
Ada yang spesial bagi Veila pagi ini. Saat ia membuka matanya, hal pertama yang kedua matanya lihat adalah sosok Wilson.
Tirai jendelanya sudah terbuka lebar, membiarkan sinar mentari merembes masuk begitu saja, menembus kelopak matanya yang masih terpejam sempurna. Saat bibir merahnya ingin menanyakan sesuatu, suara berat Wilson memotong kalimatnya terlebih dulu, membuat kata yang sudah berada di ujung lidah tidak dapat ia keluarkan.
Pria itu membisikinya sesuatu, sebuah kalimat singkat yang sukses membuatnya membelalak, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya juga. 'Lima belas menit dari sekarang, aku ingin kau bersiap dengan cepat. Jika tidak, kita akan ketinggalan pesawat menuju Prancis.'
Siapa yang tidak terkejut? Baru saja mata terbuka, lalu disuguhi dengan pengumuman keberangkatan menuju negara lain. Ditambah lagi, tidak ada apa pun yang bisa disiapkan dalam waktu lima belas menit selain mandi dan berbenah seadanya.
__ADS_1
Wanita itu sempat bertanya perihal dirinya yang juga ikut pergi ke negara yang terletak di Benua Eropa tersebut. Jelas sekali ia bukan orang penting yang bisa sebebasnya diajak pergi, walau dengan Wilson sekalipun.
Ia juga sempat menolak untuk berangkat ke Prancis saat mengingat jika dirinya belum menyiapkan pakaian sedangkan Wilson hanya memberikan waktu sebatas lima belas menit. Namun, seperti biasanya, pria itu tidak menerima penolakan yang sekalipun adalah sesuatu yang masuk akal untuk dijadikan alasan.
Dengan santainya, ia berkata jika Veila tak perlu mengkhawatirkan tentang pakaian karena mereka bisa langsung membeli beberapa tersebut. Lalu, berbicara tentang perihal alasan kenapa si wanita harus pergi mendadak ke Prancis, Wilson memberikan sebuah alasan singkat yaitu, memangnya kenapa jika aku mengajakmu? Ya, sebuah alasan yang berbentuk pertanyaan, dan tentunya tak mampu Veila jawab.
Namun, belum juga mereka berdua menapaki area dalam bandara yang kini tengah dipenuhi oleh orang-orang, Wilson justru menghentikan tungkainya, membuat Veila juga turut berhenti melangkah. Pria itu mengumpat pelan seraya menepuk dahinya pelan.
__ADS_1
"Aish, ponselku—” ia bergumam, dan tak lama kemudian mulai melirik Veila yang saat ini tengah melihat ke arahnya juga.
Pria itu mengembuskan napasnya sepelan mungkin, berusaha meredakan emosinya karena benda canggih tersebut. "Ponselku tertinggal di rumah, kau bisa check-in terlebih dahulu, kita bertemu kembali di dalam pesawat," jelas Wilson, lalu segera pergi dengan tergesa, tak membiarkan Veila untuk membalas setiap kata.
Veila mengambil kembali print-out Tiket pesawat. Wilson sengaja memberikannya selembar kertas yang berupa tiket karena dirinya tidak mempunyai ponsel. Seperti yang sudah diceritakan, saat dirinya terbangun di sebuah kamar, ponsel kesayangannya sudah tidak ada lagi. Dan sampai sekarang, ia tidak mempunyai benda canggih tersebut. Setidaknya ia sudah memiliki pengalaman dalam menaiki pesawat, jadi masalah check-in bukanlah sesuatu yang perlu ia khawatirkan—walau jujur ia sedikit kurang berani. Sebelum masuk ke dalam, menembus keramaian, ia menarik napas sejenak, berusaha mengusir ketegangan dalam dada. Dan kemudian, di saat ia baru saja berjalan beberapa langkah, seseorang menepuk bahunya yang sukses membuat ia menoleh.
Bersambung ....
__ADS_1