
Sebenarnya, daripada berlibur di kediaman mewah Wilson, lebih baik Xavier pergi menghabiskan libur semesternya di negara lain atau pulau indah yang jarang dikunjungi oleh para turis.
Tidak mengapa, hanya saja rumah kakak sepupunya ini tidak cocok untuk dijadikan teman liburan, apalagi kesehariannya selama di sini adalah bermain playstation sendirian di ruang TV. Ingin bermain keluar pun ia harus pikir-pikir lagi karena baginya, ia akan terlihat menyedihkan jika pergi menjelajahi tempat rekreasi sendirian, tanpa teman apalagi pasangan.
Dan hari ini adalah tepat dua minggu liburannya terbuang sia-sia. Ah, tapi jika dipikir-pikir, dua minggu yang terbuang cepat itu tidak sepenuhnya berbentuk sebuah kesia-siaan. Nyatanya, selama dua minggu ini ia banyak menghabiskan waktu bersama dengan istri kedua kakak sepupunya, Veila Amor.
Kakak yang dirinya panggil putri katak itu sangat sabar dalam menghadapinya yang banyak tanya, tidak seperti Wilson yang selalu menggebuk punggungnya jika mulutnya ini tak kunjung diam. Mereka banyak bercerita dan akhirnya menjadi lebih dekat.
Veila juga menyukai Xavier yang terlihat sangat peduli terhadap dirinya dan juga kondisi bayi yang tengah ia kandung. Wanita itu menganggap jika Xavier lebih perhatian daripada Wilson sendiri. Ah, dan jika berbicara tentang Maureen, selama dua minggu ini, Xavier sangat jarang bertatap muka dengannya.
Istri pertama sepupunya selalu menghabiskan waktu di dalam kamar, hanya keluar saat makan malam atau menyambut kepulangan Wilson dari tempat kerjanya. Selebihnya? Pintu kamar selalu tertutup rapat dengan Maureen di dalamnya.
Wanita itu-Maureen Cruz-seolah-olah mengasingkan dirinya sendiri, seperti paus yang diasingkan oleh kerumunannya.
Berhubung liburan semester hampir usai, Xavier pun memilih untuk mengambil buku PR yang tersimpan rapi di dalam ransel hitamnya, meletakkannya di depan meja, dan kemudian segera duduk di ubin lantai yang beralaskan karpet beludru mahal seraya membuka lembaran kertas yang masih rapi.
Tidak ada kata rajin dalam kamus hidup seorang Xavier. Selama masih bisa dikerjakan saat D-1 kenapa harus mengerjakannya dari jauh-jauh hari? Itu yang selalu hatinya katakan, memantapkan diri agar tidak perlu menjadi orang sok rajin yang ujung-ujungnya pasti mendapatkan nilai nol karena PR hasil buatannya salah semua.
Ia melihat soal-soal matematika di hadapannya, sedikit meremehkan, meyakinkan diri jika soalnya itu terbilang cukup mudah. Namun, di saat penanya sudah tergerak pads kertas buram kepunyaannya, hendak mencoret angka berdasarkan rumus pada buku catatan, kepala pria itu mendadak berdenyut hebat.
Nomor satu ia lewatkan, begitu juga dengan nomor dua dan tiga, serta nomor-nomor selanjutnya. Dari dua puluh soal hitungan matematika, kenapa tak ada satupun yang bisa ia jawab? Padahal beberapa menit lalu ia baru saja meremehkan kumpulan soal tersebut. Ia kewalahan, merasa bodoh di saat yang bersamaan dengan sifat pemalasnya, dan setelah itu ia berteriak frustrasi seraya mengacak-acak rambutnya.
“Kau kenapa?" Suara kecil nan lembut milik Veila sukses membuat kepala Xavier menoleh.
Dilayangkannya tatapan memelas minta dikasihani, lalu berceletuk, mencurahkan isi hatinya. "Aku tidak bisa mengerjakan satupun soal matematika ini, Kak. Terlalu sulit untuk ukuran anak SMA yang IQ nya tidak sampai seratus sepertiku."
Memang, IQ Xavier tidak mencapai seratus. Namun, semua itu bukan karena dia yang terlahir bodoh. Hanya saja Xavier terlalu malas untuk membaca soal dan memikirkan jawaban apa yang harus ia lingkari.
Jadi, selama sepuluh kali tes IQ, skornya tidak bisa lebih dari angka seratus, stuck di angkat sembilan puluh atau malah mencapai titik terendah, yaitu lima puluh.
Mendengar jawaban Xavier, Veila pun ikut duduk bersama dengan si pria. Tidak, bukan di lantai, melainkan ia duduk di sofa. Akan gawat jika nantinya ia akan kesulitan berdiri karena perut yang semakin membesar tiap minggunya. "Biar kakak lihat, kemarikan bukumu," pinta Veila.
Xavier sedikit terkejut akan tawaran yang Veila lontarkan barusan. Namun akhirnya, pria itu mulai meraih buku PR nya dan menyerahkannya pada Veila. Xavier pun ikut duduk di sebelah Veila, memperhatikan wajah cantik si wanita serta buku PR nya secara bergantian.
"Sulit kan, Kak? Aku saja tidak bisa mengerjakannya—” ucapan Xavier terhenti tatkala matanya mengangkap tangan Veila yang mulai bergerak, mencoret kertas buramnya, mengisi semuanya dengan jawaban.
__ADS_1
Hal itu tentunya membuat Xavier tercengang bukan main. Veila sudah lulus bertahun-tahun lalu, katakan saja otak orang-orang yang sudah lama lulus dari sekolah pastilah berdebu dikarenakan ilmunya sudah membusuk di dalam ingatan, ogah untuk dikeluarkan.
Namun sepertinya, semua itu tidak berlaku untuk Veila. Lihat saja, wanita itu sedang mengerjakan soal nomor dua setelah soal pertama ia selesaikan dalam waktu kurang dari satu menit. Hanya perlu memanasi otaknya dengan kumpulan rumus, setelah itu, tidak butuh waktu lama, Veila mampu mengerjakan semuanya. Benar-benar suatu keberkahan di hari libur untuk Xavier karena dijamin, PR nya pasti akan diselesaikan oleh Veila.
Bersamaan dengan Wilson yang keluar dari ruang kerjanya, Veila pun selesai mengerjakan dua puluh soal matematika milik Xavier. Membuat si pemilik PR berjingkrak kegirangan dan tak henti mengucapkan terima kasih.
Melihat adik sepupunya yang berjingkrak seperti anak SD, Wilson pun datang menghampiri. “Kenapa kau berjingkrak seperti onta yang kehabisan air? Makin tua makin gila ternyata," cerocos Wilson, tentunya cercaan itu Xavier maklumi karena mulut kakak tersayangnya itu memang sepedas cabai kualitas terbaik seperti yang diiklankan di halaman belakang koran mingguan.
Dengan mata berbinar, Xavier menyahut kegirangan, "Kak Wilson! Ini hebat, tidak bisa dipercaya! Ternyata Kak Veila sangat pintar matematika. Coba cek, PR ku semuanya dikerjakan oleh Kak Veila!"
Penuturan Xavier nyatanya tak langsung dipercayai oleh Wilson. Seakan tertarik, iapun segera ikut duduk di sebelah Veila, mengambil bukunya dari atas paha sang istri, lalu melihatnya sejenak.
"Kau yang mengerjakannya? Bagaimana bisa?" la bertanya dengan wajah yang sudah teralihkan sepenuhnya, memberi Veila tatapan yang sama dengan yang Xavier berikan beberapa menit lalu.
"Aku hanya mengerjakannya dengan melihat rumus. Hanya itu," jawab Veila karena sebenarnya semua ini bukanlah hal spesial.
Tepukan tangan Xavier berhasil membuat pandangan dua orang tersebut teralihkan. Pria tujuh belas tahun itu tersenyum lebar, lalu berseru, "Kak! Anakmu nanti pastinya akan menjadi orang pintar seperti ibunya. kuharap gen Kak Veila banyak mengalir pada bayinya. Aku tidak terima jika gen kak Wilson yang banyak mengalir pada bayinya. Nanti keponakanku malah jadi anak yang bodoh matematika seperti Kak Wilson."
Hazel Wilson refleks melebar dengan kedua birai yang mengatup pun terbuka sedikit. Apa yang baru saja Xavier katakan? Dirinya yang bisa memimpin perusahaan dengan baik ini bodoh dalam pelajaran matematika? Cih, yang benar saja!
"Jika kakak pandai matematika, coba jawab pertanyaanku. 45×345-175×67+284÷2 sama dengan?"
Wilson mengumpat dalam hati sebab Xavier memberinya pertanyaan yang tidak bisa ia hitung tanpa kalkulator. Namun, pertanyaan yang Xavier berikan masih mampu membuat Wilson terdiam dan memikirkan jawabannya setengah mati.
Hingga tak berapa lama ia mengelak dan berdecak malas. “Huh, jika aku ini bodoh matematika, mana bisa membangun perusahaan menjadi sebesar sekarang? Lain halnya denganmu yang selalu dapat nilai di bawah kriteria pada pelajaran matematika dan kawanannya." Wilson berdalih, berusaha menutupi ketidaktahuannya dalam menjawab soal.
Mereka berdua, jika sudah disatukan dalam perdebatan, bisa-bisa akan terjadi peperangan sengit seperti perang dunia pertama dan kedua dikarenakan tak ada yang mau mengalah. Karenanya, untuk mencapai skor yang lebih tinggi dari Wilson, Beomgyu pun membalas dalihan Wilson.
"Ilmu yang kakak kuasai itu jelas bukanlah matematika, melainkan akuntansi. Dua pelajaran itu tentunya beda, kak. Dalam matematika, x+y\=0. Tapi, jika di dalam akuntansi, 1000+1000-2000. Jelas sekali kan perbedaannya? Akuntansi semua orang pasti bisa jika mau belajar, tapi matematika, belum tentu semuanya bisa paham rumus dalam sekali baca. Contohnya saja kakak sepupuku ini yang bodohnya kelewatan aww!" Xavier meringis saat kepalanya mendapat jitakan kasar dari Wilson.
Hendak menangis karena sakit, tetapi tidak jadi karena ia teringat sebuah lagu yang mengatakan jika laki-laki adalah superman yang tak boleh menangis.
Untuk beberapa saat, setelah dimarahi Veila, ketiga orang yang tengah berkumpul di ruang tengah pun memilih untuk diam. Katakan saja sekitar sepuluh menit sebelum akhirnya Wilson menyadari sesuatu yang berbeda dari Veila.
"Baru kali ini aku melihatmu kuncir kuda. Sepertinya mirip dengan seseorang ...." Wilson menajamkan penglihatannya, meraih dagu Veila dan melihat paras cantik itu dengan seksama.
__ADS_1
"Gadis kuncir kuda yang selalu mengantarku pulang saat senja," sahut Xavier dan seketika ingatan Wilson kembali terputar.
Wilson tidak percaya dengan semua kebetulan ini. Bagaimana ia kembali dipertemukan dengan gadis kuncir kuda yang selalu mengantar Xavier kecil pulang ke rumah mewahnya. Pantas saja, setiap hari, jika melihat wajah Veila, Wilson merasa melihat sesuatu yang sebelumnya pernah ia lihat.
Andai saja ia bisa mengenali Veila lebih cepat, mungkin saja, ia tidak akan sekasar itu, mencap seratus ribu dolarnya sebagai wanita murahan. Seketika ia sadar jika Veila adalah wanita baik-baik yang selalu Xavier ceritakan padanya, dan selalu ia lihat saat sore hari. Bukan hanya Wilson saja, Veila pun tidak sadar jika Wilson adalah si kakak yang selalu Xavier ceritakan padanya saat mengemut permen di pekarangan minimarket.
Seketika jantung mereka berdua berdebar kencang, tak terkontrol dengan baik.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Veila dengan sedikit tergagap di awal. Tatapan tajam yang Wilson berikan rasanya seperti jarum suntik berisi obat bius, membuat Veila sulit meneguk salivanya dengan baik.
"Bagaimana bisa gadis kuncir kuda yang dulunya dekil jadi secantik ini? Kau makin cantik, sangat cantik, membuat dadaku berdebar hanya karena memandangi parasmu," tutur Wilson. Ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan isi hati terdalamnya.
Kedua mata Veila tentunya melebar karena pernyataan tak terduga yang Wilson lontarkan, seolah bertanya dalam diam, sejak kapan dada Wilson mulai berdebar karenanya?
"Di sini ada Xavier, Wil-" Veila mendorong dada Wilson, berusaha menghentikan pergerakan wajah tampan yang pria itu lakukan.
Wilson tersenyum simpul, mengalihkan perhatiannya ke arah Xavier yang sedang tercengang sembari menatap pasangan suami istri yang tadinya hampir saja berciuman itu. "Kau tidak keberatan kan jika kami berdua berciuman di sini, Xavier?" tanya Wilson dengan penuh penenakan pada setiap katanya.
Sementara yang ditanya justru meneguk salivanya sekali, menggeleng cepat dengan keringat yang sudah berhamburan di pelupuk mata. Biarpun ia suka menggoda wanita, tetapi Xavier tidak pernah berbuat macam-macam dengan para wanita. Pria tujuh belas tahun itu masih suci dari tindakan tidak senonoh.
"Bocah itu tidak keberatan," ujar Wilson, kembali menatap Veila sembari memamerkan senyuman tipisnya.
"T-tapi, Wilson." Veila benar-benar tak mampu melanjutkan perkataannya saat jari mereka menyatu dan diremas kuat oleh Wilson.
Veila mengira jika Wilson akan menciuminya detik itu juga, tetapi nyatanya, pria itu melewati wajahnya, melakukan pemberhentian pada telinganya. "Mari akhiri kontrak kita dan mengurus baby Hovers bersama. Kau mungkin tidak percaya, tapi aku sudah jatuh hati padamu," bisik Wilson lembut.
"Aku mencintaimu, Veila,"
Bukan hanya Veila yang dapat mendengar kalimat terakhir dari Wilson, melainkan Xavier juga mendengarnya. Akibat kalimat itu, dada bocah tujuh belas tahun berdebar dibuatnya. Dan setelah itu Xavier pura-pura menulikan telinganya saat suara kecapan akibat perang dua bibir menyambangi indera pendengarannya yang teramat sensitif.
Veila sangat menghargai setiap kebahagiaan yang datang menghampirinya. Dan jika suatu saat nanti kebahagiaan itu kembali berubah menjadi sebuah kesakitan, maka ia masih bisa tersenyum tipis di atas kepedihan yang merobek mulut serta hatinya.
Akhirnya, Veila menemukan bahagianya yang sudah ia idamkan sejak dulu. Apakah rasa bahagianya akan bertahan lama atau malah hanya ada untuk sementara?
Bersambung ....
__ADS_1