
Egois adalah sifat manusia yang tumbuh alami dalam diri manusia. Kadang kala, ada waktu di mana mulutmu berkata jika mereka-orang yang dimaksud adalah kumpulan manusia yang egois. Namun, sebenarnya, diri kita bahkan tidak pernah sadar bahwa kita adalah salah satu bagian dari perkumpulan manusia egois.
Tak bisa ditampik, kitapun memilikinya— keegoisan. Orang rela membunuh karena egoisnya, rela mennyakiti karena egoisnya, rela melakukan apa saja demi sifat egoisnya, bahkan untuk menyenangkan diri sendiri perlulah sebuah keegoisan.
Ada yang memicu kenapa setiap manusia bertindak egois, salah satunya adalah keserakahan yang timbul akibat rasa ingin memiliki. Tak usah jauh-jauh, contohnya saja adalah Maureen Cruz. Ia terlalu serakah, menginginkan dua pria dalam waktu yang bersamaan hingga akhirnya membawa dirinya sendiri ke dalam kubangan penyesalan.
Maureen tidak menyadari jika perbuatannya dapat melukai hati dua pria yang benar-benar tulus mencintainya, mengakibatkan dua pria yang selalu memberinya energi lewat kasih sayang tersebut pergi menjauh dan perlahan menghilang dari radarnya. Ia ingin membahagiakan dirinya sendiri lewat kasih sayang yang melimpah ruah, tetapi jelas, caranya salah. Baginya, afeksi Wilson dan Leo benar-benar berharga.
Maureen yang melihat Wilson menciumi Veila dengan agresif di sofa pun segera membalikkan tubuhnya, bergerak cepat untuk bersembunyi di balik dinding dengan pandangan yang menerawang kosong ke depan. Bukankah Tuhan memang sudah memberinya hukuman atas segala perbuatannya? Seharusnya, sedari awal ia tidak mempermainkan perasaan Leo, mempercayai perasaannya yang saat itu belum tentu benar.
Bukan Leo, melainkan dirinyalah yang memulai hubungan ini duluan. Ia berkata pada Leo tentang perasaan tak menentunya pada Wilson, seenaknya menyimpulkan jika ia sama sekali tak menaruh perasaan pada suaminya di saat mereka sudah hidup bersama selama empat tahun lamanya.
Leo yang mudah tergoda dengan wanita berparas cantikpun mulai melupakan persahabatan eratnya dengan Wilson, merampas sang istri, dan berselingkuh diam-diam dibelakang si atasan. Padahal kenyataannya, Maureen hanya belum siap mengatakan bahwa dirinya sudah jatuh cinta pada Wilson semenjak mereka mulai menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
Itu hukuman untuk keduanya, Maureen dan juga Leo. Mereka yang awalnya saling terbuka kini terpaksa harus meninggalkan. Memaksa kenangan selama satu tahun itu hilang tanpa jejak, walau kenyataannya Maureen belum bisa melupakan kebaikan Leo.
"Kenapa kakak di sini?" Suara Xavier sukses membuat Maureen menoleh, mengalihkan atensinya pada pria muda yang lebih tinggi badannya. Yang ditanya menggeleng pelan, berusaha untuk terlihat jika dirinya tidak melihat dan tidak tahu apa-apa.
Dan sekilas, Xavier tersenyum manis. "Kakak punya hak untuk cemburu, karena Kak Wilson statusnya adalah suami Kakak. Tapi, mengingat bahwa mata dan telingaku pernah mendengar apa yang Kakak dan Kak Leo bicarakan-"
"A-apa? Apa maksudmu, Xavier?" Maureen menyela, tak mengerti dengan segala kata yang Xavier lontarkan. Jikapun ia mengerti, masih banyak pertanyaan yang ingin ia ketahui jawabannya. Misalnya seperti; bagaimana Xavier bisa mengetahui hubungannya dengan Leo?
Lagi-lagi, sebelum jawaban terucapkan, Xavier tersenyum lebih dulu. Kali ini lebih manis daripada sebelumnya, membuat dada Maureen berdebar karena takut yang diiringi dengan kecemasan.
"Xavier, kakak akan menjelaskannya padamu."
"Tidak perlu Kak. Aku tak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga Kakak. Lagipula, aku hanya menyampaikan sesuatu yang perlu kusampaikan. Semua orang punya kesalahan, Kak. Aku memaklumimya, tapi mungkin akan berbeda tanggapan dengan Kak Wilson," sergahnya, membuat Maureen menjadi takut. Bagaimana jika sebenarnya Wilson sudah mengetahui semuanya?
__ADS_1
"Kak Wilson belum mengetahuinya, kan? Kakak harus pandai menyembunyikannya kalau begitu," tukasnya sembari memperlihatkan cengiran yang semakin membuat Maureen ketakutan. Ia belum siap ditinggal pergi oleh Wilson, apalagi baru dua minggu berselang saat hubungannya dengan Leo berakhir. Sungguh, dirinya tidak siap untuk kehilangan kasih sayang dari Wilson.
Sementara disisi lain, di sudut sofa empuk yang harganya ribuan dolar, Wilson mulai melepaskan tautan bibirnya dengan Veila. Ia menyatukan kening mereka berdua, menatap dalam Veila yang kini tengah bernapas dengan mata terpejam dan bibir yang terbuka. Wanita di depannya ini terlihat lebih seksi jika sedang berkeringat, apalagi jika sedang menarik napas dengan dada yang naik turun dengan cepat.
****, libido Wilson naik seketika hanya karena otaknya berfantasi saat melihat paras Veila. Sayangnya ia tidak mau bercinta jika kondisi Veila sedang seperti ini. Beruntung sekali jika ia punya pemikiran tentang bahayanya kondisi bayi di dalam perut, walau sebenarnya dokter kandungan pernah berkata jika bercinta saat istri sedang hamil tidaklah membahayakan selama posisinya benar.
Untuk menertralkan gejolak hasratnya, pria itu mulai memberikan pelukan pada Veila. Awalnya terkesan masih sedikit longgar dan kaku, tetapi di saat sadar jika Veila mulai menangis, Wilson pun semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau tidak mempermainkanku, kan?" Veila bertanya dengan mulutnya yang mengeluarkan sesegukan. Ini kali kedua ia mendapatkan pernyataan cinta, pertama dari si brengsek Charlie, dan yang kedua adalah Wilson Alexander Hovers.
Pria itu menggeleng, mengusap kepala belakang Veila dengan lembut yang diselingi dengan tepukan pelan di area yang sama. "Untuk apa aku berbohong padamu? Menipu ibu hamil bukanlah hal yang lucu. Berhentilah menangis, aku sudah sering melihat air matamu keluar," ucap Wilson, berusaha untuk membuat Veila Berhenti menangis.
Mungkin sebagian orang menganggap jika Veila adalah wanita cengeng, dicintai seseorang saja sampai mengeluarkan air mata. Namun, bagi Veila sendiri, air matanya harus keluar saat menanggapi kalimat sederhana itu. la sangat jarang mendapatkan kata cinta, karena itu ia berusaha mengingatnya lebih dan lebih, menyalurkan perasannya lewat tangisan, agar suatu saat ia bisa tersenyum dalam menghadapi perpisahan.
__ADS_1
"Kau ingin bahagia, bukan? Katakan padaku bahagia seperti apa yang kau ingin, maka aku akan mengabulkannya."
Bersambung ....