zhang.


"Mama, aku juga ingin bertahan di sisi Wilson, tapi—"


"Kalau begitu, cepat berdiri dan keluar dari gereja ini. Buat Wilson merasa bersalah karena telah menyakiti hatimu. Maureen, pintarlah dalam merebut hati Wilson, mama tahu kau tak mau kehilangan sosok penyayang seperti Wilson," pinta nyonya Cruz, mendorong lengan Maureen secara perlahan, memaksa anaknya untuk segera berdiri.

__ADS_1


Netra Maureen tertuju pada sang ayah, berharap ayahnya memiliki pendapat yang berbeda dengan ibunya. Namun, kenyataannya sang ayah hanya memberi isyarat agar Maureen mengikuti semua perintah ibunya. Membuat dirinya tak bisa berkata apa pun lagi dan akhirnya berdiri.


Wilson yang kala itu tengah berdiri, berhadapan dengan Veila, dan hendak menyematkan cincin pernikahan pada jari manis si wanita pun menoleh. Gerakan tangannya pun berhenti saat melihat Maureen yang kini telah berdiri, menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, membuat Wilson menggumamkan nama Maureen pelan. Veila yang sadar akan gumaman itu pun menoleh ke arah yang sama dengan tolehan Wilson. Ia juga melihat Maureen yang kini tengah berdiri, menatap sang suami yang disertai dengan tarikan senyuman.


Suaminya terlihat tampan saat mengenakan pakaian formal berwarna putih susu tersebut, sangat mirip dengan pangeran di film kartun.


Tak sanggup ditatap oleh Wilson, Maureen pun menundukkan kepalanya, masih bertahan pada posisinya, berdiri di tempat. Namun, saat ia merasakan jika pahanya kembali didorong pelan oleh sang ibu, Maureen pun langsung berbalik dan pergi meninggalkan gereja. Seolah-olah ia benar-benar tersiksa saat melihat suaminya menikah lagi—yang padahal ada sedikit rasa tak suka dengan semua itu. Gerakan lari kecilnya melambat saat pandangannya bersinggungan dengan Leo, dan setelah bertatapan sebentar dengan pria yang baru satu tahun masuk ke dalam hatinya, ia kembali melanjutkan langkahnya.


Melihat sang istri yang tengah meninggalkan gereja di saat pernikahan belum selesai sepenuhnya, Wilson pun tak jadi menyematkan cincin tersebut pada jari manis Veila. Dengan entengnya, ia membalikkan tangan Veila, meletakkan cincin perak tersebut pada telapak tangan si wanita dan menyuruhnya untuk mengenakan cincin itu sendiri.


Kau bukan anak kecil lagi, memasang cincin adalah sesuatu yang kau bisa lakukan sendiri, itu yang Wilson katakan pada Veila sebelum akhirnya sang pria berlari pergi meninggalkan gereja, menyusul sang istri tercinta.


Veila menatap cincin perak yang tengah berada di telapak tangannya, lalu menyematkannya sendiri di jari manisnya. Entah kenapa ia seperti pengantin yang ditinggal oleh calon suami, ya, kenyataannya memang seperti itu, kan? Ia benar-benar ditinggal oleh seseorang yang baru saja, sepuluh detik lalu, mengucapkan janji suci di depan pendeta.


"Veila Amor, aku mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus."


Janji suci itu tidak ada harganya sama sekali.


Bersambung....

__ADS_1


Bagaimana menurut kalian jika Veila yang di novel benar-benar ada di dunia nyata?


__ADS_2