
Sementara di sisi lain, Wilson sedang menjelaskan kenapa ia berbohong pada ibunya perihal siapa Veila. Ia menjelaskannya dari awal—tidak termasuk dengan kontrak— sedikit mengarangnya agar terlihat lebih romantis dan juga untuk menyembunyikan kekasarannya selama ini. Berbeda dengan kedua orang tuanya yang diam saat anaknya berbicara, orang tua Maureen terkhususnya Nyonya Cruz selalu menyela pembicaraan Wilson, membuat pria itu kesal dan terkadang menyentak ibunya Maureen.
Mertua yang selama ini Wilson hormati ternyata memiliki sifat yang terlampau jahat. Dan di saat Wilson ingin mengatakan kebusukan Maureen di hadapan semua orang, Tuan Hovers menyela, menghentikan perkataan Wilson yang baru berjalan di awal.
"Sudahlah, kepalaku terasa pusing. Akhiri saja semuanya di sini, untuk kedepannya, aku mempercayai putra tunggalku. Mau dia berbohong perihal siapa Veila sebenarnya, aku tidak terlalu mempermasalahkan itu," ungkapnya dengan tangan yang terkondisi memijat pelipisnya.
Nyonya Hovers melihat suaminya yang saat ini sudah mulai beranjak dari tempat duduknya, hendak menahannya, tetapi sang suami sudah memberi kode bahwa ia tidak mau berlama-lama di sini. Melihat semua keterterimaan yang dilontarkan oleh Tuan Hovers, membuat rasa tidak terima Nyonya Cruz memuncak.
"Jika keputusannya seperti ini, aku akan mengambil Maureen kembali. Biarkan dia tinggal bersamaku—"
"Bawa saja," geram Wilson dengan kedua tangan yang mengepal keras. Jika sang ibu ingin mengambilnya, Wilson mempersilakan, tak mau memperpusing semuanya.
Mendengar kalimat Wilson, Nyonya Cruz segera beranjak dari posisi duduknya, memandang sang menantu dengan geram. Maureen yang saat itu baru saja kembali dari kamar Veila, yang sama sekali tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi, langsung ditarik oleh sang ibu.
"Ma? Mau membawaku ke mana?" tanya Maureen, sedikit memberontak minta dilepaskan.
"Membawamu tinggal bersama mama lagi. Tidak sudi memberikan anak yang sudah kuhidupi dengan biaya yang tidak sedikit pada orang seperti dia!" sungutnya, terus menarik Maureen dengan kasar, pergi meninggalkan rumah Wilson pada akhirnya.
Nyonya Hovers yang tidak tahu kelakuan Maureen merasa iba, menegok ke arah Wilson yang sama sekali tidak peduli dengan istri pertamanya. “Wil? Kenapa tidak ditahan? Kau punya hak pada istrimu sekarang—"
"Aku tidak akan menggunakan hakku, Mom," gumamnya kecil, lalu segera pergi meninggalkan kedua orang tuanya serta paman dan bibinya.
__ADS_1
***
Wilson menekan gagang pintu dengan pelan, membukanya secara perlahan dan menemukan Veila yang masih berada di posisi awal. Melihat istrinya menunduk dengan rambut yang menutupi wajah membuat Wilson bergegas menghampiri dan mulai berjongkok di depan Veila.
Kedua tangannya berguna dengan baik saat ini, satu tangannya perlahan mulai masuk menembus celah-celah jari Veila, menggenggamnya erat dengan ibu jari yang mengusap punggung tangan. Dan sebelah tangannya ia gunakan untuk menyingkirkan helaian rambut Veila, menyelipkannya di belakang telinga.
Melihat pipi Veila yang sudah dibanjiri dengan air mata, tangan Wilson yang sebelumnya sempat menyelipkan helaian rambut Veila pun mulai beralih fungsi.
la menghapus setiap buliran bening yang mengotori pipi istrinya, mengatakan dengan lembut jika Veila tidak boleh menangis berlebihan seperti ini.
"Veila, kebohongan itu ... orang tuaku tidak mempersalahkannya. Jadi, berhenti memikirkan sesuatu hal yang tidak-tidak. Bayi kita di dalam sini pasti akan menangis jika mamanya menangis," tutur Wilson, kembali mengalihkan fungsi tangannya, mulai mengelus perut Veila yang sudah semakin membesar tiap minggunya.
"Aku tidak bisa membalas cintamu lagi, Wil. Jika diingat, bukankah seharusnya semua ini berjalan sesuai kontrak dengan kita yang saling meninggalkan?" ujarnya, membuat pelukan hangat itu berakhir. Wilson menjauhkan dirinya, menatap Veila yang sekarang sudah mampu mengangkat kepalanya.
"Kenapa tiba-tiba mengatakan tentang kontrak? Sudah kukatakan, aku akan membatalkan semuanya," sungut Wilson, tidak terima jika semuanya berjalan sesuai dengan kontrak.
"Kau berkata seperti ini, apakah kau tidak memikirkan perasaan seseorang yang tersakiti karenanya?" Veila kembali bertanya, membuat Wilson sama sekali tak bisa menebak siapa orang yang tersakiti.
"Siapa? Siapa yang tersakiti?" Wilson balas bertanya, menyanyangkan jika malam yang indah ini tidak berjalan dengan baik.
"Maureen Cruz—"
__ADS_1
Wilson diam sesaat, hendak menyahut, tetapi suaranya kalah cepat dari Veila. "Aku tidak bisa menerima cintamu karena ada seseorang yang terluka. Selama kontrak itu masih ada, mari kita jalani sebagai mana yang telah disepakati," gumamnya, harus tetap mengatakan itu walau sebenarnya sangatlah menyakitkan.
"Selama kontraknya masih ada, kan? Jika kontraknya kusobek menjadi bagian-bagian kecil yang tidak berbentuk, apa itu masih berlaku?" Wilson bertanya, tetapi segera pergi meninggalkan kamar, tak menunggu jawaban yang akan Veila keluarkan.
Melihat kepergian Wilson, Veila pun segera ikut beranjak dari ranjang. Ia tidak bisa berdiri dengan gerakan yang terlampau cepat, apalagi sampai berlari untuk mengejar Wilson. Karenanya, walaupun sedikit susah dan dengan gerakan yang lambat, ia tetap keluar dari dalam kamar, hendak menghentikan Wilson jika mampu.
Namun sayangnya, di saat ia sudah memegang ujung terbawah dari pegangan anak tangga, Wilson sudah lebih dulu turun dari lantai atas dengan tangan yang memegang sebuah amplop cokelat. Veila tahu, yang berada di genggaman Wilson adalah kontrak awal mereka, di mana kesepakatan awal tertulis rapi di atas kertas putih bermaterai.
Pria itu menghentikan langkahnya di hadapan Veila, mengacungkan amplop tersebut dengan tangan yang meremasnya kuat. Ia sudah emosi karena ibu Maureen, dan sekarang ia semakin bertambah emosi karena Veila yang membahas perihal kontrak di saat ia benar-benar tulus mencintai.
Kedua mata Veila membesar, tangannya sudah terulur untuk meraih amplop tersebut, tetapi sayangnya Wilson lebih cepat dalam merobeknya, membuat kertas beserta amplopnya tidak lagi berbentuk dan bisa disatukan, dan kemudian segera membuangnya begitu saja di hadapannya.
"Kontrak itu sudah tidak ada, jadi apa yang akan menjadi alasanmu setelah ini, Veila?" Wilson bertanya, memajukan dirinya guna mendekatkan diri. "Maureen? Tidak perlu merasa kasihan dengannya, dia mengkhianatiku, sudah pantas untuk kutinggalkan," lanjutnya yang sukses membuar Veila menatap tak percaya. Apa yang dimaksud dengan mengkhianati di sini?
"Ini tentang kita berdua, bukan tentang orang lain lagi, Veila. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan," ujarnya, meraih tubuh Veila cepat lalu memeluknya erat.
Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi Maureen, dan tidak ada lagi pengacau lainnya. Ini semua hanya tentang dirinya dan Veila, Wilson hanya menginginkan hal itu. Mendengar itu, Veila pun mulai membalas pelukan Wilson, meremas kedua sisi pakaian si pria, dan berusaha untuk tetap menenangkan diri. Mereka berdua menganggap jika semua ini sudah berakhir.
Namun sebenarnya, ada satu kesalahan yang belum Wilson utarakan pada Veila karena ia menganggap jika itu bukanlah sesuatu hal yang penting untuk diungkit.
Bersambung ....
__ADS_1